
Marhaenist.id – Kondisi geopolitik yang semakin memanas antara Amerika Serikat, Israel Versus Iran bukanlah sebuah hal kebetulan dan terjadi dalam waktu singkat. Konflik tersebut mempunyai history yang cukup panjang dan puncaknya di pekan lalu dimana Amerika Serikat melakukan Agresi Militer terhadap Iran yang menyebabkan kematian beberapa pejabat penting Iran salah satunya Pemimpin Tertinggi Iran yaitu Ayatollah Ali Khamenei yang memilki peran penting dan strategis dalam tata kelola dan tata pemerintahan Iran.
Sebelum jauh kita membahas tentang kematian Ali Khamenei dan Manuver apa selanjutnya yang dilakukan oleh Donald Trump terhadap Negara-negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, mari kita lihat history konflik Amerika serikat sebagai Negara adidaya dan Iran sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar ketiga di dunia.
Revolusi Iran tahun 1977-79 Amerika Latin, Eropa Timur, dan sebagian Asia dan Afrika, hasil dari perjuangan Iran bukanlah pembentukan demokrasi liberal, melainkan bentuk otoritarianisme baru. Monarki otokratis Mohammed Reza Shah Pahlavi menghadapi koalisi luas kekuatan oposisi, termasuk Marxis dan liberal konstitusional, tetapi oposisi pada akhirnya didominasi oleh para mullah dari hierarki Syiah negara itu.
Meskipun terjadi represi berat terhadap para demonstran, serangkaian demonstrasi dan pemogokan selama dua tahun sebelumnya mencapai puncaknya pada musim gugur tahun 1978, ketika jutaan penentang rezim Shah memadati jalan-jalan kota-kota di Iran dan penghentian kerja melumpuhkan negara tersebut. Shah melarikan diri ke pengasingan pada Januari 1979 dan ulama yang diasingkan, Ayatollah Ruhollah Khomeini, kembali dari pengasingan untuk memimpin Republik Islam yang baru.
Polemik Nuklir (Sanksi Internasional Terhadap Iran). Sebelum 1990-an, Iran sebenarnya telah banyak mencurahkan perhatian dalam program nuklirnya.Program tersebut berlanjut pada era 1990-an dengan melibatkan negara lain, yakni Tiongkok dan Rusia untuk kerja sama.
Tindakan tersebut mendapat teguran dari International Atomic Energy Agency (IAEA) sekaligus memicu kemarahan Amerika Serikat. Akibatnya, Iran mendapat sanksi internasional dari Dewan Keamanan PBB pada tahun 2006. Sanksi tersebut membuat Iran mengalami permasalahan ekonomi, memunculkan sentimen kepada Amerika Serikat. Sanksi ini berjalan sampai tahun 2013.
Amerika Serikat Keluar dari JCPOA dan sanksi Iran kembali berlaku (2018). Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran pada 8 Mei 2018, memicu diberlakukannya kembali sanksi internasional terhadap Teheran. Tindakan ini dilakukan sepihak tanpa melibatkan negara-negara lain yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Dengan demikian, keputusan tersebut mengembalikan perseteruan Amerika Serikat dan Iran ke titik yang panas.
Penarikan Amerika Serikat dari JCPOA bukanlah tindakan mendadak. Meski dalam satu perjanjian, pada kenyataannya Amerika Serikat dan Iran tetap saling sikut-menyikut. Amerika Serikat merasa kurang puas dengan isi perjanjian tersebut.
Mereka menilai isi perjanjian nuklir itu hanya menguntungkan Iran sehingga mesti diperbaiki. Pada 2017, setahun sebelum keluar, Amerika Serikat kembali memberikan sanksi baru terhadap Iran dengan anggapan bahwa negara Timur Tengah tersebut mendukung kelompok militan dan mengembangkan rudal balistik yang artinya melanggar perjanjian nuklir.
Agresi Mileter Amerika Serikat, Israel Versus Iran (2023-Sekarang)
Perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran berkembang lebih jauh setelahnya. Pada tahun 2023, Peristiwa 7 Oktober oleh pasukan Hamas Palestina kepada Israel menandai merucingnya hubungan Iran dan Amerika Serikat. Sebelum terjadinya puncak perang Amerika Serikat dan Iran sebelumya Amerika menangkap Presiden Venezuella pada hari sabtu 3, Januari 2026 dimana Venezuella adalah Negara dengan cadangan minyak mentah terbesar pertama di dunia dengan jumlah 17,17% dari cadangan minyak dunia, ada 28 Februari 2026, militer AS dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal yang menarget pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran dalam operasi militer bersama yang disebut Operation Lion’s Roar.
Serangan ini memicu balasan dari Iran yang melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, dan negara sekutu di kawasan Teluk sebagai respons atas agresi tersebut. 28 Februari 2026, militer AS dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal yang menarget pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran dalam operasi militer bersama yang disebut Operation Lion’s Roar. Serangan ini memicu balasan dari Iran yang melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, dan negara sekutu di kawasan Teluk sebagai respons atas agresi tersebut.
