By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Front Marhaenis Ditengah Kekacauan Politik, Hukum, dan Ekonomi Indonesia Hari Ini

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 6 Desember 2025 | 22:30 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia hari ini berada dalam pusaran kekacauan politik, hukum, dan ekonomi yang semakin menajam. Ketimpangan sosial membesar, demokrasi direduksi menjadi ritual elektoral transaksional, hukum menjadi instrumen kekuasaan, dan ekonomi dikuasai oleh oligarki.

Dalam situasi seperti ini, ajaran Bung Karno mengenai peran Front Marhaenis menemukan relevansinya secara historis dan politis. Kaum Marhaenis dipanggil bukan untuk berdiam diri, tetapi tampil sebagai kekuatan pelopor untuk meluruskan kembali arah revolusi yang menyimpang. Mata batin dan keterpanggilan ideologi harus berada pada kondisi objektif yang nampak.

Pertama: Ketika Politik Menjadi Pasar Kekuasaan

Neoliberalisme dan oligarki telah mengendalikan politik Indonesia. Kontestasi kekuasaan bukan lagi pertarungan gagasan, melainkan pertarungan modal dan jaringan elite.

Partai politik banyak yang berubah fungsi menjadi perusahaan kekuasaan; demokrasi dipertukarkan dalam pasar gelap kekuasaan melalui transaksi uang dan dukungan korporasi.

Dalam konteks ini, kaum Marhaenis wajib kembali pada prinsip sosio-demokrasi: politik untuk rakyat, bukan untuk elite. Bung Karno menegaskan bahwa demokrasi sejati hanya mungkin jika rakyat menjadi subjek politik, bukan objek manipulasi.

Front Marhaenis harus:

– Menolak politik transaksional

– Mengembalikan politik ke ruang moral, ideologi, dan kesejahteraan rakyat

– Mendorong demokratisasi internal dan rekonstruksi gerakan politik berbasis rakyat

Politik yang kehilangan nurani adalah pengkhianatan terhadap cita-cita revolusi.

Kedua: Ketika Hukum Diperdagangkan dan Keadilan Hilang

Realitas hukum hari ini menunjukkan gejala krisis legitimasi. Hukum kerap memihak pada mereka yang memiliki kekuasaan dan modal, sementara rakyat kecil diperlakukan sebagai objek represi. Keadilan menjadi barang mewah, dan penjara dipenuhi oleh rakyat kecil, bukan koruptor kelas kakap.

Dalam situasi semacam ini, Bung Karno menegaskan bahwa keberpihakan adalah kewajiban. Kaum Marhaenis harus menjadi penjaga moral hukum: membela rakyat tertindas dan melawan komersialisasi keadilan.

Baca Juga:   Menimbang Arah Indonesia dari Cermin Sejarah

Tugas Front Marhaenis:

– Mengkritik keras penyalahgunaan hukum dan kekuasaan

– Menjadi ‘advokat moral’ bagi rakyat yang kehilangan akses terhadap keadilan

– Mengorganisir gerakan perlawanan terhadap hukum yang korup dan represif.

Hukum tanpa keadilan adalah tirani legal.

Ketiga: Ketika Ekonomi Dipusatkan pada Segelintir Oligarki

Kekayaan Indonesia hari ini terkonsentrasi di tangan segelintir konglomerat dan keluarga politik. Akses terhadap tanah, tambang, air, hutan, dan sumber daya ekonomi strategis semakin tertutup bagi rakyat.

Land reform yang telah melunak menjadi reforma agraria yang stagnan, petani dan nelayan diusir dari ruang hidupnya, dan buruh terus berada dalam lingkaran upah murah.

Fenomena ini adalah kebalikan total dari prinsip sosio-nasionalisme Bung Karno—yang menempatkan kemakmuran rakyat sebagai tujuan negara.

Karena itu Front Marhaenis harus:

– Melawan monopoli ekonomi dan perampasan tanah

– Menuntut penguasaan negara atas cabang produksi vital

– Memperjuangkan tegaknya keadilan ekonomi sebagai fondasi demokrasi

Tidak ada kemerdekaan sejati dalam sistem ekonomi yang menindas rakyatnya sendiri.

