By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Ketika Tokoh HMI dan GMNI Menyatu dalam Pelaminan

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Selasa, 19 November 2024 | 12:32 WIB
Bagikan
Waktu Baca 8 Menit
Bendera HMI dan GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Dalam sejarah peradaban manusia, banyak pelaksanaan akad nikah, prosesi dan resepsi pernikahan yang menarik dan unik. Ada pasangan pengantin yang menyatakan “ijab dan kabul” di dasar laut, ada yang melakukannya di udara dengan menggunakan payung udara, ada yang menggunakan balon udara, di kebun raya, dan lain-lain. Tidak sedikit pula pesta-pesta perkawinan yang diselenggarakan secara besar-besaran, mewah, dan serba “wah.” Tapi ada juga yang dilakukan secara massal.

 

Namun pernikahan yang satu ini lain dari yang lain. Pernikahan Kholis Malik dengan Wahyuni Refi Setya Bekti, bukan seperti biasanya. Karena Kholis yang Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) adalah seorang Muslim-Nasionalis, sedangkan Refi adalah Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang Nasionalis-Muslim. Untuk itu banyak kalangan berharap, pernikahan kedua aktivis itu merupakan simbol obsesi persatuan Indonesia, bahu-membahu membangun kerjasama dan berbagai dimensi kehidupan.

 

Akad nikah antara Kholis dan Refi diselenggarakan di Masjid Cut Mutiah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/10). Sedangkan resepsi diselenggarakan di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta Timur, Minggu (12/10) malam.

 

Tentu berbagai kalangan hadir pada hari bersejarah itu, terutama pada acara malam resepsi. Tak hanya ucapan selamat dan doa disampaikan kepada kedua mempelai, tapi beberapa tokoh memberikan catatan tersendiri atas pernikahan Kholis dan Refi.

 

Membina hubungan yang akrab antara pria dan wanita dalam kehidupan manusia adalah kenyataan kemanusiaan lainnya. Pernikahan adalah cara yang alami dan wajar untuk mewujudkan kecenderungan alami seorang lelaki kepada seorang perempuan, dan untuk membangun keluarga.

 

“Karena itu pernikahan yang setia berada dalam santunan Allah dan perlindungan-Nya. Karena pernikahan serupa itu sesungguhnya dibuat dan ditegakkan di bawah nama-Nya,” kata Nurcholish Madjid dalam khutbah nikah.

 

Ia menyatakan sebagai pakaian satu untuk lainnya, suami dan istri memerlukan sikap saling membantu, saling mendukung, saling melindungi, dan saling mencocoki sebagaimana pakaian mencocoki tubuh. Dan pakaian adalah sekaligus untuk tujuan perhiasan dan perlindungan badan. Sebagai perhiasan, suami atau istri saling menunjukkan rasa santun, cinta, dan kebahagiaan, dan sebagai perlindungan, masing-masing suami dan istri berkewajiban saling menjaga nama, kehormatan, dan hak-hak pribadinya.

Baca Juga:   Prabowo-Gibran Ingin Hapus Subsidi BBM dan LPG, GMNI: Menyengsarakan Rakyat

 

Sedangkan Siswono Yudohusodo menyatakan dalam hidup ini, ada hal-hal yang kita tanpa belajar langsung bisa, seperti menangis, melihat, mendengar. Ada yang untuk bisa kita harus belajar, dan kemudian tak akan pernah lupa karena kita melakukannya terus menerus, seperti berjalan, makan dan lain-lain.

 

Mereka yang sudah menikah puluhan tahun juga masih terus belajar. “Ananda berdua jangan takut belajar hidup dari pelajaran hidup,” pesannya kepada Kholis dan Refi.

 

Koordinator Gerakan Jalan Lurus dr Sulastomo menuliskan, sepasang muda-mudi melaksanakan pernikahan adalah biasa. Tetapi, kalau pasangan itu antara Refi dan Kholis, ini agak “istimewa.” Refi adalah Ketua Presidium GMNI dan Kholis adalah Ketua Umum PB HMI. Hati manusia, sepasang muda-mudi, ternyata bisa menerobos sekat organisasi, bahkan sekat “ideologi.” “Kelompok Cipayung” (HMI, GMNI, PMKRI, PMII, dan GMNI-Red) mungkin telah mempertemukan mereka.

