Marhaenist.id – Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dikenal tidak hanya sebagai negarawan besar, tetapi juga sebagai seorang anak yang sangat berbakti kepada ibundanya. Salah satu potret paling menyentuh dari sisi kemanusiaannya adalah kebersamaannya dengan sang ibu tercinta, Ida Ayu Nyoman Rai, yang juga dikenal dengan nama Ida Ayu Nyoman Rai Srimben.
Ida Ayu Nyoman Rai lahir di Pulau Bali dan berasal dari keturunan bangsawan Hindu. Latar belakang budaya dan spiritual Bali sangat memengaruhi nilai-nilai kehidupan yang ia tanamkan kepada putranya sejak kecil.
Ia kemudian menikah dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru asal Jawa yang dikenal berpikiran maju dan nasionalis. Dari pernikahan dua latar budaya yang berbeda inilah lahir Soekarno, sosok yang kelak mempersatukan Nusantara.
Perpaduan budaya Bali dan Jawa dalam keluarga ini memberi warna tersendiri dalam pembentukan karakter Soekarno. Nilai spiritual, kebangsawanan, kesederhanaan, dan semangat pengabdian tertanam kuat sejak masa kecilnya.
Terdapat kisah yang sangat terkenal mengenai prinsip hidup Ida Ayu Nyoman Rai yang teguh dan konsisten. Ia dikabarkan tidak pernah mau menginjakkan kaki di Istana Negara karena baginya bangunan tersebut masih menyisakan simbol dan aroma kolonial Belanda.
Sikap ini bukan semata penolakan fisik terhadap sebuah tempat, melainkan cerminan sikap batin seorang ibu yang memegang teguh martabat, harga diri, dan ingatan kolektif atas masa penjajahan.
Karena itulah, alih-alih memanggil ibunya ke Istana, Soekarno justru sering datang sendiri untuk mengunjungi sang ibu. Ia menanggalkan sejenak atribut kekuasaannya demi menjadi seorang anak yang bersimpuh di hadapan ibunda.
Salah satu momen kunjungan tersebut diabadikan dalam sebuah foto yang kini sering beredar luas. Foto itu menampilkan Soekarno bersama ibunya di teras rumah mereka, dalam suasana sederhana namun penuh kehangatan.
Gambar tersebut menjadi simbol kuat tentang bakti seorang anak kepada orang tuanya. Di balik sosok Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno tetaplah seorang anak yang menghormati, mencintai, dan merawat ibunya.
Hingga kini, foto dan kisah tersebut terus dikenang sebagai momen langka yang menunjukkan sisi humanis Soekarno. Ia mengajarkan bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, bakti kepada orang tua tetaplah nilai yang tidak boleh ditinggalkan.***
Disusun oleh Redaksi Marhaenist id dari berbagai sumber terpercaya.