By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Reformasi Polri Dimulai dengan Mencopot Sigit sebagai Kapolri

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 18 September 2025 | 23:56 WIB
Bagikan
Waktu Baca 8 Menit
Deodatus Sunda Se, Direktur Institut Marhaenisme 27/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Seruan reformasi kepolisian kembali menggelegar di ruang publik. Seruan ini bukanlah wacana kosong atau sekadar luapan emosi sesaat, melainkan lahir dari kenyataan pahit: kepolisian Indonesia di bawah komando Listyo Sigit Prabowo telah berubah menjadi institusi represif nan brutal yang gagal menjalankan mandat konstitusi. Nyawa rakyat melayang, ribuan ditangkap, kebebasan berekspresi dibungkam, sementara kepolisian semakin hari semakin dekat dengan modal dan kekuasaan, jauh dari rakyat yang seharusnya mereka lindungi. Dalam situasi ini, tuntutan mencopot Kapolri bukanlah sikap reaksioner, melainkan langkah paling masuk akal untuk membuka jalan reformasi kepolisian sejati.

Demonstrasi yang merebak sejak 25 Agustus 2025 adalah titik balik. Aksi-aksi yang semula damai berubah brutal ketika aparat kepolisian bertindak represif secara sewenang-wenang. Pada 28 Agustus, seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas dilindas mobil rantis di Jakarta. Rekaman kejadian itu menyebar luas dan memicu gelombang amarah rakyat. Dalam hitungan hari, korban bertambah: Sarinawati, Syaiful Akbar, Muhammad Akbar Basri, dan Rusmadiansyah di Makassar; Andika Lutfi Falah, pelajar 16 tahun di Tangerang; Sumari, tukang becak di Solo; Rheza Sendy Pratama, mahasiswa di Yogyakarta; dan Iko Juliant Junior, mahasiswa di Semarang. setidaknya sembilan korban jiwa hingga 31 Agustus, sementara laporan lain menyebut sudah sepuluh orang meninggal. Lebih dari dua puluh orang juga dilaporkan hilang, terutama di Jakarta, Bandung, Depok, dan sekitarnya. Ratusan lainnya luka-luka, ribuan ditangkap dengan dalih “pengamanan.” Tragedi ini menambah daftar panjang korban kekerasan aparat yang seolah tidak pernah berakhir.

Alih-alih menenangkan keadaan, Kapolri Listyo Sigit Prabowo justru memperkeruh situasi. Sebuah video yang beredar memperlihatkan dirinya memberi perintah tembak di tempat, dengan peluru karet, bila massa berani memasuki asrama atau markas Brimob. Instruksi itu disambut tepuk tangan dan sorakan meriah aparat yang seakan haus darah dan pangkat. Potret ini bukan hanya memperlihatkan kebengisan, tetapi juga membongkar watak asli kepolisian: moral kemanusiaan tidak lagi jadi pegangan, yang ada hanyalah komando represif demi mempertahankan status quo. Bahkan, dua hari setelah Affan Kurniawan terbunuh, tanah kuburnya belum kering ketika Sigit sudah menabuh genderang perintah penembakan. Dari sinilah kita memahami bahwa di bawah kepemimpinannya, Polri bukan lagi alat negara yang tunduk pada hukum, melainkan mesin represi yang tunduk pada kekuasaan.

Baca Juga:   Republik Pengantar Paket

Tindakan represif di tidak berhenti di jalan. Direktorat Tindak Pidana Siber Polri melakukan penangkapan terhadap sejumlah aktivis demokrasi dengan tuduhan makar. Aktivis ditangkap dengan dalih mengajak pelajar turun aksi, seolah-olah hak konstitusional rakyat untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat adalah kejahatan. Padahal, undang-undang dan konstitusi menjamin kebebasan itu. Penculikan gaya baru oleh kepolisian memperlihatkan wajah asli institusi ini: mereka bukan melindungi rakyat, melainkan melindungi kekuasaan yang berhambakan pada modal.

Respons pemerintah pun tidak berbeda jauh. Presiden Prabowo Subianto memilih pendekatan keamanan sebagai jawaban. Militer dan polisi dikerahkan, sniper dipasang, pemeriksaan diperketat dibangun, sementara tuntutan rakyat tentang perubahan struktural diabaikan. Sebagai kosmetik politik, pemerintah hanya mengumumkan pemangkasan tunjangan DPR sebesar Rp50 juta per bulan, kebijakan kecil yang tidak menjawab inti persoalan. Bagaimana nasib para korban? Bagaimana dengan akuntabilitas Polri dalam peristiwa ini? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah mendapat jawaban, karena yang menjadi prioritas pemerintah adalah merawat stabilitas kekuasaan, bukan keadilan bagi rakyat sesuai amanat konstitusi.

Tragedi Agustus kelabu bukanlah peristiwa tunggal, melainkan bagian dari rentetan panjang kegagalan Polri di bawah kepemimpinan Sigit. Kita tentu masih ingat tragedi Kanjuruhan pada 2022 yang menewaskan 135 suporter sepak bola akibat tembakan gas air mata kepolisian di stadion Kanjuruhan. Hingga hari ini, keadilan bagi korban dan keluarga tidak pernah ditegakkan, justru yang muncul adalah praktik impunitas yang melindungi pelaku. Lalu kasus Ferdy Sambo yang memperlihatkan ke publik bagaimana pejabat tinggi Polri terlibat dalam jaringan judi online yang menjadi salah satu persoalan bangsa hari ini, serta kasus Teddy Minahasa yang memperjualbelikan narkoba yang ia tukar dengan tawas. Semua ini menunjukkan bahwa jargon Presisi yang digembar-gemborkan Sigit hanyalah kedok: presisi dalam melindungi bisnis haram, presisi dalam menjaga kepentingan modal, dan presisi dalam membunuh rakyat.

