By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
(Bagian Ketiga: Marxisme) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Unjuk Rasa BEM Unpas dan GMNI Peringati HARDIKNAS 2026 di depan Kantor Bupati Bantaeng, Soroti Isu Pendidikan
(Bagian Kedua: Islamisme, Ke-Islam-an) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Megawati Pertanyakan Kasus Penyiraman Air Keras Andrei Yunus: Mengapa Masuk Pengadilan Militer?
Resmi Dikukuhkan sebagai Profesor Emeritus di Unbor, Prof. Arief Hidayat Siap Lahirkan Generasi Hukum Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

(Bagian Ketiga: Marxisme) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 2 Mei 2026 | 23:04 WIB
Bagikan
Waktu Baca 20 Menit
Cover Buku "Nasionalisme, Islamisme, Marxisme"/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Mendengar perkataan ini, maka tampak sebagai suatu bayang-bayangan di penglihatan kita gambarnya berduyun-duyun kaum yang menderita dari segala bangsa dan negeri, pucat muka dan kurus badan, pakaian compang-camping; tampak pada angan-angan kita dirinya, pembela dan juara si menderita tadi, seorang ahli pikir yang ketetapan hatinya dan kesadarannya akan kemampuannya “mengingatkan kita pada pahlawan-pahlawan dari dongeng-dongeng kuno Germania yang sakti dengan tiada terkalahkan itu, suatu manusia yang hebat yang dengan sesungguh-sungguhnya bernama ‘guru besar’ pergerakan kaum buruh, yakni: Heinrich Karl Marx”.

Dari muda sampai pada wafatnya, manusia yang hebat ini tiada berhenti-hentinya membela dan memberi penerangan pada si miskin, bagaimana mereka itu sudah menjadi sengsara dan bagaimana mereka itu pasti akan mendapat kemenangan; tiada kesal dan lelahnya ia berusaha dan bekerja untuk pembelaan itu duduk di atas kursi, di depan mejanya, begitulah ia dalam tahun 1883 menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Seolah-olah mendengarlah kita di mana-mana negeri suaranya mendengung sebagai guntur, tatkala ia dalam tahun 1847 menulis seruannya:

“Kaum buruh dari semua negeri, berkumpullah menjadi satu!”

Dan sesungguhnya! Sejarah dunia belumlah pernah menceriterakan pendapat dari seorang manusia, yang begitu cepat masuknya dalam keyakinan satu golongan pergaulan hidup, sebagai pendapatnya juara kaum buruh ini. Dari puluhan menjadi ratusan, dari ratusan menjadi ribuan, dari ribuan menjadi puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan, begitulah jumlah pengikutnya bertambah-tambah. Sebab, walaupun teori-teorinya ada sangat sukar dan berat untuk kaum yang pandai dan terang pikiran, tetapi amatlah ia gampang dimengerti oleh kaum yang tertindas dan sengsara, kaum melarat, pikiran yang berkeluh-kesah itu”.

Berlainan dengan sosialis-sosialis lain, yang mengira bahwa cita-cita mereka itu dapat tercapai dengan jalan persahabatan antara buruh dan majikan, berlainan dengan umpamanya: Ferdinand Lassalle, yang teriakannya itu ada suatu teriak perdamaian, maka Karl Marx, yang dalam tulisan-tulisannya tidak satu kali mempersoalkan kata kasih atau kata cinta, membeberkan pula faham pertentangan golongan: faham klassenstrijd (perjuangan kelas), dan mengajarkan pula, bahwa lepasnya kaum buruh dari nasibnya itu, ialah oleh perlawanan tanpa henti terhadap pada kaum “borjuis”, satu perlawanan yang tidak boleh tidak, mesti terjadi oleh karena peraturan yang kapitalis itu adanya.