 

“Saya termasuk orang yang merasa ikut berbahagia. Refi, insya-Allah adalah seorang Nasionalis-Muslim yang baik. Sedangkan Kholis adalah seorang Muslim-Nasionalis yang baik pula. Kalau ada yang berpendapat, itulah wajah Indonesia, maka perkawinan Refi-Kholis membuktikan kebenaran wajah itu. Keduanya membuktikan, bahwa tidak boleh ada ‘dikotomi’ antara nasionalisme dan Islam. Seandainya saya menjadi perancang pelaminannya, di sebelah Refi akan saya pasang bunga hias logo HMI, sementara di sebelah Kholis, akan saya pasang bunga hias logo GMNI. Sungguh, banyak yang tersirat dari perkawinan keduanya,” kata Sulastomo.

 

Ir Akbar Tandjung yang Ketua DPR RI menilai Kholis Malik dan Wahyuni Refi adalah dua nakhoda dari dua kapal yang berbeda, yang kini hendak berlabuh di dermaga yang sama untuk membangun asa yang tidak berbeda. Ini merupakan suatu yang langka! Meskipun –barangkali– mereka dulu sering gontok-gontokan, beradu kekuatan menunjukkan eksistensi grup.

Baca Juga:   Pemilu 2024 dan Tiktok

 

“Tapi itu masa lalu! Kini mereka sudah ‘taubat’ membangun dunia yang lebih bermartabat dan terhormat, karena mereka kini lebih mengutamakan kerjasama membangun cita berdasarkan cinta hingga terlahir realita yang penuh makna –sebagaimana ‘Kelompok Cipayung’ yang pernah saya rintis dahulu,” katanya.

 

Akbar menambahkan, perpaduan religiusme-nasionalisme merupakan sesuatu yang tidak bisa dinafikan kehadirannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa membangun secara seimbang antara sisi keagamaan dengan sisi kenasionalan. Darinya akan lahir “bayi” yang memiliki dedikasi dan karakter. Ia tidak mudah tergiur oleh kemewahan yang ditawarkan oleh negara atau bangsa lain, tetapi memiliki keinginan kuat untuk membangun kemewahan di negeri sendiri dalam bingkai spiritualitas agama dan negara,” ujarnya.

 

Sedang Harry Tjan Silalahi mengemukakan ungkapan kata-kata: Perkawinan Refi dan Kholis ini adalah unik. Semua perkawinan pada hakikatnya adalah unik, karena dia adalah komitmen rohani yang mendasarkan diri pada dua insan atas dasar cinta kasih, sekaligus menyediakan diri untuk melanjutkan ciptaan umat manusia. Refi dan Kholis sudah berikrar membentuk suatu keluarga yang sakinah, dengan menerima model keluarga yang dikehendaki oleh Allah sebagai lembaga alamiah dengan segala fungsinya yang tak tergantikan berdasarkan rencana Allah, wis jodo, orang bilang.

 

Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Jumly Asshidiqie SH mengatakan “Saya turut berbahagia menyaksikan peristiwa ini, karena mencerminkan perkawinan budaya yang sangat bersejarah di antara dua kebudayaan dominan dalam kehidupan kita,” katanya singkat.

 

Menarik ditulis, kebetulan calon mempelai adalah pentolan dari dua organisasi pemuda dan mahasiswa yang establish di Indonesia. Si pria, Kholis Malik, asli Ciamis, Ketua Umum PB HMI; perempuan, Wahyuni Refi, arek Suroboyo, Ketua Umum GMNI. Masing-masing mewakili genre idiologinya, dimana satu pihak adalah pengemban semangat paham pembaru Pan Islamisme Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghani, sedangkan pihak lain sebagai penyokong setia paham modern state “nasionalisme”-nya Bung Karno, kata Martimus Amin (praktisi hukum).

