By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Guncangan Ontologis Bangsa dan Krisis Kepercayaan pada Negara Hukum
Berangkat dari Keterusiran Kaum Marhaen, Disitulah Jiwa Sang Pejuang Benar-Benar Diuji
Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat
DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah
DPD GMNI Sultra Buka Posko Pengaduan Tenaga Kerja, Perkuat Perjuangan Hak Buruh di Sulawesi Tenggara

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pancasila, Ramai Dibicarakan Sepi Diterapkan!

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Rabu, 1 Juni 2022 | 08:11 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Presiden Soekarno pada saat perumusan Pancasila 1 Juni 1945. FILE
Bagikan

Marhaenist – Setiap menjelang dan pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni,  di seluruh penjuru tanah air Pancasila ramai dibahas, dibicarakan, dan diseminarkan. Badan yang mengurusi pernak pernik seputar masalah Pancasila pun, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), extra dibentuk atas nama negara. Selanjutnya, Pancasila pun dengan perwajahan kosmetika yang indah, ditampilkan di atas panggung kehidupan berbangsa dan bernegara  lewat berbagai perhelatan seremonial yang begitu marak memukau.

Pendek kata, menjelang 1 Juni dan di hari H perayaan kelahiran Pancasila ini,  ia disanjung, dipuja, dan menjadi primadona dan tema sentral setiap pembicaraan maupun pidato para pemimpin lewat sejumlah retorika politik seputar Pancasila. Tapi ada satu hal yang mengagumkan, seluruh perhelatan  selalu saja berakhir dengan hasil yang konsisten, sama!  Yakni; dikurungnya Pancasila di dalam sangkar emas sebagai hiasan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat disakralkan.

Saking suksesnya pensakralan Pancasila yang dikurung rapih dalam sebuah sangkar emas poitik kekuasaan, Pancasila pun menjadi tak tersentuh dan terjamah. Apalagi tumbuh hidup dan berkembang dalam kehidupan rakyat sehari-hari. Kewajiban yang ditekankan oleh para pemimpin kepada rakyatnya hanyalah menghafal dan lancar melafal Pancasila secara tekstual. Oleh karenanya dalam kerangka kontekstual, kehidupan keseharian kita sebagai bangsa berjalan dalam banyak hal tak sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh setiap sila dari kelima sila sebagai pandangan hidup kita sebagai bangsa.

Salah satu penyebab utama mungkin karena hingga hari ini belum ada cara yang ditawarkan oleh para pemimpin kita; bagaimana cara menumbuh kembangkan Pancasila di atas tanah yang sepenuhnya disuburkan oleh Liberalisme, Individualisme, dan Kapitalisme. Menumbuh kembangkan Pancasila dalam kenyataan yang paradoksal ini, sama saja seperti memaksa rakyat untuk mempercayai bahwa di atas gurun pasir sangat bisa di sana ditumbuh-kembangkan pohon-pohon pisang yang subur. Jawaban pastinya tentu: impossible alias sing mboten-mboten mawon.

Baca Juga:   Perubahan Aturan dan Konsolidasi Kekuasaan di Era Pemerintahan Jokowi: Sebuah Analisis Hukum dan Politik

Dalam kaitan ini, agar kita sebagai bangsa tidak terperosok jauh ke dalam kehidupan yang dipenuhi oleh kaum munafikun, Pancasila dalam Praktek sebagaimana yang diajarkan dan diamantkan oleh para pendiri Republik, perlu dijabarlkan operasionalisasinya dalam kehidupan nyata rakyat sehari-hari. Pertama yang harus dilakukan, para pemimpin harus siap hadir sebagai kelompok manusia panutan dan percontohan. Mereka perlu dan swajib tampil di barisan paling depan. Para pemimpin yang di sakunya tidak selalu menyimpan kalkulator politik dan ekonomi yang orientasinya melulu soal untung rugi politik-ekonomi (saya, kelompok kami, untung apa..dapet apa?). Selanjutnya, hadirkan pemimpin yang jauh dari feodalisme maupun gaya populis yang pada dasarnya melulu hanya untuk memenangkan pencitraan.

