By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Inilah Alasan Soekarno tidak Menginginkan Masjid Istiqlal Dibangun dengan Kayu

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:23 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Bung Karno saat meninjau rancangan pembagunan Masjid Isti
Bagikan

Marhaenist.id – Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal pertama kali muncul pada tahun 1944, di tengah situasi bangsa Indonesia yang masih berada dalam bayang-bayang penjajahan. Dalam sebuah pertemuan yang melibatkan sejumlah ulama, pimpinan organisasi Islam, serta tokoh-tokoh masyarakat, muncul kesadaran kolektif bahwa umat Islam Indonesia membutuhkan sebuah masjid agung sebagai simbol persatuan, kemerdekaan, dan martabat bangsa.

Para ulama dan tokoh Islam kala itu sepakat bahwa Jakarta sebagai ibu kota harus memiliki masjid besar yang mencerminkan kebesaran umat Islam Indonesia. Masjid tersebut bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat spiritual, sosial, dan simbol peradaban Islam di negeri yang baru merintis jalan kemerdekaannya. Semangat itu mendorong mereka untuk segera merancang pembangunan masjid agung di Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, para tokoh Islam menyampaikan bahwa dana awal untuk pembangunan telah tersedia sebesar 500.000 rupiah, hasil dari patungan dan swadaya umat. Jumlah ini, pada masa itu, tentu bukan angka yang kecil. Namun bagi Soekarno, angka tersebut belum sebanding dengan visi besar yang ia bayangkan untuk Masjid Istiqlal sebagai monumen keagungan bangsa Indonesia.

Soekarno menilai bahwa Masjid Istiqlal tidak boleh dibangun secara seadanya. Ia menginginkan masjid tersebut berdiri dengan megah, kokoh, dan mampu bertahan melampaui zamannya. Bagi Soekarno, bangunan masjid ini harus menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa dan simbol kemerdekaan yang tidak rapuh oleh waktu maupun perubahan.

Para ulama kemudian menjelaskan bahwa umat Islam siap menyumbangkan berbagai bahan bangunan secara gotong royong. Mereka menyebutkan kayu, bahan bangunan lokal, kapur, hingga genteng sebagai bentuk partisipasi umat dalam membangun rumah ibadah bersama. Usulan ini lahir dari semangat kebersamaan dan kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Baca Juga:   Sukarno: Islam Harus Berjuang Mengalahkan Kekolotan

Namun, ketika kata “kayu” dan “genteng” disebutkan, Soekarno justru semakin mantap untuk menunda pembangunan Masjid Istiqlal. Baginya, penggunaan bahan-bahan tersebut berisiko membuat masjid tidak bertahan lama. Soekarno tidak ingin Masjid Istiqlal menjadi bangunan yang mudah lapuk dan harus terus-menerus diperbaiki di masa depan.

Soekarno kemudian menyampaikan pandangannya dengan tegas namun visioner. Ia menekankan bahwa Masjid Istiqlal harus dibangun sebagai bangunan monumental yang mencerminkan kekuatan, kemerdekaan, dan kepercayaan diri bangsa Indonesia. Ia mengingatkan bahwa masjid ini bukan hanya untuk generasi saat itu, melainkan juga untuk anak cucu di masa yang akan datang.

Karena itulah Soekarno menyarankan agar Masjid Istiqlal dibangun dengan kerangka besi dan beton yang kuat. Ia membayangkan pintu-pintu dari perunggu, lantai dari batu pualam, serta struktur bangunan yang modern dan tahan terhadap gempa, cuaca, dan perubahan zaman. Semua itu, menurutnya, adalah investasi peradaban.

Bagi Soekarno, pilihan material bukan sekadar soal teknis bangunan, melainkan soal filosofi. Masjid Istiqlal harus mencerminkan semangat kemerdekaan yang kokoh dan tidak mudah runtuh. Ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang mampu membangun karya monumental dengan standar tinggi.

Akhirnya, pandangan Soekarno terbukti. Masjid Istiqlal yang berdiri hingga hari ini menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara dan simbol kebanggaan nasional. Keputusan untuk tidak membangunnya dengan kayu bukanlah penolakan terhadap gotong royong umat, melainkan wujud visi jauh ke depan tentang sebuah masjid yang abadi, kokoh, dan melampaui batas zaman.***


Sumber: Facebook Ragam Fakta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Rabu, 15 April 2026 | 14:58 WIB
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Rabu, 15 April 2026 | 14:13 WIB
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Selasa, 14 April 2026 | 20:54 WIB
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
Selasa, 14 April 2026 | 19:40 WIB
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan
Selasa, 14 April 2026 | 19:26 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Jakarta Utara Merah, Ribuan Warga Pluit Jalan Sehat Bareng Ganjar

Marhaenist.id, Jakarta - Jelang debat pamungkas calon Presiden RI Ganjar Ganjar Pranowo…

Putusan MK Mulai Jegal Klan Jokowi

MARHAENIST - Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menetapkan minimal syarat usia calon di…

Perubahan Aturan dan Konsolidasi Kekuasaan di Era Pemerintahan Jokowi: Sebuah Analisis Hukum dan Politik

Marhaenist.id- Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) telah melalui berbagai tantangan selama masa kepemimpinannya,…

Kasus Raya: Alarm Keras untuk Indonesia

Marhaenist.id - Raya adalah seorang bocah 4 tahun asal Sukabumi, harus meregang…

DPC GMNI Kendari Soroti Aktivitas Pembukaan Lahan Mangrove Diduga untuk Rumah Pribadi Gubernur Sultra

Kendari, Marhaenist.id — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Elemen Perjuangan Kelas Dalam Perjuangan Pembebasan Rakyat Indonesia, Henk Sneevliet 1926

Marhaenist - Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau lebih dikenal sebagai Henk…

(Jika) Bobibos vs Pertamina: Pertarungan Nilai, Etika, dan Kuasa di Tengah Krisis Kepercayaan Publik

Marhaenist.id - Dalam beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh memanasnya isu antara…

Dialog Terbuka Kader GMNI Bahas Potensi dan Tantangan Organisasi di Tengah Perubahan Zaman

Marhaenist.id, Jakarta — Sejumlah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari berbagai…

Gelar Musda, Kader GMNI Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua KNPI Pemalang 

Marhaenist.id, Pemalang - Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Fatkhu Rozaq Agung…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?