
Marhaenist.id – Perang Israel dan AS melawan Iran akan memasuki minggu kedua. Presiden Trump memprediski perang akan selesai dalam waktu empat hingga lima minggu.
Sementara Iran akan melayani berapa lamapun serangan yang dilancarkan oleh Israel dan AS untuk mempertahankan kedaulatannya.
Ada lima variabel sejatinya yang menentukan cepat lamanya perang.
Pertama, stamina dari masing-masing yang berperang, apakah masih mampu untuk terus berperang atau tidak.
Stamina yang dimaksud disini adalah seberapa banyak alat militer yang dimiliki, mulai dari rudal, drone militer, pesawat tempur hingga prajurit serta anggaran.
Kedua, dukungan dari dalam negeri baik para politisi maupun rakyat. Ini penting mengingat siapapun yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan untuk terus atau menghentikan perang bergantung pada didukung tidaknya oleh politisi dan rakyat.
Ketiga, apakah perang Israel dan AS melawan Iran akan diikuti oleh negara lain?
Negara-negara teluk, Inggris, Prancis dan Jerman di satu sisi dan Rusia, China bahkan Korea Utara di sisi lain.
Keempat, bagaimana dunia bereaksi termasuk rakyat di suatu negara. Bila perang terus berlangsung bukannya tidak mungkin ada gerakan dari dunia untuk mengisolasi dan melakukan embargo terhadap pihak yang berperang.
Bahkan rakyat suatu negara bisa melakukan demo dan tindakan yang tidak bersahabat dari negara-negara yang berperang namun ditujukan pada kepentingan dan warga dari pihak yang beperang.
Terlebih lagi di era digital, netizen dunia akan melakukan berbagai hal untuk membela salah satu pihak yang berperang.
Terakhir, apakah ada upaya dari negara yang bersedia untuk menjadi mediator.
Ini penting saat pihak yang berperang telah kehabisan stamina, kelelahan dan tidak mendapat dukungan dalam negeri.
Peran mediator sejatinya sebagai penyelamat muka pihak yang berperang. Mereka disaat demikian membutuhkan exit strategy berupa pihak ketiga untuk dimediasi agar tidak dipersepsikan sebagai pihak yang kalah perang.***
Penulis: Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI.