By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
HistoricalSukarnoisme

Supeni, Pemeluk Teguh Soekarnoisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 15 November 2025 | 17:26 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Keluarga Supeni dan Bung Karno (Sumber: koransulindo.com)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Setelah peristiwa berdarah 1 Oktober 1965, Supeni menerima tugas berat dari Ketua Umum PNI, Mr. Sartono: mencari para pemuda yang hilang, diculik, atau disiksa karena dituduh terlibat G30S. Ia bolak-balik ke kantor KODAM dan SKOGAR untuk meminta kejelasan langkah yang membuatnya diawasi dan diintimidasi oleh kelompok pemuda anti-Soekarno yang tergabung dalam KAMI/KAPPI.

Rumahnya di Jalan Sriwijaya II, Kebayoran Baru, tiap malam dikepung suara sepeda motor yang meraung-raung simbol tekanan politik. Namun ketika Supeni berhadapan langsung dengan Panglima KODAM Umar Wirahadikusumah dan menanyakan apakah dirinya terlibat G30S, jawabannya tegas: “Tidak.”
Tak lama, kaca depan rumah Supeni diberi tulisan besar dari KODAM: “Jangan Diganggu.” Sejak itu, demonstrasi berhenti.

Namun badai besar belum usai. PNI partai yang dibesarkan Bung Karno dan menjadi rumah ideologi Marhaenisme mulai retak dari dalam. Bung Karno kecewa pada para marhaenis gadungan yang menyeleweng dari cita-citanya. Supeni, yang telah mencintai PNI sejak remaja, berusaha keras menyatukan partai yang tercerai-berai antara kubu Ali Sastroamidjojo dan Hardi.

Ia mendatangi Bung Karno dengan hati yang gelisah.

“Kalau PNI tidak utuh kembali, bahaya, bahaya, bahayaaa, Bung Karno!”
Bung Karno kelak menceritakan dengan haru kepada Sucipto Yudodiharjo bahwa Supeni mengucapkan kata “bahaya” itu sambil menangis.

Namun waktu tak berpihak. Sebelum upaya penyatuan berhasil, pecahlah tragedi G30S, dan PNI terbelah dua — menjadi PNI Ali-Surachman dan PNI Osa-Usep. Bagi Supeni, itu bukan sekadar konflik politik, melainkan luka ideologis yang dalam: tercerabutnya ruh marhaenisme sejati dari tubuh partai rakyat.

Jejak Awal Seorang Pejuang Perempuan

Supeni mulai mengenal dunia politik sejak usia 14 tahun di Blitar. Bersama Sukarni yang kelak menjadi tokoh pergerakan pemuda ia aktif di Indonesia Muda. Saat sekolah di HIK Blitar, ia dipecat karena berpolitik. Dari situ, ia belajar bahwa perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

Baca Juga:   Kisah Bung Karno Menjelang Idul Fitri

Pada 1946, ia resmi bergabung dengan PNI. Hanya dalam tiga tahun, Supeni sudah menjadi anggota Dewan Partai. Ia dikirim belajar sistem pemilu ke India dan menulis buku Pemilihan Umum di India (1952). Dua tahun kemudian, ia diundang ke Amerika Serikat untuk mempelajari hal serupa.

Dalam Pemilu 1955, Supeni memimpin PNI Jakarta dan berhasil membawa partainya menjadi pemenang. Ia kemudian menjadi anggota DPR sekaligus anggota Konstituante.

Di parlemen, ia dikenal lantang memperjuangkan garis politik anti-neokolonialisme dan anti-imperialisme ala Bung Karno. Resolusinya mendukung nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir pada 1956 diterima secara aklamasi oleh DPR bukti kecemerlangannya sebagai politisi sekaligus diplomat.

Diplomat Andal dan Utusan Khusus Bung Karno

Bakat diplomatik Supeni membawa namanya ke panggung dunia. Ia menjadi penasihat delegasi Indonesia dalam Konferensi Asia-Afrika 1955, Duta Besar Keliling RI menjelang KTT Non-Blok I tahun 1961, dan kepala delegasi Indonesia di Sidang Umum PBB 1962.

Ketika Bung Karno menyiapkan Konferensi Asia-Afrika II tahun 1965, Supeni dipercaya menjelajahi 22 negara Afrika untuk menggalang dukungan. Ia pun kerap menjadi utusan pribadi Presiden Soekarno ke Filipina, Kamboja, dan negara Asia Tenggara lain — menjelaskan politik luar negeri Indonesia yang berdaulat dan berkepribadian.

