By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Tragedi PRT Benhil, Koalisi Masyarakat Sipil: Jangan Lindungi Pelaku, Negara Harus Berdiri di Pihak Korban
Kedaulatan Rakyat Digugat, DPD GMNI Jakarta: Mengapa Pengadilan Militer Memperlakukan Korban Seperti Terpidana?
Soroti Kebijakan Menteri HAM, DPP GMNI: Perjuangan HAM Adalah Hak Setiap Warga Negara, Bukan Hak Formalitas yang Harus Disertifikasi oleh Negara
GMNI: Dana Abadi Kebudayaan Rp6 Triliun Harus Kembali ke Rakyat untuk Perluas Lapangan Kerja dan Perkuat Kedaulatan Bangsa
DPP GMNI Soroti Intimidasi dan Kekerasan terhadap Insan Pers di Indonesia

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

GMNI dan Teologi Perlawanan: Iman yang Menggugat, Ideologi yang Menghukum

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 8 Desember 2025 | 09:29 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Advokat dan Alumni GMNI (Sumber: Jakartasatu.com)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia hari ini adalah panggung besar tempat kekuasaan menari di atas punggung rakyatnya. Jalan-jalan penuh baliho pecitraan, televisi dipenuhi narasi penjinakan, dan ruang publik direduksi menjadi etalase tempat elite saling memamerkan legitimasi pura-pura.

Di tengah itu, ada generasi yang tetap menolak tunduk—generasi yang lahir dari api Marhaenisme dan dibesarkan oleh tradisi perlawanan: GMNI. Tetapi kali ini ada sesuatu yang lebih dalam, lebih radikal, lebih berbahaya bagi setiap tirani: teologi perlawanan yang menyatu dengan ideologi Marhaenisme, Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, serta Ketuhanan yang melampaui ritualisme banal.

Marhaenisme bukan sekadar teori ekonomi-politik; ia adalah gugatan metafisik terhadap sistem yang membiarkan manusia hidup sebagai kaki-tangan dari mesin modal. Ia menolak gagasan bahwa kemiskinan adalah “nasib,” menolak dogma bahwa ketimpangan adalah “harga pembangunan.”

Bung Karno tidak berhenti pada kritik; ia merumuskan tiga pilar yang menjadi tulang punggung gerakan: Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan yang memerdekakan, bukan ketuhanan yang menjinakkan.

Sosio-Nasionalisme menyatakan bahwa nasionalisme tanpa cinta pada rakyat kecil adalah penipuan; Sosio-Demokrasi menyatakan bahwa demokrasi tanpa pemerataan kekuasaan adalah oligarki berkedok prosedur; Ketuhanan menyatakan bahwa membela kaum tertindas adalah imperatif moral, bukan pilihan politis. Ketiga pilar itu bukan hiasan ideologis; mereka adalah hukuman bagi penguasa zalim.

Namun ideologi saja tidak cukup. Kekuasaan hari ini beroperasi bukan dengan despotisme klasik, melainkan dengan teknologi citra, propaganda lembut, dan retorika pembangunan yang memerangkap pikiran rakyat dalam kepatuhan psikologis. Kekuasaan menjelma seperti nabi palsu—menjanjikan kesejahteraan sambil memeras sumber daya, mengutip ayat sambil memproduksi ketidakadilan. Inilah saat ketika teologi perlawanan harus naik ke panggung sejarah: sebagai pedang bermata dua yang menyerang kesombongan duniawi sekaligus membongkar kebohongan spiritual mereka yang memelihara kekuasaan dengan simbol-simbol keagamaan.

Baca Juga:   May Day: Refleksi Nasib Kaum Buruh di Indonesia

Teologi perlawanan adalah pembacaan iman dari perspektif korban, bukan penguasa. Ia adalah suara para nabi yang menolak tunduk pada Fir’aun-Fir’aun kecil yang tumbuh dari birokrasi dan oligarki. Al-Qur’an memperingatkan: “Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim.” Ayat itu bukan deklarasi moral biasa; ia adalah ultimatum.

Tuhan menegaskan bahwa keberpihakan kepada penindas adalah bentuk pembusukan rohani. Tetapi di negeri ini, banyak yang lebih takut pada kehilangan jabatan daripada kehilangan keberpihakan moral. Penguasa yang merusak lingkungan disebut pahlawan pembangunan.

