By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelHistorical

Menolak Lupa: Ita Martadinata Haryono, Martir Kesucian yang Dibungkam demi Menjaga Wajah Bangsa

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 6 Januari 2026 | 12:30 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ita Martadinata Haryono (Sumber: )/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist id – Sejarah Indonesia memiliki banyak pahlawan, namun ada satu nama yang terkubur dalam luka paling kelam: Ita Martadinata Haryono. Ia bukan pahlawan yang gugur di medan perang dengan senjata di tangan, melainkan seorang remaja berusia 18 tahun yang menjadi martir karena keberaniannya untuk bersaksi atas kebenaran di tengah kebiadaban.

Keberanian di Balik Kegelapan Mei 1998

Ita Martadinata adalah seorang siswi SMA yang hidup di masa transisi kekuasaan yang penuh kekerasan. Ketika kerusuhan Mei 1998 pecah, sebuah tragedi kemanusiaan terjadi: pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa dilakukan secara sistematis. Di saat banyak korban memilih bungkam karena trauma dan rasa malu yang mendalam, Ita bersama ibunya, Ibu Martadinata, justru berdiri di garda depan.

Ita bergabung dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK). Ia bukan sekadar saksi; ia adalah penyintas yang bersedia memberikan testimoni kepada dunia internasional tentang apa yang sebenarnya terjadi di jalanan Jakarta. Keberaniannya adalah ancaman bagi mereka yang ingin menghapus jejak kejahatan kemanusiaan tersebut.

Tragedi 9 Oktober: Pembungkaman yang Keji

Hanya beberapa hari sebelum Ita dijadwalkan terbang ke Amerika Serikat untuk memberikan kesaksian di hadapan Kongres AS dan PBB, sebuah peristiwa mengerikan terjadi. Pada 9 Oktober 1998, Ita ditemukan tewas mengenaskan di kamarnya. Ia dibunuh secara sadis dengan luka sayatan di leher dan perut, serta tanda-tanda kekerasan seksual yang brutal.

Pemerintah dan pihak kepolisian saat itu dengan cepat mengklaim bahwa Ita adalah korban perampokan biasa atau dibunuh oleh “orang gila”. Namun, narasi ini sulit diterima oleh nalar publik. Mengapa seorang remaja yang menjadi kunci saksi internasional dibunuh tepat sebelum ia berbicara? Kematian Ita adalah pesan teror yang dikirimkan kepada para penyintas lainnya: “Bungkam, atau kalian akan berakhir seperti ini.”

Baca Juga:   Komandan Pacul, Marhaen Rasa 'Korea'

Penghianatan Negara Terhadap Keadilan

Hingga hari ini, kasus Ita Martadinata tetap menjadi misteri yang tidak pernah tuntas secara hukum. Kematiannya menandai berakhirnya keberanian banyak saksi lain untuk bersuara. Negara, melalui aparat penegak hukumnya saat itu, gagal—atau sengaja gagal—untuk mengungkap dalang di balik pembunuhan terencana ini.

Ita adalah tumbal dari sebuah rezim yang ingin mencuci tangan dari darah para korban Mei 1998. Ia adalah “Heroine” yang terlupakan, seorang remaja yang mengorbankan nyawanya demi martabat kaum perempuan dan kebenaran sejarah bangsa ini.

Merawat Ingatan, Melawan Lupa
Menuliskan kembali kisah Ita Martadinata bukan bertujuan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menolak lupa (Menolak Lupa). Monumen kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dibangun dari gedung pencakar langit, tetapi dari kemampuannya mengakui kesalahan masa lalu dan memberikan keadilan bagi korbannya. Ita Martadinata Haryono adalah pengingat abadi bahwa kebenaran sering kali dibayar dengan harga yang sangat mahal “nyawa”.

Sumber Referensi:
Laporan lengkap mengenai tragedi Mei 1998 dan kasus Ita Martadinata dapat diakses di dokumen resmi Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Analisis mendalam mengenai kronologi pembunuhan Ita Martadinata terdapat dalam arsip investigasi Majalah Tempo (Edisi Khusus Reformasi).***


Catatan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) yang dipimpin oleh Romo Sandyawan Sumardi, dapat ditelusuri melalui database KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

.

Galeri Nasional Bredel Pameran Tunggal Yos Suprapto Saat Pembukaan

Marhaenist.id, Jakarta - Pameran lukisan tunggal karya Yos Suprapto bertajuk “Kebangkitan: Tanah…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. MARHAENIST

Ganjar: Pemotongan Bantuan Bentuk Pengkhianatan Pada Negara

Marhaenist - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tegas mengatakan mereka yang bermain…

Kongres GMNI Versi Immanuel: Anti Persatuan dan Klaim Sepihak

Marhaenist.id - Sekitar siang atau sore hari ini pada tanggal 15 Juli…

DPC GMNI Jakarta Timur: Kawasan Industri Pulogadung Diduga Jadi Penyumbang Polusi Udara di DKI Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta Timur – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Masyarakat Burnout: Dari Disipliner ke Pasca-Disipliner

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Hidup di Tengah Kelelahan Kolektif: Kita hidup dalam zaman…

DPC GMNI Jeneponto Gelar Rekrutmen Anggota Baru Melalui PPAB Lintas Komisariat

Marhaenist.id, Jeneponto - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Perbandingan Sekolah Mahal dan Sekolah Murah

Marhaenist.id - Ada yang berpendapat sekolah mahal itu wajar tujuannya agar menghargai…

Gelar UPA di Februari 2026, PERADI UTAMA Lanjutkan Program Beasiswa Advokat Bersama PA-GMNI dan KOPRI PMII

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) UTAMA…

Sukarno: Islam Harus Berjuang Mengalahkan Kekolotan

MARHAENIST - Sukarno membayangkan perjuangan paling bermanfaat bagi umat Islam adalah perjuangan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?