By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
(Bagian Pertama) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Panas yang Menetap, Negara yang Tertinggal: Kita Tak Bisa Melawan Alam, Tapi Masih Bisa Menyiasatinya
Krisis Tersembunyi Dibalik Anggaran Besar, DPP GMNI Soroti Ketimpangan Sistem Pendidikan Nasional
Aktivis Mahasiswa Sebut Konten Amien Rais Sebagai Ad Hominem Bukan Kritik
Kasus Anak PRT Benhil, Institut Sarinah: Indikasi Kelalaian Serius Aparat, Kompolnas Harus Turun

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Studi Terhadap Prilaku Keserakahan, Seberapa Mengerikannya Manusia? (Bagian 1)

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 3 November 2024 | 21:19 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Seberapa Mengerikannya Manusia?/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Akhir-akhir ini dunia sosial kita disibukkan oleh berita-berita tentang perilaku kejahatan manusia.
Mulai dari pembunuhan, penyiksaan, pembantaian, genosida dan korupsi yang tidak ada habis-habisnya. Di kalangan pemerintah keserakahan pengeksploitasian sumber daya alam menghancurkan tatanan hutan-hutan yang hijau menjadi gersang karena tambang, pemanasan global dan krisis iklim. Agama dijadikan mainan untuk memperoleh kekuasaan. Pemerkosaan, kekerasan seksual, perjudian, pencurian, penipuan dan nafsu birahi yang tidak terelakan.

Semua hal-hal yang dikaitkan dengan sifat setan,seakan seperti diambil alih oleh manusia yang mengagungkan akal. Sepertinya manusia melebihi apa yang bisa diperbuat oleh setan dan mungkin sekarang manusia seperti menjadi sumber kejahatan itu sendiri. Manusia adalah malapetaka bagi dirinya sendiri dan dari semua kejahatan dan kegilaan yang nyata di kehidupan kita. Kita jadi bertanya-tanya apakah kemanusiaan hanya tinggal kenangan dalam kitab-kitab Agama? apa penciptaan manusia memang suatu kesalahan pada asalnya atau memang semengerikan dan semenjijikan itu makhluk yang bernama manusia?

Manusia adalah kemuliaan dan sampah alam semesta demikian kesimpulan Filsuf Prancis Blaise Pascal Pada Tahun 1658 dan sampai saat ini tidak banyak yang berubah. Manusia masih terus mencintai dan terus saja saling membenci. Manusia masih mengeluarkan tangannya pada kemanusiaan dengan terus menerorkan senjatanya pada setiap kepala-kepala manusia. Kita tentu memahami, jika seseorang menyerang sebagai pembalasan atau membela diri. Namun ketika seseorang menyakiti orang yang tidak bersalah kita bertanya tanya bagaimana bisa? ketika berbicara tentang tindak kejahatan kita selalu bernaung pada aturan, etika dan moral.

Dalam aturan, paling tidak kejahatan sering diartikan sebagai perilaku pelanggaran aturan hukum. Akibatnya, seseorang dapat dijerat hukum. Dalam perspektif hukum perilaku kejahatan terkesan aktif, dalam perspektif moral perilaku seseorang dapat disebut sebagai kejahatan hanya jika memiliki dua faktor. Satu Mens Rea (adanya niatan untuk melakukan kejahatan) kedua Aktus Reus (perilaku kejahatan terlaksana tanpa paksaan dari orang lain). Dari segi pelaksanaannya kejahatan bisa dibagi menjadi kejahatan terorganisir yang memiliki sistem dan perencanaan serta keahlian dalam melakukan. Kejahatan yang tidak terorganisir, kejahatan yang dilakukan tanpa perencanaan dan dilakukan oleh orang yang belum punya keahlian khusus atau amatir.

Baca Juga:   Tanggung Jawab Moral Jurnalis dalam Bayang-Bayang Demokrasi Prosedural

Berdasarkan data Pusiknas Polri sejak Tanggal 1 Januari s/d 17 Mei pada tahun 2024 ada 140.335 kejahatan yang terjadi di Indonesia. Jenis kejahatan yang paling banyak ada pada bentuk pencurian, untuk pembunuhan sendiri dalam data tersebut tercatat dalam 4 tahun terakhir sudah lebih dari 3000 kasus yang diungkap oleh kepolisian. Dalam kasus pembunuhan tersebut, pelaku dan korban justru saling mengenal. Pertanyaannya dari mana asal semua kejahatan ini?. Dari beberapa kasus pembunuhan yang telah disebutkan ada banyak faktor yang membuat manusia-manusia tersebut memutuskan untuk melakukan pembunuhan. Motif utamanya kebanyakan muncul karena faktor emosional seperti sakit hati dan dendam.

Dalam dunia kriminologi ada teori Rasional Choice Theory atau teori pilihan rasional yang menyebabkan beberapa faktor yang membuat seseorang mau menjadi pembunuh atau termotivasi melakukan pembunuhan. Faktor utamanya adalah materi dan perhitungan untung rugi, dalam hal ini untung rugi tidak
selalu berkaitan dengan uang tetapi bisa berkaitan dengan banyak hal. Misalnya, kebebasan rasa senang dan kepuasan.

