By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap
Dirgahayu GMNI ke-72, Heri Pudyatmoko Serukan Penguatan Marhaenisme dan Persatuan
Memperkuat Demokrasi di Tengah Badai Digital: Tanggapan Kritis atas Buku “Bawaslu di Tengah Era Big Data”
Dies Natalis Ke 72, GMNI Jaktim Serukan Tetaplah di Garis Marhaen meski berada di Persimpangan Jalan antara Idealisme dan Realistis
Konflik Geopolitik dalam Perspektif Marhaen antara Perebutan Kuasa Global dan Nasib Rakyat Kecil

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 25 Maret 2026 | 09:44 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap (Desain Foto: AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist id -:Indonesia kerap dibanggakan sebagai salah satu negara dengan keragaman budaya terbesar di dunia. Lebih dari 1.000 suku bangsa dan ribuan bahasa hidup di bentangan Nusantara. Namun di balik narasi kebanggaan tersebut, tersimpan realitas yang jarang disorot secara jujur: sebagian suku-suku terasing justru tengah bergerak menuju ambang kepunahan, bukan karena faktor alam, melainkan akibat arah pembangunan yang eksploitatif dan tidak berimbang.

Proses ini berlangsung perlahan, sistematis, dan kerap tersamarkan oleh jargon kemajuan. Alih fungsi hutan, ekspansi industri ekstraktif, serta pembangunan infrastruktur skala besar telah mempersempit, bahkan dalam banyak kasus menghilangkan, ruang hidup masyarakat adat. Ketika ruang hidup menyusut, yang tergerus bukan hanya akses ekonomi, tetapi juga sistem pengetahuan, struktur sosial, hingga identitas kultural yang diwariskan lintas generasi.

Data dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara menunjukkan bahwa jutaan hektare wilayah adat hingga kini belum memperoleh pengakuan hukum yang memadai. Sementara Badan Pusat Statistik secara konsisten menempatkan masyarakat adat dalam kelompok paling rentan secara sosial-ekonomi. Fakta ini menegaskan satu hal mendasar: pembangunan tidak pernah netral. Ia selalu menghasilkan pemenang dan pihak yang dikorbankan.

Di tingkat lapangan, tekanan tersebut nyata dan terukur. Komunitas seperti Suku Anak Dalam di Sumatra menghadapi ekspansi perkebunan yang menggerus hutan tempat mereka bergantung. Di Kalimantan, berbagai komunitas Dayak mengalami tekanan serupa akibat penetrasi industri kehutanan dan tambang. Dalam konteks ini, kehilangan hutan bukan sekadar kehilangan ruang fisik, melainkan runtuhnya keseluruhan ekosistem budaya.

Ironisnya, di panggung global, Indonesia justru menampilkan citra keberhasilan pelestarian budaya melalui Bali. Tradisi yang terjaga di tengah modernitas menjadi etalase diplomasi budaya. Namun keberhasilan tersebut sekaligus menyingkap ketimpangan: Bali menjadi pengecualian yang dipromosikan, sementara banyak wilayah lain mengalami erosi budaya tanpa perlindungan yang setara. Indonesia, dalam arti tertentu, sedang membangun “etalase budaya” tanpa memperkuat fondasi kebudayaannya sendiri.

Baca Juga:   Murnikah 3 Pimpiman DPP GMNI Berbicara Persatuan untuk Menyatukan Kembali GMNI?

Akar persoalan ini terletak pada paradigma pembangunan yang masih bertumpu pada pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama. Dalam kerangka tersebut, budaya direduksi menjadi komoditas, sementara masyarakat adat diposisikan sebagai objek yang harus menyesuaikan diri dengan agenda pembangunan. Padahal, jika ditarik ke perspektif historis, kekuatan Nusantara justru lahir dari kemampuan mengelola keberagaman sebagai sumber daya strategis.

Pada era Kejayaan Sriwijaya hingga Kejayaan Majapahit, budaya bukan sekadar identitas simbolik, melainkan instrumen geopolitik: memperkuat legitimasi, menjaga stabilitas, dan membangun jejaring kekuasaan lintas wilayah. Mengabaikan budaya dalam pembangunan hari ini berarti melemahkan salah satu pilar utama kekuatan bangsa.

Modernisasi memang tidak terelakkan. Infrastruktur, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi adalah kebutuhan nyata. Namun modernisasi yang tercerabut dari akar budaya hanya akan menghasilkan kemajuan yang rapuh, tumbuh cepat, tetapi miskin daya tahan dan arah.

Dalam perspektif Pancasila, kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan serius antara nilai dan praktik. Prinsip kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial belum sepenuhnya terwujud dalam kebijakan pembangunan, terutama dalam perlindungan masyarakat adat. Ketika kelompok paling rentan terus terpinggirkan, yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan sosial, tetapi juga legitimasi moral negara.

