By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Perempuan dan Kesejahteraan Buruh Era Rezim Jokowi

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Rabu, 1 Mei 2024 | 07:38 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Muhammad Azzam Fawwaz, Kader GMNI UINSA Ahmad Yani. (Dokumen Istimewa)/Marhaenist.id.
Bagikan

Marhaenist – hampir secara keseluruhan masyarakat internasional, mengetahui bahwa 1 mei merupakan Hari Buruh Internasional. Dalam perjalanan sejarahnya, hari tersebut ditandai adanya gerakan buruh internasional, saat Peristiwa revolusi industri pada abad ke-19. Pada saat itu terjadilah gerakan kolektif oleh buruh-buruh sedunia.

Mereka menuntut haknya untuk mendapatkan jaminan upah yang adil serta pemerataan kesejahteraan di setiap individu buruh. Momentum penting dalam sejarah gerakan revolusi buruh diawali dengan penuntutan atas jam kerja buruh, peristiwa itu terjadi di negara Amerika Serikat.

Persatuan Serikat buruh di Amerika mengorganisir seluruh buruh di sana untuk menuntut jam kerjanya. Peristiwa itu menyebabkan ke-keosan Hingga berujung kematian yang terjadi di Hymarket Cichago salah satu nama daerah di Amerika Serikat. Sejak peristiwa itu terjadi, setahun kemudian tahun 1889 persatuan konferensi internasional buruh atau yang bisa di sebut dengan ICLU menetapkan pada tanggal 1 Mei adalah hari buruh internasional.

Sejak keputusan itu di layangkan, setiap tanggal 1 Mei seluruh buruh di dunia memperingati hari itu dengan turun jalan. Mereka sama turun jalan dengan niat penuntutan atas kesejahteraan daripada buruh itu sendiri.

Dalam konteks sejarah buruh perempuan buruh di Indonesia, tak asing dengan nama Marsinah. Marsinah, ialah seorang pabrik buruh di salah satu daerah Jawa Timur. Ia kerap dikenal dengan julukan aktivis buruh karena sering memperjuangkan hak-hak nasib rekannya yang sama-sama menjadi buruh. Pada tahun 1993, ia pernah menggugat atas upah yang tidak sesuai dengan kerjanya saat di pabrik.

Lewat peraturan Gubernur KDH TK I Jawa Timur dalam surat edaran No. 50/Th. 1992 mengenai himbauan kepada seluruh pengusaha yang mempunyai pabrik untuk menaikkan upah kerja karyawannya. Namun peraturan yang di terbitkan oleh Gubernur tersebut tidak di patuhi oleh pengusaha-pengusaha yang ada di Jawa-timur tersebut. Alhasil tindakan tersebut memicu kerusuhan oleh sejumlah elemen buruh yang ada di Jawa-timur.

Baca Juga:   Marhaenisme di Persimpangan: Antara Etika Organisasi dan Ambisi Kekuasaan

Peran Marsinah atas kejadian tersebut ialah menyuarakan aksi mogok kerja masal pada tanggal 2 Mei 1993. Selain itu ia juga pernah menyuarakan agar gaji buruh pada waktu itu di naikkan sebesar Rp. 2.250,000, yang semulanya hanya Rp. 1.700,000 per-bulanya. Akibat peristiwa tersebut, Marsinah dan teman-temanya buruh mendapatkan tekanan dari berbagai pihak kepolisian Komando Distrik Militer (Kodim), serta para pihak terkait.

Dua hari kemudian tepatnya pada tanggal 5 Mei 1993, kepolisian Sidoarjo melakukan penggerebekan kepada 13 teman Marsinah, yang di duga menjadi pemicu kejadian demonstrasi tersebut. Mendengar 13 temanya di tangkap oleh kepolisian, sejak hari itu pula Marsinah melakukan advokasi serta mendatangi pihak kepolisian untuk menyelamatkan dan memperjuangkan keadilan untuk temanya tersebut

Namun naas semenjak kejadian tersebut Marsinah tidak terlihat sama sekali pada tanggal 5 Mei 1993 Marsinah terakhir terlihat hidup. Setelah 3 hari Marsinah ditemukan dengan keadaan yang sudah tak bernyawa di gubuk sawah tepatnya di alas wilangan Nganjuk Jawa-Timur. Hingga saat ini kematian Marsinah menjadi misteri di Indonesia serta pelakunya belum kunjung untuk di temukan.

Keberanian dan perjuangan Marsinah menjadi teladan bagi sosok perempuan dimasa sekarang, ia bagai Kartini muda yang menginspirasi kepada kaum perempuan zaman sekarang untuk berani bersuara untuk keadilan. Meskipun Marsinah belum sepenuhnya mendapatkan pendidikan yang kayak, ia tetap bisa berpikir kritis untuk kemajuan buruh serta menjadi revolusioner perempuan penerus RA Kartini.

Potret Kesejahteraan Buruh era Presiden Jokowi

Hampir selama 10 tahun pemerintah rezim Jokowi, masih banyak menjumpai aksi mogok buruh karena belum terpenuhi secara merata soal kesejahteraan para buruh di Indonesia. Lewat peraturan menteri ketenagakerjaan Ida Fauziah menegaskan upah buruh pada tahun 2024 mengalami kenaikan. Hal ini di dasari atas terbitnya peraturan pemerintah No. 51/2023 tentang perubahan atas PP No. 36/2021 tentang pengupahan.