Media pemerintah Iran dan sejumlah laporan internasional telah mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal akibat serangan gabungan AS–Israel yang menghantam kompleksnya di Tehran. Khamenei, yang menjabat sejak 1989, dikabarkan meninggal bersama beberapa pejabat dan anggota keluarganya setelah serangan tersebut.
Tentunya dengan fenomena tersebut terjadi nya dampak Dampak konflik geopolitik Amerika Serikat dan Iran terhadap stabilitas ekonomi di Indonesia, kondisi perang Amerika dan Iran berimplikasi terhadap kondisi ekonomi di Negara lain salah satunya Indonesia, Indonesia salah satu Negara yang rentan terhadap dampak ketidakstabilan geopolitik.
Iran salah satu Negara dengan cadangan minyak terbesar kedua didunia dan mempunyai tata kelola selat hormuz, dimana selat hormuz memainkan peran krusial sebagai jalur utama pengangkutan minyak dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sekitar 15-20 juta barel minyak mentah per hari, atau 15-20% dari kebutuhan global, melewati selat ini dari negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, UEA, Iran, Irak, dan Qatar.
Ketika terjadi penutupan selat hormuz maka terjadi kendala kapal-kapal pengangkut minyak di dunia tidak bisa melakukan pasokan minyak ke Negara nya salah satu nya Indonesia. Dua kapal tanker pengangkut minyak Pertamina terjebak di selat Hormuz dengan terjebaknya dua kapal tanker minyak pertamina dan ditambah minimnya cadangan pasokan minyak di Indonesia menyebabkan kelangkaan dan panic buying BBM di nasional, seperti yang terjadi sekarang di Bangka Belitung terjaid panic buying, hampir semua SPBU di Bangka Belitung sudah dipadati oleh masyarakat guna untuk mandapatkan BBM sehingga antrian nya sangat padat dan tidak seperti biasanya tidak sedikit mafia lokal mengambil keuntungan atas kondisi tersebut.
Ketika BBM naik drastis tentunya pasti harga sektor primer bahan pokok seperti, beras, gula, tepung, daging ayam, minyak goreng, sayur-sayuran dll ikut menaik sebagai efek domino, kenaikan tersebut harus di mitigasi karena sangat memberatkan masyarakat ditambah dengan dekat nya hari Raya idul Fitri tentunya sangat memperlukan bahan-bahan logistic diatas dengan jumlah besar.
Motif Amerika Invasi Negara-negara kaya atas Sumber Daya Alam (SDA)
Amerika menginvasi Irak, iran, dan beberapa Negara lainya, bukan hanya menunjukan dominasi Amerika sebagai Negara Super Power (Adidaya), namun ada factor lain yang melatarbelakangi Amerika dalam invasi nya. Irak, Iran, dan Venezuella beberapa Negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah di sektor minyak mentah, bahkan Iran menhklaim menemukan cadangan Litium sebesar 8,5 Juta Ton, serangan Amerika ke beberapa Negara tersebut memilki motif ingin menguasai komoditas suatu Negara.
Motif lain dengan invasi Amerika ke Negara Iran, Irak dll tentunya ada faktor persaingan bisnis. Amerika ingin mengurangi impor minyak mentah Negara besar lainya seperti China, China masih bergantung pada impor Minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan industry yang sangat besar. Produktivitas China dalam melakukan kerja sama Multilateral strategis ekonomi terhadap Negara-negara timur tengah yang berimplikasi dengan kemajuan ekonomi yang sangat pesat.
Melihat hal tersebut Amerika tentunya tidak akan membiarkan dominasi nya di dunia direbut oleh China oleh sebab itu ada semacam intervensi, seperti tarif impor ekspor dan tarif dagang, intimidasi bahkan invasi ke suatu Negara seperti melakukan serangan dan sebagainya hanya untuk melemahkan impor komoditas ke china, dan tentunya jika hal tersebut berkepanjangan akan terganggu nya stabilitas ekonomi China.
DPC GMNI Bangka terhadap kondisi perang Amerika Serikat dan Iran
Sebagai kader Gmni kita sepakat dan konsisten menentang segala bentuk praktek Neo-Kolonialisme dan Imperialisme di muka bumi, sejalan dengan prinsip Marhenisme yang di konsep oleh Bung Karno bahwasanya “ Marheinisme menentang penindasan manusia atas manusia dan penindasan bangsa atas bangsa”.
Selaras apa yang dituliskan dalam pemnukaan UUD 1945 yang mengatakan “ Penjajahan di atas dunia harus di hapuskan karena tidak sesuai dengan Pri-kemanusiaan dan Pri-keadilan”. Tidak ada alasan untuk kader GmnI tidak mengecam dan menentang atas perbuatan Amerika Serikat dalam menginvasi Negara-negara lain, secara tegas Kader GmnI berkomitmen dan konsisten terus untuk menyuarakan Perdamaian atas perdaulatan bangsa-bangsa.***
Penulis: Affis Sahri Rhomadon, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan, DPC GMNI Bangka.