
Marhaenist.id, Jakarta Timur — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DKI Jakarta menyelenggarakan Forum Diskusi Publik bertema “Relevansi Dasa Sila Bandung di Tengah Ancaman Keberlanjutan Perang AS vs Iran”, pada Rabu (22/4/2026).
Bertempat di Kedai Tempo, Jakarta Timur, forum ini dihadiri oleh beragam kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, aktivis gerakan sosial, praktisi hukum dan hubungan internasional, hingga jurnalis dan masyarakat umum.
Penyelenggaraan forum ini dipilih bertepatan dengan momentum peringatan 71 tahun Konferensi Asia-Afrika 1955 yang merupakan sebuah momen bersejarah ketika bangsa-bangsa Asia dan Afrika bersatu mendeklarasikan sepuluh prinsip perdamaian dan kemanusiaan yang dikenal sebagai Dasa Sila Bandung.
Tujuh puluh satu tahun kemudian, dunia kembali dihadapkan pada ancaman konflik berskala besar: ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memantik perang dunia terbuka dengan dampak geopolitik yang masif bagi seluruh kawasan dunia, termasuk Indonesia
Forum menghadirkan dua narasumber dengan keahlian saling melengkapi: Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D. (ekonomi politik global dan neo-imperialisme) serta Tjahyadi Budiman (geopolitik dan ketahanan ekonomi nasional).
Dalam pemaparannya, Airlangga Pribadi Kusman menekankan bahwa konflik AS-Iran tidak bisa dibaca secara dangkal sebagai persoalan nuklir semata. apa yang menjadi akar persoalan, jauh lebih struktural: sejak Presiden Nixon memutus hubungan dolar dengan emas pada 1970-an, fondasi hegemoni AS tidak lagi bertumpu pada produksi, melainkan pada dominasi dolar sebagai mata uang cadangan dunia.
Iran, yang membangun jaringan transaksi ekonomi intensif bersama China dan Rusia, menjadi ancaman nyata bagi pondasi finansial yang dibangun sejak lama tersebut.
“Mengapa AS menghantam Iran saat ini? Karena imperialisme AS mulai tumbang, sehingga ia menunjukkan keseramannya,” papar Airlangga.
Ia juga mencontohkan pola serupa yang sebelumnya terjadi pada Irak dan Venezuela, ketika kedua negara tersebut berupaya membangun kemandirian ekonomi di luar dominasi Amerika Serikat.
Dalam kerangka ini ia membaca serangan AS terhadap Iran bukan sebagai bentuk dari kekuatan yang sedang berjaya, melainkan sebagai kekuatan yang sedang panik menghadapi erosi hegemoninya.
Sementara itu, Tjahyadi Budiman menyoroti Iran sebagai contoh konkret bangsa yang mampu bertahan melalui prinsip kemandirian nasional pasca Revolusi 1979.
Menurutnya, Iran berhasil memperkuat ketahanan negara melalui tiga pilar utama yang sejalan dengan konsep Trisakti Soekarno: berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Alih-alih bergantung pada impor persenjataan, Iran justru mempelajari teknologi yang dimiliki dan memproduksinya sendiri. Embargo ekonomi yang diberikan justru mendorong Iran untuk memutus ketergantungan terhadap kapitalisme internasional.
Selain itu, soliditas nasional Iran juga terbentuk karena adanya persatuan antara elite politik dan rakyat, yang didasarkan pada cinta tanah air serta sistem kepemimpinan yang meritokratis.
Kedua narasumber sepakat bahwa Konferensi Asia-Afrika 1955 harus dibaca bukan sebagai artefak sejarah semata, melainkan sebagai strategi visioner dalam menghadapi imperialisme modern. Soekarno telah menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tidak akan tercapai tanpa terbebas dari kemiskinan, ketergantungan ekonomi, dan dominasi kekuatan asing.

Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Bung Dendy Se, menegaskan bahwa Dasa Sila Bandung masih sangat relevan sebagai pedoman diplomasi Indonesia di tengah ancaman konflik global, khususnya meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memicu perang terbuka berskala besar.
“Dasa Sila Bandung bukan warisan museum. Ia adalah panduan hidup bangsa-bangsa yang menolak dijadikan bidak dalam permainan kekuatan besar. Di tengah ancaman perang AS-Iran yang nyata, Indonesia harus tegas berdiri di atas prinsip penyelesaian sengketa secara damai, non-intervensi, dan solidaritas antarbangsa — bukan terseret ke dalam orbit kepentingan salah satu pihak yang bertikai,” tegas Bung Dendy.
Bung Dendy juga menambahkan bahwa posisi Indonesia tidak bisa ambigu di tengah eskalasi konflik global.
“Ketika dunia mendorong kita untuk memilih kubu, justru di situlah Dasa Sila Bandung paling relevan sebagai pengingat bahwa Indonesia memiliki identitas bangsa dan tradisi diplomatik tersendiri yang tidak bisa digadaikan demi kepentingan sesaat, atau bahkan kepentingan segelintir orang,” ujarnya.
Forum ditutup dengan kesimpulan bersama yang mencakup: desakan agar pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dan independen dalam merespons eskalasi konflik AS-Iran berdasarkan prinsip Dasa Sila Bandung; penolakan terhadap segala bentuk tekanan untuk memihak salah satu kekuatan besar; serta seruan untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas Asia-Afrika sebagai platform perjuangan negara dunia ketiga.
Antusiasme peserta yang hadir dari berbagai latar belakang menjadi penanda bahwa kesadaran publik terhadap dinamika geopolitik global dan konsistensi identitas diplomatik Indonesia semakin menguat, khususnya di kalangan generasi muda dan masyarakat sipil.****
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.