Walaupun pembaca tentunya semua sudah sedikit-sedikit mengetahui apa yang telah diajarkan oleh Karl Marx itu, maka berguna pulalah agaknya, jikalau kita di sini mengingatkan, bahwa jasanya ahli pikir ini ialah:
— ia mengadakan suatu pelajaran gerakan pikiran yang bersandar pada materialisme dialektis (Materialistische Dialectiek);
— ia membentangkan teori, bahwa harga barang-barang itu ditentukan oleh banyaknya “kerja” untuk membuat barang-barang itu, sehingga “kerja” ini ialah “zat pembentuk nilai”, dari barang-barang itu (arbeids-waarde-leer);
— ia membeberkan teori, bahwa hasil pekerjaan kaum buruh dalam pembuatan barang itu adalah lebih besar harganya daripada yang ia terima sebagai upah (nilai lebih/meerwaarde);
— ia mengadakan suatu pelajaran sejarah yang berdasar materialisme, yang mengajarkan, bahwa “bukan budi akal manusialah yang menentukan keadaannya, tetapi sebaliknya keadaannya berhubung dengan pergaulan hiduplah yang menentukan budi akalnya” (materialistische geschiedenisopvatting);
— ia mengadakan teori, bahwa oleh karena “nilai lebih” itu dijadikan modal pula, maka modal itu makin lama makin menjadi besar (kapitaalsaccumulatie), sedang modal-modal yang kecil sama mempersatukan diri jadi modal yang besar (kapitaalscentralisatie), dan bahwa, oleh karena persaingan, perusahaan-perusahaan yang kecil sama mati terdesak oleh perusahaan-perusahaan yang besar, sehingga oleh desak-desakan ini akhirnya cuma tinggal beberapa perusahaan saja yang amat besarnya (kapitaalsconcentratie);
— dan ia mendirikan teori, bahwa dalam aturan kepemilikan ini nasibnya kaum buruh makin lama makin tidak menyenangkan dan menimbulkan dendam hati yang makin lama makin sangat (Verelendungstheorie);

Teori-teori mana, berhubung dengan kekurangan tempat, kita tidak bisa menerangkan lebih lanjut pada pembaca-pembaca yang belum begitu mengetahuinya.

Meskipun musuh-musuhnya, di antara mana kaum anarkis, sama menyangkal jasa-jasanya Marx yang kita sebutkan di atas ini, meskipun lebih dulu, dalam tahun 1825, Adolphe Blanqui dengan cara historis-materialis sudah mengatakan, bahwa sejarah itu “menetapkan kejadian-kejadiannya” sedang ilmu ekonomi menerangkan sebab apa kejadian-kejadian itu terjadi; meskipun teori nilai lebih itu sudah lebih dulu dilahirkan oleh ahli-ahli pikir sebagai Sismondi, Thompson dan lain-lain; meskipun pula teori konsentrasi modal atau teori nilai kerja itu ada bagian-bagiannya yang tak bisa mempertahankan diri terhadap kritik musuhnya yang tak jemu-jemu mencari-cari salahnya; meskipun begitu, maka tetaplah, bahwa sistemnya Karl Marx itu mempunyai pengertian yang tidak kecil dalam sifatnya umum, dan mempunyai pengertian yang penting dalam sifat bagian-bagiannya.

Baca Juga:   Mengapa Bung Karno Melepas Seluruh Kenegaraaan di Makam Rasullulah?

Tetaplah pula, bahwa, walaupun teori-teori itu sudah lebih dulu dilahirkan oleh ahli pikir lain, dirinyalah Marx, yang meski “bahasa”-nya itu untuk kaum “atasan” sangat berat dan sukarnya, dengan terang-benderang menguraikan teori-teori itu bagi kaum “tertindas dan sengsara yang melarat pikiran” itu dengan pahlawan-pahlawannya, sehingga mengerti dengan terang-benderang. Dengan gampang saja, sebagai suatu soal yang “sudah mestinya begitu”, mereka lalu mengerti teorinya atas nilai lebih, lalu mengerti, bahwa si majikan itu lekas menjadi kaya oleh karena ia tidak memberikan semua hasil pekerjaan padanya; mereka lalu saja mengerti, bahwa keadaan dan susunan ekonomilah yang menetapkan keadaan manusia tentang budi akal, agama, dan lain-lainnya, bahwa manusia itu: Er ist was er ist; mereka lalu saja mengerti, bahwa kapitalisme itu akhirnya pastilah binasa, pastilah lenyap diganti oleh susunan pergaulan hidup yang lebih adil, bahwa kaum “borjuis” itu “teristimewa mengadakan tukang-tukang penggali liang kuburnya”.