Keempat: Persatuan Nasional sebagai Senjata Revolusi

Indonesia hari ini berada pada titik di mana polarisasi politik, konflik identitas, dan adu domba sosial menjadi senjata untuk mempertahankan kekuasaan oligarki.

Bung Karno telah memperingatkan bahwa perpecahan nasional adalah jalan paling mudah bagi imperialisme untuk kembali menguasai bangsa.

Karena itu, Front Marhaenis harus menjadi:

– Pelopor persatuan, bukan pengikut provokasi

– Jembatan antara seluruh kekuatan progresif—buruh, tani, pemuda, perempuan, dan intelektual

– Pembangun front nasional yang berideologi Pancasila secara substantif, bukan seremonial

Persatuan bukan retorika kosong, melainkan strategi revolusi.

Kelima: Keberanian Moral dan Aksi Kolektif

Krisis nasional tidak mungkin diselesaikan oleh elite kekuasaan yang menjadi bagian dari masalah. Perubahan hanya mungkin jika rakyat bangkit dan mengambil kembali hak historis mereka sebagai pemilik kedaulatan.

Baca Juga:   Geopolitik Konstitusi Indonesia: Membaca Warisan Marhaenisme Arief Hidayat

Ajaran Bung Karno jelas: “Di saat keadilan diinjak, kewajiban revolusioner adalah melawan.”

Oleh karena itu Front Marhaenis harus:

– Turun ke jalan ketika hukum dihina dan rakyat diperas

– Menjadi suara alternatif yang berani dan independen

– Mengorganisasi perlawanan kolektif berbasis kesadaran dan solidaritas rakyat

– Mereka tidak boleh menjadi penonton sejarah, tetapi pembuat sejarah.

Kesimpulan

Di tengah kekacauan politik, hukum, dan ekonomi hari ini, Front Marhaenis dipanggil untuk: berpihak pada rakyat, melawan oligarki, menegakkan kedaulatan, menjaga persatuan nasional, dan memimpin perubahan struktural.
Itulah garis perjuangan Bung Karno, dan itulah jalan revolusi yang belum selesai.

Selama ketidakadilan masih berdiri tegak, Marhaenisme seharusnya tetap hidup sebagai ideologi perlawanan dan harapan. Sayangnya elit kaum Marhaen banyak menjadi demagog baru dan intelektual hipokrit.

(Catatan dari diskusi kecil Pra Konferda PA GMNI DKI Jakarta)***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

(Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka) Bukan Emas, Melainkan Indonesia (C)emas: Indonesia Menuju Kehancuran Raya

Marhaenist.id - Tidak terasa Indonesia sudah memasuki usia yang cukup tua dalam…

Pancasila, Ramai Dibicarakan Sepi Diterapkan!

Marhaenist - Setiap menjelang dan pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni,  di…

Papua Tinggal Menunggu Waktu, Iqbal Damanik Peringatkan Ancaman Bencana Ekologis Akibat Konsesi Masif

Marhaenist.id, Papua — Papua disebut berada di ambang krisis ekologis serius menyusul masifnya…

Mengedepankan Prinsip Kesetaraan Hukum dalam Kasus Sekjen PDI Perjuangan

Marhaenist.id - Kasus permintaan penjadwalan ulang pemeriksaan oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto,…

Islamisme dan Komunisme, Haji Misbach 1925

Marhaenist - Apabila kita berbicara mengenai Islam dan Komunisme di Indonesia, kita…

Suharto dan Gelar Pahlawan: Penghargaan atau Penghinaan bagi Sejarah?

Marhaenist.id - Soeharto, nama yang sudah menjadi sebuah monumen yang terbuat dari…

Prihatin Dengan Kondisi Demokrasi, Keluarga Besar GMNI Kritisi Intervensi Presiden Jokowi di Pemilu 2024 Lewat Manifesto Politik

Marhaenist.id, Jakarta - Keluarga Besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) membacakan Manivesto…

Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang Bagi Takjil Untuk Masyarakat: Wujudkan Marhaenisme

Marhaenist.id, Kota Malang - Memasuki bulan suci Ramadan, Pemuda Demokrat Indonesia (PDI)…

GMNI Sulbar Soroti Pembangunan Kantor KDMP Tanpa Papan Proyek, Desak Kejari dan DPRD Jalankan Tupoksi

Marhaenist.id, Mamasa — Pembangunan kantor Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?