By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Aktivis ’98 Soroti Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo–Gibran dalam Momentum 71 Tahun KAA: Dasa Sila Bandung Jangan Dikhianati

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Air Mata Irine ‘Jurnalis CNN’ dan Duka Aceh Tamiang

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 20 Desember 2025 | 06:06 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Tangkapan Layar Irine Jurnalis CNN Indonesia yang sedang menangis saat melakukan liputan pasca Banjir Bandang di Aceh Tamiang (Sumber: Indopos)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Air mata Irine, seorang jurnalis CNN, menjadi potret paling jujur dari duka yang menyelimuti Aceh Tamiang saat ia melakukan liputan. Di balik profesionalisme yang menuntut keteguhan dan jarak emosional, ada momen ketika realitas kemanusiaan menembus batas itu.

Tangisan Irine bukan sekadar ekspresi personal, melainkan cermin penderitaan masyarakat yang kisahnya terlalu getir untuk sekadar dilaporkan dengan nada datar.

Sebagai jurnalis, Irine hadir untuk menyampaikan fakta. Namun, di Aceh Tamiang, fakta-fakta itu bukan hanya deretan data dan kronologi. Ia adalah wajah-wajah kehilangan, suara-suara yang bergetar, dan luka sosial yang terbuka lebar.

Ketika air mata seorang jurnalis tumpah, itu menandakan bahwa tragedi yang terjadi telah melampaui ambang kewajaran nurani.

Yang membuat Irine menangis karena melihat masyarakat di Aceh Tamiang masih belum menerima bantuan secara merata selama lebih dari tiga minggu ia berada di sana. Ia tak sanggup melihat anak-anak kecil berdiri di pinggir jalan meminta makan dan warga yang kelaparan, sehingga tangisnya pecah di tengah siaran.

Air mata Irine menegaskan bahwa jurnalisme sejati tidak pernah netral terhadap kemanusiaan. Objektivitas tidak berarti membungkam empati. Justru di situlah peran pers: menyampaikan kebenaran sekaligus menggugah kesadaran publik.

Tangisan itu menjadi bahasa universal yang menyatukan penonton, pembaca, dan masyarakat Aceh Tamiang dalam satu rasa: duka dan kemarahan yang sama.

Lebih dari sekadar liputan, peristiwa ini adalah panggilan moral. Negara tidak boleh absen ketika warganya terluka. Aparat dan pemangku kebijakan harus menjadikan tragedi ini sebagai titik balik untuk berbenah, memastikan bahwa keadilan dan perlindungan bukan hanya slogan, tetapi nyata dirasakan hingga ke pelosok.

Aceh Tamiang tidak membutuhkan belas kasihan sesaat. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan yang konsisten pada rakyat. Jika air mata seorang jurnalis mampu membuka mata publik, maka sudah seharusnya para pengambil keputusan juga tersentak dan bergerak.

Baca Juga:   Warisan Nasionalisme Indonesia: Nilai yang Mempertemukan Perbedaan Dalam Ikatan Persatuan

Air mata Irine Jurnalis CNN akan dikenang sebagai saksi bisu dari duka Aceh Tamiang. Semoga dari tangisan itu lahir kesadaran kolektif bahwa kemanusiaan tidak boleh kalah oleh kelalaian, dan setiap tragedi harus direspons dengan keadilan serta tanggung jawab yang sungguh-sungguh.

Diketahui, kisah Irine, jurnalis CNN di Aceh Tamiang yang menangis ini saat melaporkan kondisi pasca bencana banjir bandang pada Rabu (17/12/2025) viral dimedia sosial.

Dalam laporan langsungnya, Irine menyampaikan bahwa masyarakat di Aceh Tamiang masih belum menerima bantuan secara merata selama lebih dari tiga minggu ia berada di sana.Ia juga menyoroti bahwa relawan sudah berada di titik kelelahan dalam upaya menembus wilayah terisolasi.

Selain itu, Irine menyampaikan pesan dari warga agar kondisi sebenarnya disampaikan kepada publik dan menyeru pemerintah untuk tidak ragu meminta bantuan pihak luar jika kewalahan.

Namun video liputan Irine ini sempat viral di media sosial dan menyita perhatian publik, kemudian diambil turun dari kanal media sosial resmi CNN Indonesia dengan alasan takut disalahgunakan dan berpotensi memicu framing yang salah terhadap pihak tertentu.

Alasan pihak CNN Indonesia menurunkan liputan berita Irine menuai beragam komentar dari netizen, hingga ada yang mengatakan “Apakah ini Pembungkaman terhadap Media melalui intervensi seseorang untuk tetap menutupi ketidaksanggupan Pemerintah dan lambat dalam menangani bencana?”***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB
Aktivis ’98 Soroti Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo–Gibran dalam Momentum 71 Tahun KAA: Dasa Sila Bandung Jangan Dikhianati
Minggu, 19 April 2026 | 19:29 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Agung Nugroho: Proteksi Sosial Harus Bersama-Sama Kita Tingkatkan

Marhaenist - Acara Puncak Perayaan Hari Ulang Tahun KSPSI yang ke 50…

Kedepankan Spirit Gotong-Royong, GMNI Resmi Terbentuk di Bumi Lamaranginang

MARHAENIST - Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Indonesia Luwu Utara menggelar Pekan…

Doktrin Ekonomi Karl Marx Bab I

MARHAENIST - Karl Kautsky adalah salah seorang sosialis dari Jerman. Dia memimpin…

Penjarahan & Anarkisme: Berdasarkan Narasi Rakyat vs Narasi Negara

Marharnist.id - (Pengantar) Kekerasan massa (termasuk penjarahan oleh segelintir orang) kerap muncul…

GMNI Desak Pencopotan Bahlil, Adili Jokowi dan Pembubaran PIK Sebagai PSN

Marhaenist.id, Jakarta - Aliansi Mahasiswa yang tergabung dalam Front Pengadilan Rakyat menggelar…

Memoar Khrushchev: Bagaimana Awal Mula Persahabatan Indonesia Dengan Uni Soviet?

Marhaenist - Ditengah Perang Dingin, Indonesia muncul sebagai “Macan Asia”. Karisma Presiden…

GMNI Dibelah-Belah, Tanggungjawab!!!

Marhaenist.id - Perpecahan dalam tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia menurut saya bukanlah…

Rp 1.000,7 Triliun untuk Papua, Rakyatnya Tetap Miskin

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD geram dengan perkembangan…

Dampak Perang terhadap Lingkungan

Marhaenist id - Perang bukan sekadar pertempuran antar tentara. Ia adalah mesin…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?