By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS di SD Nusa Bangsa Mamasa, GMNI Desak Dinas Pendidikan Bertanggung Jawab
Toleransi, Kerja Sunyi Demokrasi
Hedonisme Rudi Mas’ud dan Derita Masyarakat Kaltim
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Toleransi, Kerja Sunyi Demokrasi

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 23 April 2026 | 20:21 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Jhony Sitorus, Anggota Bawaslu Kota Bekasi, Alumni GMNI (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Laporan terbaru SETARA Institute tentang Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 pada Rabu (22/4/2026) menempatkan Kota Bekasi di posisi kelima nasional dengan skor 6,037. Sebuah capaian yang, jika dibaca sepintas, tampak sebagai prestasi administratif belaka. Namun, di balik angka itu, tersimpan cerita yang jauh lebih mendasar: bagaimana demokrasi bekerja sejak dari bilik suara, dan bagaimana warga secara sadar atau tidak ikut merawat toleransi sebagai praktik hidup sehari-hari.

Sebagai komisioner pengawas pemilu di Kota Bekasi, saya melihat toleransi bukan sekadar variabel sosial. Ia adalah produk politik atau lebih tepatnya, produk dari proses demokrasi yang sehat. Dalam kerangka IKT, toleransi diukur melalui empat variabel besar regulasi pemerintah, tindakan pemerintah, regulasi sosial, dan demografi agama, yang dijabarkan ke dalam delapan indikator konkret. Namun angka-angka itu tidak lahir dari ruang hampa.

Kota Bekasi bukan kota homogen. Dengan populasi lebih dari 2,6 juta jiwa yang merepresentasikan keragaman etnis dan agama, kota ini sering disebut sebagai “miniatur Indonesia.” Dalam konteks seperti ini, setiap kontestasi politik terutama pemilu selalu berpotensi menjadi titik rawan polarisasi. Tetapi di situlah justru ujian demokrasi berlangsung.

Dalam beberapa siklus pemilu terakhir, partisipasi masyarakat Kota Bekasi menunjukkan kecenderungan stabil dan relatif tinggi. Lebih penting lagi, partisipasi itu tidak berhenti pada pencoblosan, tetapi juga dalam bentuk pengawasan partisipatif. Warga melaporkan dugaan pelanggaran, mengawasi kampanye, hingga ikut menjaga ruang publik dari narasi kebencian.

Bagi kami di Bawaslu, ini adalah indikator yang sering luput dari pengukuran formal, kualitas demokrasi yang hidup di tingkat warga. Ketika masyarakat aktif mengawasi, maka ruang manipulasi menyempit. Ketika ruang manipulasi menyempit, politik identitas kehilangan daya rusaknya. Di titik inilah demokrasi dan toleransi saling bertaut.

Baca Juga:   Perempuan dan Kesejahteraan Buruh Era Rezim Jokowi

Meski demikian, laporan IKT 2025 juga memberi catatan penting, keberhasilan kota-kota toleran tidak semata ditentukan oleh masyarakat, tetapi sangat bergantung pada kepemimpinan baik politik maupun birokrasi.
SETARA menyebut tiga prasyarat utama kemajuan toleransi: kepemimpinan politik yang promotif, kepemimpinan birokrasi yang efektif, dan kepemimpinan sosial yang kolaboratif. Di sinilah kita perlu jujur.

Kota Bekasi memang naik peringkat dari posisi ke-7 pada 2024 menjadi ke-5 pada 2025. Namun, kenaikan ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh aspek kepemimpinan sudah ideal. Dalam praktiknya, masih terdapat dinamika kebijakan, tarik-menarik kepentingan, hingga respons birokrasi yang belum sepenuhnya adaptif terhadap isu-isu keberagaman. Dengan kata lain, masyarakat bergerak lebih cepat dibanding sebagian struktur formalnya.

Fenomena ini tidak unik di Bekasi. Secara nasional, laporan pemantauan kebebasan beragama menunjukkan masih terdapat 221 peristiwa pelanggaran pada 2025. Artinya, di tengah tren peningkatan indeks toleransi, residu intoleransi tetap ada dan seringkali berakar pada lemahnya respons institusional.

Sebagai pengawas pemilu, saya melihat satu pelajaran penting: toleransi tidak bisa dipaksakan dari atas, tetapi bisa ditumbuhkan dari bawah melalui pengalaman demokrasi yang adil.