Aparat yang mengamankan kepentingan modal disebut penjaga stabilitas. Kekuasaan menuntut ketaatan, rakyat menuntut keadilan—dan teologi perlawanan berdiri di tengah-tengah, menegaskan bahwa tuntutan rakyatlah yang disahkan oleh moral ilahiah.

GMNI berdiri di garis itu—garis tipis yang memisahkan kenyamanan dari keberanian. Di situlah Sosio-Nasionalisme berbicara: bahwa nasionalisme bukan pengibaran bendera, melainkan keberanian membela rakyat ketika negara absen. Sosio-Demokrasi menambahkan: bahwa demokrasi bukan pesta lima tahunan, melainkan perjuangan harian agar rakyat memegang arah sejarah.

Teologi perlawanan mengukuhkan keduanya: bahwa keberanian itu sendiri adalah ibadah, dan diam terhadap kezaliman adalah bentuk kemurtadan moral. Dalam titik pertemuan inilah gerakan mahasiswa bukan sekadar organ politik, tetapi menjadi pewaris tradisi profetik: bukan nabi, tetapi pembawa semangat kenabian dalam melawan penindasan struktural.

Indonesia hari ini membutuhkan teologi perlawanan bukan karena rakyat kurang religius, tetapi karena kekuasaan terlalu lihai menggunakan agama sebagai kosmetik moral. Ayat disulap menjadi alat legitimasi, khutbah dijadikan pembius kesadaran, dan agama direduksi menjadi perayaan tanpa keberpihakan. Teologi perlawanan mengembalikan fungsi agama sebagai energi pembebasan: agama sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan, bukan pelipur lara bagi penindasan.

Dan di titik ini, GMNI bukan sekadar organisasi; ia adalah laboratorium ideologi dan spiritualitas pembebasan. Ia merumuskan ulang perlawanan bukan hanya sebagai aksi politik, tetapi sebagai proses penyucian moral terhadap kekuasaan yang membusuk.

Baca Juga:   Menuju Ramadan–Lebaran 2026: Di Balik Kejamnya Tradisi Mudik

Teologi perlawanan menyatakan bahwa diam terhadap kezaliman adalah perbuatan zalim itu sendiri. Marhaenisme menegaskan bahwa membiarkan rakyat dieksploitasi adalah bentuk pengkhianatan ideologis.

Sosio-Nasionalisme memperingatkan bahwa bangsa yang membiarkan anak-anak kecilnya diinjak modal adalah bangsa yang kehilangan martabat. Sosio-Demokrasi menegaskan bahwa negara yang memusatkan kekuasaan pada elite adalah negara yang mengkhianati diri sendiri. Ketuhanan menutup semuanya dengan satu kalimat pendek: membela rakyat adalah perintah, bukan pilihan.

GMNI berada di simpang yang suci sekaligus berbahaya: persimpangan di mana iman, ideologi, nasionalisme, dan demokrasi bertemu dalam satu pusat gravitasi — perlawanan. Di negeri yang elite-nya mengucapkan “rakyat” dengan bibir yang tidak pernah menyentuh penderitaan rakyat, GMNI harus menjadi peringatan keras: bahwa rakyat bukan slogan, bukan angka statistik, bukan objek kebijakan, melainkan subyek sejarah yang keberadaannya lebih sah daripada negara itu sendiri.

Jika rezim tidak terguncang oleh suara mahasiswa, maka GMNI gagal. Jika penguasa dapat tidur nyenyak, maka teologi perlawanan belum dijalankan. Karena hakikat gerakan ini bukan mencari keamanan, tetapi mengguncang kenyamanan tirani. Tidak menunggu momentum, tetapi menciptakan momentum.

Tidak mengikuti arus, tetapi mengubah aliran sejarah. Inilah puncak praksis Sosio-Demokrasi: memindahkan pusat kekuasaan dari meja-meja elite kembali ke tangan rakyat. Inilah inti Sosio-Nasionalisme: membela tanah air dengan membela mereka yang diinjak atas nama pembangunan. Inilah wujud Ketuhanan: menempatkan keberpihakan pada manusia tertindas sebagai jalan spiritual.

