By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Kaya Energi, Miskin Kedaulatan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 19 Mei 2026 | 15:35 WIB
Bagikan
Waktu Baca 8 Menit
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan Karya Karyono Wibowo, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah gejolak geopolitik global dan konflik energi dunia, Indonesia masih bergulat dengan ketergantungan impor, beban subsidi, dan transisi energi yang tersendat.

Daftar Konten
Geopolitik Energi dan Tekanan GlobalKerentanan Struktural dan Dilema Kebijakan

Geopolitik Energi dan Tekanan Global

Ketika energi kembali menjadi senjata dalam percaturan global, setiap negara dipaksa meninjau ulang fondasi ketahanannya sendiri.

Di tengah gejolak geopolitik global yang kian memanas—terutama akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran—energi kembali menegaskan dirinya sebagai instrumen kekuasaan dalam percaturan dunia. Gangguan di kawasan Teluk, khususnya Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan minyak global, tidak hanya memicu volatilitas harga energi, tetapi juga memperlihatkan betapa rapuhnya sistem energi global yang selama ini bergantung pada stabilitas kawasan tersebut.

Sebagai salah satu chokepoint terpenting dunia, Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global. Ketergantungan dunia pada jalur sempit ini menjadikan setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berimplikasi sistemik, bukan sekadar regional. Bagi negara-negara pengimpor energi di Asia, termasuk Indonesia, gangguan sekecil apa pun dapat memicu efek domino: lonjakan harga, ketidakpastian pasokan, hingga tekanan terhadap stabilitas makroekonomi.

Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar peristiwa eksternal yang jauh secara geografis. Ia hadir sebagai tekanan nyata yang merembet hingga ke struktur ekonomi domestik—dari kenaikan biaya impor energi, tekanan terhadap nilai tukar, hingga peningkatan beban subsidi dalam APBN. Dalam konteks ini, ketahanan energi tidak lagi dapat dipahami sebagai isu teknokratis semata, melainkan sebagai persoalan strategis yang menyentuh fondasi kedaulatan nasional.

Kerentanan Struktural dan Dilema Kebijakan

Persoalan Indonesia tidak berhenti pada tekanan global: ia justru berakar lebih dalam pada struktur energi nasional itu sendiri.

Baca Juga:   Refleksi Perjuangan R.A Kartini: Emansipasi Perempuan dalam Ruang Ketenagakerjaan

Ironisnya, di saat dunia berlomba mengamankan sumber energi dan memperkuat kemandirian, Indonesia justru masih bergulat dengan paradoks lama: kaya sumber daya, tetapi miskin dalam kedaulatan. Ketergantungan terhadap impor, keterbatasan kapasitas produksi, serta lambannya transformasi energi menempatkan ketahanan energi nasional dalam posisi yang semakin rentan.

Data menunjukkan bahwa produksi minyak domestik Indonesia pada 2024–2025 hanya berada di kisaran 600–605 ribu barel per hari, sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Angka ini jauh di bawah kebutuhan konsumsi nasional yang telah melampaui 1,6 juta barel per hari. Kesenjangan ini menjadikan impor sebagai tulang punggung pasokan energi nasional.

Ketergantungan tersebut diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) dan publikasi ESDM yang menunjukkan bahwa lebih dari separuh kebutuhan bahan bakar minyak nasional masih dipenuhi melalui impor. Hal ini menegaskan bahwa persoalan energi Indonesia bukan sekadar soal ketersediaan sumber daya, melainkan juga menyangkut kapasitas pengolahan dan tata kelola industri energi.

Di sisi lain, transisi energi juga belum menunjukkan percepatan yang memadai. Laporan Institute for Essential Services Reform (IESR) 2025 mencatat bahwa bauran energi terbarukan (BET) baru mencapai sekitar 15–16%. Capaian ini belum mencapai target, meskipun telah direvisi menjadi sekitar 17–19% dari sebelumnya ditetapkan sebesar 23%. Penurunan ini mencerminkan bahwa transformasi energi masih menghadapi hambatan struktural yang serius.

Dalam konteks fiskal, tekanan semakin terasa. Subsidi energi yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun menunjukkan bahwa APBN Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Di satu sisi, subsidi diperlukan untuk menjaga stabilitas sosial. Namun di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi memperlambat transisi energi. Lebih jauh, ketergantungan pada subsidi energi juga menciptakan opportunity cost yang besar bagi pembangunan nasional. Anggaran yang dialokasikan untuk menahan harga energi seharusnya dapat dimanfaatkan untuk investasi jangka panjang seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur produktif.

Baca Juga:   Perlu Perubahan Paradigma dan Sistem untuk Pembangunan UMKM dan Koperasi

Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan ini berpotensi memperlambat transformasi ekonomi Indonesia menuju struktur yang lebih maju dan berkelanjutan. Situasi ini mencerminkan fenomena lock-in effect energi fosil—di mana kebijakan yang ada justru mengunci sistem energi dalam pola lama yang sulit diubah.

Pada akhirnya, persoalan energi bukan semata soal teknis dan ekonomi, melainkan soal arah politik dan keberanian menentukan masa depan.

