By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

IHSG Anjlok, Ketua DPP GMNI Sujahri Somar: Alarm Bahaya Ketika Independensi BI Digerogoti

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Kamis, 29 Januari 2026 | 17:40 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Sujarhi Somar, Ketua Umum DPP GMNI (Dukumen DPP GMNI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta — Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8 persen yang memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) dinilai bukan sekadar gejolak teknis pasar.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menegaskan peristiwa ini sebagai peringatan serius atas rapuhnya fondasi kepercayaan ekonomi nasional.

Ketua DPP GMNI, Sujahri Somar, menyatakan bahwa guncangan di pasar modal selalu memiliki implikasi luas, jauh melampaui sekadar fluktuasi angka indeks. Menurutnya, runtuhnya kepercayaan investor akan berdampak langsung pada sektor riil, dunia kerja, hingga kehidupan sosial masyarakat.

“Pasar bukan sedang bereaksi berlebihan. Pasar sedang membaca arah kebijakan. Ketika sinyal yang ditangkap adalah ketidakpastian, maka yang terjadi bukan koreksi biasa, melainkan kepanikan yang sistemik,” tegas Sujahri dalam keterangannya, Selasa.

GMNI menilai sentimen eksternal, seperti isu penyesuaian kebijakan indeks global oleh MSCI, memang menjadi pemicu awal. Namun, dampaknya dinilai jauh lebih destruktif akibat melemahnya persepsi terhadap independensi Bank Indonesia (BI) sebagai benteng terakhir stabilitas ekonomi nasional.

“Masalahnya bukan hanya MSCI. Masalahnya adalah ketika benteng moneter kita dipersepsikan tidak lagi netral. Dalam kondisi seperti itu, satu sentimen negatif kecil bisa berubah menjadi gelombang besar,” ujar Sujahri.

Ia menekankan bahwa independensi bank sentral bukan isu elitis, melainkan menyangkut kepercayaan publik dan pasar. Bank sentral yang dipersepsikan terlalu dekat dengan kepentingan politik akan dicurigai mengambil kebijakan jangka pendek, bukan demi stabilitas jangka panjang.

“Investor membutuhkan kepastian bahwa kebijakan moneter dibuat dengan kepala dingin, bukan dengan pertimbangan politik. Begitu keyakinan itu hilang, modal akan mencari tempat yang lebih aman,” katanya.

Menurut GMNI, derasnya arus keluar modal asing (capital outflow) dan tekanan terhadap pasar keuangan kerap menjadi pintu masuk krisis ekonomi yang lebih luas. Jika dibiarkan, dampaknya akan menjalar ke sektor perbankan, pembiayaan usaha, hingga daya beli masyarakat.

Baca Juga:   Sambut Natal dan Tahun Baru, Ketua GMNI Halut Ajak Masyarakat Rawat Kebhinekaan dan Kedamaian

“Krisis ekonomi selalu dimulai dari krisis kepercayaan. Dan krisis kepercayaan selalu berawal dari kebijakan yang tidak transparan,” tegas Sujahri.

Lebih lanjut, DPP GMNI mengingatkan bahwa krisis ekonomi tidak pernah berhenti di ruang pasar. Sejarah menunjukkan, ketika stabilitas ekonomi terguncang, kelompok masyarakat paling rentan akan menjadi korban pertama.

“Ketika pasar goyah, yang pertama terdampak bukan elite, tetapi pekerja. PHK, harga naik, akses kredit menyempit—di situlah krisis sosial mulai tumbuh,” ujarnya.

Ia menilai, jika kepercayaan terhadap institusi ekonomi negara terus tergerus, Indonesia berisiko menghadapi spiral krisis, mulai dari pasar keuangan, sektor riil, hingga ketegangan sosial.

“Jangan anggap ini sekadar urusan grafik saham. Ini soal dapur rakyat. Jika ekonomi runtuh, stabilitas sosial ikut runtuh,” katanya.

Pernyataan Sikap DPP GMNI

Atas kondisi tersebut, DPP GMNI menyampaikan sikap sebagai berikut:

1. Menolak Politisasi Bank Indonesia

GMNI menilai penempatan figur berlatar belakang politik dalam jabatan strategis Bank Indonesia berisiko merusak kredibilitas kebijakan moneter dan memicu krisis ekonomi yang lebih luas.

“Bank sentral bukan ruang kompromi politik. Sekali kredibilitasnya rusak, ongkosnya dibayar rakyat.”

2. Menilai Lemahnya Mitigasi Dampak Global

Ketidaksiapan otoritas dalam menjaga marwah independensi BI dinilai membuat Indonesia gagal meredam efek kebijakan indeks global.

“Negara yang kuat bukan negara yang kebal krisis, melainkan negara yang dipercaya pasar saat krisis datang.”

3. Menuntut Jaminan Nyata Independensi Kebijakan Moneter

GMNI mendesak pemerintah dan Bank Indonesia memberikan jaminan terbuka bahwa kebijakan moneter ke depan bebas dari intervensi politik.

“Pasar membutuhkan kejelasan, rakyat membutuhkan kepastian. Tanpa itu, ketidakpastian akan berubah menjadi krisis.”

Menutup pernyataannya, Sujahri mengingatkan bahwa menyalahkan faktor eksternal tanpa pembenahan internal hanya akan mempercepat krisis.

Baca Juga:   GMNI Desak Kejari segera Tersangkakan Pelaku Tambak Udang di Bengkalis

“Krisis ini bukan takdir, melainkan peringatan. Kembalikan Bank Indonesia pada marwah independensinya, atau kita sedang membuka pintu bagi krisis ekonomi yang akan merambat menjadi krisis sosial,” pungkasnya.***

Penulis: Redaksi/Editor: Redaksi..

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Abidin Fikri Warning Pemerintah Pusat: Banjir Sumatera Menggila, Status Darurat Bencana Nasional Jangan Ditunda

Marhaenist.id, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI…

Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.

Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat

Marhaenist.id - Selama bertahun-tahun, pemerintah baik pusat maupun daerah, kerap menjadikan masuknya…

Soekarno-Khrushchev Diantara Kemesraan Indonesia dan Uni Soviet

Marhaenist - Sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, Indonesia dan Uni Soviet menjalin…

GMNI: Konstitusi Dibegal, Demokrasi Dikebiri

MARHAENIST - Dalam UUD tahun 1945 hasil amandemen, Pasal 1 Ayat (2)…

Korban KDRT Didiskriminasi, Kabid Hukum GMNI Halut Angkat Bicara

Marhaenist.id, Halut - Kasus Kekerasan Dalamy Rumah Tangga (KDRT) yang sempat viral pada…

Saat Bokek, Soekarno Sering Minta Duit ke Temannya Yang Kaya Ini

Marhaenist - Semua orang mengetahui bahwa Soekarno adalah salah satu tokoh sentral…

GMNI Jaksel Serukan Potong Satu Generasi: Bersihkan Pejabat Warisan Orde Baru dan Adili Jokowi-Makzulkan Gibran

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta…

Pernyataan Sikap GMNI Se-Balikpapan Desak Kongres Persatuan

Marhaenist.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sebagai organisasi kader dan politik…

GMNI Batam: Jangan Terlena Propaganda, Negara Harus Kembali ke Jalan Keadilan Sosial

Marhaenist.id, Batam – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?