By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Studi Terhadap Prilaku Keserakahan, Seberapa Mengerikannya Manusia? (Bagian 2)

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 3 November 2024 | 22:36 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Seberapa mengerikannya manusia?/MARHAENIST.
Bagikan

<<….Sambungan

Hal ini juga terjadi pada kita selaku manusia, walau tidak dapat dipukul rata bahwa semua manusia memiliki keinginan untuk membunuh. Tetapi, Neurolog bernama Jonathan H. Pincus dalam bukunya “Base Instincts: What Makes Killers Kill?” menyatakan kesimpulan yang serupa. Bahwa manusia akan cenderung melakukan aksi membunuh manusia lainnya dalam usaha mempertahankan diri atau menyelamatkan nyawa sendiri. Analisa sifat dasar manusia sebagai pembunuh ini sempat dituliskan juga oleh Review Global berdasarkan penelitian dari David M Buss seorang psikolog sekaligus Profesor di University of Texas di Austin.

Penelitian tersebut mengemukakan sekitar 91% pria atau 84% wanita memiliki keinginan untuk membunuh makhluk hidup lain. Baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan. Selain David M Buss, penelitian-penelitian lain juga banyak yang menyatakan bahwa aktivitas saling bunuh pada manusia merupakan alur dari genetik etika atau sosiobiologi sampai alur evolusi manusia. Sebab, ternyata insting manusia untuk mempertahankan hidupnya dengan cara bersaing sudah berada sejak didalam Rahim. Reaksi ini diperlihatkan dalam sebuah hasil Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada janin kembar untuk mendapat ruang yang maksimal pada rahim ibunya mereka tidak segan untuk menendang dan mendorong saudaranya. Mungkin inilah awal mula alasan munculnya sifat egois dan kejam pada manusia saat merasa terpojok dan terancam.

Insting untuk bertahan hidup memang tidak pernah lepas dari sifat binatang yang dimiliki oleh manusia. Berbicara mengenai kehidupan ditingkat kebinatangan, hukum alam menggambarkan bahwa kehidupan baru berjalan ketika hewan sudah saling memangsa. Bahaya untuk dimangsa oleh predator lain yang lebih dominan akan selalu mengancam dari menit ke menit, siklus kehidupan tersebut dapat kita samakan saat manusia ada dalam peperangan.

Baca Juga:   Mari Satukan Langkah dan Hentikan Kebiasaan Mewariskan Perpecahan di GMNI!!!

Berbicara tentang perang dalam kacamata normal kita, itu selalu tentang bencana. Namun sialnya dalam dunia internasional bencana dalam peperangan terkadang dimuliakan dan bahkan dirayakan. Dalam perang ada sesuatu kekomplekan, disana mengandung banyak sisi unsur definisi dan varian. Perang dapat dilihat dari dua sisi yakni positif dan negatif yang bergantung pada dampak frekuensi, skala motivasi dan tren perkembangan yang lahir kemudian setelah peperangan. Namun di luar itu, pada dasarnya dampak yang dihasilkan oleh perang adalah selalu negatif seperti rusaknya tatanan sosial, ekonomi, lahirnya trauma jangka Panjang, kelaparan, malnutrisi pada anak-anak disabilitas dan juga timbulnya berbagai penyakit. Semua peperangan yang ada dalam buku sejarah kita membuktikan hal ini. Namun manusia dengan akalnya selalu mencari pembenaran akan suatu peperangan.

Imanuel Kant seorang filsuf besar Jerman bahkan menyatakan bahwa tendensi perang telah tertanam dalam kodrat manusia. Menurutnya, perang perlu dianggap mulia karena perang mendorong manusia ke arah nilai luhur. Seperti; perdamaian, menjaga martabat dan juga tidak mementingkan diri sendiri. Sejalan dengan itu, Jean Paul Sartre filsuf eksistensialis kenaman dari Prancis menganggap tindakan perang sebagai pilihan bebas manusia sebab itu lahir dari otak manusia. Perang adalah suatu insting manusia terutama dalam keadaan terancam. Dalam perang manusia memang tidak jauh berbeda dengan Binatang. Segala kecenderungan kontradiktifnya dilakukan secara bersamaan, perang menggambarkan kemanusiaan dalam bentuk terburuknya dimana semua kecerdikan energi dan kapasitas manusia ditunjukkan untuk saling membunuh.

Dalam perang semua seolah menjadi dibolehkan. Perampasan, pemerkosaan dan penahanan. Bahkan tidak sedikit kasus-kasus yang menunjukkan para tahanan perang dijadikan bahan uji coba ilmu pengetahuan. Seperti, unit 731 milik Jepang unit 51 milik Amerika dan camp konsentrasi Nazi adalah beberapa contoh tempat eksperimen ilegal yang membuat para tahanan menjadi objek uji coba. Perang memang selalu mengerikan, perang adalah kekejaman kata William Tecumseh Sherman yang terkenal dan tidak ada yang dapat menyempurnakannya. Setiap upaya untuk menggali prinsip-prinsip moral untuk perang tampaknya tidak hanya ditakdirkan gagal tetapi juga menyimpang secara moral. Tidak ada aturan untuk perang, sebagaimana tidak ada aturan untuk pembunuhan atau pemerkosaan.