Begitulah teori-teori yang dalam dan berat itu masuk tulang sungsumnya kaum buruh di Eropa, masuk pula tulang sungsumnya kaum buruh di Amerika. Dan, “tidakkah sebagai suatu hal yang ajaib, bahwa kepercayaan ini telah masuk dalam berjuta-juta hati dan tiada suatu kekuasaan juapun di muka bumi ini yang dapat mencabut lagi dari padanya”. Sebagai tebaran benih yang ditiup angin ke mana-mana tempat, dan tumbuh pula di mana-mana ia jatuh, maka benih Marxisme ini berakar dan bersulur; di mana-mana pula, maka “kaum borjuis” sama menyiapkan diri dan berusaha membasmi tumbuh-tumbuhan “bahaya proletar” yang makin lama makin subur itu.

Benih yang ditebar-tebarkan di Eropa itu, sebagian telah diterbangkan oleh badai zaman ke arah khatulistiwa, terus ke Timur, hingga jatuh dan tumbuh di antara bukit-bukit dan gunung-gunung yang tersebar di segenap kepulauan “sabuk zamrud” yang bernama Indonesia. Dengungnya nyanyian Internasionale, yang dari sehari ke sehari menggetarkan udara Barat, sampai kuatnya hebatnya bergaung dan berkumandang di udara Timur…

Pergerakan Marxis di Indonesia ini, ingkarlah sifatnya kepada pergerakan yang berhaluan Nasionalis, ingkarlah kepada pergerakan yang berazas keislaman. Malah beberapa tahun yang lalu, penolakan ini sudah menjadi suatu pertengkaran perselisihan faham dan pertengkaran sikap, menjadi suatu pertengkaran saudara, yang, sebagai yang sudah kita terangkan di muka, menyuramkan dan menggelapkan hati siapa yang mengutamakan perdamaian, menyuramkan dan menggelapkan hati siapa yang mengerti, bahwa dalam pertengkaran yang demikian itulah letaknya kealahan kita.

Kuburkanlah nasionalisme, kuburkanlah politik cinta tanah air, dan lenyapkanlah politik keagamaan, — begitulah seakan-akan lagu perjuangan yang kita dengar. Sebab katanya: Bukankah Marx dan Engels telah mengatakan, bahwa “kaum buruh itu tak mempunyai tanah air”? Katanya: Bukankah dalam “Manifesto Komunis” ada tertulis, bahwa komunisme itu melepaskan agama? Katanya: Bukankah Bebel telah mengatakan, bahwa “bukanlah Allah yang membuat manusia, tetapi manusialah yang membuat-buat Tuhan”?

Dan sebaliknya! Pihak Nasionalis dan Islamis tak berhenti-henti pula mencaci-maki pihak Marxis, mencaci-maki pergerakan yang “bersekutu” dengan orang asing itu, dan mencaci-maki pergerakan yang “mungkir” akan Tuhan. Mencaci pergerakan yang mengambil teladan akan negeri Rusia yang menurut pendapatnya: asasnya sudah patah dan terbukti tak dapat melaksanakan cita-citanya yang memang suatu utopi, bahkan mendatangkan “kalang kabutnya negeri” dan bahaya kelaparan serta wabah penyakit yang mengorbankan nyawa kurang lebih lima belas juta manusia, suatu jumlah yang lebih besar daripada jumlahnya sekalian manusia yang binasa dalam perang besar yang akhir itu.

