By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Ekonomi Nasional
Bangun Sinergisitas, DPD PA GMNI Sultra Siap Mengawal Program Kebijakan Pemda untuk Rakyat
Menuju Hari Kebangkitan Nasional, Aliansi PERISAI Serukan Perlawanan terhadap Imperialisme dan Tuntut Pembatalan ART
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Orasi Hannah Arendt, Jean Jasques Rousseau, Pierre Bourdieu dan St. Agustinus Dalam Memahami Tuhan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 9 Februari 2026 | 12:29 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Hannah Arendt. GETTY IMAGES
Bagikan

Marhaenist.id – Bagaimana memahami orasi mereka tentang individualitas, komunalitas, dualitas dan pengakuan akan Tuhan?

Ada orang di dunia ini yang menganggap bahwa kekayaan intelektual, daya dorong atau motivasi atau kehendak dari dalam diri, yang berdiri di atas kehendak bebas, kemampuan individual dan kekuatan ego fatau personalitas adalah keunggulan utama dan selalu berada di atas segalanya.

Mereka seringkali mementingkan kekunggulan imajinasi dan merendahkan kekuatan komunikasi dan kerja sama dalam komunitas. Organisasi adalah penghambat yang tidak bisa membawa mereka berlari cepat. Bekerja sama dengan orang lain sama saja menciptakan ketergantungan yang akan melunturkan kemampuan berpikir unggul, bebas dan kejeniusan.

Teringat akan sebuah cerita tentang seorang wanita yang mampu mengerjakan segala hal sampai bahkan memanjat pohon kelapa pun ia mampu. Kemampuannya untuk bertindak menghadapi masalah hidupnya membuatnya berpikir sebagai manusia satu satunya di dunia ini. Kelompok manusia jenis ini di dunia sangatlah beraneka ragam dengan identifikasi yang sama.

Kelompok ini mengklasifikasikan diri mereka sebagai penganut paham individualistik, egoisme, libertarian, behavioralisme, egaliterisme. Penganut filosofi ini berpandangan bahwa kehendak bebas seorang manusia adalah kunci utama penentu kebahagiaan. Kelompok pertama ini mendapat fondasi awal dari Rene Descartes dan dimodifikasi secara aktual oleh Hannah Arendt.

Tapi masih ada kelompok lain lagi yang menganggap bahwa prinsip hidup komunal, komunitas, organisasi, dan berbagai kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama lebih menjamin kebahagiaan ketimbang hidup sendiri. Untuk menciptakan hal hal besar tidak bisa hanya seorang diri, perlu dukungan orang lain.

Kelompok ini menyebut mereka ke dalam beberapa aliran strukturalisme, instrumentalisme, unitarianisme, utilitarianisme, atau komunitarianisme. Kelompok ini juga berpandangan bahwa manusia dengan takdirnya telah ditentukan untuk berada dalam komunitas. Kelompok ini dipelopori oleh Plato dan Aristoteles, lalu kemudian dikembangkan oleh Jean Jasques Rousseau.

Baca Juga:   Di Balik Hilirisasi: Kerentanan Perempuan yang Terabaikan

Dua kelompok itu didamaikan oleh cara pandang kelompok ketiga, yaitu yang menganggap bahwa dunia tidak bisa dihidup oleh satu bagian saja. Hanya sendiri-sendiri, terpisah ataupun sebaliknya hanya dalam kelompok saja. Tidak dapat oleh satu orang mengerjakan hal besar, tidak akan ada banyak kemajuan dan kebahagiaan kalau hidup hanya di isi oleh individu-individu yang hidup secara terisolir.

Begitupun sebaliknya kehidupan tidak akan normal jika manusia hanya mementingkan komunitas dan mengutamakan hidup sosial tanpa adanya perhatian sama sekali terhadap individu.

Kehidupan justru meningkat apabila menghubungkan individu dengan kelompok dan kelompok dengan individu dalam kerangka hubungan dualitas bukan dualisme. Dualitas adalah istilah lain dari sekaligus keduanya saling memengaruhi, sedangkan dualisme adalah hanya atau ini atau itu.

Menjalankan prinsip hidup secara dualitas adalah bagian dari memahami suatu konsekwensi bahwa harga yang harus kita bayar adalah kegelisahan (restlessness). Sebab manusia adalah mahkluk terbatas yang selalu mecari cara paling mudah untuk menjawab setiap pilihan hidup.

Manusia tidak mau repot menjawab sebuah realitas hidup dengan dualitas melainkan memilih dualisme, memilih salah satu, hanya satu, ini atau itu saja dan tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup, misalnya Bagaimana cara mudah menjelaskan bahwa sesuatu sekaligus ada benarnya dan ada salahnya? Bagaimana cara mudah menjelaskan bahwa sesuatu terjadi bukan hanya karena takdir tetapi juga pilihan bebas manusia? Tetapi sampai di situ belum cukup. Menjelaskan kedua sisi yang saling mempengaruhi saja tidak cukup.

Penjelasannya memerlukan upaya mendalam sebagai jalan tengah yang disebut tegangan (tension). Pertanyaannya bukan lagi bagaimana sesuatu sekaligus ada benar dan salahnya? Melainkan bagaimana yang benar mempengaruhi yang salah dan sebaliknya bagaimana yang salah mempengaruhi yang benar? Dan seperti apa peran keduanya?

Baca Juga:   GMNI dan Teologi Perlawanan: Iman yang Menggugat, Ideologi yang Menghukum

Jadi baik takdir sebagai mahkluk sosial yang menghidupi prinsip hidup komunal, manusia juga sekaligus adalah individu yang mampu menentukan jalannya sendiri. Penentuan jalan ini diatur melalui kehendak bebasnya. Kelompok ini dipelopori oleh Pierre Bourdieu yang percaya pada keseimbangan keutamaan diantara individualistik, egoisme, altruisme, libertarian behavioralisme yang dipadankan dengan pandangan strukturalistik, instrumentalisme, egaliterisme, unitarianistik, atau komunitarianisme.

