By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS di SD Nusa Bangsa Mamasa, GMNI Desak Dinas Pendidikan Bertanggung Jawab
Toleransi, Kerja Sunyi Demokrasi
Hedonisme Rudi Mas’ud dan Derita Masyarakat Kaltim
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Sarinah dan Ruang yang Masih Kita Cari

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 8 Maret 2026 | 12:18 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Bima Satrya Agnas, S-1 Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya, DPK GMNI UINSA Ahmad Yani. (Dokumen Pribadi)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Setiap 8 Maret dunia memperingati International Women’s Day. Di banyak tempat, hari itu hadir dalam bentuk ucapan, poster kampanye, atau tagar yang ramai di media sosial. Tetapi di balik semua itu, selalu ada ruang untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Di mana sebenarnya posisi perempuan dalam kehidupan sosial kita hari ini?

Tahun ini peringatan tersebut membawa tema Give To Gain. Gagasannya sederhana. Ketika perempuan diberi kesempatan, dukungan, dan ruang yang adil, dampaknya tidak berhenti pada individu. Ia menjalar ke keluarga, ke komunitas, dan akhirnya ke masyarakat secara keseluruhan.

Gagasan tentang ruang bagi perempuan sebenarnya bukan percakapan baru di Indonesia. Sejak masa awal republik, sudah ada upaya untuk memikirkan secara serius bagaimana perempuan ditempatkan dalam masyarakat. Salah satu yang sering muncul dalam percakapan itu adalah Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia.

Buku itu lahir dari kegelisahan pada zamannya. Ada kesadaran bahwa perempuan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pelengkap dalam kehidupan sosial. Mereka didorong untuk keluar dari peran yang terlalu sempit dan ikut hadir dalam berbagai bidang kehidupan. Bukan sekadar berada di belakang layar, tetapi menjadi bagian dari kekuatan yang ikut menentukan arah masyarakat.

Puluhan tahun telah berlalu sejak gagasan itu ditulis. Banyak hal tentu sudah berubah. Perempuan hari ini hadir di berbagai ruang yang dulu sulit dijangkau. Mereka ada di ruang kelas, di dunia profesional, di lembaga pemerintahan, bahkan di sektor teknologi yang dulu sangat maskulin.

Namun kehadiran itu tidak selalu berarti bahwa ruang yang tersedia sudah benar-benar setara.

Ketimpangan kesempatan kerja masih terasa. Perbedaan pendapatan masih ditemukan. Kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan yang berulang. Dalam banyak ruang pengambilan keputusan, suara perempuan juga belum selalu hadir secara seimbang.

Baca Juga:   DPR Bikin Emosi: Kok Bisa Orang-Orang ‘Kualitas Rendahan’ Duduk di Senayan?

Apakah kehadiran itu sudah cukup untuk disebut kesetaraan?

Di titik inilah tema Give To Gain terasa relevan. Memberi ruang kepada perempuan bukan sekadar tindakan simbolik. Ia berarti membuka akses pendidikan yang lebih luas, menyediakan lingkungan kerja yang adil, memastikan perlindungan terhadap kekerasan, dan memberi kesempatan yang sama untuk memimpin.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perempuan. Ketika perempuan memperoleh akses yang setara terhadap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, perubahan positif tidak berhenti pada individu. Kesejahteraan keluarga meningkat. Anak-anak memiliki peluang hidup yang lebih baik. Komunitas menjadi lebih kuat.

Dengan kata lain, memberi ruang kepada perempuan hampir selalu berarti memperkuat masa depan bersama.

Namun ruang itu jarang hadir begitu saja. Ia sering kali harus dicari, diperjuangkan, bahkan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit perempuan yang masih harus membuktikan diri lebih keras hanya untuk dianggap setara. Dalam banyak ruang, suara perempuan juga masih perlu usaha lebih besar untuk benar-benar didengar.

Mengapa ruang yang sudah lama diperjuangkan itu masih terasa sempit di banyak tempat?

Perubahan tentu tidak selalu lahir dari kebijakan besar saja. Ia sering muncul dari perubahan cara pandang yang sederhana. Dari bagaimana masyarakat melihat potensi perempuan. Dari bagaimana keluarga memberi kesempatan yang sama kepada anak-anaknya. Dari bagaimana institusi membuka ruang partisipasi yang lebih luas.