Demikianlah dengan bertambahnya tuduh-menuduh atas dirinya masing-masing pemimpin, duduknya perselisihan beberapa tahun yang lalu satu sama lain sudah salah mengerti dan saling tidak mengindahkan.

Sebab taktik Marxisme yang baru, tidaklah menolak pekerjaan bersama-sama dengan Nasionalis dan Islamis di Asia. Taktik Marxisme yang baru, malahan mendukung pergerakan-pergerakan Nasionalis dan Islamis yang sungguh-sungguh. Marxis yang masih saja bermusuhan dengan pergerakan-pergerakan Nasionalis dan Islamis yang keras di Asia, Marxis yang demikian itu tak mengikuti aliran zaman, dan tak mengerti akan taktik Marxisme yang sudah berubah.

Sebaliknya, Nasionalis dan Islamis yang menunjuk-nunjuk akan “gagalnya” Marxisme itu, dan yang menunjuk-nunjuk akan bencana kekacauan dan bencana kelaparan yang telah terjadi oleh “prakteknya” faham Marxisme itu, — mereka menunjukkan ketidakmengertiannya atas faham Marxisme, dan tak mengertinya atas sebab terpelesetnya “prakteknya” tadi. Sebab tidakkah Marxisme sendiri mengajarkan, bahwa sosialismenya itu hanya bisa tercapai dengan sungguh-sungguh bilamana negeri-negeri yang besar-besar itu semuanya di-“sosialis”-kan?

Baca Juga:   Pidato Sukarno di PBB: Zaman Baru Datang, Penjajahan Telah Usang 30 September 1960

Bukankah “kejadian” sekarang ini jauh berlainan daripada “syarat” untuk terkabulnya maksud Marxisme itu?

Untuk adilnya hukuman kita terhadap pada “prakteknya” faham Marxisme itu, maka haruslah kita ingat bahwa “gagal” dan “kalang kabut”-nya negeri Rusia adalah dipercepat pula oleh penutupan atau blokade oleh semua negeri-negeri musuhnya; dipercepat pula oleh hantaman dan serangan pada empat belas tempat oleh musuh-musuhnya sebagai Inggris, Prancis, dan jenderal-jenderal Kolchak, Denikin, Yudenitch dan Wrangel; dipercepat pula oleh anti-propaganda yang dilakukan oleh hampir semua surat kabar di seluruh dunia.

Di dalam pandangan kita, maka musuh-musuhnya itu pula harus ikut bertanggung jawab atas matinya lima belas juta orang yang sakit dan kelaparan itu, di mana mereka mendukung penyerangan Kolchak, Denikin, Yudenitch dan Wrangel itu dengan harta dan benda; di mana umpamanya negeri Inggris, yang membuang-buang berjuta-juta rupiah untuk mendukung penyerangan-penyerangan atas diri sahabatnya yang dulu itu telah “mengotorkan nama Inggris di dunia dengan menolak memberi tiap-tiap bantuan pada kerja penolongan” si sakit dan si lapar itu; di mana di Amerika, di Rumania, dan di Hongaria pada saat terjadinya bencana itu pula, karena terlalu banyaknya gandum, orang sudah memakai gandum itu untuk kayu bakar, sedang di negeri Rusia orang-orang di distrik Samara makan daging anak-anaknya sendiri oleh karena laparnya.

Bahwa sesungguhnya luhurlah sikapnya H. G. Wells, penulis Inggris yang masyhur itu, seorang yang bukan Komunis, di mana ia dengan tak memihak pada siapa juga, menulis bahwa, umpamanya kaum Bolshevik itu tidak dirintang-rintangi mereka barangkali bisa menyelesaikan suatu percobaan yang maha besar faedahnya bagi perikemanusiaan…… Tetapi mereka dirintang-rintangi”.

Kita yang bukan komunis pula, kitapun tak memihak pada siapa juga! Kita hanyalah memihak kepada Persatuan-persatuan Indonesia, kepada persahabatan pergerakan kita semua!