Baca Juga:   Pentingnya Keterwakilan Unsur Mahasiswa Didalam Satgas PPKS Unpam

Pengaturan formula pada peraturan pemerintah itu mendasari pada tiga aspek yaitu: inflasi, pertumbuhan ekonomi serta Indeks. Dalam pengaturan formula pada PP. No. 51/2023 tersebut, dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan di setiap individu buruh.

Perkiraan upah hanya naik  5-7 persen saja. Jika kita melihat harga-harga kebutuhan pokok pada per-hari ini tahun 2024 semakin mahal. Hal itu juga mendapatkan komentar dari Asosiasi Serikat Pekerja atau di singkat (ASPEK). Aspek menilai bahwa kenaikan upah minimum buruh yang di atur dalam PP. No. 51/2023. Menurutnya, belum memenuhi kebutuhan buruh. Pemerintah Jokowi menurut aspek belum berhasil membahagiakan buruh hingga saat ini (dilansir dari ekonomi bisnis.com).

Upah minimum buruh sangat minim sehingga tidak mampu memenuhi kehidupan sehari-hari. Dari mana buruh bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari jikalau pemerintah saja masih belum bisa meratakan sosial. fakta sosial yang banyak di temui di luar sana banyaknya buruh terlilit hutang karena gajinya belum bisa memenuhi kebutuhannya. Mereka juga mencari pekerjaan sampingan untuk menambah gaji mereka selain menjadi buruh.

Masalah-masalah sosial inilah yang menjadi masalah besar. Jaminan kesejahteraan yang buruk, jaminan kesehatan yang tidak memadai, serta lingkungan yang kurang memadai selalu melekat pada diri seorang buruh. Hanya utopia yang memperbaiki hidup selama ini yang menyemangati mereka dan juga menyongkong perekonomian negara.

Kesejahteraan pekerja atau buruh harus terpenuhi secara matang. Pemenuhan kebutuhan rohani maupun jasmani, baik di dalam pekerjaan maupun di luar harus terpenuhi secara merata. Fasilitas hingga kenyamanan tempat bekerja harus selalu di jamin.

Hal ini didasarkan pada sila kelima yaitu: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemaknaan pada sila ke-lima mengajarkan kita untuk hidup sosial tanpa adanya kesenjanga di atara masyarakat kelas bawah dan kelas atas atau bisa disebut dengan exploitation de l’homme par l’homme (penindasan manusia atas manusia).

Baca Juga:   Mengenang Sejarah Hari Buruh: Tantangan dan Peluang Perjuangan di Era Digital

Menurut pandangan penulis Penjiwaan rasa nasionalisme harus terwujud di tubuh pemerintah sekarang, melihat perkembangan era globalisasi semakin maju rasa nasionalisme semakin tergerus, akibat arus budaya barat yang masuk tanpa tersadari. Nasionalisme yang di ajarkan oleh presiden pertama kita Ir. Soekarno perlu di pelajari semua kalangan masyarakat Indonesia, makna nasionalisme itu mengajarkan kita selain cinta kepada negara kita juga cinta kepada rakyat kita, (Nasionalisme is humanity) Nasionalisme yang memanusiakan manusia.***


Penulis: Muhammad Azzam Fawwaz, Kader DPK GMNI UIN Sunan Ampel Kampus Ahmad Yani.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Kamis, 15 Januari 2026 | 15:13 WIB
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08 WIB
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
Kamis, 15 Januari 2026 | 09:03 WIB
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:27 WIB
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat
Rabu, 14 Januari 2026 | 22:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Mengenang Tragedi Trisakti di Bulan Mei 1998

Marhaenist.id - Tanggal 12 Mei 1998, 4 Mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak…

Mahfud MD Resmi Mundur dari Jabatannya Sebagai Menko Polhukam di Kabinet Jokowi

Marhaenist.id, Jakarta - Mahfud MD telah resmi mengudurkan diri sebagai Mentri Koordinator…

DPD GMNI Sulbar Kritik Kinerja Polda Sulbar, Soroti Dugaan Pungli dan Lambannya Penanganan Kasus

Marhaenist.id, Mamuju — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Rektor Universitas Negeri Malang (UM) terpilih periode 2022-2027 Prof. DR. Haryono, M.Pd. FILE/IST. Photo

Haryono Terpilih Jadi Rektor UM Periode 2022-2027

Marhaenist - Haryono terpilih menjadi rektor Universotas Negeri Malang (UM) periode 2022-2027.…

Bahlil Respon Pernyataan Cak Imin, Karyono Wibowo Nilai Bukan Sekadar Balas Dendam Politik

Marhaenit.id, Jakarta — Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan…

Tolak Kongres Bandung, GMNI Bangka Belitung Seruhkan Kongres Persatuan untuk Mengakhiri Perpecahan

Marhaenist.id - Kekisruhan yang terjadi dalam internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Berduka, Senior GMNI Antasari Azhar Telah Berpulang Kepada Sang Khalik

Marhaenist.id, Tangsel - Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode…

Rayakan Dies Natalis GMNI Ke-70, DPK GMNI UIN Jakarta Bagikan Takjil Gratis di Ciputat

Marhaenis.id, Jakarta - Dewan Pengurus Komisariat GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Universitas…

PPN Meningkat, Kelas Menengah Sekarat!

Marhenist.id - Sehubungan dengan disahkannya kenaikan PPN menjadi 12% dalam UU No.7…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?