By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Warga TPU Kebun Nanas Didampingi GMNI Jakarta Timur dan Yayasan Teman Baik Ajukan Pengaduan ke Komnas HAM RI
Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu
GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis
Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Teror Bukan Bantahan: Ketika Kritik Dibalas Intimidasi dan New Orde Baru Muncul 

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 1 Januari 2026 | 14:07 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Secarik Kertas dengan tulisan teror kepada salah satu Influencer Dj Donny yang selalu kritis terhadap Pemerintah Indonesia saat ini (Sumber: gonews.id)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Ternyata, menjadi orang kritis di negeri ini kini terasa lebih menegangkan daripada jadi peserta Benteng Takeshi. Kalau dulu kritik berhadapan dengan hukum yang setidaknya masih bisa diuji di ruang publik hari ini metodenya berubah jadi teror psikologis yang niat, sistematis, dan pengecut.

Pola itu mudah dibaca. Ketika Bang Iqbal Damanik dan DJ Donny bersuara soal penyaluran bantuan bencana di Sumatra, yang datang bukan klarifikasi berbasis data atau bantahan argumentatif. Balasannya justru kiriman bangkai ayam ke rumah.

Ini bukan sekadar ancaman, tapi pertunjukan kebusukan—harfiah dan simbolik. Ada energi, waktu, dan niat jahat yang diinvestasikan hanya untuk membungkam kritik. Ironisnya, energi sebesar itu bisa dialihkan untuk membantu korban banjir, kalau memang kepedulian yang jadi alasan.

Kasus Aprilia Muktirina bahkan lebih menyedihkan. Konten yang ia buat bersifat harmless: menyoal kepantasan foto pejabat di depan bantuan. Kritik visual, bukan fitnah. Tapi balasannya adalah teror paket COD bernilai jutaan yang datang hampir setiap hari.

Ini intimidasi paling licik: memanfaatkan kurir jadinya warga biasa yang tak tahu apa-apa dugunakan sebagai alat teror. Kritik dibalas tagihan logistik. Ruang publik dikotori dengan cara yang merugikan banyak pihak sekaligus.

Lalu Sherly Annavita, mobilnya dirusak, dilempar telur busuk. Di tengah harga pangan yang naik, telur dipakai bukan untuk makan, melainkan untuk melampiaskan amarah terhadap kritik. Sebuah metafora pahit tentang nalar yang dibuang bersama akal sehat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kritik tak lagi dilihat sebagai mekanisme koreksi, melainkan ancaman personal. Bukan gagasan yang dibantah, tapi orangnya yang diserang. Ini bukan soal keberanian, melainkan ketakutan. Ketika data kalah oleh teror, ketika argumen diganti intimidasi, di situlah demokrasi mulai demam tinggi.

Baca Juga:   6 Buku untuk Memahami Mengapa Gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto Harus Ditolak

Joke “Selamat Datang New Orde Baru” terdengar lucu sampai ia berhenti jadi lelucon. Ketika kritik dibungkam bukan lewat debat, melainkan gangguan mental dan ancaman fisik, kita sedang menyaksikan kemunduran yang nyata. Bukan karena negara tak punya aturan, tetapi karena ada pihak yang memilih jalan pintas: membungkam, bukan menjawab.

Opini ini bukan ajakan untuk berhenti mengkritik. Justru sebaliknya. Ini peringatan bahwa ruang publik hanya akan sehat jika perbedaan dijawab dengan argumen, bukan teror.

Jika kritik dibalas intimidasi, maka yang kita rawat bukan stabilitas, melainkan ketakutan. Dan negara yang menumbuhkan ketakutan, cepat atau lambat, akan menuai perlawanan—entah dengan suara yang lebih keras, atau dengan diam yang jauh lebih berbahaya.***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Rabu, 7 Januari 2026 | 04:01 WIB
Warga TPU Kebun Nanas Didampingi GMNI Jakarta Timur dan Yayasan Teman Baik Ajukan Pengaduan ke Komnas HAM RI
Rabu, 7 Januari 2026 | 02:04 WIB
Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu
Selasa, 6 Januari 2026 | 23:30 WIB
GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis
Selasa, 6 Januari 2026 | 22:03 WIB
Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas
Selasa, 6 Januari 2026 | 19:47 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Bahas Demokrasi dan HAM, DPD PA GMNI Sumut Gelar Diskusi Publik

Marhaenist.id, Medan - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Indonesia di Persimpangan Geopolitik: Peluang dan Tantangan Dalam Menjalin Kerja Sama Dengan Uni Eropa

Marhaenist.id - Pernyataan Kanselir Jerman Olaf Scholz di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di…

Sonny T Danaparamita Kritik Keras Ketimpangan Izin Hutan: Negara Dapat Receh, Rakyat yang Menanggung Kerusakan

Marhaenist.id, Jakarta - Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita,…

Tragedi Kecelakaan Bus SMK Lingga Kencana Depok: Luka Mendalam dan Evaluasi Total!

Marhaenist.id - Kecelakaan maut bus rombongan siswa SMK Lingga Kencana Depok di…

Sukses Laksanakan Simposium dan KTD, GMNI Jambi Persiapkan Kader Membumikan Marhaenisme di Provinsi Jambi

Marhaenist.id, Jambi – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kongres IV PA GMNI Bandung, Nasionalisme Menjawab Tantangan Jaman

Marhaenist - Mulai Senin (06/12/2021) hingga Rabu (08/12/2021), Persatuan Alumni (PA) Gerakan…

Kasus Oplosan BBM: Negara Harus Bertanggung Jawab atas Kerugian Konsumen

Marhaenist.id, Jakarta - Terungkapnya praktik pengoplosan BBM di PT Pertamina Patra Niaga…

Ribuan Kader dan Alumni GMNI Napak Tilas Ziarahi Makam Bung Karno

Marhaenist - Ribuan kader dan alumni dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tanamkan Nilai Marhaenisme pada Peserta Baru, GMNI Touna Sukses Gelar PPAB Ke 7

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?