By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Konsep “Partai Perorangan” PSI

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 12 Maret 2025 | 19:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Kaesang Pangerap, Ketua Umum PSI (Sumber foto: Nertay)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) selama ini dikenal sebagai partai yang membawa semangat anak muda, penuh dengan ide-ide segar dan keberanian untuk menantang arus politik lama. Namun, dalam perjalanannya, PSI tampaknya justru mulai terseret ke dalam irama politik konservatif, yang mereka sendiri dahulu kritik. Dengan mengusung gagasan “Partai Perorangan” yang menekankan kepemilikan partai oleh individu dan sistem one man one vote dalam pemilihan ketua umum, PSI mencoba menampilkan dirinya sebagai partai yang lebih terbuka dan demokratis.

Namun, jika kita menelaah konsep ini lebih dalam, tampak bahwa pendekatan PSI justru berpotensi menjauh dari akar politik Indonesia yang berbasis musyawarah mufakat dan gotong royong. Selain itu, alih-alih membangun sistem yang lebih kolektif dan berbasis kebersamaan, PSI malah berisiko terjebak dalam demokrasi prosedural yang kering, yang lebih mementingkan mekanisme pemilihan ketimbang substansi politik itu sendiri.

Ironisnya, sebagai partai yang mengusung semangat anak muda, PSI seharusnya tampil lebih berani dan tidak hanya sekadar mengikuti pola politik individualistik yang diimpor dari sistem demokrasi liberal. Bukankah semangat progresif itu seharusnya bukan hanya soal tampilan modern dan pemilihan langsung, tetapi juga tentang keberanian menata ulang gagasan besar dalam politik nasional?

Bukankah seharusnya PSI menggali kembali semangat yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 33 UUD 1945, yang menempatkan kolektivitas dan keadilan sosial sebagai inti politik Indonesia?

Salah satu kekeliruan mendasar dalam konsep “Partai Perorangan” adalah kecenderungannya untuk memahami partai politik sebagai milik individu-individu yang terpisah (atomistic ownership). PSI tampaknya membayangkan bahwa partai adalah kumpulan individu yang berdiri sendiri, padahal dalam realitas politik, partai merupakan entitas sosial yang berakar dalam konteks sejarah, budaya, dan perjuangan rakyat.

Baca Juga:   Merancang Masa Depan Demokrasi Indonesia

Dalam pemikiran Heidegger, keterpisahan individu dari konteks sosial yang lebih luas merupakan bentuk keterasingan (Entfremdung), di mana manusia atau organisasi kehilangan hubungan autentiknya dengan realitas di sekitarnya. Jika PSI benar-benar ingin menjadi partai yang membumi, maka mereka harus memahami bahwa partai politik tidak bisa hanya dilihat sebagai kepemilikan individu yang terpisah-pisah, tetapi sebagai wadah perjuangan kolektif yang memiliki keterikatan organik dengan masyarakat.

Salah satu kelemahan utama dalam konsep PSI adalah keyakinan bahwa demokrasi hanya soal memilih. PSI tampaknya terlalu percaya bahwa dengan menerapkan sistem one man one vote, mereka telah menciptakan demokrasi yang lebih baik. Padahal, demokrasi di Indonesia sejak awal telah berakar pada musyawarah mufakat—sebuah mekanisme yang tidak hanya memungkinkan keterlibatan individu, tetapi juga menjamin keputusan yang mencerminkan kebersamaan.

Foto: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta/MARHAENIST.

Keterputusan dari tradisi deliberatif seperti ini mencerminkan bentuk keterasingan eksistensial dalam politik. Heidegger menggunakan istilah Gerede (obrolan kosong) untuk menggambarkan fenomena ketika sesuatu tampak bermakna di permukaan, tetapi sebenarnya kosong di dalam. Jika PSI hanya sibuk berbicara tentang keterbukaan tanpa benar-benar memahami apa itu demokrasi yang berakar pada realitas sosial Indonesia, maka apa yang mereka lakukan bisa jadi hanyalah sebatas Gerede—sekadar retorika politik yang tidak menyentuh substansi.

Sebagai partai muda yang membawa semangat perubahan, PSI seharusnya melampaui demokrasi prosedural ini dan menggali lebih dalam bagaimana demokrasi bisa dijalankan dengan lebih substantif. Jangan sampai mereka hanya menjadi partai yang sibuk dengan inovasi kosmetik, tetapi kehilangan arah dalam perjuangan yang sebenarnya.

Lebih lanjut, gagasan PSI yang menyamakan dirinya dengan perusahaan terbuka (TBK) mencerminkan cara berpikir politik yang modern tetapi terasing (Entfremdung). Dengan mengadopsi analogi bisnis, PSI mereduksi politik menjadi sekadar mekanisme transaksi dan kehilangan akar nilai politik yang lebih mendalam. Padahal, partai politik bukanlah perusahaan yang sekadar mencari keuntungan atau efisiensi struktural, tetapi entitas ideologis yang seharusnya berorientasi pada nilai dan perjuangan.