Baca Juga:   Memimpikan Timnas Juara Dunia Lewat Koperasi Sepak Bola Indonesia: Inspirasi Demokrasi Ekonomi

Dari beberapa kasus pembunuhan dan peperangan diatas lantas kita bertanya-tanya dari manakah sifat-sifat sadisme itu berasal?. Beberapa orang berspekulasi bahwa sadisme adalah adaptasi yang membantu kita menyembelih hewan saat berburu. Yang lain berpendapat bahwa sadisme turut membantu orang untuk mendapatkan kekuasaan. Sejalan dengan pendapat tersebut, ilmu saraf menjelaskan bahwa sadisme bisa menjadi taktik dalam bertahan hidup yang dipicu oleh masa-masa sulit. Ketika makanan tertentu menjadi langka, tingkat neurotransmitter kita yakni serotonin menjadi turun. Kejatuhan ini membuat manusia lebih rela menyakiti orang lain karena dengan menyakiti ada perasaan yang membuat manusia menjadi lebih menyenangkan. Salah satu perkara besar dalam dunia filsafat adalah pembicaraan tentang manusia. Menjadi perkara bukan karena kompleksitas masalah yang harus didekati dalam diri manusia. Tetapi karena diri manusia menyimpan banyak misteri.

Beragam pendekatan dengan segala variannya mencoba untuk mendekati manusia, mega proyek yang dikerjakan oleh kaum modernis dengan memberikan tekanan pada esensi manusia rupanya tidak cukup untuk menguraikan dan membahasakan perihal perilaku manusia itu sendiri. Perdebatan dalam hal hakikat manusia itu baik atau jahat menjadi perdebatan yang tidak selesai sampai hari ini, beberapa orang menyatakan pada dasarnya setiap manusia itu baik namun ternyata persepsi tersebut adalah persepsi yang keliru. Sebab, pada dasarnya setiap manusia hidup mengikuti nalurinya. Yakni, bagaimana cara agar dia bisa terus bertahan hidup.

Bersambung….>>


Penulis: Ahmad Saepul Bahri, Kader GMNI Kabupaten Tanggerang, Provinsi Banten.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Rabu, 17 Desember 2025 | 00:13 WIB
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Selasa, 16 Desember 2025 | 19:45 WIB
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
Selasa, 16 Desember 2025 | 14:06 WIB
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:18 WIB
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:16 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Menjadi Negeri Para Jenderal, Firman Tendry Masengi Kritik Dominasi Militer dalam Ruang Publik dan Politik Nasional

Marhaenist.id, Jakarta - Advokat sekaligus alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Firman…

Semaoen, Sang Pendiri Partai Komunis di Indonesia

Marhaenist.id - Dialah Semaoen pendiri Partai Komunis Indonesia atau PKI. Semaun adalah…

Terpilih dalam Konfercab V, Aji Darmawan-Diman Safaat Resmi Pimpin DPC GMNI Kendari Periode 2025–2027

Marhaenist.id, Kendari - Aji Darmawan dan Diman Safaat resmi terpilih secara sah…

Serahkan Bukti Dugaan Kecurangan PPPK Tahap 2 Tahun 2024 ke DISDIKPORA dan BKPSDMD, GMNI Touna Desak agar Segera Ditindaklanjuti

Marhaenist.id, Touna- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tojo…

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur saat adakan orasi di depan gedung Grahadi Surabaya, (26/08/2024). FILE/IST. Photo

Kawal Implementasi PKPU, GMNI Jatim Gruduk Gedung Grahadi Surabaya

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur bersama dengan Budayawan…

Inspirasi Juang Makmurkan Marhaen Indonesia: Terapkan Pajak Harta Bukan Naikkan PPN

Marhaenist.id - Salah satu tujuan utama diterapkan pajak oleh negara adalah untuk keadilan.…

Pseudo-Democracy di Indonesia: Upaya Mengembalikan Marwah Demokrasi di Pilkada 2024

Latar Belakang Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar…

Satu Tahun DPRD Binjai: Tunjangan Mengalir Deras, Produk Hukum Nihil

Marhaenist.id, Binjai – Satu tahun sudah 35 anggota DPRD Kota Binjai duduk…

Peran Partai Politik dalam Mewujudkan Keadilan Sosial

Marhaenist.id - Sejak awal kemerdekaan, upaya meningkatkan kesadaran nasional terus menyebar luas,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?