
Marhaenist.id – Indonesia dalam sejarahnya dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam. Kekayaan tersebut tersebar di berbagai sektor seperti kehutanan, perikanan, pun dengan pertambangan.
Di berbagai daerah, aktivitas pertambangan sudah menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Namun, dengan potensi ekonomi yang menjanjikan dari sektor tersebut, bagaimana dengan nasib pendidikan?
Dalam praktiknya, seringkali pertambangan dan pendidikan tidak berjalan berirama malah justru terkadang bertolak belakang. Pertambangan memang berpeluang membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara instan.
Dalam konteks Bangka Belitung, banyak masyarakat menggantungkan hidupnya pada sektor tambang. Akan tetapi, kondisi tersebut sering kali berkonsekuensi sosial yang cukup memprihatinkan, terutama dengan sektor pendidikan.
Kondisi anak-anak dan remaja, hendaknya dipandang perlu dalam konteks di kawasan tambang, karena mereka adalah generasi penerus sekaligus sebagai generasi yang memutuskan untuk melakukan aktivitas pertambangan dibandingkan dengan pendidikan.
Pendapatan yang instan dan menggiurkan menjadi alasan untuk menambang dibandingkan mengenyam pendidikan yang jauh lebih memberikan manfaat secara jangka panjang.
Hal tersebut akhirnya berdampak terhadap meningkatnya angka putus sekolah. Selain itu, terbentuknya pola pikir masyarakat yang memandang pendidikan bukanlah hal yang penting, melainkan sekedar pilihan.
Perlu dipahami bahwasanya pertambangan adalah sektor yang sepenuhnya tidak berkelanjutan. Sumber daya alam seperti timah bersifat terbatas dan lambat laun akan habis. Ketika habis sumber daya alam tersebut atau aktivitas pertambangan yang berhenti, maka dampak terbesarnya kembali ke masyarakat.
Umumnya beresiko besar kepada kelompok masyarakat yang tidak berpendidikan dan tidak memiliki keterampilan khusus. Sehingga, perlu menilai bahwa pendidikan menjadi investasi jangka panjang yang mampu membuka banyak peluang.
Lebih lanjut, dengan adanya industri pertambangan tidak semerta-merta dilihat sebagai aktivitas ekonomi belaka. Pihak perusahaan maupun pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar untuk memastikan bahwa kawasan tambang perlu diintegralkan dengan sektor pendidikan.
Menghadirkan beasiswa, fasilitas yang mapan, dan peningkatan kualitas tenaga pengajar merupakan upaya untuk memastikan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi subjek aktivitas pertambangan. Pendidikan berperan penting dalam upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sumber daya alam.
Dengan adanya pendidikan, generasi muda memahani bahwasanya kekayaan alam bukan semata-mata dieksploitasi, melainkan dikelola dengan bijak untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan bersama. Selain itu, pendidikan juga berperan sebagai penghubung antara kepentingan ekonomi dan tanggung jawab ekologis.
Pertambangan dan pendidikan tidak semestinya diposisikan sebagai dua sektor yang bertentangan, melainkan berjalan beriringan.
Pertambangan memberikan ekonomi secara instan dan jangka pendek, sedangkan pendidikan menyediakan fondasi masa depan yang berkelanjutan. Kedua sektor tersebut hendaknya dikelola dengan seimbang sehingga kekayaan alam bukan hanya menghasilkan keuntungan sesaat, akan tetapi berpeluang membuka jalan bagi generasi yang berpendidikan.***
Penulis: Dio Oktavio, Kader GMNI Komisariat FISIP UBB.