Bung Karno pernah memujinya sebagai “diplomat berkemampuan tinggi”, namun juga seorang pendebat tangguh yang bahkan berani menentang Presiden jika merasa kebenaran berpihak padanya.

Wartawan, Pejuang, dan Saksi Sejarah

Selain politisi dan diplomat, Supeni juga menulis dan memimpin media. Ia menjadi Pemimpin Redaksi Pembimbing (1951-1954), Ampera Review (1964-1972), dan Dwiwarna (1968-1972). Ia aktif pula di Persatuan Bridge Wanita bukti bahwa meski keras di politik, ia tetap halus dalam seni dan budaya.

Baca Juga:   Mengenal Kapitalisme Bangsa Sendiri Oleh Bung Karno

Setelah kejatuhan Bung Karno, Supeni tetap setia. Ia bersama suaminya sering menjenguk Sang Pemimpin di Batu Tulis, Bogor, hingga masa tahanan rumah di Wisma Yaso. Kesetiaannya tak berubah, bahkan ketika gelombang Orde Baru mencoba menghapus nama dan ajaran Soekarno dari lembaran sejarah.

Akhir Perjalanan Sang Marhaenis Sejati

Pada 26 Oktober 1995, Supeni mendirikan kembali Partai Nasional Indonesia, dan dideklarasikan pada 20 Mei 1998 hanya beberapa minggu sebelum reformasi mengguncang negeri. Namun semangat kebangkitannya tenggelam di tengah hiruk-pikuk politik baru.

Supeni Pudjobuntoro meninggal dunia pada 24 Juni 2004, dalam usia 87 tahun. Ia pergi dengan nama yang bersih, dengan idealisme yang tak pernah layu.

Supeni, Bayangan Terakhir Marhaenisme

Supeni bukan sekadar tokoh perempuan, melainkan simbol keberanian, kesetiaan, dan kecerdasan politik perempuan Indonesia pada masa-masa tergelap sejarah bangsa. Ia berdiri di antara kekuasaan dan nurani, di antara loyalitas kepada Bung Karno dan cinta pada rakyat.

Ia adalah saksi hidup dari zaman ketika politik bukan sekadar perebutan kursi, tetapi medan untuk mempertahankan martabat bangsa.

Sumber: koransulindo.com/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Rabu, 17 Desember 2025 | 00:13 WIB
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Selasa, 16 Desember 2025 | 19:45 WIB
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
Selasa, 16 Desember 2025 | 14:06 WIB
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:18 WIB
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:16 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Temui Kapolres, GMNI dan IMALA Minta Usut Tuntas Kasus Kematian Satpol PP Lebak Saat Pengamanan Aksi

Marhaenist.id, Lebak - Perwakilan organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional…

Meski Cuaca Panas, Ratusan Ribu Massa Tetap Semangat Hadiri Kampanye Akbar Ganjar-Mahfud di GBK

Marhaenist.id, Jakarta - Ratusan ribu warga mulai penuhi Stadion Gelora Bung Karno…

Peringati Hari Tani Nasional, GMNI Nisel Gelar Audiensi bersama ATR/BPN

Marhaenist.id, Nias Selatan – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Pertemuan antara Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Puan Maharani dan Ketua Umum (Ketum) Golkar Airlangga Hartarto di kawasan Monas, Jakarta (08/10/2022). FILE/Detik

Temui Ketua Umum Golkar, Puan Maharani Bahas Hal Ini

Marhaenist - Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto menjadi ketum parpol yang keempat…

Peringati Hari Lahir Pancasila, Sekjend PA GMNI: Momentum Penguatan Konsepsi Bernegara Bagi Oase Indonesia Raya

Marhaenist - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Kader PMII Diserang OTK, DPD GMNI Sultra Desak Aparat Kepolisian Segera Tangkap Pelaku

Marhaenist.id, Kendari - Seorang bernama Awaludin Sisila (28) yang merupakan Kader dan…

Naik Bus, Ganjar-Mahfud Hadiri Sidang Putusan Sengketa Pilpres di MK

Marhaenist.id, Jakarta - Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor…

Dukung Langkah Kongres Persatuan, GMNI Mamasa Serukan Rekonsiliasi Internal dan Nasional 

Marhaenist.id, Mamasa - Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera mengelar Kongres…

Gelar Musyakom, GMNI Unidha Teguhkan Marhaenisme di Tengah Krisis Bangsa sebagai Panggung Regenerasi dan Konsolidasi Ideologis

Marhaenist.id, Malang – Dewan Pengurus Komisariat (DPK) GMNI Universitas Wisnuwardhana Malang (Unidha)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?