By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Ekonomi Nasional
Bangun Sinergisitas, DPD PA GMNI Sultra Siap Mengawal Program Kebijakan Pemda untuk Rakyat
Menuju Hari Kebangkitan Nasional, Aliansi PERISAI Serukan Perlawanan terhadap Imperialisme dan Tuntut Pembatalan ART
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Mengapa Bung Karno Melepas Seluruh Kenegaraaan di Makam Rasullulah?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 8 Januari 2026 | 20:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Ilustrasi Bung Karno (Sumber: IA)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pada tahun 1955, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Kunjungan tersebut berlangsung dalam kapasitas ganda: sebagai kepala negara dan sebagai seorang Muslim yang memenuhi panggilan spiritual.

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyambut Bung Karno sebagai tamu kehormatan negara, bahkan disambut langsung oleh Raja Saud bin Abdulaziz Al Saud.

Perjalanan ini bukan sekadar agenda diplomatik internasional. Di balik protokol kenegaraan yang megah, tersimpan niat personal Bung Karno untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia memahami bahwa haji bukan hanya ritual fisik, melainkan perjalanan batin yang menuntut kerendahan hati dan ketundukan penuh kepada Allah SWT.

Puncak makna spiritual itu terasa ketika Bung Karno tiba di Madinah Al-Munawwarah. Kota suci ini menyimpan jejak Rasulullah SAW, pusat peradaban Islam yang sarat dengan nilai keadaban, kesederhanaan, dan keteladanan. Di sanalah Masjid Nabawi berdiri, menjadi tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad SAW.

Saat hendak memasuki Masjid Nabawi untuk berziarah ke makam Rasulullah, Bung Karno mengambil sebuah keputusan yang sarat makna. Ia dengan sadar dan tenang melepaskan seluruh atribut kepresidenan yang melekat padanya—lencana kehormatan, tanda pangkat, dan simbol-simbol kekuasaan negara.

Tindakan itu sempat mengundang keheranan dari rombongan Kerajaan Arab Saudi. Raja Saud bin Abdulaziz, yang menyaksikan langsung sikap Bung Karno, mempertanyakan alasan di balik pelepasan atribut kenegaraan tersebut. Baginya, Soekarno adalah kepala negara besar yang justru layak dihormati dengan segala simbol kekuasaannya.

Namun jawaban Bung Karno mencerminkan kedalaman spiritual dan pandangan hidupnya. Ia dengan penuh keteduhan menyampaikan bahwa di hadapan Rasulullah SAW, semua gelar, pangkat, dan kedudukan duniawi tidak memiliki arti apa pun. Yang tersisa hanyalah seorang hamba di hadapan Nabi Allah.

Baca Juga:   Menelisik Kunjungan Bung Karno ke AS 16 Mei 1956

Bagi Bung Karno, makam Rasulullah adalah ruang kesucian yang melampaui hierarki dunia. Ia tidak ingin hadir sebagai presiden, pemimpin revolusi, atau tokoh besar dunia. Ia ingin hadir sebagai manusia biasa, sebagai umat Muhammad yang penuh hormat dan adab.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Bung Karno memahami betul makna kepemimpinan sejati. Kekuasaan, baginya, bukan alat untuk ditinggikan, melainkan amanah yang harus disadari keterbatasannya. Di hadapan nilai-nilai ilahi, kekuasaan manusia hanyalah titipan yang fana.

Kisah ini kemudian dikenang bukan hanya sebagai cerita spiritual, tetapi juga sebagai pelajaran etika kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin besar justru diukur dari kemampuannya merendahkan diri, menghormati nilai-nilai luhur, dan menempatkan kekuasaan pada posisi yang semestinya.

Hingga hari ini, cerita Bung Karno di Makam Rasulullah SAW tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Ia menjadi simbol bahwa kebesaran sejati tidak terletak pada atribut dan gelar, melainkan pada ketundukan, adab, dan kesadaran spiritual seorang pemimpin di hadapan Tuhan dan sejarah.***


Disusun oleh Redaksi Marhaenist.id dari berbagai sumber terpercaya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Ekonomi Nasional
Rabu, 20 Mei 2026 | 17:01 WIB
Bangun Sinergisitas, DPD PA GMNI Sultra Siap Mengawal Program Kebijakan Pemda untuk Rakyat
Rabu, 20 Mei 2026 | 15:32 WIB
Menuju Hari Kebangkitan Nasional, Aliansi PERISAI Serukan Perlawanan terhadap Imperialisme dan Tuntut Pembatalan ART
Rabu, 20 Mei 2026 | 01:23 WIB
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Selasa, 19 Mei 2026 | 18:30 WIB
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Toleransi, Kerja Sunyi Demokrasi

Marhaenist.id - Laporan terbaru SETARA Institute tentang Indeks Kota Toleran (IKT) 2025…

Sikapi Dugaan Pembunuhan Tahanan oleh Oknum Kepolisian, GMNI Polman Minta Pelaku di Hukum Sebarat-Beratnya

Marhaenist.id, Polman - Seorang tahanan laki-laki berinisial R, warga Dusun Tatamu, Desa…

Ganjar; Ahok Menambah Kekuatan Kita, Semakin Optimis!

Marhaenist.id, Jakarta - Capres 2024 nomor urut 3 Ganjar Pranowo mengapresiasi mundurnya…

Konflik Geopolitik dalam Perspektif Marhaen antara Perebutan Kuasa Global dan Nasib Rakyat Kecil

Marhaenist.id - Dalam lanskap global hari ini, konflik geopolitik tidak lagi sekadar…

Menuju Kematian Marhaenisme

Marhaenist.id - Gema Soekarno yang dahulu mampu mengguncang fondasi imperialisme kini tereduksi…

Skuad DPD GMNI Jawa Timur (Foto: Mochammad Faizin)/MARHAENIST.

DPC GMNI Jember Soroti Keretakan Internal DPD GMNI Jawa Timur dalam Polemik Misi Dagang Pemprov Jatim

Marhaenist.id, Jember — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Jalan Buntu Kasus Harun Masiku: Antara Fakta Hukum dan Keberanian Negara

Marhaenist.id, Jakarta  — Hingga hari ini, Harun Masiku masih berstatus buronan Komisi…

Refleksi Perjuangan R.A Kartini: Emansipasi Perempuan dalam Ruang Ketenagakerjaan

Marhaenist.id - Emansipasi perempuan bukan lagi wacana baru, tetapi realitas yang masih…

Fix, Alumni UI Deklarasi Dukung Ganjar

Marhaenist.id, Jakarta - Alumni Universitas Indonesia (UI) menyatakan dukungannya kepada Ganjar Pranowo…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?