By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Akses Permodalan UMKM di Jakarta Timur Harus Ramah Pedagang dan Tepat Sasaran
DPC GMNI Jaktim: Teknologi Digital Perkuat Marhaenisme hingga ke Akar Rumput
Disiplin Ideologi dan Organisasi sebagai Syarat Mutlak GMNI Menjadi Pelopor Gerakan Perjuangan
Masyarakat Betawi Tuan Rumah Kota Jakarta Timur yang Sering Dilupakan
Refleksi Tiga Tahun DPC GMNI Tojo Una-una: Bergerak dari Desa untuk Mewujudkan Indonesia Emas

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Jalan Terjal Profesi Pendidik: Konsepsi Perjuangan dan Sasaran Konstruktif Memaknai Hari Guru Nasional

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Rabu, 27 November 2024 | 00:12 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Presiden Sukarno berbincang dengan murid-murid Sekolah Rakyat di Bone, Sulawesi Selatan 9 Oktober 1953. ANRI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Sangat tersanjung apabila kita melihat gagasan dasar yang telah dibangun didalam UUD 1945. Pada alineanya yang keempat termuat salah satu nilai atau poin penting yang telah digagas sebagai salah satu mekanisme atau mesin perubahan untuk mengkonstruksi tatanan masyarakat negara ini. Tujuan negara yang digagas itu merupakan bentuk upaya negara untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Daftar Konten
“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” Terang Dalam Kegelapan

Konsepsi ini melahirkan sebuah paradigma sederhana bahwa hadirnya negara merupakan bagian dari upaya dalam merealisasikan keberlangsungan hidup warga masyarakat melalui pintu gerbang “pendidikan”. Lalu pertanyaannya siapakah yang menjadi pilar utama yang berada langsung dalam Medan perjuangan untuk memperjuangkan cita-cita dari visi pedagog ini? Jawabannya ialah para tenaga pendidik yakni para guru.

Situasi pendidikan di negara Indonesia tengah berada pada krisis subtansial. Dimana dalam praktiknya muncul sebuah kegagalan dalam menerjemahkan situasi persoalan endemik dalam negeri yang berada dalam ruang lingkup pendidikan. Hal  tentu berimplikasi pada keterlambatan dalam merekonstruksi tipologi pendidikan yang tengah diwarnai dengan dinamika konflik. Terkhususnya mengenai persoalan nasip para tenaga pendidik yakni para guru yang menjadi fokus perhatian, berkaitan dengan isu pemberdayaan dan kesejahteraan para guru.

 

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” 

Ungkapan ini sering kali kita dengar apa bila kita berbicara mengenai peran seorang guru. Disandingkan bagai seorang pahlawan tentu dapat dipahami bahwa seorang guru memiliki peran yang sangat signifikan dalam kemajuan nusa dan bangsa. Namun disamping itu, ungkapan ini justru bekonotasi negatif yang menimbulkan pemaknaan yang ambigu. Itu artinya ungkapan ini melahirkan pemaknaan yang heterogen dan mengandung dua kenyataan berbeda.

Disatu sisi Guru menjadi “pahlawan” yang merupakan penyematan untuk menghargai dedikasi dan partisipasi guru dalam kemajuan negara. Namun disini lain, Guru adalah “pahlawan yang dilupakan” karena ketiadaan imbal jasa yang sepadan dan layak atas perjuangan seorang guru. Kesejahteraan para guru terabaikan dan mungkin juga aspirasinya tak didengarkan.

Baca Juga:   Studi Terhadap Prilaku Keserakahan, Seberapa Mengerikannya Manusia? (Bagian 3)

Kondisi ini merupakan “jalan terjal” bagi para tenaga pendidik yang terus-menerus menjadi bagian dari ketimpangan sosial di negara ini. Persoalan ini terus tumbuh dan  opis solutif yang dicapai pun belum semaksimal mungkin untuk memperjuangkan hak-hak dari para guru. Bagai langit yang tak berujung, penegakan terhadap hak-hak para guru pun hingga kini juga belum terselesaikan. Dewasa ini banyak kita temui beragam polemik yang berkaitan dengan isu tenaga kependidikan. Permasalahannya ini menjadi isu krusial yang tidak hanya menjustifikasi kehidupan tenaga kependidikan. Disamping itu, muncul juga ketidakberdayaan dari para tenaga pendidik.

Miris melihat banyak dari sekian guru di Indonesia yang nasibnya tak diperhatikan. Para guru seringkali dituntut untuk memiliki profesionalisme dan kualitas yang meyakinkan. Dimana mereka harus mempunyai semangat etos kerja dan daya saing yang berkompeten dalam menjawab beragam tantangan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bentuk dari kewajibannya. Namun sangat disayangkan, bahwa sampai detik ini pun banyak dari para guru yang belum dihargai perjuangannya. Seringkali upah yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab dan pengabdian mereka. Ada pula nasib para guru yang sering kali mendapat perlakuan yang tidak adil.