Kecenderungan seremonial dalam pemasyarakatan Pancasila niscaya berujung pada formalisme semata, Apalagi jika diserahkan penuh kepada pendekatan formal birokratis, yang melulu dilakukan oleh para birokrat hanya sekadar untuk memenuhi dalih penyerapan anggaran oleh masing-masing instansi. Kecenderungan seremonial dan formalisme ini pada ujungnya hanya melahirkan keterjebakan menuju Pancasila Sloganistik.

Ketiadaan Panutan dalam tokoh masyarakat yang mampu menggambarkan sosok Pancasilais yang mendekati idealisme bangsa dan negara, membuat Implementasi Pancasila seakan kehilangan leitstar (bintang penunjuk). Ketiadaan panutan ini pula yang menciptakan kebingungan dan disorientasi dalam pemahaman Pancasila. Apalagi kemudian Pancasila dimaknai seakan hanya milik kelompok masyarakat tertentu, partai tertentu, keluarga tertentu.

Klaim kepemilikan atas Pancasila ini kian ruwet, karena pada saat yang bersamaan terasakan ada upaya proxy yang sejak rezim Orde Baru berupaya membenturkan dan saling meniadakan dalam tafsir menafsir Pancasila. Proxy itu pula yang melahirkan seolah ada 3 tafsir utama Pancasila. Yaitu pertama versi 1 Juni 1945, yang berbeda dengan versi 22 Juni 1945, Kedua versi inipun dianggap tidak murni bahkan dinyatakan bertentangan dengan versi 18 Agustus 1945. Padahal secara time line ketiganya muncul secara dialektis, berurutan dan saling melengkapi satu sama lain, sesuai genealogi asal muasal perumusan Pancasila,

Baca Juga:   ‎Manifesto Pulang: Kala Iman Menjadi Teduh Terakhir di Tengah Badai Geopolitik dan Senja Peradaban Akhir Zaman

Lebih cilaka lagi dinamik simbol kekuatan aspiratif politik, seolah 1 Juni itu hanya Pancasilanya Sukarnois, 22 Juni juga hanya Pancasilanya Islamis, 18 Agustus seolah mutlak Pancasilanya Soehartois alias Orbais. Padahal Pidato Sukarno 1 Juni 1945, Perumusan 22 Juni 1945 oleh Panitia 9 yang dipimpin Sukarno, dan Perumusan final 18 Agustus 1945 dalam Pembukaan UUD 1945 harus dibaca dalam satu tarikan nafas yang sama.

Tarikan nafas yang mampu menjernihkan pemahaman filosofis atas Pancasila, agar jangan ditilik dari perspektif kepentingan politis sesaat yang bisa berujung kepada disorientasi. Sebagaimana disorientasi yang direkayasa oleh sejarahwan militer Orde Baru dengan menciptakan hoax bahwa ada dua orang lagi penggali Pancasila yang berpidato di BPUPK sebelum Sukarno. Yaitu Soepomo dan Mohamad Yamin. Dengan maksud bisa menggusur posisi pidato 1 Juni 1945 Sukarno.

Hoax politik sejarah ini, ternyata cukup efektif. De-sukarnoisme  berjalan mulus dan rakyat bangsa Indonesia sampai saat ini terus berkutat dalam polemik dan debat soal pancasila di berbagai seminar dan perhelatan akademis. Pancasila dalam wacana, Pancasila dalam berbagai perdebatan, pancasila dalam hiruk pikuk perayaan seremonial, marak menggelora. Terus berlanjut walau miskin substansi karena tanpa perwujudan nyata dalam kehidupan sehari-hari perilaku manusia Indonesia.

