By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Polemik Kopdes Merah Putih di Desa Polindu Kian Memanas, Inilah Kata Praktisi Hukum!
GMNI DKI Kecam Gugurnya 3 Prajurit TNI oleh Israel: Desak RI Keluar dari BOP dan Fokus Krisis Domestik
Pejuang Buruh Marhaenis Joppie Tehupeiory Wafat, Warisan Perjuangan KUP KPM Kembali Disorot
GMNI Dituding Komunis, Pimred Marhaenist.id: Ini Fitnah Intelektual!
Dies Natalis ke-72 GMNI, DPC Jakarta Timur Gelar Diskusi Publik Bahas Relevansi Politik Bebas Aktif di Tengah Geopolitik Global

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Menolak Lupa: Perlawanan Sebagai Puncak Kehormatan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 29 Maret 2026 | 15:47 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Fiman Tendry Masengi, Advokad, Alumni GMNI, Direktur Eksekutif RECHT Institute (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Eksistensi manusia dalam bentang sejarah bukan sekedar urutan kronologis peristiwa yang pasif, melainkan sebuah medan tempur makna dimana kehormatan ditegakkan melalui dialektika perlawanan.

Sejarah tidak pernah netral. Ia selalu menjadi ruang perebutan makna, tempat kekuasaan berusaha menentukan apa yang harus diingat dan apa yang harus dilupakan.

Dalam wilayah seperti itu, manusia dihadapkan pada pilihan mendasar: tunduk pada konstruksi ingatan yang direkayasa, atau berdiri sebagai subjek yang mempertahankan martabatnya melalui perlawanan.

Di poin inilah perlawanan melampaui makna politisnya yang sempit dan menjelma sebagai bentuk tertinggi dari kehormatan manusia.

Gagasan ini menemukan dasar analitisnya dalam pemikiran Paul Connerton, *How Societes Remember 1989*, yang menunjukkan bahwa ingatan kolektif tidak sekadar tersimpan dalam arsip atau teks, melainkan hidup dalam praktik sosial yang berulang dan tertanam dalam tubuh.

Kekuasaan yang represif memahami hal ini dengan sangat baik. Ia tidak hanya memproduksi hukum dan narasi resmi, tetapi juga membangun ritus-ritus kepatuhan yang perlahan mengikis memori perlawanan.

Upacara formal, bahasa birokrasi, hingga gestur sehari-hari disusun sedemikian rupa agar masyarakat terbiasa melupakan ketidakadilan yang pernah mereka alami.

Namun di tengah mekanisme pelupaan yang sistemik itu, perlawanan hadir sebagai tindakan yang mengganggu keteraturan semu tersebut. Ia bukan sekadar penolakan, melainkan upaya sadar untuk merebut kembali ruang ingatan.

Ketika seseorang menolak tunduk pada praktik yang menormalisasi ketidakadilan, ia sedang menghidupkan kembali memori yang hendak dihapus.

Tubuh, dalam konteks ini, berubah menjadi medium kebenaran—sebuah monumen hidup yang menolak dikendalikan oleh kehendak penguasa.

Kehormatan tidak lagi bersifat abstrak, tetapi terwujud dalam tindakan konkret yang menjaga ingatan tetap bernyala.

Sejarah Indonesia sendiri memberikan ilustrasi nyata tentang bagaimana perlawanan bekerja sebagai penjaga memori.

Baca Juga:   Tragedi Kecelakaan Bus SMK Lingga Kencana Depok: Luka Mendalam dan Evaluasi Total!

Peristiwa Reformasi 1998 menunjukkan bahwa kekuasaan yang tampak kokoh dapat runtuh ketika masyarakat menolak melupakan akumulasi ketidakadilan.

Demikian pula tragedi Peristiwa KM 50 yang hingga kini masih menyisakan pertarungan narasi, memperlihatkan bagaimana pelupaan dapat diproduksi secara sistemik melalui kontrol informasi dan represi.

Dalam kedua konteks ini, perlawanan bukan hanya soal menggugat kekuasaan, tetapi juga soal mempertahankan ingatan agar sejarah tidak dimonopoli oleh satu versi kebenaran.

Dimensi eksistensial dari perlawanan ini diperdalam oleh pemikiran Friedrich Nietzsche, *On the Genealogy of Morality, 1887* melalui konsep *mnemoteknik*—cara ingatan ditanamkan melalui pengalaman yang mengguncang kesadaran, termasuk penderitaan.

Nietzsche melihat bahwa manusia yang mampu menjaga janjinya adalah manusia yang mampu mengingat, dan kemampuan itu tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari pengalaman yang menggores kesadaran secara mendalam.

Dalam kerangka ini, perlawanan adalah afirmasi kehendak untuk berkuasa dalam arti yang paling eksistensial: keberanian untuk menentukan nilai sendiri di tengah tekanan untuk tunduk.

Kehormatan, dengan demikian, tidak mungkin ditemukan dalam kepatuhan yang dibangun di atas rasa takut. Ia justru lahir dari keberanian menghadapi risiko, bahkan ketika konsekuensinya adalah penderitaan.

Perlawanan menjadi bukti bahwa manusia tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi makhluk yang sekadar mencari keamanan. Ia adalah makhluk yang mampu memilih martabat di atas kenyamanan, kebenaran di atas stabilitas semu.

