By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Rumah Kelahiran Sang Fajar Bung Karno

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Historical

Inggit Garnasih Pahlawan Nasional yang Tak Kunjung Diakui dan Telupakan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 1 November 2024 | 15:14 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Inggit bersama Bung Karno (Sumber Foto: Arsip Nasional RI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pada tanggal 7 Februari 1980, mantan Gubernur DKI Bang Ali bertamu ke rumah IBu Inggit Garnasih. la mengerahkan kemampuan bahasa Sunda halusnya (Bang Ali adalah menak atau bangsawan Sunda dari Sumedang) untuk menanyakan kesediaan Ibu Inggit Garnasih menerima Fatmawati.

Di luar dugaan, urusannya ternyata mudah. Ibu Inggit Garnasih mempersilakan, maka terjadilah pertemuan pertama dalam 38 tahun bagi kedua istri Bung Karno tersebut.

Fatmawati berkali-kali bersimpuh dan mencium kaki Ibu Inggit Garnasih memohon maaf sambil menangis. la juga menyuruh putrinya, Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri dan putra bungsunya Guruh Soekarno, melakukan hal yang sama. Ibu Inggit Garnasih lantas menjawab “Indung mah lautan hampura” (Ibu ini lautan maaf) sembari mengelus dan menciumi rambut Fatmawati serta putra-putrinya.

Namun Ibu Inggit Garnasih juga mengingatkan agar ke depan, jangan sampai mencubit orang lain kalau tak ingin dicubit, karena dicubit itu rasanya sakit. Niat baik Fatmawati meminta maaf kepada ibu angkatnya menjadi penyucian diri. Hanya tiga bulan sesudahnya, pada 14 Mei 1980 Fatmawati berpulang setelah menunaikan umrah.

Pada tanggal 27 November 1982 terjadi lagi pertemuan mengharukan, kali ini tiga janda Bung Karno bertemu. Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto) dan Hartini menemui Ibu Inggit Garnasih yang tengah terbaring sakit. Dewi dan Hartini yang dulu paling sengit bersaing nampak rukun, dan keduanya mengakui ketokohan Ibu Inggit. Sayang tidak banyak percakapan yang berlangsung karena kondisi Ibu Inggit Garnasih sangat lemah, Namun ia tetap kelihatan senang dengan kunjungan istimewa itu.

Ibu Inggit Garnasih adalah tokoh teladan dari era perjuangan kemerdekaan yang belum mendapatkan gelar pahlawan nasional yang menjadi haknya.

Baca Juga:   Seperti Apa Konsep Pemikiran Karl Marx, Ayo Pelajari dengan Download Buku-Buku-nya Secara Gratis Hanya Disini!

Ibu Inggit Garnasih adalah sosok yang memberi dan memberi, tanpa mengharapkan kembali. Betapa tidak, dari 19 tahun pernikahan, 9 tahun di antaranya dihabiskan di pembuangan dan hampir 3 tahun Inggit ditinggal Soekarno yang mendekam di penjara. 7 tahun sisanya dihabiskan dengan bermain kucing-kucingan melawan para intel Belanda, di tengah kesibukan mencari uang sendiri guna membiayai perjuangan sang suami. Kapan senangnya Ibu Inggit Garnasih? Istri mana yang mau dan mampu menanggung pengorbanan sebesar itu?.

Inggit Garnasih Soekarno wafat pada tanggal 13 April 1984 dałam usia 96 tahun. Tidak ada penghormatan khusus dari pemerintah pusat maupun daerah baginya. Namun para tetangga di Jalan Ciateul dan sekitarnya tanpa ada yang mengkoordinasikan serentak mengibarkan bendera merah putih setengah tiang. Saat jenazah dibawa ke pemakaman, mereka dan sejumlah warga Bandung lainnya memenuhi tepi jalan guna memberikan penghormatan terakhir.

Tetapi setiap memasuki bulan November dalam keadaan teramat sedih, bangsa Indonesia akan memperingati hari Pahlawan, namun sampai hari ini Ingggit Garnasih seorang perempuan tangguh dari Bumi Priangan yang sungguh-sungguh tulus menyerahkan hidupnya untuk kemerdekaan bangsanya, sampai hari ini Negara Indonesia tak kunjung mengakui perjuangannya.

Kita boleh bangga dengan buku INDONESIA MENGGUGAT? tapi buku itu tidak akan pernah ada jika tidak ada Ibu Inggit Garnasih yang kadang jalan kaki ke Banceuy menyemangati Bung Karno serta menyelundupkan bahan-bahan untuk menulis.

Sedemikian teguhnya, Ia rela berjalan di hutan Muko-muko menemani Bung Karno dalam pelarian dari Bengkulu ke Padang. Ibu Inggit Garnasih jalan kaki dengan sarung, kondisi yang amat merepotkan, namun semangat juangnya mengalahkan seluruh kerepotan dan kesulitannya.

