
Marhaenist.id, Jakarta – Kunjungan Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang ke Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI di Wisma Trisakti, Jakarta Pusat, pada Jumat (3/4/2026), tidak sekadar menjadi agenda silaturahmi organisasi.
Pertemuan ini justru menjadi ruang reflektif bagi kader di tingkat akar rumput dalam melihat wajah kepemimpinan organisasi saat ini.
Ketua DPK GMNI UBP Karawang, Bung Jeje Zaenudin, menilai pertemuannya dengan Ketua Umum DPP GMNI, Bung Sujahri Somar, memberikan kesan mendalam, terutama terkait gaya kepemimpinan yang ditunjukkan.
“Bukan sekadar pertemuan struktural, tetapi ada nilai kepemimpinan yang terasa berbeda. Lebih terbuka, egaliter, dan tidak berjarak,” ujar Jeje dalam keterangannya.
Kepemimpinan Egaliter Jadi Sorotan
Menurut Jeje, Bung Sujahri Somar memperlihatkan praktik kepemimpinan yang mencerminkan nilai egalitarianisme—sebuah prinsip yang telah lama menjadi bagian dari ajaran Bung Karno.
Ia menilai, sikap terbuka dan kesediaan untuk berdiskusi langsung dengan kader komisariat menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan tidak harus dibangun dengan jarak dan sekat struktural.
“Ketika saya berdiskusi langsung, saya seperti diingatkan kembali pada sosok Bung Karno dalam Penyambung Lidah Rakyat. Seorang pemimpin besar yang tetap memilih dekat dengan rakyat,” ungkapnya.
Refleksi Nilai Marhaenisme
Jeje juga mengaitkan pengalaman tersebut dengan akar historis Marhaenisme yang lahir dari perjumpaan langsung Bung Karno dengan rakyat kecil, seperti petani Marhaen.
Menurutnya, pendekatan kepemimpinan yang ditunjukkan Bung Sujahri bukan sekadar sikap personal, tetapi manifestasi dari garis ideologis GMNI itu sendiri.
“Semangat untuk duduk bersama, berdialog tanpa sekat, dan membuka ruang bagi kader di akar rumput adalah bagian dari nilai perjuangan itu,” katanya.
Momentum Lawan Pola Elitis
Dalam konteks organisasi modern, Jeje menilai pengalaman ini menjadi penting di tengah kecenderungan hubungan yang semakin hierarkis dan elitis.
Ia mengingatkan bahwa jarak antara pusat dan akar rumput dapat mengikis komunikasi serta menghilangkan ruh perjuangan organisasi.
“Jika jarak itu semakin lebar, yang hilang bukan hanya komunikasi, tetapi juga nilai dasar perjuangan,” tegasnya.
Meneguhkan Arah Gerakan GMNI
Kunjungan ini pun dipandang sebagai momentum untuk menegaskan kembali arah gerakan GMNI agar tetap berpijak pada nilai-nilai dasar Marhaenisme—kedekatan dengan rakyat, kesetaraan antar kader, serta keberanian untuk berdialog secara terbuka.
Jeje menegaskan, GMNI tidak boleh kehilangan arah historisnya sebagai organisasi perjuangan.
“GMNI bukan sekadar struktur, tetapi gerakan yang hidup dari interaksi nyata antara pemimpin dan kader, antara gagasan dan realitas rakyat,” ujarnya.
Ia optimistis, jika semangat tersebut terus dijaga, GMNI tidak hanya akan bertahan sebagai organisasi, tetapi juga tetap relevan sebagai alat perjuangan kaum Marhaen di masa kini.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.