Para pemimpinnya riang ber-Pancasila ria, dan rakyatnya pun larut dalam keseolah-olahan telah menjalankan kehidupan di atas relnya Pancasila (1 Juni) sebagai pandangan hidup bangsa. Yang berWestern ria merasa sudah berPancasila, begitu pun yang sedang mabuk berArab ria. Berjalan tanpa beban perasaan bersalah berada di jalur dan pemahaman dan penjiwaan yang salah! Karena dituntun oleh situasi dan kondisi yang memang serba salah. Sebuah hasil akhir ketika bangunan Pancasila hari ini, fondasinya nyata-nyata salah dan teramat salah: Liberalisme, Individualisme, dan Kapitalisme.

Baca Juga:   MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan

Masih mau terus berlanjut dan dilanjutkan? Sebaiknya berhentilah mempermainkan Pancasila! Sudah saatnya masa berwacana dan berseremoni ria seputar Pancasial disudahi. Sebagai gantinya Pancasila dalam praktek bukakan pintu lebar-lebar agar hadir nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehari-hari. Ini lah salah satu cara menyudahi pembodohan, pemiskinan, dan ‘pandemi’ korupsi yang dimotori pejabat bermental korup dengan dukungan para Oligarki!


Erros Djarot Budayawan, Ketua Umum Gerakan Bhinneka Nasionalis (GBN), Anggota Dewan Kehormatan DPP Persatuan Alumni GMNI

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Guncangan Ontologis Bangsa dan Krisis Kepercayaan pada Negara Hukum
Kamis, 14 Mei 2026 | 21:29 WIB
Berangkat dari Keterusiran Kaum Marhaen, Disitulah Jiwa Sang Pejuang Benar-Benar Diuji
Kamis, 14 Mei 2026 | 11:06 WIB
Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat
Rabu, 13 Mei 2026 | 15:49 WIB
DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah
Rabu, 13 Mei 2026 | 14:23 WIB
DPD GMNI Sultra Buka Posko Pengaduan Tenaga Kerja, Perkuat Perjuangan Hak Buruh di Sulawesi Tenggara
Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI: Konstitusi Dibegal, Demokrasi Dikebiri

MARHAENIST - Dalam UUD tahun 1945 hasil amandemen, Pasal 1 Ayat (2)…

Dua Tujuh Juli, Peristiwa Besar Yang Dikerdilkan

27 Juli menjadi semakin kerdil, lewat begitu saja dan seakan tak bermakna.…

Menteri koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD dan Ketua Umum GBN Erros Djarot. MARHAENIST

Dukung Musisi Bangkit Dari Pandemi, GBN Gelar Bhinneka Culture Festival

Marhaenist - Dalam rangka berikan wadah bagi para musisi-musisi tanah air yang…

Ketua DPC GMNI Jaktim Efrem Ndruru: Tegaskan Kedudukan POLRI di Bawah Presiden Berlandaskan Hukum yang Jelas

Marhaenist.id, Jakarta Timur - Efrem Elman Siarif Ndruru selaku Ketua Dewan Pimpinan…

Ganjar dan Politik Rasional

Marhaenist.id - Di dunia politik, banyak hal omong kosong yang dipertontonkan bahkan…

GMNI Universitas Jakarta dan Alumni Kuatkan Semangat Perjuangan di Bulan Ramadhan

Marhaenist.id, Jakarta - Buka bersama yang digelar oleh lintas komisariat GMNI FISIP, Teknik,…

PKPA Beasiswa PA GMNI – PERADI Utama Resmi Dibuka, Prof. Hardi Fardiansyah Tekankan Integritas Advokat

Marhaenist.id - Program Beasiswa Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) hasil kerja sama…

Masyarakat Burnout: Dari Disipliner ke Pasca-Disipliner

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Hidup di Tengah Kelelahan Kolektif: Kita hidup dalam zaman…

Keraton Surakarta dan Gagasan Negara Kebudayaan Soekarno

Marhaenist.id - Keributan yang terjadi dalam prosesi penyerahan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?