Baca Juga:   Masyarakat Betawi Tuan Rumah Kota Jakarta Timur yang Sering Dilupakan

Dalam konteks ini, publik berulang kali dibuat kecewa oleh kepolisian di bawah Sigit. Polri lebih sibuk menjaga citra kekuasaan ketimbang menjaga keamanan dan kedaulatan rakyat. Ketika masyarakat menuntut keadilan, yang muncul adalah intimidasi brutal dan penangkapan represif. Ketika rakyat meminta reformasi institusi, yang diberikan adalah peluru karet dan gas air mata. Ketika rakyat menuntut transparansi, yang diberikan adalah administrasi melelahkan yang selalu membutuhkan “uang Pelicin”. Kepolisian di bawah Sigit adalah potret nyata dari institusi yang kehilangan kompas moral, kehilangan legitimasi, dan kehilangan kepercayaan rakyat.

Maka, tuntutan mencopot Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri adalah tuntutan yang paling masuk akal. Reformasi kepolisian tidak bisa dimulai tanpa terlebih dahulu memotong kepala busuk yang menjadi sumber masalah dari institusi tersebut (sejalan dengan yang kerap diucapkan Prabowo:Ikan Busuk Mulai Dari Kepalanya). Sigit adalah produk rezim Jokowi, pengangkatannya sarat dengan kompromi politik dan relasi kuasa, selama menjabat ia gagal menata Polri menjadi institusi sipil yang berpihak pada konstitusi dan rakyat. Selama kepemimpinannya, Polri justru semakin jauh dari rakyat, semakin brutal terhadap gerakan sipil, dan semakin dekat dengan kepentingan modal. Tanpa mencopot figur gagal, represif, dan koruptif ini, wacana reformasi Polri tidak akan lebih dari sekadar omon-omon.

Namun mencopot Sigit tentu hanyalah langkah awal, bukan akhir. Setelah kepalanya diganti, jalan terbuka untuk melakukan koreksi total terhadap institusi ini. Reformasi Polri harus mencakup pertanggungjawaban atas seluruh kejahatan aparat, dari Kanjuruhan hingga Agustus kelabu, dari Gamma di Semarang hingga Affan di Jakarta. Reformasi harus menyentuh akar persoalan: menata ulang struktur kepolisian, membongkar relasi busuk antara Polri dengan modal, mengakhiri impunitas, dan memastikan bahwa kepolisian kembali menjadi aparat sipil yang tunduk pada konstitusi, bukan kekuasaan yang berhambakan modal.

Baca Juga:   Sudah Sejahterakah Buruh Hari Ini? Telaah Kritis Melalui Perspektif Marxis

Reformasi kepolisian bukan sekadar tuntutan moral, tetapi kebutuhan mendesak bagi kelangsungan demokrasi dan keadilan di negeri ini. Tidak akan pernah ada kedamaian selama aparat bersenjata bebas membunuh rakyatnya. Tidak ada keadilan selama kepolisian terus menjadi anjing penjaga rumah kaum pemodal. Tidak ada rasa aman yang lahir jika aparat gagal memberikan jaminan atas ruang akan rasa aman tersebut. Karena itu, reformasi Polri harus dimulai hari ini, dan langkah pertamanya jelas: copot Listyo Sigit Prabowo dari jabatannya sebagai Kapolri. Hanya dengan itu, pintu menuju kepolisian yang benar-benar presisi: presisi dalam melindungi rakyat, bukan membungkamnya dapat kembali dibuka.

Copot Sigit! Jalankan Reformasi Kepolisian Sekarang Juga!***


Penulis: Deodatus Sunda Se, Direktur Institut Marhaenisme 27.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Data Ekonomi Pemerintah Harus Dibaca Dengan Sikap Kritis

Marhaenist - Angka-angka indikator perekonomian yang dipublikasikan pemerintah perlu disikapi secara kritis. Ada…

Dies Natalis ke-72 GMNI, DPC Jakarta Timur Gelar Diskusi Publik Bahas Relevansi Politik Bebas Aktif di Tengah Geopolitik Global

Marhaenist.id, Jaktim – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta…

Bapak Bangsa dan Pancasila-nya

Marhaenist.id - Bung Karno pernah bertanya kepada Presiden Yugoslavia, Josef Broz Tito,…

Mengenal Kapitalisme Bangsa Sendiri Oleh Bung Karno

Marhaenist.id - Dalam suatu rapat umum saya pernah berkata, bahwa kita bukan…

Materialisme Ala Karl Marx dan Syech Siti Jenar

Marhaenist.id - Kalau diamati Karl Marx dan Syech Siti Jenar itu sama-sama…

Islamisme dan Komunisme, Haji Misbach 1925

Marhaenist - Apabila kita berbicara mengenai Islam dan Komunisme di Indonesia, kita…

Mas Bambang Patjul Dibutuhkan Fokus Skala Nasional

Marhaenist.id - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) - Perjuangan memandang Pemilu 2029 memiliki…

Prancis Hadapi Ketidak Jelasan Masa Depan, Usai Koalisi Kiri Menang

Marhaenist - Sebuah koalisi dari kubu sayap kiri Prancis meraih jumlah kursi…

Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Sarinah GMNI Bantaeng Kecam Tindakan Oknum Advokat

Marhaenist.id, Bantaeng – Ketua Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?