By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelHistorical

Menolak Lupa: Ita Martadinata Haryono, Martir Kesucian yang Dibungkam demi Menjaga Wajah Bangsa

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 6 Januari 2026 | 12:30 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ita Martadinata Haryono (Sumber: )/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist id – Sejarah Indonesia memiliki banyak pahlawan, namun ada satu nama yang terkubur dalam luka paling kelam: Ita Martadinata Haryono. Ia bukan pahlawan yang gugur di medan perang dengan senjata di tangan, melainkan seorang remaja berusia 18 tahun yang menjadi martir karena keberaniannya untuk bersaksi atas kebenaran di tengah kebiadaban.

Keberanian di Balik Kegelapan Mei 1998

Ita Martadinata adalah seorang siswi SMA yang hidup di masa transisi kekuasaan yang penuh kekerasan. Ketika kerusuhan Mei 1998 pecah, sebuah tragedi kemanusiaan terjadi: pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa dilakukan secara sistematis. Di saat banyak korban memilih bungkam karena trauma dan rasa malu yang mendalam, Ita bersama ibunya, Ibu Martadinata, justru berdiri di garda depan.

Ita bergabung dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK). Ia bukan sekadar saksi; ia adalah penyintas yang bersedia memberikan testimoni kepada dunia internasional tentang apa yang sebenarnya terjadi di jalanan Jakarta. Keberaniannya adalah ancaman bagi mereka yang ingin menghapus jejak kejahatan kemanusiaan tersebut.

Tragedi 9 Oktober: Pembungkaman yang Keji

Hanya beberapa hari sebelum Ita dijadwalkan terbang ke Amerika Serikat untuk memberikan kesaksian di hadapan Kongres AS dan PBB, sebuah peristiwa mengerikan terjadi. Pada 9 Oktober 1998, Ita ditemukan tewas mengenaskan di kamarnya. Ia dibunuh secara sadis dengan luka sayatan di leher dan perut, serta tanda-tanda kekerasan seksual yang brutal.

Pemerintah dan pihak kepolisian saat itu dengan cepat mengklaim bahwa Ita adalah korban perampokan biasa atau dibunuh oleh “orang gila”. Namun, narasi ini sulit diterima oleh nalar publik. Mengapa seorang remaja yang menjadi kunci saksi internasional dibunuh tepat sebelum ia berbicara? Kematian Ita adalah pesan teror yang dikirimkan kepada para penyintas lainnya: “Bungkam, atau kalian akan berakhir seperti ini.”

Baca Juga:   Metodologi KIV: Sebagai Alat Perjuangan GMNI Melawan Tangangan Zaman

Penghianatan Negara Terhadap Keadilan

Hingga hari ini, kasus Ita Martadinata tetap menjadi misteri yang tidak pernah tuntas secara hukum. Kematiannya menandai berakhirnya keberanian banyak saksi lain untuk bersuara. Negara, melalui aparat penegak hukumnya saat itu, gagal—atau sengaja gagal—untuk mengungkap dalang di balik pembunuhan terencana ini.

Ita adalah tumbal dari sebuah rezim yang ingin mencuci tangan dari darah para korban Mei 1998. Ia adalah “Heroine” yang terlupakan, seorang remaja yang mengorbankan nyawanya demi martabat kaum perempuan dan kebenaran sejarah bangsa ini.

Merawat Ingatan, Melawan Lupa
Menuliskan kembali kisah Ita Martadinata bukan bertujuan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menolak lupa (Menolak Lupa). Monumen kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dibangun dari gedung pencakar langit, tetapi dari kemampuannya mengakui kesalahan masa lalu dan memberikan keadilan bagi korbannya. Ita Martadinata Haryono adalah pengingat abadi bahwa kebenaran sering kali dibayar dengan harga yang sangat mahal “nyawa”.

Sumber Referensi:
Laporan lengkap mengenai tragedi Mei 1998 dan kasus Ita Martadinata dapat diakses di dokumen resmi Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Analisis mendalam mengenai kronologi pembunuhan Ita Martadinata terdapat dalam arsip investigasi Majalah Tempo (Edisi Khusus Reformasi).***


Catatan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) yang dipimpin oleh Romo Sandyawan Sumardi, dapat ditelusuri melalui database KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Air Mata Irine ‘Jurnalis CNN’ dan Duka Aceh Tamiang

Marhaenist.id - Air mata Irine, seorang jurnalis CNN, menjadi potret paling jujur…

DPC GMNI Jakarta Timur Audiensi dengan BAWASLU Jakarta Timur Bahas Penguatan Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Marhaenist.id, Jakarta Timur – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Hidupkan Suara Utusan Golongan di MPR

Marhaenist.id - Rusaknya bangsa ini karena semua semua ditentukan suara terbanyak. Dari…

Jakarta Utara Memerah, Ribuan Warga Turun Jelang Debat Terakhir dan Pesta Rakyat

Marhaenist.id, Jakarta - Jelang debat pamungkas calon Presiden RI Ganjar Pranowo menyapa…

Aksi Massa Tan Malaka

MARHAENIST - Sukarno dan Tan Malaka memang terpaut dekat. Mereka hanya selisih…

Pelantikan Pengurus DPC GMNI Jakarta Timur Periode 2025-2027 dan Dialog Marhaenis Sukses Digelar

Marhaenist.id, Jaktim – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gelar Halal Bi Halal, PA GMNI Perkuat Kesalehan dan Solidaritas Sosial untuk Indonesia Raya

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

GMNI Kecam Aksi Pencurian yang Marak Terjadi di Kabupaten Touna

Marhaenist.id, Touna - Aksi pencurian yang kerap terjadi di Kabupaten Tojo Una-Una…

GMNI Jakarta Selatan

GMNI Jaksel Desak Transparansi: Bareskrim Harus Buka Hasil Pemeriksaan Dugaan Korupsi Direksi PT ATPI ke Publik

Marhaenist, Jakarta - Korupsi di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?