
Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Jakarta Barat menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi kritis film dokumenter investigatif Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat dari berbagai elemen se Jakarta Barat yang berlangsung pada Sabtu (16/5/2026).
Acara ini digelar sebagai ruang diskusi publik di tengah menyempitnya ruang sipil dan semakin tersumbatnya saluran aspirasi demokratis.
Melalui pemutaran film dan forum diskusi, DPC GMNI Jakarta Barat berupaya membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial-politik yang terjadi saat ini.
Ketua Cabang DPC GMNI Jakarta Barat, Ahmad Mixel, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial maupun hiburan semata.
Menurutnya, film dokumenter Pesta Babi menjadi media edukasi politik yang relevan dengan kondisi masyarakat hari ini.
“Film Pesta Babi menunjukkan secara gamblang apa yang terjadi ketika manusia menuhankan materi dan ego. Kita melihat lahirnya berhala-berhala modern yang mengendalikan cara berpikir dan tindakan penguasa yang dari dulu hingga kini melegalkan penindasan,” ujar Ahmad Mixel dalam sambutannya.
Ia menilai, film tersebut merepresentasikan realitas sosial yang dekat dengan kehidupan rakyat, terutama terkait dominasi kepentingan ekonomi, eksploitasi sumber daya, serta marjinalisasi hak-hak masyarakat di bawah sistem kapitalisme yang dinilai semakin predatoris.

Dalam diskusi, Ahmad Mixel juga menyoroti perubahan paradigma kemanusiaan akibat sistem ekonomi-politik yang eksploitatif. Menurutnya, orientasi pembangunan saat ini lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi semu, investasi ekstraktif, dan proyek-proyek besar yang mengorbankan ruang hidup masyarakat.
Lebih lanjut, ia mengaitkan kondisi tersebut dengan kegagalan Reformasi 1998 dalam menghadirkan perubahan yang substantif bagi rakyat.
Reformasi yang diharapkan menjadi jalan perbaikan struktural dinilai belum mampu melepaskan diri dari praktik kartel politik dan dominasi kepentingan elite.
“Atas kondisi tersebut, bangsa ini membutuhkan perubahan yang lebih mendasar, bukan sekadar reformasi kosmetik. Perubahan itu harus mencakup revolusi cara berpikir, perombakan sistem politik-ekonomi yang timpang, serta penegasan kembali keberpihakan negara kepada rakyat tertindas,” lanjutnya.
DPC GMNI Jakarta Barat memandang kegiatan nobar dan diskusi ini sebagai langkah awal untuk memperkuat ruang demokrasi, membangun aliansi mahasiswa dan rakyat, serta mendorong kesadaran kolektif terhadap pentingnya perjuangan sosial dan kemanusiaan.
Kegiatan berlangsung dengan penuh antusiasme dan diwarnai diskusi aktif dari para peserta yang menyoroti berbagai persoalan demokrasi, ketimpangan sosial, serta arah pembangunan nasional saat ini.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.