By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Sebut Prof. Ikrar “Anji**” di Sebuah Diskusi, La Ode Mustawwadhaar Desak TV Nasional Boikot Abu Janda: Tak Punya Adab dan Tata Krama

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Jumat, 13 Maret 2026 | 00:17 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Perdebatan Prof. Ikrar Nusa Bhakti dan Abu Janda disalah satu TV Nasional (Sumber: Inews)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Kendari – Sebutan kontroversial yang disampaikan oleh pegiat media sosial Abu Janda kepada Prof. Ikrar Nusa Bhakti yang menyebutnya dengan kata Anji** dalam sebuah diskusi di salah satu TV Nasional – menuai kecaman dari berbagai pihak.

Kali ini kritik keras datang dari La Ode Mustawwadhaar yang juga menjabat sebagai redaksi di Marhaenist.id yang menilai ucapan Abu Janda dalam sebuah diskusi di televisi nasional telah melampaui batas etika dan mencederai adab dalam ruang publik.

Dalam diskusi yang disiarkan salah satu stasiun TV nasional tersebut, Abu Janda menyebut Prof. Ikrar dengan istilah yang dianggap tidak pantas, yakni “Anji**”. Ucapan tersebut memicu reaksi keras karena dinilai merendahkan seorang akademisi dan tokoh intelektual di ruang publik.

La Ode Mustawwadhaar menilai pernyataan tersebut bukan hanya bentuk penghinaan personal, tetapi juga mencerminkan rendahnya etika dalam berdiskusi di media massa.

“Ucapan seperti itu jelas tidak mencerminkan adab dan tata krama dalam berdialog, apalagi disampaikan di forum diskusi yang disiarkan secara nasional. Ini mencederai nilai-nilai intelektualitas dan budaya ketimuran yang menjunjung tinggi kesantunan,” ujarnya dalam keterangan persnya yang dimuatnya di Marhaenist.id, Jumat (13/3/2026).

Ia menegaskan bahwa televisi nasional seharusnya menjadi ruang edukatif yang menampilkan diskusi berkualitas, bukan justru memberikan panggung bagi narasumber yang melontarkan pernyataan provokatif dan tidak beretika.

Menurutnya, stasiun televisi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menentukan siapa saja yang layak dihadirkan sebagai narasumber.

“TV nasional harus melakukan evaluasi serius terhadap narasumber yang diundang. Jangan sampai ruang publik justru dipenuhi oleh pernyataan yang tidak mencerminkan etika diskusi,” tegas La Ode.

Lebih lanjut, La Ode bahkan mendesak agar seluruh stasiun televisi nasional mempertimbangkan untuk memboikot Abu Janda dari berbagai program diskusi hingga yang bersangkutan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Baca Juga:   DPD PA GMNI Jakarta Raya Bakal Gelar Diskusi Publik Edisi Khusus Pra-Konferda V

“Jika tidak ada klarifikasi dan permintaan maaf yang tulus, kami mendesak agar TV nasional memboikot Abu Janda. Figur publik yang tidak memiliki adab dan tata krama dalam berdiskusi tidak pantas terus diberikan panggung,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ruang publik harus dijaga agar tetap menjadi wadah pertukaran gagasan yang sehat, beradab, dan menghormati perbedaan pandangan.

“Perdebatan boleh saja terjadi dalam demokrasi, tetapi harus tetap menjunjung etika, menghargai lawan diskusi, dan tidak merendahkan martabat seseorang,” pungkas La Ode Mustawwadhaar.***

Penulis: Redaksi/Editor: Redaksi.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Jakarta Selatan

GMNI Jaksel Desak Transparansi: Bareskrim Harus Buka Hasil Pemeriksaan Dugaan Korupsi Direksi PT ATPI ke Publik

Marhaenist, Jakarta - Korupsi di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali…

Ketika Khamenei Muda Menjelaskan Bung Karno di Penjara

Marhaenist.id - Kekaguman terhadap Sukarno dengan penyebutan namanya dengan hormat banyak saya…

DPC GMNI Banyuwangi Resmi Dilantik, Teguhkan Komitmen Semangat Marhaenisme

Marhaenist.id, Banyuwangi – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal

Marhaenist.id, Pasaman – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kapitalis dan Komunis

Marhaenist.id - Pada pandangan pertama, kapitalisme dan komunisme tampak seperti dua kutub…

Risma-Gus Han Jadi Cagub Jatim Pertama Yang Ziarahi Makam Bung Karno di Blitar

MARHAENIST.ID, Blitar - Tri Rismaharini-Gus Han menjadi pasangan Calon Gubernur - Wakil…

DPC GMNI Jaktim: Teknologi Digital Perkuat Marhaenisme hingga ke Akar Rumput

Marhaenist.id, Jakarta Timur — Perkembangan teknologi dan digitalisasi dinilai menjadi instrumen strategis…

Prof. Arief Hidayat Purnabakti dari Mahkamah Konstitusi, Tutup 13 Tahun Pengabdian

Marhaenist.id, Jakarta – Prof. Dr. Arief Hidayat,S.H., M.S resmi mengakhiri masa jabatannya…

Resmi Dideklarasikan, DPC PA GMNI Touna Teguhkan Komitmen Kebangsaan Lewat Dialog Kebangsaan

Marhaenist.id, Touna – Dalam momentum bersejarah yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?