
Marhaenist id – Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, pidato-pidato Soekarno selalu menjadi sumber inspirasi bagi banyak generasi. Salah satu pidato penting yang sering dikutip adalah pidato beliau di Yogyakarta pada 17 Agustus 1947 yang kemudian dimuat dalam buku Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat jilid 2 cetakan ke-3 yang disusun oleh Moch. Said dari Seksi B.K.I Peperda/Pedarmilda Jawa Timur. Selain itu, ungkapan tersebut juga dapat ditemukan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid II cetakan ke-2 yang diterbitkan oleh Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi.
Dalam pidato tersebut, Bung Karno menutup dengan kalimat yang sangat terkenal: “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.” Ungkapan ini memiliki makna mendalam: setiap rintangan harus disapu bersih, setiap penghalang harus dipatahkan. Kalimat tersebut lahir dalam situasi revolusi ketika Indonesia yang baru merdeka harus menghadapi ancaman dari kembalinya kolonialisme, yang kemudian meletus dalam Agresi Militer Belanda I. Dalam kondisi genting itu, Bung Karno mengingatkan rakyat bahwa perjuangan mempertahankan
kemerdekaan membutuhkan keteguhan, keberanian, dan konsistensi.
Semangat inilah yang sebenarnya tidak hanya relevan dalam perjuangan bangsa, tetapi juga dalam kehidupan organisasi, termasuk di tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Organisasi kader seperti GMNI dibangun di atas semangat perjuangan ideologis dan keberanian untuk menghadapi tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam organisasi itu sendiri.
Sebagai Ketua Dewan Pengurus Komisariat GMNI di Universitas Buana Perjuangan Karawang, saya merasakan secara langsung bagaimana dinamika organisasi tidak selalu berjalan mulus. Dalam perjalanan kepemimpinan, tidak jarang muncul berbagai bentuk “jegalan” atau hambatan, bahkan dari mereka yang lebih dahulu berproses di GMNI. Para senior yang seharusnya menjadi pembimbing dan penguat kaderisasi, terkadang justru menjadi pihak yang tidak mendukung atau meragukan arah kepemimpinan di era sekarang.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam organisasi kader. Setiap generasi memiliki cara pandang dan pendekatan yang berbeda dalam menjalankan organisasi. Namun perbedaan tersebut sering kali berubah menjadi resistensi ketika ada ketidakpercayaan terhadap generasi penerus. Di sinilah makna dari kalimat Bung Karno tadi menjadi sangat relevan.
“Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” tidak harus dimaknai sebagai sikap konfrontatif terhadap sesama kader atau senior. Sebaliknya, ia dapat dimaknai sebagai keteguhan untuk tetap menjalankan amanat organisasi dengan penuh tanggung jawab, meskipun dihadapkan pada keraguan, kritik, atau bahkan hambatan internal.
Kepemimpinan bukanlah soal mencari dukungan dari semua pihak, tetapi tentang kemampuan untuk tetap berdiri tegak ketika dukungan tidak selalu datang dari arah yang diharapkan. Dalam organisasi kader seperti GMNI, kepemimpinan juga berarti berani mengambil keputusan, menjaga marwah organisasi, dan memastikan proses kaderisasi tetap berjalan.
Justru dalam situasi seperti inilah nilai-nilai perjuangan diuji. Jika setiap hambatan membuat kita mundur, maka organisasi tidak akan pernah berkembang. Namun jika setiap rintangan dijadikan pelajaran untuk memperkuat konsolidasi kader, maka organisasi akan tumbuh lebih matang.
Semangat yang diwariskan oleh Bung Karno bukanlah semangat untuk memecah belah, melainkan semangat untuk tetap teguh dalam perjuangan demi tujuan yang lebih besar. Dalam konteks GMNI, tujuan itu adalah mencetak kader-kader yang berideologi, berpihak pada rakyat, dan mampu melanjutkan cita-cita kemerdekaan.
Oleh karena itu, setiap tantangan dalam kepemimpinan harus dilihat sebagai bagian dari proses perjuangan. Seperti pesan Bung Karno dalam pidatonya di Yogyakarta tahun 1947, rintangan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Sebaliknya, rintangan adalah ujian yang justru menegaskan komitmen kita terhadap perjuangan.
Pada akhirnya, kepemimpinan di organisasi bukanlah tentang siapa yang paling lama berproses, tetapi tentang siapa yang paling siap memikul tanggung jawab perjuangan pada zamannya. Dan selama perjuangan itu masih berpihak pada nilai-nilai organisasi dan kepentingan rakyat, maka semangat “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” akan selalu menemukan relevansinya.***
Penulis: Jeje Zaenudin, Ketua DPK GMNI Universitas Buana Perjuangan Karawang.