By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Benarkah Soekarno Komunis?
Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Transisi Global Pasca Keluarnya AS Dari WHO
Herwyn J. H. Malonda Resmi Menjabat sebagai Anggota DKPP RI Ex Officio Bawaslu RI
DPD GMNI DKI Jakarta Bakal Gelar Konferda I Tahun 2026, Dorong Transformasi Menuju Jakarta Kota Global
Proyek Pembangunan Daerah dan Kewenangan Eksekutif Tanpa Persetujuan DPRD

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Jokowi Sedang Menggali Kuburnya Sendiri?

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Rabu, 7 Februari 2024 | 08:14 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Presiden Joko Widodo (Jokowi). TIME
Bagikan

Marhaenist – Dalam perhelatan Pilpres 2024, walaupun tidak dinyatakan secara terbuka, semua orang bisa melihat kemana arah dukungan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dengan merestui anaknya Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres Prabowo Subianto, bahkan dengan proses yang kontroversial di MK, sangat jelas bahwa Jokowi memberikan dukungan penuh dan mengendorse pada Prabowo.

Kenapa Jokowi sepertinya mbalelo dari PDI Perjuangan, partai yang sudah membesarkannya sejak 2005 ketika dia menjadi Walikota Surakarta. Banyak pihak menduga karena Jokowi merasa “Tidak Aman” dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh PDI Perjuangan.
Ditolaknya proposal 3 periode oleh Megawati, ditolaknya perpanjangan masa jabatan, ditetapkannya Ganjar Pranowo, semua itu adalah beberapa hal yang disinyalir membuat Jokowi merasa harus menempuh jalan yang berbeda dari partainya.

Indikasi paling mencolok adalah ketika PDI Perjuangan sudah mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Capres yang diusung, Jokowi masih mengatakan “Ojo Kesusu” ke para relawan garis kerasnya. Padahal sebagai kader PDI Perjuangan, wajib hukumnya untuk sejalan dengan garis partai.

Jokowi merasa perlu mengamankan dirinya dan keluarganya setelah selesai dari masanya jabatannya. Beberapa petunjuk mengarah pada dugaan tersebut, bahwa dia perlu mengamankan dirinya dan keluarga.

Tunduknya ketua-ketua partai politik menunjukkan bahwa ada sesuatu yang menjadi kartu truff di antara mereka. Jokowi mungkin memegang kartu truff yang cukup banyak, sesuai dengan ujarannya bahwa dia punya data intelijen termasuk tentang aktivitas para ketua-ketua partai politik itu. Tapi hal ini juga bisa berarti sebaliknya, para ketua parpol itu juga punya pegangan tertentu tentang Jokowi.

Hubungan Transaksional Ini Tentunya Tinggal Masalah Kartu Truff  Siapa Yang Lebih Kuat?

Dibandingkan Ganjar yang secara tegas menyatakan bahwa dia hanya tunduk pada rakyat dan ketua umum partainya, Jokowi merasa lebih aman bersama Prabowo yang seolah-oleh sangat manut dengan Jokowi yang sudah mengalahkannya dalam 2 kali perhelatan Pilpres, yaitu pada 2014 dan 2019. Mungkin Jokowi merasa, Prabowo akan mengamankan dirinya setelah dia tak lagi duduk di kursi Presiden RI. Demi memastikan kemenangan Prabowo, Jokowi merestui anaknya untuk maju mendampingi Prabowo, walaupun harus melakukan utak-atik aturan melalui tangan sang ipar yang saat itu duduk di kursi ketua MK.

Baca Juga:   Membelah Nasionalis, Merapikan Kekuasaan: Tangan Imanuel Cahyadi, Setneg & BIN di Balik Perpecahan GMNI?

Tapi, semuanya tak semulus apa yang direncanakan. Jauh sebelum sang putra dilegalkan untuk maju sebagai cawapres, Anies Baswedan sudah lebih dulu dideklarasikan oleh Nasdem dan beberapa parpol lain untuk maju sebagai Capres. Dengan kondisi PDI Perjuangan sebagai pemegang golden ticket yang mampu mengusung capres sendiri tanpa perlu berkoalisi, maka kemungkinan besar akan muncul 3 paslon.

Hal ini tentu saja merusak rencana Jokowi dan Prabowo untuk menyelesaikan pilpres dalam 1 putaran. Jadi, keberatan terbesar dari Jokowi dari majunya Anies bukanlah soal meneruskan IKN atau tidak. Bukan juga tentang Anies adalah antitesis Jokowi. Keberatan terbesar Jokowi dari majunya Anies adalah dengan adanya 3 paslon, kemungkinan untuk bisa menang dalam 1 putaran menjadi sangat kecil, mendekati nihil.

Inilah yang membuat berbagai upaya dilakukan untuk menjegal Anies. Ancaman pemanggilan KPK dan pengerahan tangan-tangan kekuasaan dilakukan. Tapi kubu Anies juga tidak tinggal diam dan melakukan upaya-upaya yang tak kalah kuat untuk menjaga majunya Anies. Pada akhirnya, KPU tetap menetapkan 3 paslon Capres-Cawapres yang resmi berlaga dalam Pilpres 2024.