Di sinilah pentingnya membaca ulang ketahanan energi dalam kerangka ideologi bangsa. Dalam perspektif ideologis, energi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen strategis untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karenanya, sumber daya energi harus dikelola negara untuk kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi pasal 33 UUD Negara Republik Indonesia 1945.

Dalam studi geopolitik, sektor energi dipandang memiliki peran melampaui sekat politik, karena menyangkut kelangsungan hidup suatu negara, jauh di atas perdebatan politik dan ideologi. Daniel Yergin penulis buku The Prize: The Epic Quest for Oil, Money & Power (1991) dan The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations (2020) menegaskan bahwa minyak menjadi fondasi kekuatan nasional dan memaksa negara-negara mengesampingkan perbedaan politik demi menjaga stabilitas nasional.

Pandangan ini sejalan dengan gagasan Soekarno yang memandang energi (terutama migas saat itu) sebagai alat perjuangan untuk kedaulatan bangsa. Bagi Soekarno, kontrol atas energi adalah prasyarat mutlak untuk berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), sebuah visi yang melampaui kepentingan politik jangka pendek. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan politik tidak akan bermakna tanpa kemandirian dalam mengelola sumber daya strategis. Dalam kerangka Trisakti, kemandirian ekonomi—termasuk dalam sektor energi—menjadi fondasi bagi tegaknya kedaulatan bangsa secara utuh.

Dengan demikian, energi bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan instrumen geopolitik yang vital dan strategis. Negara yang tidak mampu mengendalikan energinya sendiri akan selalu berada dalam posisi tawar yang lemah dalam percaturan global.

Baca Juga:   Jalan Terjal Profesi Pendidik: Konsepsi Perjuangan dan Sasaran Konstruktif Memaknai Hari Guru Nasional

Dalam konteks Indonesia saat ini, pesan tersebut menjadi refleksi sekaligus kritik. Ketika ketergantungan terhadap impor masih tinggi dan transisi energi berjalan lambat, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: sejauh mana Indonesia benar-benar berdaulat atas energinya sendiri?

Menjawab pertanyaan ini membutuhkan peran aktif parlemen. Tidak cukup hanya sebagai pengawas, parlemen harus menjadi penentu arah kebijakan energi nasional. Reformasi subsidi, percepatan energi terbarukan, serta penguatan infrastruktur energi harus menjadi agenda strategis yang dikawal secara konsisten. Lebih dari itu, keberanian politik diperlukan untuk keluar dari jebakan kebijakan jangka pendek. Tanpa langkah transformatif, Indonesia berisiko terus berada dalam siklus ketergantungan yang sulit diputus.

Pada akhirnya, ketahanan energi bukan sekadar soal pasokan, tetapi soal kedaulatan. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, energi menjadi penentu siapa yang berdiri tegak dan siapa yang bergantung. Sebagaimana diingatkan oleh Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Dalam konteks energi, pilihan itu kini ada di tangan kita: menuju kedaulatan, atau terus bertahan dalam ketergantungan. Di titik inilah masa depan energi Indonesia sedang dipertaruhkan.***


Penulis Karyono Wibowo, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute.

Disclaimer: Tulisan ini juga telah terbit di Media Cetak PARLEMENTARIA.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik

Jakarta, Marhaenist.id  — Polemik yang melibatkan Prabowo Subianto, aktivis Firman Tendry Masengi,…

Rusaknya Demokrasi, Puan: Karena Rakyat Tak Pernah Berkuasa

MARHAENIST - Banyak kritikan terhadap penyelenggaraan demokrasi di Indonesia yang dianggap telah…

Tuntut Sisa Ganti Rugi Lahan, GMNI Baubau Kawal Masyarakat Talaga Raya Gelar Aksi ke PT AMI

Marhaenist.id, Buteng - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota…

Ribuan Warga Solo Raya di Sumut Nyatakan Dukung Ganjar-Mahfud, Siap Menangkan Presiden Rakyat

Marhaenist.id, Simalungun - Sebanyak dua ribu warga asal Solo Raya di Kabupaten…

GMNI: KTT ASEAN Harus Menjiwai Doktrin Soekarno-Macapagal

Marhaenist - Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi pada Rabu pagi, 10…

Presiden Joko Widodo menyampaikan sedikitnya lima arahan kepada jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), mulai dari para pejabat utama Mabes Polri, kepala kepolisian daerah (kapolda), hingga kepala kepolisian resor (kapolres) seluruh Tanah Air di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 14 Oktober 2022. BPMI/Lukas

Jokowi Kritik Hidup Mewah Para Anggota Polri

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para anggota Polri agar tidak…

Polres Gencar Lakukan Pemberantasan Narkoba, DPC GMNI Binjai: Kapolres Kali Ini Bukan Kaleng Kaleng!

Marhaenist.id, Binjai - Polres Binjai kembali menunjukkan tekadnya yang tak tergoyahkan untuk…

Analisa Kritis Geopolitik Global: Ketika Tatanan Dunia Bergeser dari Hukum Internasional menuju Politik Kekuatan

Marhaenist.id - Perkembangan geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pergeseran signifikan…

DPD GMNI DKI Jakarta: Hukum dan Militerisme Sedang Menjauh dari Cita-Cita Reformasi dan Pancasila

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?