By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Lucunya Negeri Ini Bersama Jokowi Diakhir Masa Jabatannya

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 29 Januari 2024 | 15:55 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan terkejut dan sedih atas peristiwa penembakan yang menimpa mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. REUTERS
Bagikan

Marhaenist.id – Kalau dulu ada lagu yang diciptakan untuk Gayus Tambunan dengan penggalan liriknya berbunyi “lucunya di negeri ini, hukuman bisa dibeli”, sekarang ada juga lagu yang dibuat untuk menggambarkan sikon terkini. Bunyi potongan liriknya “salam tiga jari, jangan pilih anak Jokowi”.

Penggalan lagu itu diadaptasi dari bunyi lirik sebelumnya, yakni “salam dua jari, ayo kita pilih Jokowi”. Tapi sang presiden yang dipuja merakyat telah berubah karena berambisi untuk terus mendapat bagian dari kekuasaan, maka tindakan menyimpangnya harus dihindari lewat perubahan lirik lagu tadi.

Ya Jokowi berubah demi mendukung sang anak menggantikannya di istana negara. Tapi jalannya harus dipaksakam dengan maju lewat jalur pelanggaran etik, hingga merembet ke pemanfaatan jabatan tertinggi negeri ini yang diembannya. Mungkin dengan bansos, sampai terang-terangan meninggalkan netralitas yang selama ini ia koarkan.

Melihat kabar duka matinya netralitas, seperti pemprov yang memperbolehkan ASN kampanye sampai deklarasi dukungan yang tidak dinyatakan melanggar aturan oleh Bawaslu, saya turut mengkroschecknya secara langsung.

Ajakan untuk kampanye saya lontarkan kepada saudara yang sudah bertahun-tahun menjadi seorang ASN.

“Pak Jokowi sudah memperbolehkan aparat untuk kampanye. Yuk kampanye bareng aja”, ajakku dengan nada bercanda.

Tahu apa jawabannya?

“Sorry ye, sorry, gue ga ikut-ikutan presiden!”, tandasnya tanpa ragu.

Aku hanya tertawa karena berhasil menggoda sekaligus mengujinya. Syukurlah masih ada ASN yang waras di sekitar saya, tidak semua terkontaminasi virus ambisi Pak Jokowi. Saya yakin sekaligus berharap juga, semoga di luar sana masih banyak ASN yang mempertahankan netralitasnya. Dengan begitu harapan saya juga berkembang, agar mereka dapat memilih pemimpin yan tepat. Tentunya bukan 02 yang penuh konflik sedari awal. Karena fakta yang sudah nampak itu, ASN yang masih sehat, baik akal dan hati nuraninya harus menentukan pilihannya pada paslon yang jelas dipercaya.

Baca Juga:   Tambang Menguat, Pendidikan Melemah?

Entah itu dalam perjalanan karirnya yang lurus, tidak menyimpang dan rekam jejaknya yang teruji klinis selama menjalankan amanah. Dengan begitu tidak akan ada lagi yang mengganggu pikiran kita dan mempertanyakan “presiden macam apa dia, kok melonggarkan para pejabat dan jabatannya sendiri yang menjadi orang nomor satu di negara ini, demi memenangkan anaknya sendiri dengan cara haram?”

Dari satu potret ini saja, publik bisa menilai bahwa salah satu sebab tindakan Jokowi berubah karena si pelantun “sorry ye”, “Ndasmu” dan keyword kasar lainnya yang dulu dia hindari. Kenapa bisa begitu? Karena ada kepentingan yang dia bawa, makanya dia rela bergabung demi kekuasaan yang sedang diincar. Sampai ada kejadian penabrakan konstitusi dan anaknya yang ditumbalkan menjadi anak haram konstitusi. Cukup Gibran yang kamu paksa menjadi calon pemimpin pak, jangan paksa kami untuk memilih paslon cacat hukum itu!***


Penulis: Nikmatul Sugiyarto, Pemerhati Demokrasi.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
Senin, 11 Mei 2026 | 17:58 WIB
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Senin, 11 Mei 2026 | 17:16 WIB
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Senin, 11 Mei 2026 | 12:16 WIB
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Minggu, 10 Mei 2026 | 19:33 WIB
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 | 01:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Pelantikan Pengurus DPC GMNI Jakarta Timur Periode 2025-2027 dan Dialog Marhaenis Sukses Digelar

Marhaenist.id, Jaktim – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Bulan Juni, Bung Karno, dan Pancasila

Marhaenist.id - Indonesia menyebut Juni sebagai Bulannya Bung Karno. Pasalnya, tiga peristiwa…

Mengapa Harus #AdiliJokowi? Analisis Dampak Kebijakan dan Pengelolaan Anggaran yang Menyebabkan Kesengsaraan Rakyat

Marhaenist.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh pemerintahan Prabowo…

Herbal Alami, Suga Lele: Warisan Budaya dan Kekuatan Geopolitik Nusantara di Era Modern

Marhaenist.id, Jakarta – Penggunaan obat herbal alami telah menjadi bagian tak terpisahkan…

Marhaenisme Tanpa Rakyat: Ketika Gerakan Sosial Terjebak dalam Simbolisme

Marhaenist.id - Marhaenisme, sebagai warisan ideologis dari Soekarno, pada hakikatnya adalah sebuah…

6 Orang Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka Terkait Tragedi Kanjuruhan

Marhaenist - Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, yang menewaskan 131 orang…

PA GMNI: Pancasila Perekat Kemajemukan, Toleransi dan Persatuan

Marhaenist - Spirit Natal diharapkan menjadi inspirasi bagi keluarga besar Persatuan Alumni…

Kasus Raya: Alarm Keras untuk Indonesia

Marhaenist.id - Raya adalah seorang bocah 4 tahun asal Sukabumi, harus meregang…

Kedaulatan Negara Dalam Bayang-Bayang Amerika: Berkaca dari Kasus Penangkapan Presiden Venezuela

Marhaenist.id - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan elite Amerika Serikat…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?