Pada akhirnya, Marhaenisme, Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, Ketuhanan, dan teologi perlawanan bukan lima doktrin yang berdiri terpisah. Mereka adalah satu tubuh ideologis: tubuh gerakan pembebasan. Mereka adalah lima suara dalam satu nyanyian sejarah: nyanyian perlawanan. Mereka menyatu menjadi satu kalimat yang menembus zaman:

Baca Juga:   Brave Pink, Hero Green, dan SEAbling

Negeri ini tidak diselamatkan oleh mereka yang menyembah kekuasaan, melainkan oleh mereka yang berani menggugatnya.

Dan bagi mereka yang lahir dari rahim GMNI, gugatan itu bukan sekadar pilihan.
Ia adalah ibadah.
Ibadah terbesar.
Ibadah terakhir.
Dan ibadah yang paling manusiawi.***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Aktivis 98/Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Tragedi PRT Benhil, Koalisi Masyarakat Sipil: Jangan Lindungi Pelaku, Negara Harus Berdiri di Pihak Korban
Senin, 4 Mei 2026 | 17:38 WIB
Kedaulatan Rakyat Digugat, DPD GMNI Jakarta: Mengapa Pengadilan Militer Memperlakukan Korban Seperti Terpidana?
Senin, 4 Mei 2026 | 13:43 WIB
Soroti Kebijakan Menteri HAM, DPP GMNI: Perjuangan HAM Adalah Hak Setiap Warga Negara, Bukan Hak Formalitas yang Harus Disertifikasi oleh Negara
Senin, 4 Mei 2026 | 12:49 WIB
GMNI: Dana Abadi Kebudayaan Rp6 Triliun Harus Kembali ke Rakyat untuk Perluas Lapangan Kerja dan Perkuat Kedaulatan Bangsa
Senin, 4 Mei 2026 | 12:22 WIB
DPP GMNI Soroti Intimidasi dan Kekerasan terhadap Insan Pers di Indonesia
Senin, 4 Mei 2026 | 04:12 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Negara Darurat Intoleransi!!!

Marhaenist.id - Delapan Puluh Tahun Indonesia telah  bebas dari kolonialisme dan Imperialisme,…

Peluang Bagi Kader GMNI: Peradi Utama Buka Pendaftaran Sumpah Advokat, Biaya Rp5 Juta, Ditutup Akhir Januari 2026

Marhaenist.id, Jakarta — Organisasi Advokat Peradi Utama kembali membuka pendaftaran Sumpah Advokat…

Rifqi Sukarno (Founder Depok Youth Movement)/Marhaenist.id.

Founder Depok Youth Movement Ajak Masyarakat Berefleksi atas 25 Tahun Kota Depok dan Pentingnya Partisipasi Pemuda

Marhaenist.id, Depok - Dalam rangka merayakan 25 tahun berdirinya Kota Depok, pendiri…

Bersaing Ketat Menuju 5 Besar KPU Trenggalek, Inilah Nama 3 Kader GMNI yang Telah Masuk 10 Besar

Marhaenist.id, Trenggalek - Tim seleksi (Timsel) Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten…

Bung Karno: Semboyan Kita Banyak Bicara, Banyak Bekerja

Marhaenist.id - Salah besar jika kita berpegang pada perkataan: "jangan banyak bicara…

Hukum Sebagai Panglima Bukan Kekuasaan

MARHAENIST - Baru saja kita memperingati hari konstitusi pada tanggal 18 agustus…

Pengesahan RUU KUHAP Dinilai Mengancam Demokrasi: DPR Dituding Abaikan Gelombang Kritik Publik

Marhaenist.id, Jakarta - Pengesahan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU…

Aji Chayono, Penulis Lepas/MARHAENIST.

GMNI dalam Persimpangan Jalan: Machtsvorming sebagai Gagasan Pemersatu

Marhaenist.id - Di tengah arus disorientasi ideologis dan pragmatisme politik yang menjangkiti banyak…

Bakal Mundur dari Kabinet, Mahfud Soroti Pejabat yang Pakai Fasilitas Negara Buat Politik

Marhaenist.id, Semarang - Calon wakil presiden nomor urut 3 Mahfud MD menyatakan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?