By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pemilu 2024 dan Tiktok

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 9 Maret 2024 | 18:21 WIB
Bagikan
Waktu Baca 8 Menit
Foto: Arjuna Putra Aldino, Ketua Umum DPP GMNI/Marhaenist.id.
Bagikan

Marhaenis.id – Penggunaan media sosial dalam pemilu 2024 telah menjadi fakta yang tak bisa terelakan. Laporan We Are Social menunjukkan, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 167 juta orang pada Januari 2023. Jumlah tersebut setara dengan 60,4% dari populasi Indonesia.

Peranan media sosial dalam pemilu 2024 semakin penting ditengah piramida pemilih pada pemilu 2024 didominasi dari kelompok generasi Z dan milenial, yakni sebanyak 56,45% dari total keseluruhan pemilih. Di lain sisi, pengguna media sosial di Indonesia rata-rata dari kelompok gen-z dan milenial.

Laporan Statista mencatat, pengguna media sosial di Indonesia paling banyak yakni berusia 25–34 tahun. Posisi selanjutnya yakni pengguna berusia 18–24 tahun.

Media sosial semakin memegang peranan kunci dalam pemilu 2024 ketika media sosial menjadi sumber informasi utama bagi kebanyakan anak muda dalam mengenal sosok calon presiden (capres) Pemilu 2024.

Hasil survei Populix menunjukkan 28% anak muda menjadikan media sosial sebagai sumber utama mengenal sosok calon presiden (capres) Pemilu 2024. Tiktok menjadi media sosial paling populer di Indonesia. Menurut perusahaan riset aplikasi Business of Apps, TikTok menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di Indonesia pada 2023.

Tercatat, platform video pendek yang berada di bawah naungan ByteDance ini telah diunduh sebanyak 67,4 juta kali di Indonesia sepanjang tahun lalu.

Indonesia menduduki peringkat kedua dengan jumlah pengguna TikTok terbanyak dunia yaitu mencapai 112,97 juta pengguna. Pengguna TikTok di Indonesia terbanyak yaitu pada kelompok usia 18–24 tahun.

Maka tak heran jika para kandidat calon presiden dan wakil presiden mengeluarkan dana cukup besar untuk berkampanye di platform media sosial asal China ini. Karena dilihat dari segi jangkauan, jangkauan iklan Tiktok cukup menjanjikan.

Baca Juga:   Ajaran Dasar Dalam Pendidikan Yang Terlupakan

Menurut laporan We Are Social, pada Januari 2024 iklan TikTok di Indonesia bisa menjangkau sekitar 126,83 juta audiens. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jangkauan iklan TikTok terluas ke-2 di dunia.

Komputasional Propaganda dan Ludo-Politics Berujung Hegemoni

Hampir semua kandidat capres dan cawapres pada pemilu 2024 menggunakan media Tiktok sebagai instrumen kampanye. Namun besaran pendanaan kampanye Tiktok menentukan volume dan intensitas kampanye daring ini.

Merujuk data Ad Library dari Meta Platform dalam tiga bulan terakhir (Agustus 2023-Oktober 2023), valuasi belanja iklan Prabowo menduduki peringkat pertama. Nilai transaksi belanja iklan terkait Prabowo mencapai Rp 8,67 miliar. Rata-rata nilai iklan terkait dengan Prabowo dalam sebulan mencapai Rp 1 miliar.

Dengan belanja sebesar ini, maka kata kunci “prabowo” dan “gemoy” mendominasi semesta Tiktok. Temuan Netray Media Monitoring menunjukan terdapat 1.070 konten dengan kata kunci “gemoy” pada periode pemantauan 24 November-4 Desember 2023.

Konten video dengan kata kunci “gemoy” ini telah ditonton sebanyak 57,3 juta kali dengan total impresi mencapai 2,6 juta reaksi. Begitu juga dengan analisis Drone Emprit, pasangan calon (paslon) nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka meraih interaksi tertinggi di TikTok, yakni sebanyak 376 juta interaksi sepanjang 16–22 Januari 2024.

Konten Prabowo-Gibran mendapatkan interaksi yang tinggi, paling besar bukan dari akun dengan follower jutaan. Bahkan dari top 10 akun, sebagian besar followernya di bawah 100K.

Hal ini mengindikasikan adanya komputasional propaganda yang menggunakan algoritma, otomatisasi, dan kurasi manusia yang secara sengaja dikelola untuk mendistribusikan informasi melalui jaringan media sosial.

Samuel C. Woolley dan Philip N. Howard menyebut komputasional propaganda ini identik dengan penggunaan automated software products termasuk penggunaan akun bots yang dibantu dengan machine learning yang belajar dan meniru layaknya pengguna media sosial sesungguhnya. Kata kunci dari komputasional propaganda ialah otomatisasi, skalabilitas, dan anonimitas.

Baca Juga:   Marhaenisme & Pengentasan Kemiskinan: Momentum Hari Raya Idul Fitri

Akun bots inilah yang kini menjadi automated social actors di era digital culture. Bersama influncer dan buzzer, akun bots ini dikordinir untuk menyebarkan pesan-pesan politik tertentu dalam jumlah besar dan cepat yang seakan-akan berperan sebagai “suara akar rumput” untuk mendukung agenda-agenda politik tertentu dan meredam suara-suara kritis yang berbeda.

