By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Mengapa Bung Karno Melepas Seluruh Kenegaraaan di Makam Rasullulah?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 8 Januari 2026 | 20:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Ilustrasi Bung Karno (Sumber: IA)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pada tahun 1955, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Kunjungan tersebut berlangsung dalam kapasitas ganda: sebagai kepala negara dan sebagai seorang Muslim yang memenuhi panggilan spiritual.

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyambut Bung Karno sebagai tamu kehormatan negara, bahkan disambut langsung oleh Raja Saud bin Abdulaziz Al Saud.

Perjalanan ini bukan sekadar agenda diplomatik internasional. Di balik protokol kenegaraan yang megah, tersimpan niat personal Bung Karno untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia memahami bahwa haji bukan hanya ritual fisik, melainkan perjalanan batin yang menuntut kerendahan hati dan ketundukan penuh kepada Allah SWT.

Puncak makna spiritual itu terasa ketika Bung Karno tiba di Madinah Al-Munawwarah. Kota suci ini menyimpan jejak Rasulullah SAW, pusat peradaban Islam yang sarat dengan nilai keadaban, kesederhanaan, dan keteladanan. Di sanalah Masjid Nabawi berdiri, menjadi tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad SAW.

Saat hendak memasuki Masjid Nabawi untuk berziarah ke makam Rasulullah, Bung Karno mengambil sebuah keputusan yang sarat makna. Ia dengan sadar dan tenang melepaskan seluruh atribut kepresidenan yang melekat padanya—lencana kehormatan, tanda pangkat, dan simbol-simbol kekuasaan negara.

Tindakan itu sempat mengundang keheranan dari rombongan Kerajaan Arab Saudi. Raja Saud bin Abdulaziz, yang menyaksikan langsung sikap Bung Karno, mempertanyakan alasan di balik pelepasan atribut kenegaraan tersebut. Baginya, Soekarno adalah kepala negara besar yang justru layak dihormati dengan segala simbol kekuasaannya.

Namun jawaban Bung Karno mencerminkan kedalaman spiritual dan pandangan hidupnya. Ia dengan penuh keteduhan menyampaikan bahwa di hadapan Rasulullah SAW, semua gelar, pangkat, dan kedudukan duniawi tidak memiliki arti apa pun. Yang tersisa hanyalah seorang hamba di hadapan Nabi Allah.

Baca Juga:   Ketika Khamenei Muda Menjelaskan Bung Karno di Penjara

Bagi Bung Karno, makam Rasulullah adalah ruang kesucian yang melampaui hierarki dunia. Ia tidak ingin hadir sebagai presiden, pemimpin revolusi, atau tokoh besar dunia. Ia ingin hadir sebagai manusia biasa, sebagai umat Muhammad yang penuh hormat dan adab.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Bung Karno memahami betul makna kepemimpinan sejati. Kekuasaan, baginya, bukan alat untuk ditinggikan, melainkan amanah yang harus disadari keterbatasannya. Di hadapan nilai-nilai ilahi, kekuasaan manusia hanyalah titipan yang fana.

Kisah ini kemudian dikenang bukan hanya sebagai cerita spiritual, tetapi juga sebagai pelajaran etika kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin besar justru diukur dari kemampuannya merendahkan diri, menghormati nilai-nilai luhur, dan menempatkan kekuasaan pada posisi yang semestinya.

Hingga hari ini, cerita Bung Karno di Makam Rasulullah SAW tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Ia menjadi simbol bahwa kebesaran sejati tidak terletak pada atribut dan gelar, melainkan pada ketundukan, adab, dan kesadaran spiritual seorang pemimpin di hadapan Tuhan dan sejarah.***


Disusun oleh Redaksi Marhaenist.id dari berbagai sumber terpercaya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks

Marhaenist.id, Bekasi — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Bekasi mengajak kalangan mahasiswa…

Pamit dari MK, Arief Hidayat: Putusan 90 Jadi Titik Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Marhaenist.id, Jakarta — Hakim Konstitusi Arief Hidayat mengungkapkan bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi (MK)…

Foto:

Kapitalisme yang Menghapus Jejak Peradaban Bangka Belitung

Marhaenist.id - Menyingkap tabir sejarah jauh kebelakang sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Bangka…

Menteri koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD dan Ketua Umum GBN Erros Djarot. MARHAENIST

Dukung Musisi Bangkit Dari Pandemi, GBN Gelar Bhinneka Culture Festival

Marhaenist - Dalam rangka berikan wadah bagi para musisi-musisi tanah air yang…

Revitalisasi Nilai Perjuangan Bung Karno dalam Membentuk Kader yang Berwatak Marhaenisme, DPC GMNI Kendari Gelar KTD

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional (GMNI) Kendari…

Jokowi Sedang Menggali Kuburnya Sendiri?

Marhaenist - Dalam perhelatan Pilpres 2024, walaupun tidak dinyatakan secara terbuka, semua…

GMNI Sultra Siap Berperan Aktif Mengawal Pikada Damai 2024

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiawa Nasional Indonesia (GMNI)…

Soekarno-Khrushchev Diantara Kemesraan Indonesia dan Uni Soviet

Marhaenist - Sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, Indonesia dan Uni Soviet menjalin…

Sikapi Dugaan Pembunuhan Tahanan oleh Oknum Kepolisian, GMNI Polman Minta Pelaku di Hukum Sebarat-Beratnya

Marhaenist.id, Polman - Seorang tahanan laki-laki berinisial R, warga Dusun Tatamu, Desa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?