Pemilu yang jujur dan adil menciptakan rasa kepercayaan (trust). Kepercayaan ini menjadi modal sosial yang penting untuk menerima perbedaan. Sebaliknya, pemilu yang penuh kecurangan akan melahirkan kecurigaan, dan kecurigaan adalah musuh utama toleransi.

Di Kota Bekasi, praktik pengawasan partisipatif telah menjadi salah satu fondasi penting. Ketika warga merasa memiliki proses demokrasi, mereka juga cenderung menjaga harmoni sosialnya.

Ini menjelaskan mengapa indikator seperti “dinamika masyarakat sipil” dan “inklusi sosial keagamaan” dalam IKT menjadi sangat krusial. Karena toleransi, pada akhirnya, bukan sekadar kebijakan melainkan kebiasaan kolektif.

Baca Juga:   Orasi Hannah Arendt, Jean Jasques Rousseau, Pierre Bourdieu dan St. Agustinus Dalam Memahami Tuhan

Capaian Bekasi dalam IKT 2025 patut diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat kita berpuas diri. Bahkan Kementerian Dalam Negeri mengingatkan bahwa kota dengan skor tinggi harus terus berbenah dan tidak stagnan. Tantangan ke depan justru lebih kompleks.

Pertama, bagaimana memastikan kepemimpinan politik ke depan tetap menjadikan toleransi sebagai agenda utama, bukan sekadar jargon kampanye.

Kedua, bagaimana birokrasi mampu merespons cepat setiap potensi konflik, bukan sekadar reaktif setelah konflik terjadi.

Ketiga, bagaimana menjaga partisipasi masyarakat tetap hidup, terutama di tengah kejenuhan politik dan derasnya disinformasi.

Sebagai bagian dari Bawaslu, saya meyakini bahwa menjaga kualitas demokrasi adalah bagian integral dari menjaga toleransi. Pengawasan pemilu bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal memastikan bahwa setiap warga, tanpa memandang latar belakangnya, memiliki hak yang sama untuk didengar.

Karena pada akhirnya, toleransi bukan hanya soal hidup berdampingan. Ia adalah soal bagaimana kita memilih dan mengawasi mereka yang akan memimpin kita. Dan semuanya, selalu dimulai dari bilik suara.***


Penulis: Jhonny Sitorus Alumni GMNI, Komisioner Bawaslu Kota Bekasi.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS di SD Nusa Bangsa Mamasa, GMNI Desak Dinas Pendidikan Bertanggung Jawab
Kamis, 23 April 2026 | 21:41 WIB
Hedonisme Rudi Mas’ud dan Derita Masyarakat Kaltim
Rabu, 22 April 2026 | 10:34 WIB
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Selasa, 21 April 2026 | 22:17 WIB
Ilustrasi Gambar tentang "Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan" karya Noufal Hanif (Desain AI)/MARHAENIST.
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Selasa, 21 April 2026 | 20:10 WIB
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Selasa, 21 April 2026 | 10:25 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Bakal Mundur dari Kabinet, Mahfud Soroti Pejabat yang Pakai Fasilitas Negara Buat Politik

Marhaenist.id, Semarang - Calon wakil presiden nomor urut 3 Mahfud MD menyatakan…

Kecam Dualisme yang Belum Berakhir, DPC GMNI Kendari Desak Dilaksanakan Kongres Persatuan

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Merancang Masa Depan Demokrasi Indonesia

Marhaenist.id - Indonesia sedang memasuki fase penentu perjalanan demokrasi. Di satu sisi,…

Mahasiswa Salatiga Bergerak, Kawal Putusan Mahkamah Konstitusi

Marhaenist.id, Salatiga - Berbagai unsur gerakan mahasiswa di Kota Salatiga, yang tergabung…

Trisakti Bung Karno: Jalan Ideologis Menghadapi Krisis Bangsa Hari Ini

Marhaenist.id - Lebih dari enam dekade lalu, Bung Karno merumuskan Trisakti sebagai…

GMNI Jakarta Timur Gelar Aksi di KPK, Desak Pengusutan Tuntas Kasus JICT

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gelar Kongres Persatuan, DPC GMNI Ternate Dorong Adanya Rekonsoliasi Nasional

Marhaenist.id, Ternate - Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera mengelar Kongres…

Kisah Bung Karno Menjelang Idul Fitri

Marhaenist.id - Presiden RI Pertama Ir Soekarno menyimpan sejumlah kisah menarik menjelang…

GMNI UM-Purwokerto Ditribusikan Kadernya Menjadi Tim Pemantau Pilkada Banyumas 2024

Marhaenist.id, Purwokerto - Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?