
Marhaenist.id – Demokrasi Indonesia tidak bisa hanya dipahami dari dinamika politik nasional dan ruang-ruang kekuasaan di pusat. Demokrasi justru menemukan ujian terbesarnya di desa, sebagai ruang sosial paling dekat dengan rakyat.
Melalui talkshow “Desa dan Demokrasi Indonesia”, kami ingin menegaskan bahwa desa bukan objek pembangunan semata, melainkan subjek utama demokrasi yang harus dijaga bersama.
Sebagai Marhaenis muda, kami meyakini bahwa demokrasi sejati adalah demokrasi yang berpihak kepada rakyat kecil—Marhaen—yang hidup dan bekerja di desa. Karena itu, penguatan demokrasi desa tidak cukup hanya melalui kebijakan formal, tetapi harus dibarengi dengan partisipasi aktif masyarakat, keterbukaan informasi publik, serta penyelenggaraan demokrasi yang berintegritas.
Secara personal, saya tumbuh dan berproses di lingkungan desa yang mengajarkan bahwa musyawarah, gotong royong, dan rasa keadilan bukan sekadar konsep, melainkan praktik hidup sehari-hari. Dari desa pula saya belajar bahwa ketika suara rakyat kecil tidak didengar, demokrasi kehilangan maknanya. Pengalaman inilah yang menjadi alasan mengapa isu desa dan demokrasi bukan sekadar tema diskusi, tetapi panggilan tanggung jawab moral bagi kami dan Kader Marhaenis.
Kehadiran Bupati Wonosobo dan Bupati Temanggung dalam forum ini kami pandang sebagai bentuk komitmen kepala daerah dalam menjaga demokrasi dari tingkat paling dasar. Sementara itu, kehadiran alumni GMNI yang kini mengabdi di KPU Jawa Tengah dan Komisi Informasi Pusat RI menjadi bukti bahwa nilai-nilai perjuangan ideologis dapat dan harus diaktualisasikan dalam lembaga-lembaga negara.
Melalui forum ini, kami berharap terbangun dialog yang jujur dan konstruktif antara pemerintah daerah, penyelenggara demokrasi, dan generasi muda. Mahasiswa, khususnya mahasiswa ilmu politik, tidak boleh berhenti sebagai penonton demokrasi prosedural, tetapi harus menjadi bagian dari proses pengawalan demokrasi yang kritis dan berpihak.
Akhir kata, talkshow ini merupakan ikhtiar kecil kami untuk mengembalikan demokrasi pada akarnya: rakyat di desa. Dengan semangat Marhaenisme, kami percaya bahwa demokrasi Indonesia hanya akan kuat jika tumbuh dari bawah, dijaga bersama, dan terus dikawal oleh generasi muda yang sadar ideologi dan tanggung jawab sejarah.***
Penulis: Bintang Sawijaya, Koordinator Pelaksana Talkshow Desa dan Demokrasi Indonesia,
Ketua Komisariat GMNI FKSP UNSIQ.