
Marhaenist.id – Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibentuk oleh perjuangan rakyat di dalam negeri, tetapi juga oleh solidaritas internasional dari berbagai tokoh dunia yang menentang kolonialisme.
Salah satu sosok yang jarang dibicarakan dalam narasi sejarah populer Indonesia adalah Mohammad Amin al-Husseini, Mufti Agung Yerusalem yang secara terbuka menyerukan dukungan bagi kemerdekaan Indonesia di tengah tekanan kolonial Belanda dan memberikan hampir seluruh hartanya kepada Pemerintah Indonesia yang baru saja terbentuk agar bisa memakainya untuk amunisi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Di saat Republik Indonesia yang baru diproklamasikan pada tahun 1945 masih menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial Belanda, dukungan dari dunia internasional menjadi faktor penting dalam memperkuat posisi diplomasi Indonesia. Dalam konteks itulah suara dari Timur Tengah, khususnya dari tokoh berpengaruh seperti al-Husseini, memiliki arti strategis.
Seruan Politik dari Yerusalem
Sebagai Mufti Agung di Yerusalem, Mohammad Amin al-Husseini bukan hanya seorang ulama, tetapi juga tokoh politik yang memiliki pengaruh besar di dunia Arab dan dunia Islam. Ia dikenal sebagai figur yang keras menentang kolonialisme Barat serta aktif menggalang solidaritas antarbangsa yang sedang berjuang untuk merdeka.
Melalui berbagai forum dan jaringan politiknya di Timur Tengah, al-Husseini menyerukan kepada negara-negara Arab dan umat Islam internasional untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Seruan tersebut tidak hanya bersifat moral, tetapi juga politis—mendorong negara-negara Arab untuk memberikan pengakuan terhadap Republik Indonesia yang saat itu masih berjuang mempertahankan kedaulatannya.
Langkah ini menjadi bagian dari tekanan diplomatik internasional terhadap Belanda yang berusaha memulihkan kembali kekuasaan kolonialnya di Nusantara.
Politik Anti-Kolonial dan Jaringan Dunia Islam
Seruan dukungan dari Mufti Palestina itu menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak awal telah menjadi bagian dari gelombang besar perlawanan terhadap kolonialisme global. Dalam perspektif politik internasional pada masa itu, perjuangan Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan gerakan anti-kolonial di berbagai kawasan, termasuk di Timur Tengah.
Tokoh seperti Mohammad Amin al-Husseini memandang kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika sebagai bagian dari agenda historis untuk membongkar dominasi kolonial Barat. Oleh karena itu, dukungannya terhadap Indonesia bukan sekadar simpati, melainkan sikap politik yang tegas terhadap sistem kolonial.
Di tengah konflik yang juga dialami rakyat Palestina akibat kolonialisme dan perebutan wilayah, al-Husseini melihat perjuangan Indonesia sebagai simbol harapan bagi bangsa-bangsa tertindas.
Mengapa Sejarah Ini Jarang Dibicarakan?
Ironisnya, peran Mufti Palestina dalam mendukung kemerdekaan Indonesia tidak banyak mendapat perhatian dalam literatur sejarah nasional. Padahal, fakta ini menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh dunia yang memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik internasional.
Pengabaian terhadap sejarah ini juga membuat generasi muda kehilangan pemahaman tentang pentingnya solidaritas global dalam perjuangan kemerdekaan.
Narasi sejarah sering kali terlalu berfokus pada dinamika internal bangsa, sementara jaringan dukungan internasional yang turut memperkuat posisi diplomasi Indonesia justru kurang mendapat ruang dalam diskursus publik.
Relevansi Politik Hari Ini
Mengingat kembali dukungan Mufti Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia memiliki relevansi politik yang kuat hingga hari ini. Hubungan antara Indonesia dan Palestina tidak hanya berdiri di atas kepentingan diplomatik kontemporer, tetapi juga memiliki akar sejarah yang panjang.
Ketika Indonesia secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional, sikap tersebut sesungguhnya memiliki dasar historis yang kuat. Dukungan terhadap Palestina bukan sekadar sikap moral, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap solidaritas yang pernah diberikan oleh tokoh-tokoh Palestina kepada perjuangan Indonesia.
Sejarah menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak pernah lahir dari perjuangan yang terisolasi. Ia lahir dari solidaritas, keberanian politik, dan jaringan internasional yang melampaui batas negara.
Kisah tentang Mohammad Amin al-Husseini adalah pengingat bahwa perjuangan bangsa-bangsa tertindas selalu terhubung satu sama lain. Dan dalam sejarah Indonesia, suara dari Yerusalem pernah berdiri di pihak kemerdekaan republik ini.”**
Ditulis Oleh La Ode Mustawwadhaar yang diambil dan disimpulkan dari Berbagai Macam Sumber.