By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Konsep “Partai Perorangan” PSI

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 12 Maret 2025 | 19:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Kaesang Pangerap, Ketua Umum PSI (Sumber foto: Nertay)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) selama ini dikenal sebagai partai yang membawa semangat anak muda, penuh dengan ide-ide segar dan keberanian untuk menantang arus politik lama. Namun, dalam perjalanannya, PSI tampaknya justru mulai terseret ke dalam irama politik konservatif, yang mereka sendiri dahulu kritik. Dengan mengusung gagasan “Partai Perorangan” yang menekankan kepemilikan partai oleh individu dan sistem one man one vote dalam pemilihan ketua umum, PSI mencoba menampilkan dirinya sebagai partai yang lebih terbuka dan demokratis.

Namun, jika kita menelaah konsep ini lebih dalam, tampak bahwa pendekatan PSI justru berpotensi menjauh dari akar politik Indonesia yang berbasis musyawarah mufakat dan gotong royong. Selain itu, alih-alih membangun sistem yang lebih kolektif dan berbasis kebersamaan, PSI malah berisiko terjebak dalam demokrasi prosedural yang kering, yang lebih mementingkan mekanisme pemilihan ketimbang substansi politik itu sendiri.

Ironisnya, sebagai partai yang mengusung semangat anak muda, PSI seharusnya tampil lebih berani dan tidak hanya sekadar mengikuti pola politik individualistik yang diimpor dari sistem demokrasi liberal. Bukankah semangat progresif itu seharusnya bukan hanya soal tampilan modern dan pemilihan langsung, tetapi juga tentang keberanian menata ulang gagasan besar dalam politik nasional?

Bukankah seharusnya PSI menggali kembali semangat yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 33 UUD 1945, yang menempatkan kolektivitas dan keadilan sosial sebagai inti politik Indonesia?

Salah satu kekeliruan mendasar dalam konsep “Partai Perorangan” adalah kecenderungannya untuk memahami partai politik sebagai milik individu-individu yang terpisah (atomistic ownership). PSI tampaknya membayangkan bahwa partai adalah kumpulan individu yang berdiri sendiri, padahal dalam realitas politik, partai merupakan entitas sosial yang berakar dalam konteks sejarah, budaya, dan perjuangan rakyat.

Baca Juga:   Menyatukan Barisan: Seruan Kader DPK GMNI FKIP Universitas Khairun Ternate untuk Merumuskan Strategi Kolektif Menghadapi Polemik DPP

Dalam pemikiran Heidegger, keterpisahan individu dari konteks sosial yang lebih luas merupakan bentuk keterasingan (Entfremdung), di mana manusia atau organisasi kehilangan hubungan autentiknya dengan realitas di sekitarnya. Jika PSI benar-benar ingin menjadi partai yang membumi, maka mereka harus memahami bahwa partai politik tidak bisa hanya dilihat sebagai kepemilikan individu yang terpisah-pisah, tetapi sebagai wadah perjuangan kolektif yang memiliki keterikatan organik dengan masyarakat.

Salah satu kelemahan utama dalam konsep PSI adalah keyakinan bahwa demokrasi hanya soal memilih. PSI tampaknya terlalu percaya bahwa dengan menerapkan sistem one man one vote, mereka telah menciptakan demokrasi yang lebih baik. Padahal, demokrasi di Indonesia sejak awal telah berakar pada musyawarah mufakat—sebuah mekanisme yang tidak hanya memungkinkan keterlibatan individu, tetapi juga menjamin keputusan yang mencerminkan kebersamaan.

Foto: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta/MARHAENIST.

Keterputusan dari tradisi deliberatif seperti ini mencerminkan bentuk keterasingan eksistensial dalam politik. Heidegger menggunakan istilah Gerede (obrolan kosong) untuk menggambarkan fenomena ketika sesuatu tampak bermakna di permukaan, tetapi sebenarnya kosong di dalam. Jika PSI hanya sibuk berbicara tentang keterbukaan tanpa benar-benar memahami apa itu demokrasi yang berakar pada realitas sosial Indonesia, maka apa yang mereka lakukan bisa jadi hanyalah sebatas Gerede—sekadar retorika politik yang tidak menyentuh substansi.

Sebagai partai muda yang membawa semangat perubahan, PSI seharusnya melampaui demokrasi prosedural ini dan menggali lebih dalam bagaimana demokrasi bisa dijalankan dengan lebih substantif. Jangan sampai mereka hanya menjadi partai yang sibuk dengan inovasi kosmetik, tetapi kehilangan arah dalam perjuangan yang sebenarnya.

Lebih lanjut, gagasan PSI yang menyamakan dirinya dengan perusahaan terbuka (TBK) mencerminkan cara berpikir politik yang modern tetapi terasing (Entfremdung). Dengan mengadopsi analogi bisnis, PSI mereduksi politik menjadi sekadar mekanisme transaksi dan kehilangan akar nilai politik yang lebih mendalam. Padahal, partai politik bukanlah perusahaan yang sekadar mencari keuntungan atau efisiensi struktural, tetapi entitas ideologis yang seharusnya berorientasi pada nilai dan perjuangan.