Disinilah komputasional propaganda berperan memanipulasi opini publik untuk menghasilkan fabrikasi persetujuan (manufacturing consent) dengan memanfaatkan emosi dan prasangka serta mengabaikan pemikiran rasional

Selain secara teknis, secara sosial komputasional propaganda juga menghasilkan hegemoni. Dengan bots politik yang kemudian dibantu oleh influencer dan buzzer, komputasional propaganda mendominasi perbincangan dan mengendalikan sudut pandang masyarakat tentang politik, yang pada akhirnya ia menguasai kesadaran masyarakat serta keputusan politik warga sesuai keinginan sang propagandis.

Bahkan dengan otomatisasi dan pesan propaganda yang dipersonalisasi untuk mengelabuhi pengguna, maka distribusi konten propaganda komputasi dalam jumlah besar dan cepat merangsek ke dalam jaringan luas orang-orang terdekat layaknya keluarga dan teman, lingkaran orang-orang yang dipercaya dan disayangi. Sehingga secara tak sadar alur berpikir seseorang telah dikendalikan dan akhirnya berpengaruh besar pada proses pengambilan keputusan politik.

Kehadiran komputasional propaganda ini kemudian memicu perdebatan perihal “partisipasi” publik terkait hal politik dalam media sosial. Hegemoni yang dihasilkan oleh komputasional propaganda dengan kekuatan otomatisasi, skalabilitas, dan anonimitas, memicu problematika terkait partisipasi warga.

Media sosial yang menawarkan akses luar biasa terhadap data, pengetahuan, jaringan sosial, dan peluang keterlibatan kolektif justru menciptakan apa yang disebut Eggo Muller sebagai “ruang partisipasi yang terformat” (formatted spaces of participation) yakni partisipasi yang berisifat semu (tokenisme) akibat pengondisian yang dilakukan oleh mesin komputasional propaganda yang mengendalikan kesadaran pengguna.

Baca Juga:   Kelompok Anarko, Dalang Dibalik Kerusuhan Agustus 2025 di Indonesia?

Apalagi konten-konten politik yang bertebaran Tiktok kerapkali dirancang dengan prinsip ludo-politics yang menampilkan politik yang menyenangkan dan menggemaskan layaknya citra gemoy yang ditampilkan melalui AI, peniruan karakteristik kartun seperti Naruto, berjoget hingga mengeksploitasi emosi dengan skema menangis berjamaah semakin jauh dari rasionalitas komunikatif sebagai syarat pembangunan ruang publik yang rasional dan demokrasi yang substansial.

Alih-alih meningkatkan partisipasi politik gen-z dan milenial, ludo-politics konten Tiktok justru menghasilkan gejala psikologis dan digital culture yang disebut FOMO (Fearing Of Missing Out) yaitu perilaku yang takut atau tak mau ketinggalan dengan sesuatu yang sedang viral di media sosial. Artinya, pesan politik yang dangkal, keliru bahkan menyesatkan apabila dikemas dengan prinsip ludo-politics maka akan tersebar luas dan dikonsumsi banyak orang.

Fenomena komputasional propaganda yang menghasilkan hegemoni melalui konten Tiktok yang dikemas dengan ludic (lucu) dan casual politicking (politik santai) ala gen-z dan milenial menyisakan pertanyaan mendasar dalam masyarakat demokratis yakni apakah proses demokrasi tersebut mampu menghasilkan pemimpin politik yang bisa merealisasikan kesejahteraan, keadilan yang menjadi hak warga negara hingga menjaga supremasi sipil dan nilai-nilai demokrasi layaknya freedom of speech, hak asasi dsb.


Penulis: Arjuna Putra Aldino, Ketua Umum DPP GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Rabu, 15 April 2026 | 14:58 WIB
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Rabu, 15 April 2026 | 14:13 WIB
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Selasa, 14 April 2026 | 20:54 WIB
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
Selasa, 14 April 2026 | 19:40 WIB
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan
Selasa, 14 April 2026 | 19:26 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Nyanyian dan Sumpah Tanpa Jiwa

Marhaenist.id - Ada yang sunyi di tengah gegap gempita peringatan Sumpah Pemuda.…

Soekarno-Khrushchev Diantara Kemesraan Indonesia dan Uni Soviet

Marhaenist - Sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, Indonesia dan Uni Soviet menjalin…

Konsep “Partai Perorangan” PSI

Marhaenist.id - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) selama ini dikenal sebagai partai yang…

Biden Sebut Terlalu Dini Jika Memastikan Penembakan Trump Sebagai Upaya Pembunuhan

Marhaenist - Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan terlalu dini untuk memastikan…

Menjadi Negeri Para Jenderal, Firman Tendry Masengi Kritik Dominasi Militer dalam Ruang Publik dan Politik Nasional

Marhaenist.id, Jakarta - Advokat sekaligus alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Firman…

Marhaenis Dalam Bingkai Foto

Marhaenist - Ever Onward Never Retreat. Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun…

Gelar PPAB, GMNI UIN Salatiga Tanamkan Jiwa Nasionalis dan Sosialis

Marhaenist.id, Salatiga - Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Republik Pengantar Paket

Marhaenist.id - Sekarang marilah kita menyulam kembali ingatan kita tentang pengalaman pahit…

Koperasi dan Era Anthropocene: Menjawab dengan Praktik atas Krisis Kemanusiaan dan Lingkungan

Seri Belajar Koperasi #1 Marhaenist - Praktik sistem kapitalisme industri yang berkembang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?