Pertentangan ini menjadi semakin jelas ketika ditempatkan dalam kerangka kontrak sosial ala Thomas Hobbes, *Leviathan, 1651.*

Dalam pandangan Hobbes, stabilitas adalah tujuan utama, dan kekuasaan yang kuat diperlukan untuk mencegah kekacauan. Namun stabilitas yang dibangun di atas pelupaan paksa sesungguhnya adalah stabilitas yang rapuh.

Ketika hukum kehilangan orientasi keadilan dan berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan, maka kepatuhan bukan lagi kebajikan, melainkan bentuk pengingkaran terhadap nurani.

Baca Juga:   Integritas vs Manipulasi: Tantangan Lembaga Survei Dalam Pemilihan Kepala Daerah

Di sinilah perlawanan menemukan legitimasi moralnya. Ia bukan ancaman terhadap tatanan, melainkan koreksi terhadap tatanan yang telah menyimpang.

Dengan menolak lupa, masyarakat mencegah dirinya terperosok ke dalam nihilisme sejarah—situasi di mana kebenaran tidak lagi memiliki pijakan selain kehendak penguasa.

Perlawanan menjadi mekanisme etis yang menjaga agar sejarah tetap terbuka, agar ingatan tidak dikunci oleh kepentingan kekuasaan.

Pada akhirnya, menolak lupa adalah tindakan yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu garis keberanian. Ia menjaga agar pengalaman ketidakadilan tidak lenyap, sekaligus memastikan bahwa harapan akan kebebasan tetap memiliki dasar yang nyata.

Kehormatan tidak diberikan oleh negara, tidak pula disahkan oleh hukum yang kehilangan integritasnya. Ia dibangun melalui keteguhan untuk tetap mengingat, bahkan ketika seluruh sistem bekerja untuk membuat manusia lupa.

Perlawanan, dalam bentuknya yang paling hakiki, adalah cara manusia mempertahankan dirinya sebagai subjek sejarah.

Selama ingatan terus dijaga dan kebenaran terus dihidupkan dalam tindakan, kekuasaan tidak pernah benar-benar mutlak. Di sanalah kehormatan menemukan bentuknya yang paling utuh: sebagai keberanian untuk tidak tunduk, dan sebagai keteguhan untuk memastikan bahwa sejarah tidak pernah sepenuhnya dimenangkan oleh mereka yang berkuasa.***


Penulis: Firman Tenry Masengi, Alumni GMNI, Advokat.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Polemik Kopdes Merah Putih di Desa Polindu Kian Memanas, Inilah Kata Praktisi Hukum!
Rabu, 1 April 2026 | 14:37 WIB
Foto: Deodatus Sunda Se, Ketua DPD GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
GMNI DKI Kecam Gugurnya 3 Prajurit TNI oleh Israel: Desak RI Keluar dari BOP dan Fokus Krisis Domestik
Rabu, 1 April 2026 | 12:49 WIB
Pejuang Buruh Marhaenis Joppie Tehupeiory Wafat, Warisan Perjuangan KUP KPM Kembali Disorot
Selasa, 31 Maret 2026 | 16:44 WIB
GMNI Dituding Komunis, Pimred Marhaenist.id: Ini Fitnah Intelektual!
Selasa, 31 Maret 2026 | 13:42 WIB
Dies Natalis ke-72 GMNI, DPC Jakarta Timur Gelar Diskusi Publik Bahas Relevansi Politik Bebas Aktif di Tengah Geopolitik Global
Senin, 30 Maret 2026 | 16:43 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Kolam Koalisi dalam Sistem Pemerintahan di Indonesia Saat ini

Marhaenist.id - Mendengar kata koalisi mungkin tidak asing bagi para elit politik,…

Ganjar-Mahfud Prioritaskan Kesejahteraan Untuk Keluarga TNI-Polri

Marhaenist.id, Jakarta - Untuk mendukung dan menciptakan sistem pertahanan dan keamanan yang solid, unsur…

DPD GMNI Malut Desak Forum Nasional Komunikasi Persatuan Dorong KLB Sebagai Jalan Penyelamatan Organisasi

Marhaenist.id, Malut — Dinamika internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kian mengkhawatirkan.…

Dua Kubu GMNI Resmi Bersatu, Akhiri Dualisme Kepemimpinan Diantara Mereka

Marhaenist.id, Denpasar — Dua kubu Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yakni Kubu…

Air Mata Irine ‘Jurnalis CNN’ dan Duka Aceh Tamiang

Marhaenist.id - Air mata Irine, seorang jurnalis CNN, menjadi potret paling jujur…

Djuari Sang Pejuang Pemikul Tandu Jenderal Soedirman yang Terlupakan: Jejak Setia Sang Pejuang dari Kediri

Marhaenist.id - Di balik legenda besar Jenderal Soedirman, Panglima Besar yang memimpin…

Marhaenis itu Spiritualis

Marhaenist.id - Dalam keseharian kita, seringkali kita terjebak dalam hiruk-pikuk dunia materialistik…

Gelar Konferda II, Nur Alam Resmi Terpilih Menjadi Ketua DPD GMNI Sulbar

Marhaenist.id, Mamasa - Konferensi Daerah (Konferda) gerakan mahasiswa nasional Indonesia (GMNI) Sulawesi…

Aristoteles: Kegagalan adalah Pelajaran, Tetapi Menyerah adalah Kekalahan Sejati

Marhaenist.id - Aristoteles mengungkapkan bahwa Hidup adalah perjalanan penuh tantangan. Di setiap…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?