Implikasi dari situasi ini melampaui persoalan sosial semata. Hilangnya masyarakat adat berarti hilangnya pengetahuan ekologis yang telah teruji selama ratusan tahun, meningkatnya kerentanan terhadap krisis lingkungan, serta melemahnya identitas kolektif bangsa. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menggerus ketahanan nasional dan memperlemah posisi Indonesia dalam percaturan global, terutama dalam konteks diplomasi budaya dan kekuatan lunak (soft power).

Karena itu, langkah korektif tidak bisa lagi bersifat parsial. Negara harus secara tegas mengakui dan melindungi wilayah adat, menghentikan ekspansi yang merusak ruang hidup, serta memastikan keterlibatan masyarakat adat sebagai subjek dalam setiap proses pengambilan kebijakan. Lebih dari itu, pembangunan perlu diredefinisi, tidak hanya berbasis pertumbuhan, tetapi juga berbasis keberlanjutan budaya.

Baca Juga:   Populisme dan Krisis Musyawarah dalam Demokrasi Kita

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar isu kebijakan, melainkan penentuan arah peradaban.

Apakah Indonesia akan terus mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan jati dirinya? Ataukah mampu merumuskan model pembangunan yang maju tanpa tercerabut dari akar budaya?

Jika kepunahan suku-suku terasing terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya komunitas kecil di pelosok negeri. Yang hilang adalah cara kita memahami dunia, menjaga keseimbangan dengan alam, dan pada akhirnya, memahami diri kita sebagai bangsa.

Sebab sebuah bangsa tidak runtuh hanya ketika wilayahnya hilang, tetapi ketika identitasnya perlahan menghilang, tanpa disadari, tanpa dilawan, dan tanpa pernah benar-benar diakui sebagai kehilangan.***


Penulis: Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Dirgahayu GMNI ke-72, Heri Pudyatmoko Serukan Penguatan Marhaenisme dan Persatuan
Selasa, 24 Maret 2026 | 09:31 WIB
Memperkuat Demokrasi di Tengah Badai Digital: Tanggapan Kritis atas Buku “Bawaslu di Tengah Era Big Data”
Senin, 23 Maret 2026 | 14:20 WIB
Dies Natalis Ke 72, GMNI Jaktim Serukan Tetaplah di Garis Marhaen meski berada di Persimpangan Jalan antara Idealisme dan Realistis
Senin, 23 Maret 2026 | 10:30 WIB
Konflik Geopolitik dalam Perspektif Marhaen antara Perebutan Kuasa Global dan Nasib Rakyat Kecil
Jumat, 20 Maret 2026 | 16:53 WIB
DPD PA GMNI Jakarta Raya Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Jumat, 20 Maret 2026 | 16:27 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Tidak Cukup Minta Maaf: Tuntut Tindakan Nyata untuk Kematian Pengemudi Ojol

Marhaenist.id - Demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Kamis (28/8/2025) kembali…

Gelar Acara Silahturahmi, GMNI Kendari Pererat Jalinan Kekeluargaan Antara Anggota dan Kader Se-Kota Kendari

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Penangkapan Nicolas Maduro dan Intervensi di Venezuela Bukti Nyata Kebiadapan Amerika Serikat Ingin Memonopoli Dunia

Marhaenist.id - Barusan kita disuguhkan sebuah kabar yang sangat memilukan, dimana Presiden…

Ziarahi di Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur Bunga: Warisan Penting Geo Politik Soekarno (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 2)

Marhaenist.id, Blitar - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Foto: Pernyataan Sikap GMNI Jakarta Selatan. MARHAENIST

Pernyataan Sikap GMNI Jaksel: Cabut UU TNI dan RUU Kepolisian Negara serta Mendesak Reformasi Kepolisian yang Demokratis

Proses Historis: Dari Militerisme Orde Baru Ke Reformasi Yang Mandeg Sejarah Indonesia…

Lucunya Negeri Ini Bersama Jokowi Diakhir Masa Jabatannya

Marhaenist.id - Kalau dulu ada lagu yang diciptakan untuk Gayus Tambunan dengan…

Mao Zedong, Beberapa Masalah Mengenai Metode Memimpin

Marhaenist.id - Mao Zedong adalah mantan pemimpin Republik Rakyat China atau disingkat RRC.…

Kesederhanaan Hamba Tuhan dan Pemimpin Tinggi Vatikan, Paus Fransiskus

MARHAENIST - Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Fransiskus tiba di Indonesia pada…

Revolusi Etika Hukum: Jalan Terakhir Menyelamatkan Keadilan

Marhaenist.id - Krisis hukum di Indonesia bukanlah takdir. Ia adalah hasil kelalaian…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?