By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Hitam Putihnya Hukum, Penganiayayan Siswa 14 Tahun Tantangan Untuk Penegak Hukum
Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Tual, Anak 14 Tahun Meninggal Dunia
Indonesia Menggugat: GMNI Jakarta Timur Desak Pencopotan Menteri HAM
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Ziarah ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur Bunga: Ada Gulungan Perkamen di Tembok Gapura (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 4)

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 31 Oktober 2025 | 01:32 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Rombongan DPP PA GMNI saat ke Makam Bung Karno di Jalan Ir Soekarno, Nomor 152, Kelurahan Bondogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur (Jatim)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Blitar – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) melakukan perjalanan untuk berziarah ke Makam Bung Karno di Jalan Ir Soekarno, Nomor 152, Kelurahan Bondogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur (Jatim).

Sesampainya disana, mungkin hanya orang-orang tertentu yang tahu, bahwa di salah satu tembok gapura Candi Bentar yang menjadi pintu masuk ke Makam Bung Karno tersimpan semacam gulungan “perkamen” (kertas) yang bertuliskan nama dan tandatangan Pak Sis atau Siswono Yudho Husodo.

Pak Sis sendiri sebagai ketua rombongan, menceritakan soal gulungan kertas tersebut. Ia sengaja memasukan gulungan kertas ke dalam salah satu tembok dari bangunan gapura atau pintu gerbang menuju Makam Bung Karno yang terletak di Kota Blitar, Jawa Timur.

Di atas perkamen, Pak Sis menulis nama dirinya. Kemudian ia tandatangani lengkap dengan titi mangsanya sebagai penanda, tanggal, bulan dan tahun ketika gulungan perkamen itu dimasukan.

“Kertas itu saya tulis nama, tandatangan dan ada titi mangsa. Lalu saya gulung. Gulungan itu dimasukan ke dalam pipa. Saya tutup rapat,” tutur Pak Sis menceritakan kenangan dirinya yang menjadi arsitek renovasi Makam Bung Karno.

Setelah itu, pipa seukuran sekitar 30 sentimeter itu dimasukan ke dalam salah satu bangunan gapura yang menjadi pintu gerbang Makam Bung Karno hingga hari ini.

“Saya masukan. Ini sebagai pengingat. Jika suatu saat ada pemugaran, maka akan ada pipa dan gulungan kertas itu,” tutur Pak Sis.

Pak Sis adalah arsitek yang ditunjuk secara khusus oleh Presiden RI Ketika itu, Soeharto, untuk membangun komplek Makam Bung Karno.

Semacam mausoleum. Berada di hamparan tanah seluas 1,8 hektare. Terletak di Bondogerit, Sananwetan, kini Jalan Ir Soekarno, Kota Blitar.

Baca Juga:   Presiden Jokowi Resmi Buka Kongres IV Persatuan Alumni GMNI

Pak Sis menceritakan kisah ekslusif mengenai keberadaan gulungan perkamen itu setelah rombongan pengurus DPP PA GMNI tiba di areal Makam Bung Karno Jumat malam, 24 Oktober 2025 atau dalam penanggalan Jawa sudah masuk Sabtu Kliwon.

Rombongan PA GMNI diterima Mas Yanu (Yanu Indriyantoro), Alumni GMNI yang juga menjabat sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Blitar.

Rombongan DPP PA GMNI transit lebih dulu di Paseban Agung yang merupakan Sekertariat Makam Bung Karno untuk beristirahat dan ramah tamah.

Sejumlah mahasiswa dari GMNI Kota Blitar turut menyambut rombongan. Bersama Kartini yang menjadi Ketua GMNI setempat, Vita (Vita Nerizza Permai), mereka sengaja menunggu sejak sore untuk menyambut kedatangan para seniornya.

Saat ramah tamah itu, Pak Sis menceritakan soal keberadaan gulungan perkamen yang disimpan di dalam tembok Candi Bentar atau gapura sebelah kanan dari pintu gerbang Makam Bung Karno.

Pak Sis menceritakan banyak hal soal lika-liku ketika dirinya akhirnya ditunjuk dan dipercaya menjadi arsitek pemugaran dan pembangunan mausoleum Makam Bung Karno.

Dari cerita Pak Sis, penunjukan dirinya tidak hanya melulu pertimbangan profesional dan kompetensi sebagai pria peraih gelar insinyur Teknik sipil ITB yang melalui perusahaan PT Bangun Tjipta Sarana, telah membangun berbagai macam gedung pemerintah maupun swasta.

Presiden Soeharto juga memiliki pertimbangan lain, yang ini lebih politis. Terkait dengan latar belakang Siswono yang merupakan aktifis GMNI dan memiliki kedekatan hubungan dengan keluarga Bung Karno.

Pembangunan mausoleum Makam Bung Karno sebenarnya merupakan isyarat rekonsiliasi yang ditawarkan Pak Harto terhadap keluarga besar Proklamator tersebut.

Siswono atau Pak Sis diharapkan bisa sekaligus menjadi jembatan untuk rekonsiliasi tersebut. Apalagi, di tahun 1978, sejak wafatnya Bung Karno pada 21 Juni 1970, Soeharto telah memulihkan nama Presiden RI pertama itu secara politik.

Baca Juga:   Suluh Marhaenis Situbondo: Irham Kahfi, Idealisme Bung Karno di Tangan Generasi Baru

Isyarat rekonsiliasi itu tambah menguat ketika Presiden Soeharto sengaja memilih tanggal dan bulan kematian Bung Karno, sebagai hari untuk meresmikan mausoleum tersebut.
Makam Bung Karno diresmikan Presiden Soeharto pada 21 Juni 1979, atau 9 tahun setelah wafatnya Soekarno yang dijuluki Putra Sang Fajar.

