By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Polemik Kopdes Merah Putih di Desa Polindu Kian Memanas, Inilah Kata Praktisi Hukum!
GMNI DKI Kecam Gugurnya 3 Prajurit TNI oleh Israel: Desak RI Keluar dari BOP dan Fokus Krisis Domestik
Pejuang Buruh Marhaenis Joppie Tehupeiory Wafat, Warisan Perjuangan KUP KPM Kembali Disorot
GMNI Dituding Komunis, Pimred Marhaenist.id: Ini Fitnah Intelektual!
Dies Natalis ke-72 GMNI, DPC Jakarta Timur Gelar Diskusi Publik Bahas Relevansi Politik Bebas Aktif di Tengah Geopolitik Global

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Distorsi Prinsip “Bebas dan Aktif”: Kekeliruan Strategis Presiden Prabowo Dalam Board of Peace Gaza

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Selasa, 10 Februari 2026 | 21:40 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat usai menandatangani kesepakatan bergabung di Board of Peace. BPMI/Marhaenist
Bagikan

Marhaenist.id – Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) terkait konflik Gaza patut dipersoalkan secara serius. Alih-alih memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi perdamaian global, langkah ini justru berpotensi mendistorsi prinsip fundamental politik luar negeri Indonesia yaitu bebas dan aktif.

Keaktifan yang tidak disertai kebebasan struktural bukanlah cerminan politik luar negeri yang berdaulat. Dalam konteks BoP, Indonesia berisiko hanya tampil aktif secara simbolik, di mana hadir di meja perundingan, namun terikat pada desain perdamaian yang dikendalikan oleh kepentingan negara-negara besar atau blok geopolitik tertentu. Jika demikian, maka “bebas dan aktif” direduksi menjadi slogan kosong tanpa makna substantif.

Lebih mengkhawatirkan, keterlibatan ini berpotensi menggeser posisi historis Indonesia dari moral force Global South menjadi sekedar auxiliary actor dalam arsitektur perdamaian global yang timpang. Indonesia tidak lagi berdiri sebagai suara independen pembela bangsa tertindas, melainkan sebagai pelengkap legitimasi atas proses perdamaian yang belum tentu adil. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menggerus kredibilitas Indonesia sebagai salah satu juru bicara utama perjuangan Palestina di forum internasional seperti OKI dan PBB.

Langkah Presiden Prabowo ini juga menunjukkan jarak yang kian lebar dari nilai-nilai politik luar negeri para Pendiri Bangsa, khususnya Bung Karno. Sejak awal, politik luar negeri Indonesia dibangun di atas keberanian ideologis untuk menolak dominasi kekuatan besar dan segala bentuk kolonialisme. Bung Karno secara tegas menekankan bahwa Indonesia tidak akan menjadi pengikut siapa pun, tetapi harus menjadi pelopor. Namun, keikutsertaan dalam BoP justru berpotensi menempatkan Indonesia sebagai pengikut desain perdamaian global yang tidak dirumuskan secara setara dan adil.

Masalah utama konflik Gaza bukanlah ketiadaan forum perdamaian, melainkan ketidakmauan komunitas internasional untuk menyentuh akar konflik: pendudukan, kolonialisme, dan ketimpangan kekuasaan yang dilembagakan. Jika Board of Peace gagal atau enggan menantang struktur ketidakadilan tersebut, maka kehadiran Indonesia di dalamnya bukan hanya tidak efektif, tetapi juga berbahaya secara moral. Indonesia dapat terperosok menjadi legitimator perdamaian semu, yaitu perdamaian yang menghentikan kekerasan di permukaan, namun membiarkan penindasan tetap berlangsung.

Baca Juga:   Refleksi Akhir Tahun: Catatan Fakta dari Negeri Konoha

Lebih jauh lagi, keputusan ini berisiko menciptakan disonansi serius antara kebijakan luar negeri negara dan aspirasi historis bangsa Indonesia. Republik ini lahir dari perlawanan terhadap penjajahan, dan sejak awal menempatkan diri sebagai bagian dari perjuangan global melawan imperialisme. Ketika Indonesia terlibat dalam mekanisme internasional yang berpotensi melanggengkan ketidakadilan struktural, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar posisi diplomatik, melainkan jati diri politik luar negeri Indonesia itu sendiri.