Baca Juga:   Pro-Kontra Wacana Penghapusan Zonasi PPDB Sekolah Dasar dan Menengah: Akankan 'Sekolah Favorit' Muncul Kembali?

 

Demikian penggalan atau cuplikan “kado” untuk kedua mempelai yang disampaikan berbagai tokoh yang dikemas dalam sebuah buku mungil bertajuk “Ketika Bilqis dan Sulaiman Menyatu.” Kumpulan tulisan itu bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan. Tetapi itu adalah sebuah kenyataan yang penuh harapan untuk membangun Indonesia yang memiliki latar belakang multi, baik menyangkut soal suku, agama, ras, dan juga golongan.

 

Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa pernikahan antara Kholis Malik (Ketua Umum PB HMI) dan Wahyuni Refi Setya Bekti (Ketua Presidium GMNI) semoga menjadi awal runtuhnya sekat nasionalis dan agamis dalam wacana pergerakan masyarakat Indonesia. Selamat!***


Penulis: A. Basori.

 

Disclaimer : Tulisan ini mungkin telah dimuat sebelumnya di media lain dengan konten yang sama atau serupa. Segala bentuk penyesuaian, pengeditan, atau pembaruan telah dilakukan sesuai dengan kebutuhan penyajian informasi di platform ini. Tulisan ini sengaja dimuat kembali untuk mengenang wafatnya Kholis Malik (Ketua Umum PB HMI Periode 2002-2004/ Ketua Hubungan Antar Lembaga DPP Partai Golkar 20024-2029). Hak cipta dan tanggung jawab isi sepenuhnya menjadi milik penulis atau sumber asli yang relevan, sebagaimana diatur oleh hukum yang berlaku.

 

Baca berita dan opini/artikel menarik dari Marhaenist.id langsung dari smartphone kamu. Jangan lupa follow channel WhatsApp Marhaenist.id sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029Vaw2KO7Fi8xXCxsYv842

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Aktivis 98 Kecam Tindakan Represif Aparat dan Tuntut Keadilan atas Gugurnya Kawan Ojol Pejuang Demokrasi

Marhaenist.id, Jakarta – Tragedi kembali mencoreng wajah demokrasi Indonesia. Seorang kawan Ojol,…

Jelang Konfercab GMNI Purwokerto 2026, Eks Ketua DPK GMNI Humaniora UMP Tekankan Tiga Pilar Regenerasi

Marhaenist.id, Purwokerto - Di tengah dinamika gerakan mahasiswa yang kian kompleks dan…

Heri Purnomo Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua PA GMNI Kota Bekasi

Marhaenist.id, Kota Bekasi – Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Paulus Yohanes Yorit Poni, Dari Penjaga Kantor Partai Menuju DPRD Manggarai Timur

Marhaenist.id, Manggarai Timur - Sebuah peristiwa sejarah bagi seorang anak muda sederhana…

Foto: Warga Kebun Sayur Geruduk Polda Metro Jaya Untuk Bebaskan Pak Juned dan Pak Jumadi Tanpah Syarat/MARHAENIST

Polda Metro Jaya Jakarta Didatangi Warga Kebun Sayur, Tuntut Pembebasan Pak Juned dan Pak Jumadi Tanpa Syarat

Marhaenist.id, Jakarta - Warga Kebon Sayur bersama Aliansi Perjuangan Warga Kebon Sayur…

Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu

Marhaenist.id, Kendari — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Reformasi Disabotase: Ketika TNI dan Polri Ingin Berkuasa Lagi

Marhaenist.id - Reformasi 1998 adalah tonggak sejarah penting dalam demokratisasi Indonesia. Salah…

Serentak, 899 Kampus di Indonesia Gelar Aksi Menolak Politik Dinasti

Marhaenist.id, Jakarta - Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar aksi membagikan selebaran dan stiker…

Tanggapi Diskusi PA GMNI Jakarta Raya, Arief Hidayat Apresiasi Gagasan Strategis Bambang Pacul dan Prof. Muradi untuk Menghadapi Tantangan Politik Nasional

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?