By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIMarhaenismeOpini

GMNI dalam Persimpangan Jalan: Machtsvorming sebagai Gagasan Pemersatu

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Minggu, 3 Agustus 2025 | 11:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Aji Chayono, Penulis Lepas/MARHAENIST.
Aji Chayono, Penulis Lepas/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah arus disorientasi ideologis dan pragmatisme politik yang menjangkiti banyak organisasi kemahasiswaan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) seharusnya tampil sebagai suluh ideologis yang konsisten. Namun, realitas yang kerap terjadi justru sebaliknya: GMNI, yang berakar kuat pada ajaran Marhaenisme Bung Karno, justru berkali-kali terjebak dalam pusaran konflik internal yang tidak produktif. Ironisnya, konflik tersebut kerap diklaim sebagai bagian dari proses machtsvorming atau pembentukan kekuatan. Tapi benarkah demikian?

Daftar Konten
Machtsvorming: Proses Kolektif, Bukan Proyek Faksional dan Dipahami Secara SemuIdeologi Marhaenisme: Titik Temu, Machtsaanwending Sebagai Jalan PersatuanPenutup: Menutup Luka, Membangun Ulang Gerakan

Dalam konteks ajaran Bung Karno, machtsvorming bukanlah sekadar akumulasi kekuasaan melalui manuver politik. Ia adalah proses dialektis untuk membangun kekuatan rakyat secara sadar, terorganisir, dan ideologis dalam rangka mencapai machtsaanwending—penggunaan kekuasaan untuk menciptakan transformasi sosial. Namun dalam praktiknya, istilah ini justru kerap disalahpahami dan dijadikan pembenaran atas fragmentasi organisasi.

Machtsvorming: Proses Kolektif, Bukan Proyek Faksional dan Dipahami Secara Semu

GMNI sebagai organisasi ideologis seharusnya menjadikan machtsvorming sebagai kerangka kerja kolektif dalam membangun kekuatan revolusioner, bukan alat untuk memobilisasi loyalitas kelompok. Sayangnya, yang terjadi di lapangan adalah banalitas dari konsep tersebut. Banyak kader yang memaknai machtsvorming secara sempit, sekadar sebagai “penguasaan struktur” atau “kemenangan dalam kongres.” Akibatnya, orientasi politik kader lebih banyak tersedot pada manuver elite dan penguasaan birokrasi organisasi daripada memperkuat basis ideologis dan kultural gerakan.

Kegagapan memahami konsep ini berakar dari dua hal. Pertama, lemahnya pendidikan kaderisasi ideologis yang kontekstual dan mendalam. Kedua, membudayanya patronase dalam tubuh organisasi yang menjadikan konflik internal sebagai wahana survival politik antarfaksi. Ini melahirkan dua penyakit utama dalam tubuh gerakan: sektarianisme dan transaksionalisme. Padahal, Bung Karno sendiri telah mewanti-wanti bahaya perpecahan karena nafsu kekuasaan yang tidak dibarengi kesadaran ideologis. 

Baca Juga:   GMNI Situbondo Tolak Pemberian Gelar Pahlawan Nasional Kepada Soeharto

Konsep machtsvorming dalam pemikiran politik Bung Karno tidak bisa dipisahkan dari semangat kolektivitas dan revolusi sosial. Ia bukan proyek individual atau kelompok untuk mendominasi, melainkan proses pengorganisasian massa yang terdidik dan sadar ideologi. Dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan bahwa “kekuatan yang sejati itu terletak pada persatuan seluruh elemen rakyat.” Dengan kata lain, kekuatan tidak dibentuk oleh sekelompok elite, melainkan dari akar rumput yang terorganisir dalam satu orientasi perjuangan.

GMNI, sebagai anak ideologis Bung Karno, semestinya menjadikan hal ini sebagai kompas moral dan politik. Setiap kader yang berbicara tentang machtsvorming seharusnya bertanya: apakah langkah saya ini memperkuat kekuatan rakyat atau sekadar memperkuat kelompok saya sendiri? Apakah keputusan saya menyatukan atau justru memecah-belah organisasi?

Realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa machtsvorming telah direduksi menjadi narasi pembenaran bagi konflik antarfaksi, baik dalam perebutan kepemimpinan nasional, pengelolaan cabang, hingga pembelahan dalam forum-forum resmi. Bukannya membentuk kekuatan yang mampu menekan ketimpangan sosial dan dominasi oligarki, GMNI justru sibuk dengan pertikaian internal yang memboroskan energi kader.

 

Ideologi Marhaenisme: Titik Temu, Machtsaanwending Sebagai Jalan Persatuan

Salah satu keunikan GMNI adalah pijakan ideologinya yang jelas: Marhaenisme. Namun, kejelasan ideologi ini tidak lantas menjamin kesatuan gerak jika tidak diiringi dengan pendalaman yang serius. Banyak kader GMNI yang berbicara tentang Marhaenisme, tapi tak mampu menjelaskan dengan presisi apa bedanya Marhaenisme dengan Sosialisme atau Nasionalisme biasa. Lebih parah, ada yang menjadikan Marhaenisme sebagai sekadar simbol—ditulis di spanduk, tapi tidak dipahami dalam praktik.