Oleh karena itu, keterlibatan Presiden Prabowo dalam Board of Peace Gaza bukanlah sekadar persoalan teknis diplomasi, melainkan ujian serius atas konsistensi ideologis dan keberanian politik Indonesia di panggung global. Perdamaian tanpa keadilan bukanlah perdamaian yang sejati, dan politik luar negeri tanpa kedaulatan sikap bukanlah politik luar negeri yang bebas.

Di lain sisi Indonesia seharusnya berdiri bersama rakyat Palestina, bukan duduk sejajar dengan arsitek perdamaian palsu. Jika tidak, maka prinsip “bebas dan aktif” hanya akan tercatat sebagai warisan yang dikubur secara perlahan oleh rezim yang lebih memilih stabilitas semu daripada keadilan sejati.


Penulis : Adelia Maharani Mahasiswa Program Master Moscow State Institute of International Relations (MGIMO) Moskow, Rusia.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Polemik Kopdes Merah Putih di Desa Polindu Kian Memanas, Inilah Kata Praktisi Hukum!
Rabu, 1 April 2026 | 14:37 WIB
Foto: Deodatus Sunda Se, Ketua DPD GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
GMNI DKI Kecam Gugurnya 3 Prajurit TNI oleh Israel: Desak RI Keluar dari BOP dan Fokus Krisis Domestik
Rabu, 1 April 2026 | 12:49 WIB
Pejuang Buruh Marhaenis Joppie Tehupeiory Wafat, Warisan Perjuangan KUP KPM Kembali Disorot
Selasa, 31 Maret 2026 | 16:44 WIB
GMNI Dituding Komunis, Pimred Marhaenist.id: Ini Fitnah Intelektual!
Selasa, 31 Maret 2026 | 13:42 WIB
Dies Natalis ke-72 GMNI, DPC Jakarta Timur Gelar Diskusi Publik Bahas Relevansi Politik Bebas Aktif di Tengah Geopolitik Global
Senin, 30 Maret 2026 | 16:43 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Resensi Buku: Antara Marhaenisme dan Marxisme

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Marhaenisme merupakan salah satu pemikiran penting dalam sejarah perjuangan…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. MARHAENIST

Ganjar: Pemotongan Bantuan Bentuk Pengkhianatan Pada Negara

Marhaenist - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tegas mengatakan mereka yang bermain…

Hitam Putihnya Hukum, Penganiayayan Siswa 14 Tahun Tantangan Untuk Penegak Hukum

Marhaenist.id - Wajah hukum di indonesia sangat ditentukan oleh tiga hal, ketiganya…

Usai CFD, Ganjar dan Istri Ngemie Ayam Bareng Warga Di Trotoar Sudirman

Marhaenist.id, Jakarta - Ganjar Pranowo bersama istri, Siti Atikoh menikmati mie ayam di…

Mengedepankan Prinsip Kesetaraan Hukum dalam Kasus Sekjen PDI Perjuangan

Marhaenist.id - Kasus permintaan penjadwalan ulang pemeriksaan oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto,…

Aji Chayono, Penulis Lepas/MARHAENIST.

GMNI dalam Persimpangan Jalan: Machtsvorming sebagai Gagasan Pemersatu

Marhaenist.id - Di tengah arus disorientasi ideologis dan pragmatisme politik yang menjangkiti banyak…

Foto:

Kapitalisme yang Menghapus Jejak Peradaban Bangka Belitung

Marhaenist.id - Menyingkap tabir sejarah jauh kebelakang sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Bangka…

PFM Dorong Penetapan Status Bencana Nasional di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Marhaenist.id, Jakarta – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Papua Barat…

Detik-detik Seorang Jurnalis di Morowali ditangkap oleh Aparat Kemanan yang berpakaian preman dan bersenjata Laras Panjang (Sumber: Portal Hukum Indonesia)/MARHAENIST.

Viral! Jerit Tangis di Torete: Saat Laras Panjang Membungkam Hak Warga, Roy Diseret Tanpa Dialog

Marhaenist.id, Morowali – Suasana Desa Torete yang semula tenang, mendadak berubah mencekam…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?