
Marhaenist.id, Jeneponto – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jeneponto menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi kritis film Pesta Babi pada Selasa (12/5/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh DPC GMNI Jeneponto tersebut bertujuan membedah fenomena kolonialisme gaya baru yang dinilai kerap tersembunyi di balik kebijakan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam di daerah.
Melalui diskusi tersebut, GMNI Jeneponto menyoroti adanya pergeseran keberpihakan pemerintah yang dinilai semakin condong kepada kepentingan kapitalisme dan imperialisme modern, dibandingkan kepentingan rakyat.
Film Pesta Babi sendiri dinilai berhasil memotret realitas eksploitasi dan ketimpangan sosial yang masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Meski menuai kontroversi dan sempat mengalami pembubaran agenda nobar di sejumlah daerah, film tersebut justru dianggap mampu membuka ruang kesadaran kritis bagi masyarakat yang menyaksikannya.
Dengan menggunakan pendekatan materialisme dialektika historis, GMNI Jeneponto mencoba menarik benang merah antara narasi dalam film dengan berbagai persoalan lokal yang dihadapi masyarakat Turatea saat ini.

Nasrul, Ketua DPC GMNI Jeneponto, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh menutup mata terhadap pola-pola penindasan modern yang dinilai semakin subtil namun tetap destruktif.
“Film ini berhasil membuat kita sadar bagaimana pola dan praktik penjajahan masa kini bekerja. Kita melihat bagaimana pergeseran keberpihakan pemerintah kepada rakyat menjadi berpihak pada oligarki. Mungkin bukan hanya di Papua ini terjadi, tetapi di seluruh Indonesia. Kita semua merasakan itu. Jangan hanya menjadi penonton di tengah eksploitasi yang terjadi di sekeliling kita,” tegasnya dalam diskusi tersebut.
Lebih lanjut, DPC GMNI Jeneponto menilai diskusi kritis seperti ini tidak boleh berhenti di lingkup internal organisasi semata. Kesadaran kolektif, menurut mereka, harus dibangun bersama seluruh elemen masyarakat dan pemuda di Jeneponto.
Sebagai tindak lanjut, DPC GMNI Jeneponto secara terbuka mengajak organisasi kemahasiswaan, komunitas pemuda, hingga elemen masyarakat sipil di Jeneponto untuk menggelar agenda serupa melalui kolaborasi nonton bareng dan diskusi publik.
GMNI Jeneponto juga menyatakan kesiapannya membuka ruang diskusi serta memfasilitasi pemutaran film bagi kelompok-kelompok yang ingin mendalami isu kolonialisme modern dan persoalan kedaulatan rakyat di daerah.
“Kami dari DPC GMNI Jeneponto membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin berkolaborasi untuk mengadakan nonton bareng. Mari jadikan Jeneponto sebagai laboratorium pemikiran yang progresif-revolusioner. Lewat nonton bareng dan diskusi ini, kita perkuat persatuan mahasiswa dan pemuda untuk mengawal kedaulatan di daerah kita,” tambah Nasrul.
Bagi pihak yang tertarik mengadakan agenda serupa atau berdiskusi lebih lanjut, dapat menghubungi DPC GMNI Jeneponto melalui akun Instagram resmi mereka di @Marhaenis.turatea.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.