Marhaenisme bukan hanya ajaran ekonomi atau sosial, tetapi juga etika politik. Dalam kerangka itu, machtsvorming adalah proses untuk membebaskan rakyat Marhaen dari belenggu eksploitasi, bukan alat untuk merebut struktur demi struktur. Bila kader-kader GMNI menjadikan Marhaenisme sebagai basis ideologis, maka perbedaan pandangan seharusnya menjadi sumber dialektika, bukan sumber perpecahan.

Baca Juga:   Soal Kekurangan Tabung Oksigen, Aktivis GMNI di Mamasa Pertanyakan Keseriusan Pemda dalam Pelayanan Keseheatan

GMNI seharusnya menjadi laboratorium ide dan aksi untuk mempertemukan perbedaan dalam satu semangat perjuangan, bukan menjadi arena saling jegal antar faksi. Perbedaan strategi seharusnya tetap berpijak pada satu fondasi ideologi yang sama, sehingga perdebatan yang muncul menjadi produktif dan mendewasakan organisasi, bukan destruktif.

Bung Karno memisahkan dengan tegas antara machtsvorming dan machtsaanwending. Yang pertama adalah proses pembentukan kekuatan, sedangkan yang kedua adalah penggunaannya dalam praktik. Jika machtsvorming tidak diarahkan pada tujuan strategis, maka ia hanya akan menjadi kekuatan kosong. Dalam konteks GMNI, kekuatan yang dibangun lewat pendidikan ideologis, pengorganisasian massa, dan kaderisasi progresif harus berujung pada machtsaanwending—yakni memperkuat posisi politik kaum Marhaen dan memperluas pengaruh ideologi dalam kehidupan berbangsa.

GMNI tidak boleh terjebak dalam logika kekuasaan demi kekuasaan. Menyatukan kekuatan adalah langkah strategis untuk menyongsong machtsaanwending yang revolusioner. Tanpa kesatuan, maka kekuatan yang dibentuk hanya akan menjadi medan tempur internal yang menggerogoti organisasi dari dalam. Ini yang harus disadari oleh setiap kader, dari tingkat komisariat hingga DPP.

 

Penutup: Menutup Luka, Membangun Ulang Gerakan

Sudah saatnya GMNI melakukan refleksi kolektif. Perlu ada kesadaran bahwa kekisruhan internal selama ini lebih banyak dipicu oleh kesalahan dalam memahami arah perjuangan. Jika machtsvorming terus dimaknai sebagai alat perebutan kekuasaan antarkelompok, maka GMNI tidak akan pernah menjadi kekuatan strategis dalam percaturan nasional.

Dibutuhkan keberanian intelektual dan kerendahan hati ideologis dari setiap kader untuk kembali ke khittah perjuangan. Bahwa GMNI didirikan bukan untuk menjadi organisasi kekuasaan, tapi organisasi perjuangan. Perjuangan itulah yang membutuhkan kekuatan. Dan kekuatan sejati hanya dapat terbentuk jika kita bersatu, bukan saling memecah.

Baca Juga:   Momentum IWD 2024: Inspire Inclusion sebagai Spirit Keberpihakan Perempuan

Sebagaimana kata Bung Karno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu bersatu dalam perbedaan, demi cita-cita yang sama.” Maka GMNI yang besar, bukanlah GMNI yang memiliki banyak kubu, tapi GMNI yang mampu menyatukan semua potensi dalam satu orientasi perjuangan: membebaskan kaum Marhaen.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak mana pun, tetapi sebagai refleksi kolektif untuk memperbaiki arah perjuangan. GMNI terlalu besar untuk dipecah oleh ego faksional dan terlalu penting untuk dibiarkan tersesat dalam labirin kekuasaan internal. Sudah saatnya kembali ke ideologi, membangun kekuatan bersama, dan mengarahkan gerakan ini pada cita-cita kemanusiaan yang adil dan beradab.***


Penulis: Aji Cahyono, Kader GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Minta Jokowi Evaluasi Kinerja Menkominfo Terkait Amburadulnya Penghentian Siaran TV Analog

Marhaenist - Kebijakan penghentian siaran TV analog atau Analog Swicth Off (ASO)…

Sambut HUT Ke-16, GMNI Gelar Aksi Evaluasi Kinerja Pemkot Tangsel

Marhaenist.id, Tangsel - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Ajak Masyarakat Tolak Pemilu 2024, Relawan Marhaen Cyber Army Minta Jokowi Mundur dan Pilpres di Ulang

Marhaenist.id, Jakarta - Relawan Marhaen Cyber Army mengeluarkan pernyataan sikap dalam sebuah…

Cara Melawan Kapitalisme (2): Sang Karyawan Hemat

Marhaenist.id - Ini adalah adalah sebuah cerita yang saya adopsi dari praktik nyata…

GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan

Marhaenist.id, Jember — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Merajut Keberlanjutan dan Kemandirian Komisariat, DPK GMNI Hukum UNIB Gelar MAK

Marhaenist.id, Bengkulu – Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

DPP GMNI Gelar Diskusi Virtual “Spesial Ngabuburit Marhaenis”, Bahas Posisi Pancasila di Tengah Pergeseran Ideologi Global

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kembali…

Tiga Komponen Marhaenisme

Marhaenist.id - Salah satu karya agung Soekarno di lapangan pemikiran adalah Marhaenisme.…

Mengantisipasi Otoritarianisme Politik Massa Mengambang

Marhaenist.id - Dalam konteks pemilu elektoral atau pemilihan umum, biasanya ada beberapa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?