Tak cukup seribu lembar kertas untuk mengisahkan begitu banyak kesulitannya dalam perjuangannya untuk Indonesia tetapi semua ia terobos, seperti ia menerobos hutan belantara di pesisir barat Sumatera tanpa pernah mengeluh. Ibu Inggit Garnasih sungguh pejuang tangguh, tetapi sayang bangsa ini teramat kikir untuk menghargai ketulusan dan ketangguhannya.

Baca Juga:   Pidato Bung Karno Tentang Isi Supersemar

Begitu kikirnya bangsa ini, maka hanya di Bandung saja, namanya diabadikan pada sebuah jalan, itupun tak semua penghuni di jalan itu menggunakan nama Inggit Garnasih sebagai nama jalan. Begitu kikirnya, maka barang-barang milik Inggit Garnasih bersama Bung Karno berserakan sana sini tak terurus.

Saking kikirnya bangsa ini, maka satu-satunya permintaan Ibu Inggit Garnasih untuk dimakamkan di Cigereleng, tak diizinkan Pangkomkamtib saat itu.

Sungguh menyedihkan, bila menyadari besarnya jasa Inggit Garnasih dengan perlakuan bangsa ini padanya yang termat kikir.

Padahal ia sangat pantas untuk dibuatkan patung besar ditengah Kota Bandung, dan namanya pantas diabadikan sebagai nama jalan tidak hanya diseluruh kota- kota di Jawa Barat tetapi juga di berbagai kota lainnya di Indonesia.

Berapa biaya membangun sebuah patung besar? Lima, sepuluh, dua puluh miliar ? Itu terlalu kecil dibanding ketulusan dan kesetiaannya berjuang.

Dan apa ruginya untuk mengakuinya sebagai pahlawan nasional ?

Kenapa bangsa ini teramat sulit untuk mengakui jasanya?**


Kutipan tulisan dari: Jacobus K Mayong dan dari buku: “UNTUK REPUBLIK” Kisah-kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa. Disusun kembali oleh Redaksi Marhaenist.id.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB
Rumah Kelahiran Sang Fajar Bung Karno
Minggu, 11 Januari 2026 | 13:43 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Bahayakan Demokrasi, Alumni GMNI Kecam Revisi Putusan MK Terkait UU Pilkada

MARHAENIST - Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengecam dan menentang keras…

Warga Jabar Titip Harapan di Pundak Ganjar; Jangan Lupakan Rakyat Kecil

Marhaenist.id, Cirebon - Stadion Bima Cirebon penuh sesak, Sabtu (27/1/2024). Bukan karena…

Foto: GMNI Jaksel saat Melaporkan Dugaan Skandal Korupsi PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk/MARHAENIST

GMNI Jaksel Tuntut Polri Usut Tuntas Skandal Mobil Mewah 5 Direksi PT ATPI

Marhaenist.id, Jakarta - Bobrok pengelolaan BUMN kembali terbongkar! Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Kupas Pengaruh Globalisasi Demi Generasi Emas Indonesia, GMNI Dwitunggal FISIP UNRI dan GMNI Hang Tuah Tekankan Keteladanan Semangat Juang 1945

Marhaenist.id, Pekanbaru — Dewan Pengurus Komisariat (DPK) GMNI Dwitunggal FISIP Universitas Riau bersama…

Guntur Soekarnoputra dalam peluncuran buku Catatan Merah Dari Putera Bung Karno Jilid 3, 19 Oktober 2022. MARHAENIST

Catatan Merah dari Putera Bung Karno, Ini Kata Ganjar Pranowo dan Mahfud MD

Marhaenist - Putra pertama Presiden Soekarno, yang juga merupakan Ketua Dewan Ideologi…

DPC GMNI Binjai Apresiasi Langkah Kapolres dalam Upaya Menjaga Kamtibmas di Bulan Suci Ramadhan

Marhaenist.id, Binjai - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Refleksi Hari Jadi Kabupaten Rohul Ke-26 Tahun, GMNI: Momentum Evaluasi Pembangunan dan Penguatan Nasionalisme Kerakyatan

Marhaenist.id, Pasir Pengaraian - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Rokan…

Beri Sambutan Dalam Pembukaan Konferda V PA GMNI Jakarta Raya, Pramono Anung Soroti Tingginya Ketimpangan Sosial di Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta — Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa salah satu persoalan…

Koperasi dan Era Anthropocene: Menjawab dengan Praktik atas Krisis Kemanusiaan dan Lingkungan

Seri Belajar Koperasi #1 Marhaenist - Praktik sistem kapitalisme industri yang berkembang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?