By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Front Marhaenis Ditengah Kekacauan Politik, Hukum, dan Ekonomi Indonesia Hari Ini

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 6 Desember 2025 | 22:30 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia hari ini berada dalam pusaran kekacauan politik, hukum, dan ekonomi yang semakin menajam. Ketimpangan sosial membesar, demokrasi direduksi menjadi ritual elektoral transaksional, hukum menjadi instrumen kekuasaan, dan ekonomi dikuasai oleh oligarki.

Dalam situasi seperti ini, ajaran Bung Karno mengenai peran Front Marhaenis menemukan relevansinya secara historis dan politis. Kaum Marhaenis dipanggil bukan untuk berdiam diri, tetapi tampil sebagai kekuatan pelopor untuk meluruskan kembali arah revolusi yang menyimpang. Mata batin dan keterpanggilan ideologi harus berada pada kondisi objektif yang nampak.

Pertama: Ketika Politik Menjadi Pasar Kekuasaan

Neoliberalisme dan oligarki telah mengendalikan politik Indonesia. Kontestasi kekuasaan bukan lagi pertarungan gagasan, melainkan pertarungan modal dan jaringan elite.

Partai politik banyak yang berubah fungsi menjadi perusahaan kekuasaan; demokrasi dipertukarkan dalam pasar gelap kekuasaan melalui transaksi uang dan dukungan korporasi.

Dalam konteks ini, kaum Marhaenis wajib kembali pada prinsip sosio-demokrasi: politik untuk rakyat, bukan untuk elite. Bung Karno menegaskan bahwa demokrasi sejati hanya mungkin jika rakyat menjadi subjek politik, bukan objek manipulasi.

Front Marhaenis harus:

– Menolak politik transaksional

– Mengembalikan politik ke ruang moral, ideologi, dan kesejahteraan rakyat

– Mendorong demokratisasi internal dan rekonstruksi gerakan politik berbasis rakyat

Politik yang kehilangan nurani adalah pengkhianatan terhadap cita-cita revolusi.

Kedua: Ketika Hukum Diperdagangkan dan Keadilan Hilang

Realitas hukum hari ini menunjukkan gejala krisis legitimasi. Hukum kerap memihak pada mereka yang memiliki kekuasaan dan modal, sementara rakyat kecil diperlakukan sebagai objek represi. Keadilan menjadi barang mewah, dan penjara dipenuhi oleh rakyat kecil, bukan koruptor kelas kakap.

Dalam situasi semacam ini, Bung Karno menegaskan bahwa keberpihakan adalah kewajiban. Kaum Marhaenis harus menjadi penjaga moral hukum: membela rakyat tertindas dan melawan komersialisasi keadilan.

Baca Juga:   IHSG Anjlok!!!

Tugas Front Marhaenis:

– Mengkritik keras penyalahgunaan hukum dan kekuasaan

– Menjadi ‘advokat moral’ bagi rakyat yang kehilangan akses terhadap keadilan

– Mengorganisir gerakan perlawanan terhadap hukum yang korup dan represif.

Hukum tanpa keadilan adalah tirani legal.

Ketiga: Ketika Ekonomi Dipusatkan pada Segelintir Oligarki

Kekayaan Indonesia hari ini terkonsentrasi di tangan segelintir konglomerat dan keluarga politik. Akses terhadap tanah, tambang, air, hutan, dan sumber daya ekonomi strategis semakin tertutup bagi rakyat.

Land reform yang telah melunak menjadi reforma agraria yang stagnan, petani dan nelayan diusir dari ruang hidupnya, dan buruh terus berada dalam lingkaran upah murah.

Fenomena ini adalah kebalikan total dari prinsip sosio-nasionalisme Bung Karno—yang menempatkan kemakmuran rakyat sebagai tujuan negara.

Karena itu Front Marhaenis harus:

– Melawan monopoli ekonomi dan perampasan tanah

– Menuntut penguasaan negara atas cabang produksi vital

– Memperjuangkan tegaknya keadilan ekonomi sebagai fondasi demokrasi

Tidak ada kemerdekaan sejati dalam sistem ekonomi yang menindas rakyatnya sendiri.

Keempat: Persatuan Nasional sebagai Senjata Revolusi

Indonesia hari ini berada pada titik di mana polarisasi politik, konflik identitas, dan adu domba sosial menjadi senjata untuk mempertahankan kekuasaan oligarki.

