Marhaenist.id – Tidak perlu dijelaskan lagi seluruh pembaca tentunya sudah mengetahui bahwa saat ini Ibu Pertiwi sedang dilanda musibah bahkan cobaan akibat adanya banjir bandang serta tanah longsor di sebagian besar wilayah Nusantara.
Misal Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat juga sebagian kecil Jawa dan seterusnya dan seterusnya.
Dari penyelidikan apa akar permasalahan terjadinya musibah di atas ternyata adalah akibat kecerobohan, keserakahan, bahkan kekonyolan ulah manusia belaka.
Secara mudah kita melihat berton-ton gelondongan tebangan kayu terbawa arus dan menghantam rumah-rumah penduduk; kendaraan-kendaraan; toko-toko sampai dengan warung-warung keseluruhannya luluh lantak sangat mengerikan. Tidak salah apabila kita mengatakan saat ini Ibu Pertiwi sedang bersusah hati melihat ribuan korban yang jatuh dan ratusan di antaranya tewas mengenaskan.
Menurut hemat penulis yang memprihatinkan adalah tidak siapnya pihak pemerintah, khususnya pemerintah daerah, untuk bertindak mengatasi hal tersebut di atas. Terutama pasokan pangan untuk para korban yang daerahnya terisolasi oleh ”sampah” kayu gelondongan. Bahkan lagi oleh karena putusnya jaringan komunikasi, listrik, bahan bakar, dan lain-lain. Semua itu membawa bencana serta penderitaan yang luar biasa bagi rakyat seumumnya.
Sebab musibah secara makro
Patut diketahui oleh seluruh pembaca bahwa paru-paru dunia itu berada di hutan-hutan yang ada di negara Kongo, Brasil, dan Indonesia.
Sejauh hutan-hutan lindung dan perawan di tiga negara tersebut tetap lestari, keseimbangan cuaca akan terjaga secara maksimal.
Namun, apa mau dikata, kelestarian hutan-hutan tersebut menjadi terganggu, bahkan porak-poranda, akibat ulah serakah kaum kapitalis juga neokolonialisme dan imperialisme yang memaksakan kehendak mereka kepada pemerintah-pemerintah progresif di tiga negara tersebut di atas. Pemimpin flamboyan Kongo Patrice Lumumba yang berkeras menolak adanya pembabatan hutan lindung dan perawan di sana secara paksa digulingkan, bahkan dibunuh, oleh kekuatan-kekuatan nekolim yang kemudiannya menjarah hutan-hutan di Kongo.
Di Brasil terjadi hal serupa, tetapi tak sama, pemerintah yang sah dipaksa dengan teror agar mengizinkan hutan-hutan di sana ditebang walaupun caranya dengan tebang pilih yang membuat kelestarian hutan-hutan menjadi porak-poranda.
Di Indonesia, dalam pangkuan Ibu Pertiwi, Sukarno seorang pemimpin karismatik dan revolusioner didongkel oleh kekuatan neokolonialisme dan imperialisme karena sikapnya yang anti kepada penebangan hutan, apalagi apabila hutan tersebut adalah hutan lindung atau hutan perawan. Benar-benar tidak boleh disentuh.
Seperti kita ketahui, Bung Karno sebagai pemimpin besar revolusi dengan tegas dan lugas melarang adanya perusahaan-perusahaan hak pengelolaan hutan (HPH).
Jangankan HPH, menebang pohon tanpa alasan yang kuat dan masuk akal untuk kepentingan umum sangat terlarang kala itu.
Filsafat ”Tat Twam Asi”
Sikap Bung Karno seperti diuraikan di atas adalah juga karena beliau menganut filsafat tat twam asi yang artinya berarti kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Jadi, apabila aku sakiti dirimu, berarti aku menyakiti diriku sendiri. Begitu pula sebaliknya. Oleh sebab itulah, Bung Karno tidak pernah membunuh seekor nyamuk pun. Ia juga melarang mengurung burung dalam sangkar.
Pernah terjadi di tahun 1950-an seorang camat di kawasan Lapangan Merdeka Utara (sekarang Lapangan Monas) entah untuk apa menebang sebatang pohon mahoni.
Ketika Bung Karno pulang dari luar kota dan melewati kawasan Lapangan Merdeka Utara, Bung Karno merasa ada ”sesuatu” yang hilang di sana. Sesaat kemudian, beliau teringat bahwa yang hilang adalah sebatang pohon. Setibanya di Istana, beliau langsung memanggil Wali Kota Jakarta Raya Soewirjo dan memerintahkan agar pelakunya ditangkap dan dihukum.
Ketika kemudian diketahui bahwa yang memerintahkan menebang pohon tersebut adalah seorang camat di daerah itu, langsung Wali Kota Jakarta Raya mengambil tindakan memecat sang camat dari jabatan.
Jadi pembaca dalam menghadapi musibah saat ini dan yang terpenting jangan sampai di kemudian hari terulang lagi. Ada baiknya kita seluruh bangsa Indonesia memahami sikap Bung Karno dengan filsafat tat twam asi-nya sehingga dengan begitu Ibu Pertiwi tidak perlu terkena musibah lagi sampai ke akhir zaman.
Untuk diketahui, warisan Sukarno bukanlah monumen masa lalu, melainkan kompas masa depan. Pemerintahan saat ini dapat mengambil tiga langkah konkret berbasis pemikirannya, yakni (1) moratorium sementara izin tambang baru di kawasan hulu DAS kritis, (2) percepatan pendidikan dan pelatihan tenaga ahli lingkungan hidup nasional, serta (3) pelibatan masyarakat adat dan lokal dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, sebagaimana yang pernah dirintis melalui program perhutanan sosial era Presiden Sukarno, (4) dilaksanakannya lagi indoktrinasi nation and character building (pendidikan watak dan jiwa bangsa) di seluruh masyarakat.
Karena itu, sebagaimana pernah Sukarno katakan dalam pidato Hari Pohon Nasional pada 1961, ”Tanamlah pohon hari ini agar anak cucu kita tidak mewarisi gurun dan banjir, tetapi mewarisi Indonesia yang hijau, adil, dan makmur.” Sumatera dan bumi yang menangis pada akhir 2025 adalah peringatan: kita telah terlalu lama mengabaikan bisikan bumi yang pernah didengar dengan jernih oleh Bung Karno.
Sebagai penutup, penulis menyatakan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya kepada korban beserta keluarganya, semoga arwahnya diterima disisi Allah SWT. Amin.
Penulis: Guntur Soekarno, Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI/Pemerhati Sosial.