“Pak Harto meresmikan komplek Makam Bung Karno dengan upacara kenegaraan,” tutur Pak Sis yang juga menceritakan bagaimana dinamika yang terjadi pada keluarga almarhum Bung Karno Ketika itu.

Dalam catatan sejarah, ribuan orang hadir dalam peresmian tersebut. Ibu Negara, Ibu Tien Soeharto membuka gapura atau pintu gerbang yang di dalamnya terdapat gulungan perkamen Pak Sis.

Kemudian Presiden Soeharto menandatangani prasasti. Upacara kenegaraan secara resmi digelar yang menunjukan bentuk penghormatan Pak Harto terhadap sosok Bung Karno.

Pak Sis menceritakan juga di hari-hari akhir menjelang peresmian ketika ia berusaha melakukan pendekatan kepada keluarga besar Bung Karno untuk bisa hadir dalam acara tersebut.

Pak Sis menceritakan pengalaman menjadi arsitek pemugaran dan pembangunan, Ada nuansa emosional ketika Pak Sis menceritakan pengalaman yang sangat berharga dalam kehidupannya Ketika dipercaya menjadi arsitek pemugaran dan pembangunan mausoleum Makam Bung Karno.

Terlihat ada dorongan emosional dari rongga dadanya yang menekan seluruh saraf hingga Pak Sis harus menahan air mata dengan mengambil jeda, menghentikan sejenak ceritanya.

Terutama ketika ia harus bercerita tentang Bung Karno, Pak Harto dan relasi antar keduanya dikaitkan dengan pemugaran dan pembangunan mausoleum Makam Bung Karno.

Semua yang ada di dalam ruangan Paseban Agung terdiam. Memberi kesempatan Pak Sis menata emosinya untuk kemudian melanjutkan ceritanya.

Pak Sis adalah sosok sentral di balik pembangunan mausoleum Makam Bung Karno. Dalam perjalanannya kemudian, komplek Makam Bung Karno makin lengkap, terutama yang tak kalah ikonik ialah keberadaan Perpustakaan Proklamator Bung Karno.

Baca Juga:   Gandeng Peradi Utama, PA GMNI Teken Mou untuk Penerima Beasiswa PKPA: 3.000 Alumni GMNI Berpotensi Mendapatkannya

Anak-anak muda, bisa mengenal Bung Karno lebih dekat dengan mengunjungi perpustakaan tersebut yang menyimpan buku-buku tulisan Bung Karno, dokumen serta berbagai peninggalan, termasuk sejarah sosok paling fenomenal dalam sejarah modern Indonesia.

Usai mengikuti cerita Pak Sis, rombongan melanjutkan dengan ziarah. Melewati Candi Bentar, gapura yang menjadi pintu gerbang masuk ke areal utama Makam Bung Karno.
Pak Sis kembali berusaha menunjukan letak dimana di tahun 1978, atau 47 tahun lalu, gulungan perkamen itu disimpan.

Gapura Makam Bung Karno, merupakan bangunan sejenis Candi Bentar yang kokoh berdiri dengan ketinggian mencapai sekitar 15 meter. Bangunan ini mencerminkan desain pengaruh Hindu, Majapahit.

Semua rombongan DPP PA GMNI melewatinya, untuk kemudian membersihkan diri dan memasuki pendopo, juga setinggi 15 meter, tempat Bung Karno beristirahat dengan tenang bersama makam orang tuanya, Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Hitam Putihnya Hukum, Penganiayayan Siswa 14 Tahun Tantangan Untuk Penegak Hukum
Senin, 23 Februari 2026 | 03:46 WIB
Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Tual, Anak 14 Tahun Meninggal Dunia
Senin, 23 Februari 2026 | 03:35 WIB
Indonesia Menggugat: GMNI Jakarta Timur Desak Pencopotan Menteri HAM
Senin, 23 Februari 2026 | 03:24 WIB
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Jakarta Selatan Bedah Pemikiran Tan Malaka dan Soekarno dalam Dialog Sejarah dan Ideologi

Marhaenist.id, Jakarta — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan kembali menunjukkan…

Komandan Pacul, Marhaen Rasa ‘Korea’

Marhaenist.id - Saat kita menyaksikan pejabat atau politisi di layar kaca maupun…

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan kaos bertuliskan nama “Jokowi” kepada Presiden RI, usai pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/10/2022). Setkab/Rahmat

Presiden FIFA Minta Persiapan Piala Dunia U-20 Ditangani Secara Profesional

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama FIFA memastikan Piala Dunia U-20…

Menelisik Kunjungan Bung Karno ke AS 16 Mei 1956

Marhaenist.id - Bung Karno tiba di Washington dengan menggunakan pesawat pribadi Presiden…

Dialektika Mahaenisme (Metode Berpikir)

Marhaenist.id - Marhaenisme adalah ideologi perlawanan terhadap kolonialisme, kapitalisme, imperialisme, dan feodalisme…

Program Beasiswa PKPA Peradi Utama–PA GMNI Resmi Ditutup, Sekjend Tekankan Integritas dan Etika Advokat

Marhaenist.id, Jakarta — Program Beasiswa Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) Peradi Utama…

Menggugat Patologi Korupsi dan Menagih Restorasi Institusi Penegakkan Hukum

Marhaenist.id - Di banyak negara, pergantian tahun sering dirayakan sebagai simbol optimisme…

Waketum DPP GMNI: Sugiono Punya Modal Lengkap Pimpin Menko PMK

Marhaenist.id, Jakarta — Di tengah menguatnya isu reshuffle kabinet, nama Sugiono kian…

Gelar UPA di Februari 2026, PERADI UTAMA Lanjutkan Program Beasiswa Advokat Bersama PA-GMNI dan KOPRI PMII

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) UTAMA…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?