Marhaenist.id, Jakarta — Sejumlah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari berbagai daerah di Indonesia menggelar dialog terbuka bertajuk “Memahami Potensi dan Tantangan GMNI Saat Ini” pada Kamis malam (8/1/2025).
Diskusi yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB hingga sekitar 21.00 WIB ini dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh kader GMNI lintas cabang di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini merupakan wujud kesadaran moral kolektif yang diinisiasi oleh GMNI Jakarta Timur bersama GMNI Surabaya Raya, GMNI Semarang, GMNI Bandung, GMNI Medan, serta didukung oleh sejumlah cabang GMNI lainnya yang turut membersamai forum diskusi tersebut.
Dialog terbuka ini menghadirkan sejumlah pemantik dari pimpinan cabang GMNI, antara lain Ketua GMNI Jakarta Timur Jansen Henry Kurniawan, Ketua GMNI Surabaya Raya Ni Kadek Ayu Wardhani, Ketua GMNI Semarang Marcelina Liona, Ketua GMNI Bandung Halim Mulia, dan Ketua GMNI Medan Paskawan Gultom. Forum diskusi dipandu oleh Feronika Nulat Latbual selaku Sekretaris GMNI Jakarta Timur.
Dalam diskusi tersebut, para pemantik menegaskan pentingnya menempatkan Marhaenisme bukan sekadar sebagai simbol organisasi, melainkan sebagai ideologi hidup yang membimbing sikap, cara berpikir, dan tindakan kader GMNI. Kaderisasi dinilai harus kembali pada tujuan utamanya, yakni membentuk kader yang ideologis, militan, berdisiplin, serta mampu menghubungkan teori dengan praksis perjuangan rakyat.
Forum ini juga menegaskan komitmen bersama agar GMNI tidak kehilangan arah perjuangan di tengah dinamika zaman. Kesetiaan terhadap ideologi, keberpihakan nyata kepada rakyat marhaen, serta penguatan solidaritas internal dipandang sebagai kunci agar GMNI tetap hadir sebagai organisasi kader yang ideologis, relevan, dan bertanggung jawab secara historis.
Selain itu, para peserta diskusi menyoroti pentingnya transformasi organisasi untuk menjawab tantangan kekinian.
GMNI didorong untuk menghilangkan konflik-konflik internal yang kontraproduktif, meruntuhkan budaya feodalisme yang masih menjangkiti tubuh organisasi, serta menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Penguatan pemahaman ideologis yang adaptif juga dinilai penting, terutama dengan menyasar generasi Z yang saat ini menjadi mayoritas anggota dan kader GMNI.
Dengan langkah tersebut, GMNI diharapkan mampu terus menjaga relevansi perjuangannya serta tetap menjadi wadah kader ideologis yang berpihak pada kepentingan rakyat marhaen.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.