Bung Karno telah memperingatkan bahwa perpecahan nasional adalah jalan paling mudah bagi imperialisme untuk kembali menguasai bangsa.

Karena itu, Front Marhaenis harus menjadi:

– Pelopor persatuan, bukan pengikut provokasi

– Jembatan antara seluruh kekuatan progresif—buruh, tani, pemuda, perempuan, dan intelektual

– Pembangun front nasional yang berideologi Pancasila secara substantif, bukan seremonial

Persatuan bukan retorika kosong, melainkan strategi revolusi.

Kelima: Keberanian Moral dan Aksi Kolektif

Krisis nasional tidak mungkin diselesaikan oleh elite kekuasaan yang menjadi bagian dari masalah. Perubahan hanya mungkin jika rakyat bangkit dan mengambil kembali hak historis mereka sebagai pemilik kedaulatan.

Baca Juga:   Surat Cinta dari Timur Buat GMNI: Perpecahan! Nasionalisme?

Ajaran Bung Karno jelas: “Di saat keadilan diinjak, kewajiban revolusioner adalah melawan.”

Oleh karena itu Front Marhaenis harus:

– Turun ke jalan ketika hukum dihina dan rakyat diperas

– Menjadi suara alternatif yang berani dan independen

– Mengorganisasi perlawanan kolektif berbasis kesadaran dan solidaritas rakyat

– Mereka tidak boleh menjadi penonton sejarah, tetapi pembuat sejarah.

Kesimpulan

Di tengah kekacauan politik, hukum, dan ekonomi hari ini, Front Marhaenis dipanggil untuk: berpihak pada rakyat, melawan oligarki, menegakkan kedaulatan, menjaga persatuan nasional, dan memimpin perubahan struktural.
Itulah garis perjuangan Bung Karno, dan itulah jalan revolusi yang belum selesai.

Selama ketidakadilan masih berdiri tegak, Marhaenisme seharusnya tetap hidup sebagai ideologi perlawanan dan harapan. Sayangnya elit kaum Marhaen banyak menjadi demagog baru dan intelektual hipokrit.

(Catatan dari diskusi kecil Pra Konferda PA GMNI DKI Jakarta)***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Kamis, 15 Januari 2026 | 15:13 WIB
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08 WIB
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
Kamis, 15 Januari 2026 | 09:03 WIB
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:27 WIB
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat
Rabu, 14 Januari 2026 | 22:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Puan Maharani bersama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. FILE/Dok PDIP

Bertemu Dengan Muhaimin Iskandar, Puan: Begini Saja Sudah Sinyal

Marhaenist - Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani tidak menampik adanya potensi…

Bung Tomo, Sang Orator Si Pembakar Semangat Perjuangan Melawan Penjajah

Marhaenist.id - Sutomo atau dikenal dengan panggilan Bung Tomo tercatat sebagai pahlawan…

Di Banyuwangi, Atikoh Sampaikan Pentingnya Gunakan Hak Pilih

Marhaenist.id, Banyuwangi - Siti Atikoh Ganjar mengajak masyarakat untuk datang ke Tempat…

DPC GMNI Tangsel Sesalkan Tindakan Kekerasan terhadap Mahasiswa Katolik di Pamulang

Marhaenist.id, Pamulang Tangsel - Baru-baru ini, sebuah video yang menjadi viral di…

GMNI Minta Pemerintah Klarifikasi Resmi Soal Isu Pangkalan Militer Rusia di Papua

Marhaenist.id, Jakarta - Kabar bahwa Rusia tertarik menempatkan pesawat-pesawat di Pulau Biak…

Peringati HUT Kemerdekaan RI, DPC GMNI Touna dan DPK GMN Bung Tomo Manajenen Gelar Nobar Sekaligus Bedah Film bersama Masyarakat

Marhaenist.id, Touna - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik…

Menukil Kembali Kisah Pindahnya Ibukota Republik ke Yogyakarta

Marhaenist.id - Yogyakarta menjadi tempat amanat kebangsaan untuk pertama kali disampaikan dalam perayaan…

Pancasila, Ramai Dibicarakan Sepi Diterapkan!

Marhaenist - Setiap menjelang dan pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni,  di…

PPN Meningkat, Kelas Menengah Sekarat!

Marhenist.id - Sehubungan dengan disahkannya kenaikan PPN menjadi 12% dalam UU No.7…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?