By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Negara Hukum Indonesia Bukan Negara Undang-Undang
Marhaenist.id dan Segelas Kopi: Pengabdian Tanpa Batas
DPC GMNI Jakarta Timur Gelar Aksi di Kantor Pusat Panin Bank, Soroti Dugaan Perampasan Hak Debitur
Nusantara dan Krisis Peradaban Modern

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Menjadi Negeri Para Jenderal, Firman Tendry Masengi Kritik Dominasi Militer dalam Ruang Publik dan Politik Nasional

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 5 Desember 2025 | 14:42 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Advokat dan Alumni GMNI (Sumber: Jakartasatu.com)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Advokat sekaligus alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Firman Tendry Masengi, melontarkan kritik mendalam terhadap dominasi para jenderal dalam ruang publik, simbol negara, dan praktik-praktik kekuasaan di Indonesia.

Ia menyoroti bagaimana jejak kekuasaan militer masih begitu kuat bahkan dalam kehidupan sipil, membentuk ingatan kolektif yang mengekalkan relasi kekuasaan yang timpang.

Melalui narasinya yang lugas dalam sebuah opini dengan judul NEGERI PARA JENDERAL:  TENTANG TANAH REPUBLIK YANG RAKYAT TERUS TERJAJAH yang tanyang di Jakartasatu.com Selasa (2/12/2025), Firman Tendry Masengi menyatakan bahwa nama-nama jenderal menghiasi hampir seluruh infrastruktur negara, mulai dari jalan raya, bandara, pelabuhan, hingga fasilitas publik lainnya.

Fenomena tersebut dianggapnya sebagai bentuk “Penjara Ingatan” yang memaksa rakyat untuk terus hidup di bawah bayang-bayang figur yang justru kerap mengkhianati kepentingan rakyat.

“Setiap kali seseorang menyebut nama jalan tempat mereka tinggal, mereka tanpa sadar mengucapkan mantra yang menyanjung para petinggi yang mengkhianati rakyat,” tulis Firman Tendry Masengi.

Menurutnya, tindakan memberi nama fasilitas publik dengan nama para jenderal bukan sekadar bentuk penghormatan historis, tetapi strategi propaganda yang menutupi praktik-praktik kekuasaan yang timpang.

Ia menilai bahwa simbol-simbol tersebut menjadi alat kolonialisasi domestik yang melanggengkan dominasi militer dalam kehidupan sipil.

Masengi juga menyoroti bagaimana sebagian jenderal memindahkan “medan tempur” dari masa perang ke ruang politik dan ekonomi.

Ia menuduh para jenderal menggunakan kekuatan simbolik dan institusional untuk menguasai sumber daya negara, menggusur masyarakat, hingga menekan kritik publik atas nama stabilitas nasional.

“Dulu musuhnya penjajah. Kini musuhnya adalah rakyatnya sendiri,” tegasnya dalam tulisan itu.

Dalam analisanya, Masengi menggambarkan bagaimana jargon seperti nasionalisme, keamanan, dan stabilitas kerap dijadikan pembenaran bagi tindakan represif maupun kebijakan yang merugikan rakyat kecil.

Baca Juga:   Iran Ajukan Proposal Kontroversial di Islamabad, Pengamat: Tatanan Maritim Dunia Sedang Didefinisikan Ulang

Ia menilai bahwa praktik politik demikian menempatkan rakyat sebagai pihak yang terus menerus dilemahkan dan dijauhkan dari hak-haknya sebagai warga negara.

Lebih jauh, ia menyatakan bahwa para jenderal kerap tampil sebagai penyelamat ketika negara menghadapi krisis, padahal sebagian dari mereka turut berperan menciptakan krisis tersebut.

Menurutnya, rakyat tidak boleh dibiarkan lupa bahwa banyak persoalan bangsa justru lahir dari kesalahan elite yang kini tampil seolah pahlawan.

Masengi menutup opininya dengan pertanyaan reflektif tentang makna kemerdekaan Indonesia hari ini:

“Apakah negeri ini benar-benar pernah merdeka? Atau hanya berganti penjajah dari asing menjadi seragam sendiri?” tulisnya diakhir.***

Penulis: Bung Wadhaar/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 | 01:02 WIB
Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M. S. (Foto: Sang)/MARHAENIST.
Negara Hukum Indonesia Bukan Negara Undang-Undang
Jumat, 8 Mei 2026 | 20:07 WIB
Marhaenist.id dan Segelas Kopi: Pengabdian Tanpa Batas
Jumat, 8 Mei 2026 | 16:29 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Gelar Aksi di Kantor Pusat Panin Bank, Soroti Dugaan Perampasan Hak Debitur
Jumat, 8 Mei 2026 | 14:42 WIB
Nusantara dan Krisis Peradaban Modern
Jumat, 8 Mei 2026 | 14:39 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Anak yang Diracuni dan Tubuh yang Ditertibkan

Marhaenist.id - Saat anak-anak jatuh sakit akibat makanan dari kebijakan negara dan…

Aristoteles: Kegagalan adalah Pelajaran, Tetapi Menyerah adalah Kekalahan Sejati

Marhaenist.id - Aristoteles mengungkapkan bahwa Hidup adalah perjalanan penuh tantangan. Di setiap…

Perjuangkan Tanah Rakyat, GMNI Kendari: Kades Polindu Lakukan Perbuatan Melawan Hukum

Marhaenist.id, Kendari - Puluhan massa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota…

Dua Ekor Bebek Untuk Kegagalan Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu

MARHAENIST - Massa aksi yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Selat Hormuz Bergejolak, Bayu Sasongko: Momentum Nusantara Bangkit

Marhaenist.id, Jakarta — Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah…

Ganjar-Mahfud Tampil Stylish dengan Jaket Varsity Karya Anak Bangsa di Debat Terakhir

 Marhaenist.id, Jakarta - Pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD selalu tampil beda dalam panggung…

Kemerdekaan Yang Tidak Pasti: Potret Kekerasan Perempuan Tak Kunjung Usai

MARHAENIST - Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79 adalah momentum yang ditunggu oleh…

Penjarahan & Anarkisme: Berdasarkan Narasi Rakyat vs Narasi Negara

Marharnist.id - (Pengantar) Kekerasan massa (termasuk penjarahan oleh segelintir orang) kerap muncul…

Dies Natalis ke-72 GMNI, DPC Jakarta Timur Gelar Diskusi Publik Bahas Relevansi Politik Bebas Aktif di Tengah Geopolitik Global

Marhaenist.id, Jaktim – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?