 

Terang Dalam Kegelapan

Dalam memaknai hari guru yang diperingati  setiap tanggal 25 November tentu harus dilihat juga mengenai arti dari guru itu sendiri. Kata “guru” berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri atas kata “gu” yang artinya kegelapan dan kata “ru” yang artinya terang. Kata ini mengalami proses pemaknaan yang kemudian dimaknai sebagai “terang dalam kegelapan”.

Peran guru perlu dimaknai sebagai garda terdepan dari bagian usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehadiran guru menjadi momen penting dalam menentukan arah dan nasib bangsa ini kedepannya. Bangsa yang maju tentu tak terlepas dari peran para guru. Bagai terang dalam gelapnya dunia, para guru hadir sebagai penuntun setiap jejak langkah dan juga peristiwa untuk sampai pada cita-cita bangsa ini.

Baca Juga:   Survei Negara Paling Bahagia dan Paradoks Indonesia

Terlebih lagi kalau kita melihat kegigihan dan perjuangan para guru yang ada di daerah 3T yakni daerah terdepan, terpencil dan terluar. Walaupun dengan segala keterbatasan faktor penunjang yang ada baik itu fasilitas atau kelayakan yang diterima secara personal maupun bersifat publik. Para guru senantiasa memaksimalkan mungkin komitmen mereka untuk terus melangkah dan memberikan cahaya pada setiap sisi jalan yang gelap. Hal ini membuktikan bahwa semangat yang hidup dalam hati setiap  insan tenaga pendidik tidak bisa dihancurkan hanya dengan hasrat untuk kepentingan pribadi semata.


Penulis: Valention Sukarto Patihuriq, Kader GmnI Hukum UWKS Surabaya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Akses Permodalan UMKM di Jakarta Timur Harus Ramah Pedagang dan Tepat Sasaran
Minggu, 1 Februari 2026 | 20:42 WIB
DPC GMNI Jaktim: Teknologi Digital Perkuat Marhaenisme hingga ke Akar Rumput
Minggu, 1 Februari 2026 | 17:19 WIB
Disiplin Ideologi dan Organisasi sebagai Syarat Mutlak GMNI Menjadi Pelopor Gerakan Perjuangan
Minggu, 1 Februari 2026 | 09:18 WIB
Masyarakat Betawi Tuan Rumah Kota Jakarta Timur yang Sering Dilupakan
Minggu, 1 Februari 2026 | 08:27 WIB
Refleksi Tiga Tahun DPC GMNI Tojo Una-una: Bergerak dari Desa untuk Mewujudkan Indonesia Emas
Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:58 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Foto: PPAB GMNI UNTAD Palu/MARHAENIST.

PPAB Perdana GMNI FEB UNTAD: Warisi Api, Bukan Abunya!

Marhaenist.id, Palu - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

DPC GMNI Jaktim Dukung Pemerataan Anggaran KJP melalui Dana Sarapan Pagi Gratis

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Demo UU Pilkada Memanas, Massa Aksi Jebol Gedung DPR

MARHAENIST - Demo tolak UU Pilkada di depan DPR masih terus bergejolak.…

Kooperasi dan Hegemoni Kapitalisme

Marhaenist.id - Sadar atau tidak, sistem kapitalisme hari ini telah menghegemoni manusia…

Resmikan Posko Jaga Suara, Cornelia Agatha: Jaga Suara Untuk Menangkan Pram-Doel

Marhaenist,id, Jakarta - Relawan Jaga Suara dan Kawan 98 meresmikan Posko Jaga…

DPC GMNI Tangsel Sesalkan Tindakan Kekerasan terhadap Mahasiswa Katolik di Pamulang

Marhaenist.id, Pamulang Tangsel - Baru-baru ini, sebuah video yang menjadi viral di…

Coming Soon, Ayo Dukung Konsolidasi Persatuan Nasional GMNI sebagai Upaya Menyelamatkan Organisasi dari Perpecahan!

Marhaenist.id - Hampir setahun lebih situasi di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Revisi UU TNI: Ancaman Serius Bagi Demokrasi Indonesia

Marhaenist.id - Kita sedang menghadapi bahaya laten. Revisi UU TNI yang sedang…

Soal Kekurangan Tabung Oksigen, Aktivis GMNI di Mamasa Pertanyakan Keseriusan Pemda dalam Pelayanan Keseheatan

Marhaenist.id, Mamasa - Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Rihardes Langi’ Memanna…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?