Hal-hal seperti ini dalam Rasional Choice Theory menjadi daya tarik yang sangat kuat untuk
melakukan pembunuhan. Faktor kedua adalah emosi, emosi seperti kita ketahui dan sering kita rasakan sendiri bahwa emosi kerap kali bersifat dinamis. Untuk itu, emosi secara psikologis berperan besar dalam memotivasi seseorang untuk melakukan pembunuhan.

Seseorang yang memiliki rasa dendam kondisi jiwanya sering kali tidak stabil. Mereka merasa sakit hati, kecewa, marah dan tidak mampu menerima dan memaafkan perlakuan buruk dari orang lain. Emosi inilah yang bisa menjadi pembangkit mengapa seseorang mau menjadi pembunuh. Faktor ketiga, seseorang melakukan pembunuhan karena merasa dirinya mampu. Faktor keempat adanya suatu kuasa, seseorang yang memiliki kekuasaan tertentu secara psikologis merasa mampu untuk menghilangkan segala jejak perbuatannya agar terhindar dari jerat pidana. Untuk faktor kuasa, tentu kita sering menemukannya dalam kasus-kasus yang melibatkan aparat negara.

Baca Juga:   Menyoal Argumentasi Filosofis Konversi Kepemilikan BUMN Menjadi Kepemilikan Langsung oleh Rakyat

Dave Grossman penulis buku “On Killing: The Psychological Cause Of Learning To Kill In War and Society” menyatakan bahwa manusia memiliki sifat dasar seperti primata lainnya. Dave yang juga merupakan mantan tentara Amerika ini menganalogikan manusia seperti kera dalam kerajaan primatanya. Dalam hal ini, Dave menyatakan bahwa mayoritas para kera tidak ingin membunuh spesiesnya sendiri kecuali muncul sesuatu hal yang mengganggu.

Jika muncul konfrontasi antar kelompok yang dianggap mengganggu maka pihak musuh dianggap inferior sekaligus marabahaya yang harus dilenyapkan. Maka untuk mendapatkan posisi sebagai Superior para kera ini melakukan pertarungan hingga tak jarang sampai menghilangkan nyawa dari lawannya.

Bersambung….>>


Penulis: Ahmad Saepul Bahri, Kader GMNI Kabupaten Tanggerang, Provinsi Banten.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

(Bagian Pertama) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Sabtu, 2 Mei 2026 | 12:10 WIB
Panas yang Menetap, Negara yang Tertinggal: Kita Tak Bisa Melawan Alam, Tapi Masih Bisa Menyiasatinya
Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:56 WIB
Krisis Tersembunyi Dibalik Anggaran Besar, DPP GMNI Soroti Ketimpangan Sistem Pendidikan Nasional
Jumat, 1 Mei 2026 | 23:12 WIB
Aktivis Mahasiswa Sebut Konten Amien Rais Sebagai Ad Hominem Bukan Kritik
Jumat, 1 Mei 2026 | 21:38 WIB
Kasus Anak PRT Benhil, Institut Sarinah: Indikasi Kelalaian Serius Aparat, Kompolnas Harus Turun
Jumat, 1 Mei 2026 | 10:29 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

PDIP Tunjuk Adian Napitupulu dan Aria Bima Pimpin Tim Pemenangan Pilkada Nasional

Marhaenist.id, Jakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah membentuk Tim Pemenangan…

OMERTA, ADDIOPIZZO: Dari Sisilia ke Lorong-Lorong Gelap Merdeka Merdeka

Marhaenist.id - Istilah "Omerta" tidak lahir dari ruang sidang yang bersih; ia…

Lakukan Tindakan Kekerasan, DPK GMNI Kesehatan dan Hukum Institut Toraja Raya Kecam Perbuatan 2 Petugas RS Elim Rantepao

Marhaenist.id, Toraja Utara – Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Jalan Rusak Loloda Utara Kembali Telan Korban, GMNI Halut Desak Pemprov dan Pemkab Bertanggung Jawab

Marhaenist.id, Halut — Sukacita Natal berubah menjadi duka mendalam bagi masyarakat Loloda…

Kunjungi Banda Neira, Ganjar Belajar Dari Hatta dan Syahrir

Marhaenist.id, Banda Neira - Ganjar Pranowo mengunjungi sejumlah tempat bersejarah saat tiba…

Ketum PA GMNI: Transisi Demokrasi Tak Boleh Set Back ke Era Sebelum Reformasi

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Hedonisme Rudi Mas’ud dan Derita Masyarakat Kaltim

Marhaenist.id - Kalimantan Timur adalah tanah yang kaya. Batu bara, minyak, gas,…

Pendidikan dan Pembangunan Nasional: Menyangkut Kesejahteraan Rakyat

Marhaenist.id - Pendidikan adalah hal yang paling fundamental juga menjadi kunci utama…

Menjelang 100 Hari Pemerintahan WS-HADIR, GMNI Mamasa Serukan Refleksi Pancasila sebagai Dasar Kepemimpinan

Marhaenist.id, Mamasa - Jelang Hari Lahir Pancasila, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?