By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Pidato Sukarno di PBB: Zaman Baru Datang, Penjajahan Telah Usang 30 September 1960

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 24 Januari 2026 | 19:54 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Bung Karno saat berpidato Disidang Umum PBB pada tanggal 30 September 1960 (Sumber: Arsip Nasional Ri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Satu bulan setelah memutuskan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Belanda pada 17 Agustus 1960, Presiden Sukarno berangkat ke Amerika Serikat untuk menyampaikan pidato yang kemudian menjadi sangat terkenal dengan judul “Membangun Dunia Kembali (To Build the World Anew)”—kini tersimpan sebagai koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Nomor NST 137. Pidato tersebut disampaikan di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960, tepat hari ini 61 tahun yang lalu.

Dalam pidatonya, Sukarno menyampaikan bahwa kedatangannya ke New York—markas PBB setelah dipindahkan dari Paris pada 1952—dilakukan dengan langkah berat, mengingat masih mengemukanya berbagai persoalan internal di Indonesia yang membutuhkan penyelesaian segera. Namun demikian, ia tetap memprioritaskan kehadirannya di hadapan Sidang Umum PBB karena pentingnya gagasan-gagasan yang ingin ia sampaikan kepada dunia.

Sejak 2018, ANRI telah mempertimbangkan untuk menominasikan pidato dan gagasan Sukarno tersebut sebagai salah satu Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Pertanyaannya, apa sesungguhnya gagasan Sukarno yang dianggap begitu berpengaruh terhadap perkembangan dunia?

Naskah pidato Sukarno setidaknya memuat lima pokok permasalahan utama, yaitu kritik terhadap kolonialisme dan imperialisme, perkembangan senjata nuklir, hubungan antara penjajah dan negeri jajahan, pertarungan ideologi-ideologi dunia, serta perlunya peninjauan kembali badan-badan di dalam PBB. Bahasan-bahasan tersebut menjadi semakin relevan apabila ditempatkan dalam konteks zaman yang melingkupi Sukarno saat itu.

Periode 1945 hingga 1960-an dapat disebut sebagai zaman dekolonisasi. Negeri-negeri jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin berlomba-lomba melepaskan diri dari sistem kolonialisme dan imperialisme yang telah mengakar kuat sejak abad ke-19. Dalam pidatonya, Sukarno menyebut periode ini sebagai zaman “pembangunan bangsa-bangsa”.

Sebagaimana digambarkannya, zaman baru tersebut merupakan takdir atau jalan sejarah yang tak terelakkan. Benteng-benteng kekuasaan kolonial lama yang berusaha dipertahankan diibaratkannya sebagai “waduk yang dibangun tidak sempurna”, yang membendung arus air besar yang pada akhirnya akan menjebolnya. Pandangan Sukarno ini terbukti tepat, dan sejatinya telah disadari oleh kekuatan kolonial sejak awal abad ke-20.

Baca Juga:   Mengenal Kapitalisme Bangsa Sendiri Oleh Bung Karno

Di Tengah Gejolak Dekolonisasi

Dalam tulisan saya tentang masa akhir kolonial Belanda, Mempertahankan Imperium: Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer dan Kebijakan Kolonial Akhir Hindia Belanda, 1936–1942 (2021), saya menegaskan bahwa tren dekolonisasi di Asia Tenggara telah muncul sejak awal abad ke-20. Pertanyaan krusialnya adalah bagaimana kekuatan kolonial merespons tren tersebut.

Inggris dan Amerika Serikat—di Burma (Myanmar) dan Filipina—merespons secara relatif cepat dengan memberikan kekuasaan parlemen mandiri. Sebaliknya, Belanda mengambil langkah yang jauh tertinggal melalui penerapan Politik Etis dan pembentukan Dewan Rakyat (Volksraad) yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan legislatif sejati.

Keberlanjutan dekolonisasi kemudian dipercepat oleh situasi global akibat Perang Dunia II (1939–1945). Konteks inilah yang melingkupi pidato Sukarno di PBB. Dalam pidato yang menggelegar tersebut, Sukarno menegaskan bahwa pemusnahan seluruh perangkat sistem kolonial dan imperialisme—termasuk segala bentuk campur tangan negara penjajah dalam pengaturan negara-negara merdeka—merupakan kunci terciptanya perdamaian dunia.

Pidato tersebut menjadi sangat bernilai karena disampaikan di hadapan delegasi negara-negara penjajah lama sekaligus negara-negara baru yang lahir dari proses kemerdekaan. Dekolonisasi, sebagaimana ditegaskan Sukarno, merupakan proses panjang dan melelahkan, tidak hanya bagi bangsa-bangsa terjajah, tetapi juga bagi bangsa penjajah.

Elizabeth Buettner dalam Europe after Empire (2016) mengungkapkan bahwa masyarakat Eropa pascaperang berada dalam dilema mendalam. Di satu sisi, mereka mengalami penindasan di bawah pendudukan Nazi Jerman; di sisi lain, mereka juga memiliki sejarah panjang sebagai penindas bangsa lain di tanah jajahan. Memori kolonial ini melahirkan kebimbangan dan kebungkaman di masyarakat Eropa. Kurikulum sekolah di Belgia, misalnya, nyaris menutup rapat pembahasan mengenai praktik kolonialisme di Kongo.