Kita di atas menulis, bahwa taktik Marxisme yang sekarang adalah berlainan dengan taktik Marxisme yang dulu. Taktik Marxisme, yang dulu sikapnya begitu sengit anti kaum kebangsaan dan anti kaum keagamaan, maka sekarang, terutama di Asia, sudahlah begitu berubah, hingga kesengitan “anti” ini sudah berbalik menjadi persahabatan dan pendukungan. Kita kini melihat persahabatan kaum Marxis dengan kaum Nasionalis di negeri Tiongkok; dan kita melihat persahabatan kaum Marxis dengan kaum Islamis di negeri Afghanistan.

Sama bekerja bersama-sama dengan kaum-kaum nasionalis atau kebangsaan. Niscaya mereka ingat pula akan teladan pemimpin-pemimpin Marxis di negeri Tiongkok, yang dengan rela hati sama mendukung usahanya kaum Nasionalis, oleh sebab mereka insaf bahwa negeri Tiongkok itu pertama-tama butuh persatuan nasional dan kemerdekaan nasional adanya.

Demikian pula, tak pantaslah kaum Marxis itu bermusuhan dan berbenturan dengan pergerakan Islam yang sungguh-sungguh. Tak pantas mereka memerangi pergerakan, yang, sebagaimana sudah kita uraikan di atas, dengan seterang-terangnya bersikap anti-kapitalisme; tak pantas mereka memerangi suatu pergerakan yang dengan sikapnya anti-riba dan anti-bunga dengan seterang-terangnya ialah anti-nilai lebih pula; dan tak pantas mereka memerangi suatu pergerakan yang dengan seterang-terangnya mengejar kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan, dengan seterang-terangnya mengejar nationale autonomie.

Tak pantas mereka bersikap demikian itu, oleh karena taktik Marxisme baru terhadap agama adalah berlainan dengan taktik Marxisme dulu. Marxisme baru adalah berlainan dengan Marxisme dari tahun 1847, yang dalam “Manifesto Komunis” mengatakan, bahwa agama itu harus di-“hapuskan” atau dilepaskan adanya.

Kita harus membedakan Historis Materialisme itu daripada Filsafat Materialisme; kita harus memperingatkan, bahwa maksudnya Historis Materialisme itu berlainan daripada maksudnya Filsafat Materialisme tadi. Filsafat Materialisme memberi jawaban atas pertanyaan: bagaimanakah hubungannya antara pikiran dengan benda (materi), bagaimanakah pikiran itu terjadi, sedang Historis Materialisme memberi jawaban atas soal sebab apakah pikiran itu dalam suatu zaman ada begitu atau begini; filsafat materialisme menanyakan adanya (hakikat) pikiran itu; historis materialisme menanyakan sebab-sebabnya pikiran itu berubah; filsafat materialisme mencari asalnya pikiran, historis materialisme mempelajari tumbuhnya pikiran; filsafat materialisme adalah filsafat, historis materialisme adalah sejarah.

Dua faham ini oleh musuh-musuhnya Marxisme di Eropa, terutama kaum gereja, senantiasa ditukar-tukarkan, dan senantiasa dikelirukan satu sama lain. Dalam propaganda anti-Marxisme mereka tak berhenti-henti mengusahakan kekeliruan faham itu; tak berhenti-henti mereka menuduh-nuduh, bahwa kaum Marxisme itu ialah kaum yang mempelajarkan, bahwa pikiran itu hanyalah suatu pengeluaran saja dari otak, sebagai ludah dari mulut dan sebagai empedu dari limpa; tak berhenti-henti mereka menamakan kaum Marxis suatu kaum yang menyembah benda, suatu kaum yang bertuhankan materi.

Baca Juga:   Inilah Alasan Soekarno tidak Menginginkan Masjid Istiqlal Dibangun dengan Kayu

Berikut adalah kelanjutan terjemahan teks tersebut ke dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD):

Itulah asalnya kebencian kaum Marxis Eropa terhadap kaum gereja, asalnya sikap perlawanan kaum Marxis Eropa terhadap kaum agama. Dan perlawanan ini bertambah sengitnya, bertambah kebenciannya, di mana kaum gereja itu memakai-memakai agamanya untuk melindungi kapitalisme, memakai-memakai agamanya untuk membela keperluan kaum atasan, memakai-memakai agamanya untuk menjalankan politik yang reaksioner sekali.

