By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Lucunya Negeri Ini Bersama Jokowi Diakhir Masa Jabatannya

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 29 Januari 2024 | 15:55 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan terkejut dan sedih atas peristiwa penembakan yang menimpa mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. REUTERS
Bagikan

Marhaenist.id – Kalau dulu ada lagu yang diciptakan untuk Gayus Tambunan dengan penggalan liriknya berbunyi “lucunya di negeri ini, hukuman bisa dibeli”, sekarang ada juga lagu yang dibuat untuk menggambarkan sikon terkini. Bunyi potongan liriknya “salam tiga jari, jangan pilih anak Jokowi”.

Penggalan lagu itu diadaptasi dari bunyi lirik sebelumnya, yakni “salam dua jari, ayo kita pilih Jokowi”. Tapi sang presiden yang dipuja merakyat telah berubah karena berambisi untuk terus mendapat bagian dari kekuasaan, maka tindakan menyimpangnya harus dihindari lewat perubahan lirik lagu tadi.

Ya Jokowi berubah demi mendukung sang anak menggantikannya di istana negara. Tapi jalannya harus dipaksakam dengan maju lewat jalur pelanggaran etik, hingga merembet ke pemanfaatan jabatan tertinggi negeri ini yang diembannya. Mungkin dengan bansos, sampai terang-terangan meninggalkan netralitas yang selama ini ia koarkan.

Melihat kabar duka matinya netralitas, seperti pemprov yang memperbolehkan ASN kampanye sampai deklarasi dukungan yang tidak dinyatakan melanggar aturan oleh Bawaslu, saya turut mengkroschecknya secara langsung.

Ajakan untuk kampanye saya lontarkan kepada saudara yang sudah bertahun-tahun menjadi seorang ASN.

“Pak Jokowi sudah memperbolehkan aparat untuk kampanye. Yuk kampanye bareng aja”, ajakku dengan nada bercanda.

Tahu apa jawabannya?

“Sorry ye, sorry, gue ga ikut-ikutan presiden!”, tandasnya tanpa ragu.

Aku hanya tertawa karena berhasil menggoda sekaligus mengujinya. Syukurlah masih ada ASN yang waras di sekitar saya, tidak semua terkontaminasi virus ambisi Pak Jokowi. Saya yakin sekaligus berharap juga, semoga di luar sana masih banyak ASN yang mempertahankan netralitasnya. Dengan begitu harapan saya juga berkembang, agar mereka dapat memilih pemimpin yan tepat. Tentunya bukan 02 yang penuh konflik sedari awal. Karena fakta yang sudah nampak itu, ASN yang masih sehat, baik akal dan hati nuraninya harus menentukan pilihannya pada paslon yang jelas dipercaya.

Baca Juga:   Andai Bank BRI Jadi Bank Koperasi Seperti Desjardins Bank

Entah itu dalam perjalanan karirnya yang lurus, tidak menyimpang dan rekam jejaknya yang teruji klinis selama menjalankan amanah. Dengan begitu tidak akan ada lagi yang mengganggu pikiran kita dan mempertanyakan “presiden macam apa dia, kok melonggarkan para pejabat dan jabatannya sendiri yang menjadi orang nomor satu di negara ini, demi memenangkan anaknya sendiri dengan cara haram?”

Dari satu potret ini saja, publik bisa menilai bahwa salah satu sebab tindakan Jokowi berubah karena si pelantun “sorry ye”, “Ndasmu” dan keyword kasar lainnya yang dulu dia hindari. Kenapa bisa begitu? Karena ada kepentingan yang dia bawa, makanya dia rela bergabung demi kekuasaan yang sedang diincar. Sampai ada kejadian penabrakan konstitusi dan anaknya yang ditumbalkan menjadi anak haram konstitusi. Cukup Gibran yang kamu paksa menjadi calon pemimpin pak, jangan paksa kami untuk memilih paslon cacat hukum itu!***


Penulis: Nikmatul Sugiyarto, Pemerhati Demokrasi.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Jangan Mereduksi GMNI Sebagai Wadah Perpanjangan Karir!

Marhaenist.id - Tentunya kita mengucap syukur Alhamdulillah lantaran kita baru saja memperingati…

Bulan Juni, Bung Karno, dan Pancasila

Marhaenist.id - Indonesia menyebut Juni sebagai Bulannya Bung Karno. Pasalnya, tiga peristiwa…

Surat Megawati ke Iran Jadi Perhatian Internasional, Pesannya Dinilai Mewakili Suara Moral Indonesia

Marhaenist.id, Jakarta — Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati…

Ketua Pemuda Demokrat Kecam Pemkot Surabaya: Lamban Tangani Parkir Liar

Marhaenist.id, Surabaya — Ketua Pemuda Demokrat Indonesia Kota Surabaya, Bustomi Saputra, mengecam keras…

Gaduh Ijazah Jokowi dan Rapuhnya Imperatif Hukum Indonesia

Marhaenist.id - Gaduh mengenai ijazah Presiden Joko Widodo kembali menyeruak dan menyeret…

GMNI Berduka, H Soenardi Ex Presidium GMNI 1976 – 1979 Telah Berpulang Disisi Tuhan Yang Maha Esa

Marhaenist.id, Tengsel - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat ini dilanda kesedihan…

Spekulasi Makan Siang Gratis Rp7.500, Ini Kata Kubu Prabowo

Marhaenist.id, Jakarta - Anggota Tim Sinkronisasi Prabowo-Gibran membantah spekulasi yang beredar mengenai…

Rasio Manusia vs Rasio Algoritma: Negara Kafka dalam Rezim Algoritmik

Marhaenist.id - Kita sedang hidup dalam sebuah zaman yang dapat disebut sebagai…

DPK GMNI Faperta-Sainstek UNARS Situbondo Menyatakan Sikap Tegas: Tolak Tambang Nikel di Raja Ampat

Marhaenist.id, Situbondo - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?