Tapi, seandainya Prabowo berhasil memenangkan Pilpres 2024, benarkah dia akan mengamankan posisi Jokowi ketika sudah tidak menjabat nanti?

Mari Berspekulasi

Beberapa issue mengatakan, Jokowi dan Prabowo akan tukar guling posisi. Prabowo sebagai presiden dan Jokowi sebagai ketum Gerindra. Ada pula issue yang mengatakan Jokowi akan menjadi ketum atau Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia setelah putranya Kaesang menjadi ketum di sana.

Posisi-posisi ini dianggap cukup strategis untuk membuat Jokowi tetap punya suara dan nilai tawar dalam kancah perpolitikan negeri ini.
Tapi, ada satu hal “Kecil” yang mungkin dilupakan Jokowi. Ketika Prabowo sudah berkuasa, maka semua tangan kekuasan ada di bawah komandonya, baik secara resmi maupun tidak resmi. Dan selama proses kampanye ini, Prabowo tentunya akan banyak belajar dari Jokowi tentang strategi-strateginya dalam Pilpres 2014 dan 2019, yang kita tau, sebagian orang menganggap ada cukup banyak kecurangan yang dilakukan disana.

Baca Juga:   Fenomena Kotak Kosong dalam Pilkada: Analisis Hukum dan Keadilan Demokrasi

Prabowo tentu akan mendapat insight yang lebih baik, langsung dari Jokowi, tentang cara-cara yang ditempuh Jokowi untuk memenangkan 2 kali pilpres tersebut. Dan ini, bisa saja menjadi kartu truff tambahan untuk Prabowo jika sewaktu-waktu ingin melepaskan diri dan menyingkirkan Jokowi andai dia berkuasa nanti.

Jadi, bukan tidak mungkin Prabowo justru akan memenjarakan Jokowi dengan semua data dan informasi yang dia miliki. Bagaimanapun juga, tidak akan ada matahari kembar dalam prinsip kepemimpinan.

Akankah Jokowi akan menjadi Presiden RI pertama yang terjerat kasus pidana ketika sudah lengser dari kekuasaannya?

Hanya Sang Khalik yang tahu.


Penulis : Doddy.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Benarkah Soekarno Komunis?
Jumat, 23 Januari 2026 | 01:44 WIB
Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Transisi Global Pasca Keluarnya AS Dari WHO
Kamis, 22 Januari 2026 | 19:43 WIB
Herwyn J. H. Malonda Resmi Menjabat sebagai Anggota DKPP RI Ex Officio Bawaslu RI
Kamis, 22 Januari 2026 | 16:35 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Bakal Gelar Konferda I Tahun 2026, Dorong Transformasi Menuju Jakarta Kota Global
Kamis, 22 Januari 2026 | 14:52 WIB
Proyek Pembangunan Daerah dan Kewenangan Eksekutif Tanpa Persetujuan DPRD
Kamis, 22 Januari 2026 | 10:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Tampil di Depan Umum Usai Lolos Dari Pembunuhan, Telinga Donald Trump Masih Diperban

Marhaenist - Donald Trump tampil perdana di depan publik sejak upaya pembunuhan,…

Gelar Seri Diskusi Publik Edisi V, PA GMNI Jakarta Raya Tekankan Front Marhaenis Ambil Peran untuk Berdaulat, Berdikari, Berbudaya

Marhaenist.id, Jakarta — DPD Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jakarta…

Jenderal A.H. Nasution, Sang Prajurit Idealistis yang Menolak Jadi Presiden Meski Punya Peluang Besar

Marhaenist.id — Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dikenal sebagai sosok militer yang…

Dari Desa Hadapi Perubahan Iklim, Akar Desa Indonesia Teken MoU dengan Kemendes PDT

Marhaenist.id, Jakarta – Komitmen bersama dalam menghadirkan desa sebagai pusat perubahan kembali…

Gelar Musda, Kader GMNI Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua KNPI Pemalang 

Marhaenist.id, Pemalang - Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Fatkhu Rozaq Agung…

Hindari Kecurangan, Relawan Relawan Bentuk Posko Jaga Suara

Marhaenist.id, Jakarta - Kelompok Relawan Jaga Suara dan Kawan 98 menginisiasi pembentukan…

Pelantikan PA GMNI, Megawati: Sering Kali Orang Lupa Dengan Sumpah

Marhaenist - Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (AGMNI) yang juga Mantan Presiden…

Eco-Marhaenisme dan Hegemoni Kekuasaan Korporasi Penguasaan Hutan Adat Papua Era Jokowi

Marhaenist.id - Awal hingga pertengahan tahun 2024, Indonesia dihadapkan dengan banyak persoalan…

Survei Negara Paling Bahagia dan Paradoks Indonesia

Marhaenist.id - besar manusia Indonesia di panggung global hari ini terperangkap dalam…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?