Adapun kebencian pada kaum agama yang timbulnya dari sikap kaum gereja yang reaksioner itu, sudah dijatuhkan pula oleh kaum Marxis kepada kaum agama Islam, yang berlainan sekali sikapnya dan berlainan sekali sifatnya dengan kaum gereja di Eropa itu. Di sini agama Islam adalah agama kaum yang tak merdeka: di sini agama Islam adalah agama kaum yang di-“bawah”. Sedang kaum yang memeluk agama Kristen adalah kaum yang bebas; di sana agama Kristen adalah agama kaum yang di-“atas”. Tak boleh tidak, suatu agama yang anti-kapitalisme, agama kaum yang tak merdeka, agama kaum yang di-“bawah” ini; agama yang menyuruh mencari kebebasan, agama yang melarang menjadi kaum “bawahan”, — agama yang demikian itu pastilah menimbulkan sikap yang tidak reaksioner, dan pastilah menimbulkan suatu perjuangan yang dalam beberapa bagian sesuai dengan perjuangan Marxisme itu.

Karenanya, jikalau kaum Marxisme ingat akan perbedaan kaum gereja di Eropa dengan kaum Islam di Indonesia ini, maka niscaya mereka mengajukan tangannya, sambil berkata saudara, marilah kita bersatu. Jikalau mereka menghargai akan contoh-contoh saudara-saudaranya seazas yang sama bekerja bersama-sama dengan kaum Islam, sebagai yang terjadi di lain-lain negeri, maka niscayalah mereka mengikuti contoh-contoh itu pula. Dan jikalau mereka dalam pada itu, juga bekerja bersama-sama dengan kaum Nasionalis atau kaum kebangsaan, maka mereka dengan tenang hati boleh berkata: kewajiban kita sudah kita penuhi.

Dan dengan memenuhi segala kewajiban Marxis muda tadi itu, dengan memperhatikan segala perubahan teori asasnya, dengan menjalankan segala perubahan taktik pergerakannya itu, mereka boleh menyebutkan diri pembela rakyat yang tulus hati, mereka boleh menyebutkan diri garda depan rakyat.

Tetapi Marxis yang ingkar akan persatuan, Marxis yang kolot teorinya dan kuno taktiknya. Marxis yang memusuhi pergerakan kita Nasionalis dan Islamis yang sungguh-sungguh, Marxis yang demikian itu janganlah merasa terlanggar kehormatannya jikalau dinamakan racun rakyat adanya!

Tulisan kita hampir habis.

Dengan jalan yang jauh kurang sempurna, kita mencoba membuktikan, bahwa faham Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme itu dalam negeri jajahan pada beberapa bagian menutupi satu sama lain. Dengan jalan yang jauh kurang sempurna kita menunjukkan teladan pemimpin-pemimpin di lain negeri. Tetapi kita yakin, bahwa kita dengan terang-benderang menunjukkan kemauan kita menjadi satu. Kita yakin, bahwa pemimpin-pemimpin Indonesia semuanya insaf, bahwa Persatuanlah yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan. Dan kita yakin pula, bahwa, walaupun pikiran kita itu tidak mencocoki semua kemauan dari masing-masing pihak, ia menunjukkan bahwa Persatuan itu bisa tercapai. Sekarang tinggal menetapkan saja organisasinya, bagaimana Persatuan itu bisa berdiri; tinggal mencari organisatornya saja, yang menjadi Mahatma Persatuan itu. Apakah Ibu Indonesia, yang mempunyai putera-putera sebagai Oemar Said Tjokroaminoto, Tjipto Mangunkusumo dan Semaun, apakah Ibu Indonesia itu tak mempunyai pula putera yang bisa menjadi juara Persatuan itu?