Kelompok yang terkahir ini melengkapi ketiga pandangan sebelumnya. Dalam dunia akademik kita dibiasakan berpikir secara rasional. Penganut rasionalitas harus mendasari segalanya dengan fakta. Inilah kebohongan dunia yang mencari penghiburan atas ketidakmampuannya memahami bahwa ada harapan yang sebenarnya. Harapan itu datangnya bukan dari manusia atau makhluk hidup.

Datangnya dari Tuhan. Pertanyaannya bukan siapa itu Tuhan atau apakah Tuhan ada? Apakah Tuhan itu laki-laki atau perempuan?. Pertanyaan sesungguhnya adalah bagaimana memahami Tuhan?. Di situlah sebenarnya makna eksistensi Tuhan. Jika Tuhan bisa dilacak keberadaannya, atau orang bisa bertemu dan bertatap wajah langsung dengan Tuhan, defisini Tuhan berubah.

Upaya menemukenali jati diri Tuhan dapat ditemukan di dalam pertanyaan bagaimana memahami Tuhan atau maksud Tuhan? Disitulah letak eksistensi yang sebenarnya. Sama halnya apakah sempurna itu? Jawabanya tentu saja tidak tahu. Jadi pertanyaannya yang harus direvisi yaitu bukan apa itu sempurna tetapi bagaimana menjadi sempurna?.

Saya mengingat sebuah contoh di buku saya yang lain. Tulisan saya kira kira begini apabila saya mau menjelaskan waktu, tentu tidak dapat saya ungkapkan apa itu waktu? Namun memaknainya adalah dengan cara reflektif mengenai cara berada dan menjadi bersamaan dengan berjalannya waktu.

Sayapun merespon pertanyaan tersebut bahwa kita sebagai manusia dapat berada dan menjadi di waktu sekarang atau bagaimana terlihatnya saya sekarang adalah hasil dari ingatan masa lalu saya. adanya dan bagaimana terlihatnya saya sekarang juga karena apa yang saya pikirkan sekarang, saya lakukan sekarang, dan yang saya capai sekarang, dan bahkan lebih lagi adanya saya sekarang adalah dari pengharapan akan masa depan, cita cita atau pengharapan.

Baca Juga:   Toleransi, Kerja Sunyi Demokrasi

Penjelasan itu untuk memberi suatu pemahaman gampang tentang adanya waktu. Jadi apakah waktu ada. Jawabnya ya ada. Kelompok ini disemangati oleh St. Agustinus yang memegang paham Dei (sme), Theos sebagai yang pertama, terutama dan teratas barulah alam semesta, mahkluk hidup dan manusia. Baik kelompok maupun individu.***


Penulis: Maikel Ajoi, Alumni GMNI Yogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Ekonomi Nasional
Rabu, 20 Mei 2026 | 17:01 WIB
Bangun Sinergisitas, DPD PA GMNI Sultra Siap Mengawal Program Kebijakan Pemda untuk Rakyat
Rabu, 20 Mei 2026 | 15:32 WIB
Menuju Hari Kebangkitan Nasional, Aliansi PERISAI Serukan Perlawanan terhadap Imperialisme dan Tuntut Pembatalan ART
Rabu, 20 Mei 2026 | 01:23 WIB
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Selasa, 19 Mei 2026 | 18:30 WIB
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Menumbuhkan Nilai-nilai Pancasila di Era Digitalisasi

Marhaenist.id - Untuk mendasarkan kehidupan kita pada Pancasila, tak cukup dengan sekedar…

Unjuk Rasa BEM Unpas dan GMNI Peringati HARDIKNAS 2026 di depan Kantor Bupati Bantaeng, Soroti Isu Pendidikan

Marhaenist.id, Bantaeng - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)…

Marhaenis Muda Harus Mengawal Demokrasi dari Desa

Marhaenist.id - Demokrasi Indonesia tidak bisa hanya dipahami dari dinamika politik nasional…

Foto: Stevani Evarista dan Salwa Azhari Riefhantza Putri (Mahasiswi STIH IBLAM) Bersama Dosen Pendamping Prof. Dr. Gunawan Nacrahwi S.H,M.H. MARHAENIST

Mahasiswi STIH IBLAM Angkat Isu HAM dan Demokrasi dalam Lomba Esai GALAKSI 2025

Marhaenist.id, Jakarta, - Dua mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) IBLAM, Stevani…

Tan Malaka, Dari Ir. Soekarno Sampai ke Presiden Soekarno

Marhaenist - Pengaruh Soekarno pada sejarah Indonesia besar sekali, tidak mungkin orang…

Konversi Kompor Gas ke Listrik Tidak Berlaku Tahun Ini

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, program konversi kompor LPG 3kg…

Survei Terbaru, Ganjar Terus Meroket Puncaki Elektabilitas Capres

Marhaenist - Lembaga Charta Politika Indonesia merilis survei terbaru terkait elektabilitas calon…

Sikap GMNI Bandung: Bandung Bukan Arena Konsolidasi Patologi, Tetapi Historis Manifestasi Persatuan Ideologi

Marhaenist.id - Di Bandung, Soekamo tak hanya belajar menuntut ilmu, melainkan membangun…

Gelar Aksi Peringati Hari Sumpah Pemuda, DPK GMNI FISIP UHO Ajak Pemuda Teguhkan Nilai Kebangsaan dalam Sumpah Pemuda 1928

Marhaenist.id, Kendari -  Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Dewan Pimpinan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?