By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Tanggung Jawab Moral Jurnalis dalam Bayang-Bayang Demokrasi Prosedural

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Jumat, 30 Mei 2025 | 19:41 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Ilustrasi Jurnalistik/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah hiruk-pikuk demokrasi prosedural—yang sekilas tampak berjalan baik lewat pemilu rutin, lembaga resmi, dan kebebasan pers yang dilindungi hukum—kita sering lupa mengajukan pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh sistem ini? Apakah rakyat betul-betul menjadi subjek, atau justru tetap menjadi objek dari permainan politik yang dibungkus legitimasi demokratis?

Dari sinilah pentingnya kita menyoroti kembali peran jurnalis. Karena di balik label “pilar keempat demokrasi”, terdapat beban moral yang tidak ringan: menjembatani kenyataan dan kebenaran, serta menghadirkan suara-suara yang kerap diredam dalam ruang publik yang makin penuh oleh retorika elite.

Netralitas: Ketika Tidak Memihak Justru Berarti Membiarkan

Sering kita mendengar pembelaan jurnalis atas nama “netralitas” dan “imbang”. Tapi dalam masyarakat yang penuh ketimpangan, posisi netral sering kali justru berarti membiarkan ketidakadilan itu terus berlangsung. Ketika ruang pemberitaan memberi porsi yang sama antara pelaku kekuasaan dan korban, tanpa memberi latar konteks atau kejelasan posisi etis, maka yang terjadi bukan keberimbangan, melainkan kaburnya arah nurani.

Antara Jurnalis dan Kekuasaan: Sekadar Pencatat, atau Penantang?

Jurnalis bukan sekadar pembawa berita; mereka adalah penjaga nalar publik. Namun di banyak ruang redaksi, tekanan kepentingan pemilik media dan kepentingan politik membuat jurnalisme kehilangan giginya. Alih-alih menjadi pengawas yang kritis, jurnalis justru beralih peran menjadi pencatat pernyataan resmi, memindahkan suara kekuasaan dari podium ke layar kaca tanpa tafsir, tanpa perlawanan.

Media dan Produksi Konsensus Semu

Apa yang disebut “kebebasan pers” dalam kerangka prosedural kadang tak lebih dari kebebasan semu: boleh bersuara, tapi dalam batas-batas yang sudah dipagari narasi dominan. Melalui pilihan narasumber, sudut pandang berita, hingga pengabaian terhadap suara-suara di pinggiran, media membentuk semacam ilusi kebulatan suara yang meninabobokan publik. Di sinilah propaganda halus itu bekerja—tidak membentak, tapi menenangkan.

Baca Juga:   Bulan Bung Karno: Ini Bukan tentang Persatuan, Tapi tentang Siapa yang Punya Kepentingan!

Agitasi: Bukan Hasutan, Tapi Kesadaran

Kata “agitasi” kerap disalahpahami—dianggap identik dengan kekacauan. Padahal dalam sejarah perjuangan sosial, agitasi adalah panggilan untuk sadar, untuk berpikir, dan untuk bertindak. Jurnalis yang memahami tanggung jawab moralnya akan tahu kapan harus mengusik kenyamanan publik, bukan demi sensasi, melainkan demi menyalakan kembali kesadaran kritis yang nyaris padam.

Membayangkan Ulang Jurnalisme: Dari Objektif ke Emansipatoris

Sudah saatnya jurnalisme Indonesia berani melampaui sekadar objektivitas teknis. Kita butuh jurnalisme yang berpihak—bukan kepada ideologi atau golongan, tetapi kepada keadilan. Jurnalis harus menjadi bagian dari masyarakat yang ingin berubah, bukan hanya saksi yang dingin terhadap ketimpangan yang terus berlangsung.

Penutup

Demokrasi prosedural yang tanpa substansi mudah berubah menjadi panggung formalitas. Dalam panggung itu, media bisa menjadi lampu sorot, tapi juga bisa menjadi tirai yang menutupi kenyataan. Di sinilah pilihan moral jurnalis diuji. Apakah akan berdiri di sisi yang nyaman, atau memilih jalan sunyi untuk menyuarakan yang tertindas?


Penulis: Wawan, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Nyatakan RSU Sylvani Salah Satu Rumah Sakit Terbaik di Kota Binjai

Marhaenist.id, Binjai - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pelantikan PA GMNI Kalsel, Momentum Menuju Organisasi Yang Lebih Baik

Marhaenist - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menginginkan pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD)…

GMNI Jakarta Selatan

GMNI Jaksel Desak Transparansi: Bareskrim Harus Buka Hasil Pemeriksaan Dugaan Korupsi Direksi PT ATPI ke Publik

Marhaenist, Jakarta - Korupsi di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali…

Ganjar-Mahfud Gugat Hasil Pilpres 2024 ke MK

Marhaenist.id, Jakarta - Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (Capres-Cawapres) nomor…

DPC GMNI Jakarta Timur Gelar Audiensi dan Studi Parlemen Bersama KITAS F-PDIP DPR RI

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta…

Memahami KLB GMNI Medan dan Manuvernya di Politik Dualisme GMNI Tahun 2020

Marhaenist.id - Ditahun 2016, GMNI dirundung perpecahan karena adanya Kongres Luar Biasa…

Mahasiswa-Mahasiswi Indonesia, Ayo Bergabung Bersama GMNI!

Marhaenist.id - Mahasiswa dan Mahasiswi Indonesia, saatnya kita bergerak bersama! Dalam dinamika…

DPC GMNI Jaktim Dukung Pemerataan Anggaran KJP melalui Dana Sarapan Pagi Gratis

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pancasila, Ramai Dibicarakan Sepi Diterapkan!

Marhaenist - Setiap menjelang dan pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni,  di…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?