Baca Juga:   Selama Ego Masih Menggebu, Bicara Persatuan di Tubuh GMNI Hanyalah Omong Kosong - Refleksi Perjalanan GMNI

Heidegger berulang kali mengkritik bagaimana modernitas menciptakan cara berpikir instrumental yang melihat segala sesuatu dalam istilah yang terlepas dari makna esensialnya. Dalam konteks ini, PSI berisiko mengubah politik menjadi sesuatu yang impersonal, birokratis, dan tidak berakar pada perjuangan rakyat.

Dalam politik Indonesia, ada satu nilai yang telah lama menjadi ciri khas: gotong royong. Konsep ini bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi merupakan bentuk nyata dari sistem sosial yang menempatkan kebersamaan di atas kepentingan individual. Jika ditelaah lebih dalam, gotong royong memiliki kedekatan dengan prinsip sosialisme, di mana kepentingan bersama lebih diutamakan daripada sekadar kepemilikan individu.

Pasal 33 UUD 1945 dengan jelas menegaskan bahwa sistem ekonomi Indonesia didasarkan pada asas kekeluargaan—suatu model yang sangat berbeda dari individualisme yang diusung oleh sistem ekonomi liberal. Jika kita tarik lebih jauh, asas ini sebenarnya bisa menjadi inspirasi untuk sistem politik yang lebih berkeadilan.

Namun, jangankan menggali kembali konsep kolektivitas ini, PSI justru cenderung bergerak ke arah sebaliknya dengan menekankan kepemilikan individu dalam partai dan sistem voting berbasis individualisme. Heidegger menyebut kondisi seperti ini sebagai bentuk kehilangan autentisitas (Uneigentlichkeit), di mana suatu entitas (dalam hal ini, PSI) kehilangan keterhubungannya dengan jati diri sejatinya.

Jika Bodenständigkeit berarti memiliki keterhubungan yang otentik dengan masyarakat, maka partai politik seharusnya memperkuat hubungan organik dengan rakyat, bukan dengan menciptakan ilusi keterbukaan yang justru dapat menghilangkan makna keberpihakan politik. PSI harus lebih dari sekadar partai dengan sistem pemilihan modern; mereka harus mampu membangun hubungan nyata dengan rakyat, memahami kebutuhan mereka, dan bergerak bersama dalam perjuangan kolektif.

Jika PSI ingin tetap relevan dan autentik, mereka seharusnya lebih mendasarkan diri pada semangat kebersamaan, kolektivitas, dan gotong royong—nilai-nilai yang telah lama mengakar dalam politik Indonesia. Jika tidak, mereka hanya akan menjadi bagian dari demokrasi prosedural yang kehilangan makna.

Baca Juga:   Konflik AS - Israel VS Iran: Antara Narasi Demokrasi dan Perebutan Sumber Daya Energi

Beranikah PSI untuk kembali pada politik yang lebih berakar, lebih sosialistis, dan lebih berorientasi pada keadilan? Atau mereka akan terus hanyut dalam demokrasi dangkal yang hanya terlihat modern di permukaan.***


Penulis: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Rabu, 15 April 2026 | 14:58 WIB
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Rabu, 15 April 2026 | 14:13 WIB
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Selasa, 14 April 2026 | 20:54 WIB
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
Selasa, 14 April 2026 | 19:40 WIB
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan
Selasa, 14 April 2026 | 19:26 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Tantang Keberpihakan Pram Doel Ke Seniman, Pelukis Kota Tua Kirim Undangan Ke Markas Timses Jl Cemara 19

Marhaenist.id, Jakarta - Perhelatan Pemilu acapkali ramai dengan banyak acara yang bertujuan…

Satu Tahun DPRD Binjai: Tunjangan Mengalir Deras, Produk Hukum Nihil

Marhaenist.id, Binjai – Satu tahun sudah 35 anggota DPRD Kota Binjai duduk…

Masyarakat Burnout: Dari Disipliner ke Pasca-Disipliner

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Hidup di Tengah Kelelahan Kolektif: Kita hidup dalam zaman…

Pemimpin Baru Yogya Harus Bisa Wujudkan Kota Yang Bersih, Berbudaya, Bermartabat dan Berkemajuan

Marhaenist.id, Yogyakarta - Lima tahun ke depan, Yogyakarta akan menjadi kota yang…

FORKOMCAB GMNI Sumsel Gerakkan Solidaritas Publik: Open Donasi untuk Korban Banjir & Longsor Sumatera

Marhaenist.id, Sumsel — Gelombang banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di…

Tiga Komponen Marhaenisme

Marhaenist.id - Salah satu karya agung Soekarno di lapangan pemikiran adalah Marhaenisme.…

Ekonomi Lesu, Larangan Jual Rokok Ketengan Sangat Tidak Tepat

Marhaenist - Ekonom menilai larangan menjual rokok eceran sangat tidak tepat di…

GMNI Batam: Jangan Terlena Propaganda, Negara Harus Kembali ke Jalan Keadilan Sosial

Marhaenist.id, Batam – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kota Balikpapan Belum Merdeka?

Marhaenist.id - Merdeka adalah cita-cita mulia yang diimpikan setiap daerah di Indonesia.…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?