Baca Juga:   Amerika Serikat Bakal Jadi Raksasa Crypto? Sementara El Salvador Sukses, Indonesia Masih Terjebak di Bursa Saja!

Heidegger berulang kali mengkritik bagaimana modernitas menciptakan cara berpikir instrumental yang melihat segala sesuatu dalam istilah yang terlepas dari makna esensialnya. Dalam konteks ini, PSI berisiko mengubah politik menjadi sesuatu yang impersonal, birokratis, dan tidak berakar pada perjuangan rakyat.

Dalam politik Indonesia, ada satu nilai yang telah lama menjadi ciri khas: gotong royong. Konsep ini bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi merupakan bentuk nyata dari sistem sosial yang menempatkan kebersamaan di atas kepentingan individual. Jika ditelaah lebih dalam, gotong royong memiliki kedekatan dengan prinsip sosialisme, di mana kepentingan bersama lebih diutamakan daripada sekadar kepemilikan individu.

Pasal 33 UUD 1945 dengan jelas menegaskan bahwa sistem ekonomi Indonesia didasarkan pada asas kekeluargaan—suatu model yang sangat berbeda dari individualisme yang diusung oleh sistem ekonomi liberal. Jika kita tarik lebih jauh, asas ini sebenarnya bisa menjadi inspirasi untuk sistem politik yang lebih berkeadilan.

Namun, jangankan menggali kembali konsep kolektivitas ini, PSI justru cenderung bergerak ke arah sebaliknya dengan menekankan kepemilikan individu dalam partai dan sistem voting berbasis individualisme. Heidegger menyebut kondisi seperti ini sebagai bentuk kehilangan autentisitas (Uneigentlichkeit), di mana suatu entitas (dalam hal ini, PSI) kehilangan keterhubungannya dengan jati diri sejatinya.

Jika Bodenständigkeit berarti memiliki keterhubungan yang otentik dengan masyarakat, maka partai politik seharusnya memperkuat hubungan organik dengan rakyat, bukan dengan menciptakan ilusi keterbukaan yang justru dapat menghilangkan makna keberpihakan politik. PSI harus lebih dari sekadar partai dengan sistem pemilihan modern; mereka harus mampu membangun hubungan nyata dengan rakyat, memahami kebutuhan mereka, dan bergerak bersama dalam perjuangan kolektif.

Jika PSI ingin tetap relevan dan autentik, mereka seharusnya lebih mendasarkan diri pada semangat kebersamaan, kolektivitas, dan gotong royong—nilai-nilai yang telah lama mengakar dalam politik Indonesia. Jika tidak, mereka hanya akan menjadi bagian dari demokrasi prosedural yang kehilangan makna.

Baca Juga:   Pemilu 2024 dan Tiktok

Beranikah PSI untuk kembali pada politik yang lebih berakar, lebih sosialistis, dan lebih berorientasi pada keadilan? Atau mereka akan terus hanyut dalam demokrasi dangkal yang hanya terlihat modern di permukaan.***


Penulis: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Rabu, 17 Desember 2025 | 00:13 WIB
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Selasa, 16 Desember 2025 | 19:45 WIB
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
Selasa, 16 Desember 2025 | 14:06 WIB
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:18 WIB
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:16 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Kasat Narkoba Polres Berhasil Gagalkan Penyelundupan 76 Kg Sabu, Ketua DPC GMNI Asahan Berikan Apresiasi

Marhaenist.id, Asahan - Satuan Reserse Narkoba Polres Asahan di bawah kepemimpinan Kasat…

Memimpikan Timnas Juara Dunia Lewat Koperasi Sepak Bola Indonesia: Inspirasi Demokrasi Ekonomi

Marhaenist.id - Belajar dari pengelolaan klub besar sepak bola dunia dengan jalan…

Kota Balikpapan Belum Merdeka?

Marhaenist.id - Merdeka adalah cita-cita mulia yang diimpikan setiap daerah di Indonesia.…

Konsistensi Jiwa Sang Patriot Palar Batubara

Marhaenist.id, Jakarta - Para tokoh nasional memberikan testimoni dan kesaksian kiprah panjang…

Bersikaplah Realistis dan Lihatlah ke Masa Depan, Deng Xiaoping

MARHAENIST - Sehubungan dengan pengembangan industri, perhatian utama saya adalah bagaimana bersikap…

Jalan Rusak Loloda Utara Kembali Telan Korban, GMNI Halut Desak Pemprov dan Pemkab Bertanggung Jawab

Marhaenist.id, Halut — Sukacita Natal berubah menjadi duka mendalam bagi masyarakat Loloda…

Gelar Kongres Persatuan, DPC GMNI Ternate Dorong Adanya Rekonsoliasi Nasional

Marhaenist.id, Ternate - Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera mengelar Kongres…

Suport Dunia Pendidikan, PA GMNI Jalin Kerjasama Dengan UBK

Marhaenist - Universitas Bung Karno (UBK) menjalin kerjasama dengan Dewan Pimpinan Pusat…

Jaga Demokrasi, Ribuan Alumni Perguruan Tinggi se-Jawa Barat Deklarasi Dukung Ganjar

Marhaenist.id, Jakarta - Ribuan alumni perguruan tinggi se-Jawa Barat mendeklarasikan diri untuk…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?