Dilema serupa juga dialami oleh negara-negara yang hancur akibat Perang Dunia II, seperti Belanda dan Prancis. Mereka menghadapi tekanan ganda: kebutuhan mendesak untuk membangun kembali negara yang porak-poranda serta tuntutan kemerdekaan dari bekas jajahan. Kondisi ini berbeda dengan Amerika Serikat dan Inggris yang tidak mengalami pendudukan langsung oleh Nazi, sehingga proses dekolonisasi relatif lebih lancar. Melalui pidatonya, Sukarno secara tegas menampar romantisme kolonial lama dan menegaskan betapa usangnya sistem kolonial beserta pembenarannya.

Baca Juga:   Mengapa Bung Karno Melepas Seluruh Kenegaraaan di Makam Rasullulah?

Negara-Negara Baru

Secara brilian, Sukarno juga mengangkat pertanyaan mendasar pascadekolonisasi: bagaimana jika negara yang merdeka justru terjerumus ke dalam kondisi yang lebih menyengsarakan dibandingkan saat berada di bawah rezim kolonial? Menanggapi hal tersebut, Sukarno menyatakan, kami insaf akan pertanggungjawaban kami terhadap semua bangsa, dan kami dengan gembira menerima pertanggungjawaban itu.”

Sukarno menegaskan bahwa bangsa-bangsa yang baru merdeka berani menanggung risiko atas pilihan kemerdekaannya. Ia merasa perlu menekankan hal ini dengan merujuk pada konflik internal di Kongo (Krisis Kongo, 1960–1965) yang terjadi tidak lama setelah negara itu merdeka dari Belgia. Namun, Sukarno kembali menekankan bahwa konflik tersebut tidak terlepas dari campur tangan asing dalam politik domestik Kongo.

Sukarno juga menolak pandangan filsuf Inggris Bertrand Russell yang membagi dunia ke dalam dua blok ideologis: Amerika Serikat atau blok Marxis. Menurut Sukarno, meskipun pengaruh kedua mazhab tersebut tidak terelakkan, negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin memiliki filsafat hidupnya sendiri.

Indonesia, misalnya, memiliki Pancasila, yang dijelaskan Sukarno secara ringkas dalam pidatonya. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila bersifat universal. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, menurut Sukarno, mengakomodasi semua kepercayaan, bahkan mereka yang tidak menganut agama sekalipun. Dalam kata-katanya, “…bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun, karena toleransi yang menjadi pembawaannya, mengakui bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik bangsanya.”

Melalui pidato sepanjang 121 menit ini, Sukarno menjawab kegelisahan mendasar dunia—baik negara-negara penjajah lama maupun negara-negara yang baru tumbuh. Barangkali diperlukan penelitian panjang untuk membuktikan secara langsung pengaruh pidato ini terhadap gelombang kemerdekaan global. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa setelah 1960, dunia menyaksikan percepatan kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Di Afrika saja, lebih dari 30 negara meraih kemerdekaan setelah pidato Sukarno di Sidang Umum PBB pada 30 September 1960.

Baca Juga:   Mengenal Perjalanan Politik Ir. Soekarno

Dikutip dari Tirto id.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Akses Permodalan UMKM di Jakarta Timur Harus Ramah Pedagang dan Tepat Sasaran

Marhaenist.id, Jakarta Timur — Wakil Kepala Bidang Ekonomi Kerakyatan dan UMKM DPC…

Mengantisipasi Otoritarianisme Politik Massa Mengambang

Marhaenist.id - Dalam konteks pemilu elektoral atau pemilihan umum, biasanya ada beberapa…

Memahami Pesoalan Gugatan Imanuel terhadap Keabsahan GMNI Arjuna dengan Nomor Perkara Hukum: 115/Pdt.G/2025/Jkt Pst

Marhaenist.id - Amar putusan Pengadilan yang mengabulkan petitum Imanuel itu tidak melihat…

Putusan MK Mulai Jegal Klan Jokowi

MARHAENIST - Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menetapkan minimal syarat usia calon di…

Ketua Pemuda Demokrat Kecam Pemkot Surabaya: Lamban Tangani Parkir Liar

Marhaenist.id, Surabaya — Ketua Pemuda Demokrat Indonesia Kota Surabaya, Bustomi Saputra, mengecam keras…

Meredam Egoisme antar Komisariat di GMNI: Meniti Jalan Bersama Menuju Tujuan Besar

Marhaenist.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) merupakan organisasi mahasiswa yang memiliki…

Jairi, salah satu kader PDIP yang tandatangannya dipakai menggugat SK Kepengurusan DPP PDIP 2024-2025. FILE/Tim Media PDIP

Hanya 300 Ribuan Aja Biaya Nipu Gugat SK Kepengurusan PDIP

MARHAENIST - Lima orang kader PDI Perjuangan (PDIP) antara lain, Jairi, Djupri,…

Ironi Sebuah Nasionalisme

Marhaenist.id - Di sebuah negeri yang kaya akan janji, seorang pejabat berdiri…

Menuju Ramadan–Lebaran 2026: Di Balik Kejamnya Tradisi Mudik

Marhaenist.id - Tradisi mudik sering kali dihipnotiskan sebagai bentuk pembangunan persaudaraan, kekeluargaan,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?