Pada titik ini, pemberdayaan perempuan bukan hanya soal program pembangunan. Ia juga soal budaya. Ia berkaitan dengan bagaimana sebuah masyarakat memutuskan siapa yang diberi kesempatan untuk tumbuh.

Membaca kembali Sarinah hari ini terasa seperti membuka percakapan lama yang belum sepenuhnya selesai. Sebagian gagasan tentu lahir dari konteks zamannya. Bahasa dan sudut pandangnya tidak selalu sama dengan cara kita melihat dunia hari ini. Tetapi satu pesan tetap terasa kuat. Perempuan bukan penonton dalam perjalanan masyarakat.

Baca Juga:   Teror Bukan Bantahan: Ketika Kritik Dibalas Intimidasi dan New Orde Baru Muncul 

Mereka adalah bagian dari kekuatan yang menggerakkannya.

Karena itu peringatan Hari Perempuan Internasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia bisa menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana gagasan kesetaraan benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah sejauh mana kita benar-benar memberi ruang bagi perempuan untuk berkembang?

Selama ruang itu masih harus dicari, percakapan ini belum selesai. Dan mungkin di situlah pentingnya kembali membaca Sarinah hari ini. Bukan sekadar untuk mengenang sebuah teks lama, tetapi untuk mengingat bahwa ruang bagi perempuan selalu perlu diperjuangkan.

Ketika perempuan diberi ruang untuk tumbuh, masyarakat tidak kehilangan apa pun.

Yang kita dapatkan justru lebih banyak kemungkinan untuk masa depan.***


Penulis: Bima Satrya Agnas, S-1 Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya, DPK GMNI UINSA Ahmad Yani.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS di SD Nusa Bangsa Mamasa, GMNI Desak Dinas Pendidikan Bertanggung Jawab
Kamis, 23 April 2026 | 21:41 WIB
Toleransi, Kerja Sunyi Demokrasi
Kamis, 23 April 2026 | 20:21 WIB
Hedonisme Rudi Mas’ud dan Derita Masyarakat Kaltim
Rabu, 22 April 2026 | 10:34 WIB
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Selasa, 21 April 2026 | 22:17 WIB
Ilustrasi Gambar tentang "Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan" karya Noufal Hanif (Desain AI)/MARHAENIST.
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Selasa, 21 April 2026 | 20:10 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Garuda Kita Menangis

Marhenist.id - Garuda kita tak tahan lagi melihat bangsanya menderita, dijajah bukan…

GMNI Berduka, H Soenardi Ex Presidium GMNI 1976 – 1979 Telah Berpulang Disisi Tuhan Yang Maha Esa

Marhaenist.id, Tengsel - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat ini dilanda kesedihan…

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan kaos bertuliskan nama “Jokowi” kepada Presiden RI, usai pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/10/2022). Setkab/Rahmat

Presiden FIFA Minta Persiapan Piala Dunia U-20 Ditangani Secara Profesional

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama FIFA memastikan Piala Dunia U-20…

Bulan Juni, Bung Karno, dan Pancasila

Marhaenist.id - Indonesia menyebut Juni sebagai Bulannya Bung Karno. Pasalnya, tiga peristiwa…

Eros Djarot Resmi Rilis Buku Berjudul “Autobiografi Erros Djarot jilid 1” dan “Erros Djarot: Apa Kata Sahabat”

Marhaenist.id, Jakarta - Politikus dan budayawan Soegeng Rahardjo Djarot yang akrab disapa…

Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo bersilaturahmi di Gedung Agung, Istana Kepresidenan Yogyakarta, Senin (02/05/2022). BPMI Setpres/Lukas

Buktikan Kinerja, Prabowo Dinilai Setia Pada Jokowi

Marhaenist - Peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro mengatakan bahwa Menteri Pertahanan…

SLHS Terbit Meski IPAL MBG tidak Memenuhi Standar, GMNI Bantaeng Pertanyakan Proses Verifikasi

Marhaenist.id, Jeneponto - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Medan Darurat Sindikat Maling Motor: Dugaan Perencanaan Terorganisir yang Sudah Jadi Bisnis Rapi

Marhaenist.id - Belum genap sebulan yang lalu di tahun 2026, Polda Sumut…

Kembali Turun ke Jalan, GMNI Hadang Pengesahan RUU TNI

Marhaenist.id, Jakarta - Walaupun mendapat penolakan di masyarakat, DPR tetap mengesahkan revisi…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?