Kita harus bisa menerima; tetapi kita juga harus bisa memberi. Inilah rahasianya Persatuan itu. Persatuan tak bisa terjadi, kalau masing-masing pihak tak mau memberi sedikit-sedikit pula. Dan jikalau kita semua insaf, bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima, tetapi dalam memberi; jikalau kita semua insaf, bahwa dalam percerai-beraian itu letaknya benih perbudakan kita; jikalau kita semua insaf, bahwa permusuhan itulah yang menjadi asal kita punya via dolorosa; jikalau kita insaf, bahwa roh rakyat kita masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang berada di tengah-tengah kegelapan yang mengelilingi kita ini, maka pastilah Persatuan itu terjadi, dan pastilah Sinar itu tercapai juga.

Sebab Sinar itu dekat!


Sumber: Buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1 Karya Ir. Soekarno.

Tulisan Ir. Soekarno ini pernah terbit pada Majalah Suluh Indonesia Muda Tahun 1926.

Tulisan Ini telah Diterjemahkan oleh Redaksi dari Ejaan Lama ke Ejaan Yang Disempurnakan.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Unjuk Rasa BEM Unpas dan GMNI Peringati HARDIKNAS 2026 di depan Kantor Bupati Bantaeng, Soroti Isu Pendidikan
Sabtu, 2 Mei 2026 | 20:00 WIB
(Bagian Kedua: Islamisme, Ke-Islam-an) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Sabtu, 2 Mei 2026 | 19:08 WIB
Megawati Pertanyakan Kasus Penyiraman Air Keras Andrei Yunus: Mengapa Masuk Pengadilan Militer?
Sabtu, 2 Mei 2026 | 15:53 WIB
Resmi Dikukuhkan sebagai Profesor Emeritus di Unbor, Prof. Arief Hidayat Siap Lahirkan Generasi Hukum Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan
Sabtu, 2 Mei 2026 | 15:01 WIB
(Bagian Pertama: Nasionalisme) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Sabtu, 2 Mei 2026 | 12:10 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Puluhan Aktivis Geruduk Ganjar, Dinilai Paling Paham Aspirasi Perempuan

Marhaenist.id, Jakarta - Puluhan aktivis perempuan menggeruduk Ganjar Pranowo untuk memberikan dukungan…

Polisi dengan kendaraan yang rusak di lapangan stadion Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, setelah bentrokan antara pendukung tim berseteru. AP/Yudha Prabowo

Berduka Atas Tragedi Kanjuruhan, Jokowi Minta Liga 1 Dihentikan

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan dukacita yang mendalam atas meninggalnya…

Analisa Kelas-Kelas Dalam Masyarakat Tiongkok, Mao Zedong

Marhaenist - Mao Zedong, seorang tokoh revolusioner dan pemimpin China yang kontroversial,…

Setan-Setan Pendidikan Dalam Bingkai Indonesia Emas 2045

Marhaenist.id - Menilik pendidikan di Indonesia mencoba kembali mengingat sejarah peradaban di…

GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis

Marhaenist.id, Jakarta – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kembali menegaskan komitmennya sebagai…

Membelah Nasionalis, Merapikan Kekuasaan: Tangan Imanuel Cahyadi, Setneg & BIN di Balik Perpecahan GMNI?

Marhaenist.id - Perpecahan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dalam Kongres Bandung bukan…

Gelar PPAB, GMNI UIN Salatiga Tanamkan Jiwa Nasionalis dan Sosialis

Marhaenist.id, Salatiga - Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

DPK GMNI Faperta-Sainstek UNARS Situbondo Menyatakan Sikap Tegas: Tolak Tambang Nikel di Raja Ampat

Marhaenist.id, Situbondo - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Nasrani-Yahudi Dalam Tinjauan Madilog

AGAMA NASRANI Jesus Nazrenus Rex Jodioram Jesus dari Nazaret Rajanya Yahudi Agama…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?