By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Warga TPU Kebun Nanas Didampingi GMNI Jakarta Timur dan Yayasan Teman Baik Ajukan Pengaduan ke Komnas HAM RI
Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu
GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis
Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Petani Tebu Marhaen Masa Kini, Sonny T Danaparamita Ingatkan Negara Soal Impor Gula dan Pupuk Subsidi

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 31 Desember 2025 | 18:30 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Pasuruan — Menutup akhir tahun 2025, persoalan klasik sektor gula nasional kembali mencuat. Produksi gula petani tebu dinilai belum terserap secara optimal, sementara kebijakan impor gula masih terus dibuka. Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya konsistensi kebijakan pangan nasional yang seharusnya berpihak pada petani.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPR RI Sonny T. Danaparamita saat melakukan kunjungan kerja ke Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan, Jawa Timur.

Kunjungan tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari evaluasi langsung terhadap arah kebijakan pergulaan nasional sepanjang tahun berjalan.

“Petani sudah berproduksi, tetapi gula mereka belum terserap secara maksimal. Di sisi lain, impor tetap berjalan. Ini ironi yang terus berulang dari tahun ke tahun,” ujar Sonny.

Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan, persoalan gula nasional tidak semata-mata terletak pada kapasitas produksi petani, melainkan pada lemahnya keberpihakan kebijakan. Menurutnya, ketika impor lebih cepat masuk dibandingkan penyerapan hasil petani dalam negeri, maka cita-cita swasembada gula hanya berhenti pada jargon.

“Kalau pola ini terus dibiarkan, maka swasembada gula hanya menjadi slogan tahunan tanpa realisasi,” tegasnya.

Tak hanya sektor gula, Sonny juga menyoroti rendahnya serapan pupuk subsidi secara nasional sepanjang tahun 2025. Meskipun pemerintah telah menurunkan harga pupuk, kebijakan tersebut dinilai belum sepenuhnya dirasakan petani akibat persoalan distribusi dan lemahnya pengawasan di lapangan.

“Harga pupuk memang turun, tetapi serapannya rendah. Ini menandakan adanya masalah serius dalam tata kelola distribusi dan pengawasan. Jika dibiarkan, produktivitas pertanian akan terus terhambat,” katanya.

Dalam refleksi akhir tahun, Sonny yang juga Alumni GMNI mengingatkan kembali pesan ideologis Bung Karno tentang Marhaenisme, yang menegaskan bahwa negara harus berpihak kepada kaum kecil seperti petani, buruh, dan rakyat produsen—bukan semata tunduk pada mekanisme pasar.

Baca Juga:   PA GMNI Jakarta Raya Desak Pemprov DKI Koreksi Arah Pembangunan Ekonomi Ibukota yang Dikuasai Kapitalisme Global

“Petani tebu adalah Marhaen masa kini. Jika hasil keringat mereka tidak dilindungi oleh negara, maka kita sedang menjauh dari cita-cita keadilan sosial,” ujarnya.

Sonny menekankan, tanpa keberanian politik untuk membenahi tata kelola pupuk, menata ulang kebijakan impor, serta memastikan hasil panen petani terserap secara adil, maka swasembada gula hanya akan menjadi ritual tahunan tanpa ruh ideologis.

“Di titik inilah negara diuji: hadir sebagai pelindung Marhaen, atau sekadar menjadi penonton atas ketimpangan yang terus berulang,” pungkasnya.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Rabu, 7 Januari 2026 | 04:01 WIB
Warga TPU Kebun Nanas Didampingi GMNI Jakarta Timur dan Yayasan Teman Baik Ajukan Pengaduan ke Komnas HAM RI
Rabu, 7 Januari 2026 | 02:04 WIB
Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu
Selasa, 6 Januari 2026 | 23:30 WIB
GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis
Selasa, 6 Januari 2026 | 22:03 WIB
Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas
Selasa, 6 Januari 2026 | 19:47 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ilustrasi ojek online Gojek. SHUTTERSTOCK/Sukarman

Marhaen dan Gig Economy

MARHAENIST - Konsep “Marhaen” yang dicetuskan oleh Bung Karno seringkali mengalami penyempitan…

Marhaenist.id: Gus, Ahlak Lebih Mulia dari Pada Ilmu

Marhaenist.id - Sunhaji (38), Penjual Es Teh keliling viral karena diledek atau…

Didingklik: Wajah Baru Layanan Digital bagi Pelayanan Publik dan Tata Kelola Daerah di Pandeglang

Marhaenist id - Pandeglang terus berbenah dalam meningkatkan kualitas tata kelola daerah,…

Quo Vadis Hari Anak Nasional 2024: Telaah Kritis

Marhaenist.id - Momentum Hari Anak Nasional tak cukup sekedar dilaksanakan secara seremonial,…

Marhaenis Muda Harus Mengawal Demokrasi dari Desa

Marhaenist.id - Demokrasi Indonesia tidak bisa hanya dipahami dari dinamika politik nasional…

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan kaos bertuliskan nama “Jokowi” kepada Presiden RI, usai pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/10/2022). Setkab/Rahmat

Presiden FIFA Minta Persiapan Piala Dunia U-20 Ditangani Secara Profesional

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama FIFA memastikan Piala Dunia U-20…

Bahlil Respon Pernyataan Cak Imin, Karyono Wibowo Nilai Bukan Sekadar Balas Dendam Politik

Marhaenit.id, Jakarta — Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan…

Pelantikan PA GMNI Kalsel, Momentum Menuju Organisasi Yang Lebih Baik

Marhaenist - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menginginkan pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD)…

YLBHI: 10 Faktor Jokowi Layak Disebut Pemimpin Korup dan Pelanggar Hukum dan HAM Terorganisir

Marhaenist.id - Menutup tahun 2024, salah satu organisasi nirlaba bernama Organized Crime…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?